Kategori: Program

Program dan mata pelajaran dari Rumah Belajar Bersama

  • Persiapan Atlet Dunia

    Persiapan Atlet Dunia

    Selamat buat Nur Azizah Patwa dan team yang meraih Perak pada Kejuaraan Dayung SEA GAMES di Thailand, 2025. Azizah adalah atlet keturunan Bulukumba yang pernah mewakili Kab. Banteng dan Sulawesi Selatan pada olahraga yang ditekuninya.

    Nur Azizah Patwa bersama sepupunya Dewi Fortuna Patwa di Rumah Belajar Bersama

    Azizah Sebelumnya meraih dua emas pada kejuaraan Provinsi Sulawesi Selatan yang kemudian mengantarkannya tergabung dalam Pelatnas (Pelatihan Nasional), atlet Indonesia.

    Keluarga terdekatnya Andi Adi Syam Palaguna berharap agar prestasi yang lebih tinggi dengan memberikan motivasi kesiapan menghadapi tantangan baru. ‘Semoga dapat menembus Olimpiade Dunia dan meraih juara’, ungkapnya. Ketekunan berlatih sudah bagus dan jadikan juara dua ini sebagai cambuk untuk lebih meningkatkan prestasi dengan berlatih lebih giat. Dan keinginan dan tekad harus lebih kuat lagi dari segala latihan yang serba keras tersebut. Begitulah cara berpikir Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia, yang dapat kamu ikuti untuk membuat dirimu jauh lebih baik dari prestasi yang baik sebelumnya yang telah kamu raih.

    Zulkarnain Patwa

  • Merancang Perubahan Dunia

    Merancang Perubahan Dunia

    Dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, anda punya daya saing untuk turut terlibat aktif merancang dan menghadapi perubahan dunia.

    Foto: Kampung Belajar, 2025.

  • Speaking dan Reading

    Speaking dan Reading

    Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa asing itu urusan komunikasi. Itu benar karena kita akan menggunakannya berbicara dengan orang asing yang tidak menggunakan bahasa kita. Wajar bila kelas speaking (bicara) ramai peminatnya.

    Bagaimana bila pelajar membutuhkan hal lebih selain kemampuan berbicara? Tawaran yang menarik adalah kelas reading (membaca). Reading bagian dari cara pembaca mampu mengenali pemikiran orang lain lewat buku yang ditulisnya tanpa sang penulis perlu hadir di hadapannya. Kisah kisah tempo doeloe terjelaskan yang dapat dijadikan pelajaran untuk membaca dan mewujudkan cita-cita penulis di masa akan datang.

    Kelas Bahasa Inggris di Kampung Belajar mencoba untuk saling menghubungkan antara speaking dan reading. Untuk itu kelas binaan Mr. Ancha alias Pocha Pocha bertujuan untuk:

    1. Mendidik para pelajar memahami pembicaraan Bahasa Inggris lisan.
    2. Mendidik para pelajar membaca dengan suara nyaring dengan penekanan dan intonasi yang benar.
    3. Melatih para pelajar menjawab dan menggunakan segala model pertanyaan dan membangun fondasi kebiasaan berbicara Inggris.
    4. Melatih berekspresi secara lisan dengan bebas dengan berdiskusi mengenai tema tema yang dibahas pada buku bacaan.
    5. Mempersiapkan para pelajar untuk ujian standar internasional.

    Secara sederhana untuk mewujudkan target di atas, semua bagian bagian pada buku dibaca dan latihannya dikerjakan secara menyeluruh. Dengan demikian speaking dan reading menjadi alat pembelajaran yang sangat efektif membangun komunikasi berbahasa asing.

    Zulkarnain Patwa

  • Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekelompok kecil para pelajar SD, SMP dan SMA yang bergabung di Kampung Belajar selama liburan sekolah ini percaya bahwa Bahasa Inggris dapat membangun cita citanya tinggi. Ada yang mau jadi guru, dokter dan bahkan mau kuliah ke keluar negeri. Mereka datang dengan penuh semangat untuk belajar memahami setiap materi yang penting dan mereka yakini sangat berguna untuk masa depannya.

    Perbedaan umur atau jenjang sekolah bukanlah kendala untuk membuatnya bersatu dalam satu ruangan. Maklum, semuanya masih tergolong pemula dari segala tingkatan. Itu bagus karena tidak ada yang paling menonjol sehingga para pelajar ini saling berlomba untuk paling cepat memahami pelajaran di luar kepala. Yang lebih dahulu mengerti dan punya keberanian angkat tangan, dialah yang mendapatkan rekaman biasa ataupun siaran langsung, sebuah strategi agar mereka mau belajar serius dimana tiap pelajar tidak ingin tampil buruk di depan kamera. Lagi pula, tidak ada proses editing. Dalam dua hari, tidak ada satupun yang gagal membuat conversation (percakapan) tanpa teks. Itu berarti mereka mampu mengingat bahan pembicaraannya.

    Pada kelas Reading (Bacaan), mereka diminta membaca buku cerita dengan suara nyaring, memahami isinya dan menjawab soal-soalnya. Ini berguna untuk kebutuhan akademik dan penguatan budaya literasi. Kita ingin kemampuan berbicara Inggris dan membaca buku buku inggris dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan dan mengakses informasi tertulis.

    Kelas grammar (tata bahasa) yang merupakan momok bagi para pelajar Indonesia sudah dapat ditebak. Mereka benar-benar pemula juga dan masih belajar menentukan kata benda (noun) yang tunggal dan jamak, adjective (kata sifat) dan adverb (kata keterangan) serta bagaimana kata kerja berlaku pada sebuah subjek. Dan setelah mereka mengerjakan latihan, Basic Grammar tersebut dibaca kembali disertai rekaman video dan dibuat contoh percakapan agar apa yang telah diikat dengan tulisan lebih mahir diucapkan.

    Kelas pronunciation (pengucapan) pun punya daya kesan tersendiri. Mereka disadarkan bahwa salah ucap mengakibatkan salah makna. Bagaimana mengucapkan kosa kata yang mirip dengan benar? Misal set vs sat, feel vs fill dan green vs grin dan masih banyak lagi. Mereka diberitahu arti pada perbedaan kata tersebut yang membuatnya jadi lebih peduli untuk fasih dalam berbicara.

    Conversation, Reading, Grammar dan Pronunciation pada Kampung Belajar ini dibuat saling terhubung erat. Semua kelas jadi penting. Enam kali pertemuan belajar dengan sedikitnya menghabiskan waktu sembilan jam dalam sehari itu benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat waktu yang cukup bila ada pelajar untuk review bagi yang mengalami kesulitan ataupun ingin pendalaman materi lebih lanjut.

    oppo_2

    Liburan sekolah memang tidak membawa mereka pergi jalan-jalan sebagaimana orang lain yang punya kesempatan. Mereka berlibur di kampung halamannya dengan menikmati dunia belajar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kesenangan tentu mengiringi karena materi hanya dapat dilanjutkan bila dimengerti. Di Kampung Belajar ini, selama mereka tekun dan berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak ada alasan yang cukup untuk untuk tidak mengerti. Guru-guru kelasnya pun tergolong berpengetahuan luas dan berpengalaman belajar dan mengajar di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur dan sarjana di universitas.

    Sebuah kombinasi yang apik untuk mewujudkan cita-cita pada pelajar dan target Rumah Belajar Bersama (RBB) yang memilih mengedepankan kwalitas sumber daya manusia dalam mendidik para pelajar. Di sinilah, kita meramu pelajar SD, SMP dan SMA saling mendukung untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi tersebut. Demikian sekilas tentang Kampung Belajar, 2025 di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Enjoying Togetherness

    The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan  invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.

    Wow! that was truly interesting. In Bira, we met a cheerful young girl who is on vacation with her father and mother. We briefly chatted with the family, who seemed happy about their vacation. We saw the way they communicated with each other, exuding positive energy, as we witnessed the girl saying goodbye to her parents.

     

    When we were in the car, Tessa told us that she is a student in a five-month exchange from her university in the Netherlands to Gadjah Mada University in Yogyakarta. She is going to return to her university in the Netherlands next month.

    Tessa’s curiosity about the vast world has driven her to travel the world. Because she has visited so many countries, she lost count. Being in Indonesia, where she has time to study and explore the beauty of islands like Bira, the vast and enchanting expanse, has greatly supported her hope and education, as she is majoring in International Relations.

    Indonesian students, especially those with at least English language skills, are also encouraged to follow iTessa’s footsteps. This opportunity is abundant because student exchange relationship is built on good relations between countries and then followed by a collaboration between universities. Therefore, it is important for students to become proficient in foreign languages by enrolling in alternative educational institutions like Rumah Belajar Bersama or other similar institutions to develop themselves before entering university.

    Being in a foreign country, Tessa has a positive impression of the Islamic world. She believes that Indonesians have a strong social awarness. She has learned this from her experience, witnessing how even people living in poverty still think of others by helping others. This is rare in her country which has highly individualistic lives in Europe.

    The world is full of color and diverse daily activities. Karate, however tiring, strengthens the mind and body. Meeting new international people enriches our perspective and ties the bonds of brotherhood, like those of Mr. Irfan and others like him, making life more meaningful.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer

  • Kilasan INKADO Luwu Timur Jadi Perguruan Karate Bergengsi di Sul Sel

    Kilasan INKADO Luwu Timur Jadi Perguruan Karate Bergengsi di Sul Sel

    Rekan rekan perguruan karate INKADO (Institut Karate-Do Indonesia);Luwu Timur (Lutim) ini punya daya saing yang bagus. Perkenalan dengan suasana akrab mulai terjalin baik sejak Desember 2024 saat team INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulawesi Selatan (Sul Sel) langsung dipimpin oleh Ir. Abdul Djalil Razak, Ketua INKAI Sul Sel dimana penulis bertugas sebagai Manager INKAI Sul Sel bertandang ke kejuaraan yang mereka adakan di Bumi Batara Guru, Sorowako, Lutim, Sulawesi Selatan. Sekedar info saja, perjalanan dari Makassar ke Lutim itu sekitar 24 jam dengan naik bus.

    Waktu itu, kekuatan atlet Lutim terlihat sedang tumbuh disertai semangat bertanding yang tinggi. Dan INKAI Sul Sel tetap tidak menganggap remeh tuan rumah dengan tetap menurunkan sebagian besar atlet terbaiknya yang telah punya segudang pengalaman pada kejuaraan besar untuk menambah pengalaman tanding pada kunjungan daerah terjauh di Sul Sel. Hasilnya, INKAI Sul Sel untuk merebut juara Umum 1. INKADO Lutim berada pada posisi Juara Umum 2.

    Betapa mengejutkan, pada kejuaraan Kemenpora RI pada Nopember 2025 di GOR Sudiang, Sulawesi Selatan, INKADO Lutim tiba tiba berhasil merebut Juara Umum 3. Kali ia memang dua tingkat dari INKAI Sul Sel yang meraih Juara Umum 1 dimana kejuaraan sebelumnya ia berada di bawah satu tingkat saja. Tapi ini lebih berarti karena kejuaraan ini yang jauh lebih bergengsi dimana para atlet berbakat nan handal dari berbagai macam penjuru turun berlaga. Kita tahu bahwa tidakkah mudah bagi sebuah perguruan tiba tiba muncul sebagai juara, capaian kejuaraan terbaik bagi INKADO Lutim pasca teror Covid 19.

    Mari kita cek capaian medali dari rilis resmi pada ranking medals Piala Menpora RI, 2025.

    Juara Umum 1, INKAI Sul Sel
    25 Emas, 26 Perak, 13 Perunggu

    Juara Umum 2, Kodam XIV Hasanuddin
    16 Emas, 11 Perak, 12 Perunggu

    Juara Umum 3, INKADO Lutim
    11 Emas, 5 Perak, 18 Perunggu

    Dari sebaran media sosial, penulis tahu bahwa setelah menjadi tuan rumah kejuaraan pada 2024 itu, INKADO Lutim lebih aktif lagi melaksanakan latihan. Beberapa teknik gerakan sebaran video karatenya pun telah berubah dan lebih baik dari yang sebelumnya. Menyaksikan perkembangannya, hemat penulis ini bukanlah hal tiba tiba tapi hal wajar ia mampu merebut posisi ketiga. Seperti yang lazim disebut orang, usaha itu tidak mengkhianati hasil.

    Dalam kejuaraan, tiap perguruan saling berkompetisi untuk meraih juara tapi hubungan yang baik mestilah harus selalu terjalin sebagaimana yang kita lakukan. Selamat ya buat INKADO Lutim. Anda telah turut berhasil menyita perhatian dan masuk bagian dari perguruan karate yang diperhitungkan karena membuktikan telah meraih Juara Umum di kejuaraan yang bergengsi di Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Humas INKAI Sulawesi Selatan
    * Pelatih INKAI Bulukumba
    * Pengajar Bahasa Inggris di RumahBelajar Bersama

  • Kunci Kemajuan Bahasa Inggris

    Kunci Kemajuan Bahasa Inggris

    Muchtar Ali Yusuf, Bupati Bulukumba di Sulawesi Selatan, memberikan Piagam Penghargaan kepada Rumah Belajar Bersama (RBB) atas dedikasi RBB dalam jangka waktu yang panjang konsisten mengembangkan literasi di Bulukumba pada peresmian Bunda Leterasi dan sekaligus peresmian gedung perpustakaan terbaru dari Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Daerah Bulukumba.

    Ini adalah pertama kali penulis sempat menyapa Pak Bupati yang dikenal bisa berbahasa asing dan sering mengunjungi berbagai macam negara. Hal ini lazim kita ketahui karena pidatonya sering kali menyebut negeri negeri jauh yang ia percaya dapat dijadikan contoh yang baik untuk memajukan perekonomian Bulukumba.

    Karena titik perhatian penulis pada pendidikan untuk memajukan daerah, tentu beberapa gagasan tersampaikan semisal pentingnya kwalitas pendidikan Bahasa Inggris buat pelajar SD (Sekolah Dasar) ditekankan, bukan hanya sebatas slogan bahwa anak SD wajib berbahasa Inggris setiap hari Rabu di sekolah. Yang paling utama adalah kwalitas guru bahasa Inggris yang benar-benar berkompetisi unggul. Bila di SD kacau, hampir dapat dipastikan, Bahasa Inggris di SMP, SMA dan Universitas juga turut berantakan. Tidak ada yang bisa dibangun bila tidak punya fondasi. Ini seperti yang dialami oleh kebanyakan pelajar Indonesia sebelum diterapkannya Bahasa Inggris di SD.

    Perbaikan Bahasa Inggris di SD adalah kunci keberhasilan. Terlebih peluangnya besar karena Bulukumba dengan segala kekayaan wisatanya yang mendunia adalah salah satu pusat perhatian dan kunjungan wisata mancanegara di Sulawesi Selatan dimana para wisatawan tersebut dapat dimanfaatkan untuk praktek lapangan secara langsung. Kita semua tahu bahwa banyak turis bertebaran di daerah kita tapi siapa yang pernah merancang memberdayakan dengan tepat sasaran untuk menambah khazanah intelektual para pelajar sekolah dan pemuda pemudi kita?

    Gagasan ini dengan sepenuh hati kami sampaikan agar dampak pencerdasan tersebut punya jangkauan lebih luas dibandingkan apa yang telah dan terus dikerjakan oleh RBB selama ini mengingat Pemerintah Daerah punya kebijakan dan doi (uang) untuk mempercepat perubahan. Dan satu hal penting lagi, sebagaimana Kampung Inggris di Kediri, Jawa Timur ataupun bangsa bangsa lain yang telah maju, kita harus siap berinvestasi untuk mengedepankan kwalitas pekerjaan yang benar benar berbobot agar hasilnya tidak sekedar aman di atas lembaran kertas laporan tapi juga manusia yang dikelola punya hasil yang mampuni yang siap mengisi dan membuka lapangan pekerjaan nantinya.

    Terakhir, kami tidak pernah berpikir untuk mendapatkan Piagam Penghargaan namun kami sangat menghargai cara kerja yang benar dari Perpustakaan Daerah Bulukumba dalam mendeteksi pegiat Literasi Bulukumba yang punya kerja konsisten dimana ternyata di dalamnya ada juga nama RBB. Karena Anda, pertemuan sejenak dengan Pak Bupati dan beberapa pejabat daerah untuk menyampaikan saran yang berharga pun dapat terlaksana.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Akrab karena Bahasa Inggris

    Akrab karena Bahasa Inggris

    Ayla mendapat kunjungan dari Maurizio dari Italia untuk praktek Bahasa Inggris. Kontan saja, setelah kenalan, Ayla bertanya “How old are you?” Sebuah pernyataan yang dianggap tidak sopan menanyakan umur. Tapi karena melihat Ayla dengan wajah ceria, Mariozio tanpa sungkan menjawab bahwa umurnya 67 tahun. Ayla lalu “maggolla” (memuji), “You look young. I think you are 40 years old.” (Saya pikir 40 tahun). Keduanya tertawa.

    Sejurus kemudian, Ayla bertanya lagi, “Do you have Instagram (IG)?”. Maurizio kaget lagi dan tersenyum. Setelah saling tukar IG, di sini Ayla tahu bahwa Maurizio seorang ahli desain kapal modern yang sering berkeliling dunia.

    Ayla tidak berhenti menanyakan kehidupan pribadi Bapak ini. “Do you have a wife, children? (Apakah Anda punya istri, anak?) Hal hal pribadi lainya pun ditanya terus. Maurizio tidak merasa terusik dan dengan senang hati dan penuh menjelaskan panjang lebar tentang kehidupan keluarganya.

    Maurizio lalu bertanya, “Do you understand?” (Apakah Anda mengerti?” Alya dengan wajah lugu bilang, “No.” (Tidak)😀. Ayla kemudian meminta Maurizio untuk bicara agak perlahan. Cerita kembali diulang dan barulah Ayla paham.

    Bagi dunia anak, pertanyaan pertanyaan tabu kepada orang asing itu menyenangkan. Orang seperti Ayla sama sekali tidak peduli betapa pun telah diingatkan bahwa sebaiknya tidak menanyakan hal hal seperti di atas saat pertama kali bertemu. Ayla enjoys aja.

    Dan orang asing yang terdidik seperti Maurizio tahu betul bahwa Ayla sedang berusaha menyampaikan pertanyaan apapun yang terbetik di hatinya. Dan karena sama sama mengeluarkan energi positif, mereka jadi akrab.

    Selamat terus belajar Ayla. Bukalah jendela dunia dengan Bahasa Inggris dan ilmu pengetahuan lainnya.

    Terima kasih banyak Om Aris Irfan di Villa Malomo Bira yang membantu sehingga diskusi dengan nuansa pendidikan ini dapat terlaksana. Sukses selalu buat Villa Malomo.

    Foto pada November 2022

    Zulkarnain Patwa

  • Impossible to Possible

    Impossible to Possible

    We will never forget when the first time we taught this little girl. Two years ago, Faika won a Karate Championship in Gowa District, South Sulawesi. A consequence for this, she got a scholarship for three months studying at Rumah Belajar Bersama.

    At that time, Faika chose to join English class eventhough she still couldn’t read well. ‘Why does Faika not want to take Math class?’, a question to Nurlaelah, Faika’s mother. Without hesitation, her mother simply answered, ‘She wants English.’ It was a hard decision to accept because we knew that Faika still needed to learn to read and write in Indonesian before reading and writing in English.

    Because we didn’t want to make Faika disappointed, we let her come together with all of her friends who got medals. It was the first time we taught English without books in order to make Faika enjoy the class. We just talked simple words, singing and playing games. It was all about.

    After a month, Faika felt bored with the lessons and suddently asked us to write English words, phrases and sentences on the board. It was a big surprised for us because a kid who was still learning to read and write in Indonesian wanted something more in English. You know, what? Faika could write all the teacher’s writings on her notebook.

    From this experience, we were not only just very happy but also very proud of her. Something that we imagined was impossible is possible.

    Zulkarnain Patwa

  • Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Sempurna pada Ujian Perkalian dan Pembagian

    Izzatunnisa pelajar kelas tiga SD ini turut dinyatakan lulus ujian tulis pada Perkalian dan Pembagian dengan nilai sempurna, seratus. Hal ini karena ia melihat seorang pelajar bernama Faizah yang lebih dahulu ujian dan memperoleh nilai seratus juga.

    Nisa anak yang berhasil meningkatkan kwalitas belajarnya dengan sistem kompetisi. Bila ia melihat rekannya pintar, ia juga ingin punya kemampuan yang sama dan bahkan melebihi orang yang ia anggap pintar. Tak heran, ia selalu mengajak rekan kelasnya yang ia anggap pintar untuk berlomba menjawab soal-soal secara lisan. Dan dalam berbagai macam lomba informal tersebut, Nisa lebih sering juara 1.

    Pengembangan cara belajar dengan sistem kompetisi memang menguatkan mental dan memperteguh daya juang. Kelemahan yang biasa muncul, anak akan mudah menganggap remeh orang lain yang berada di bawah kemampuannya. Oleh karena itu, Nisa selalu kita ingatkan untuk membantu rekan kelasnya yang kewalahan memahami pelajaran dengan cara memberitahu cara menjawab soal, bukan langsung pada jawaban sehingga tercipta komunikasi yang akrab yang membuat Nisa peduli pada orang yang ada di lingkungan belajarnya.

    Mengenai pelajaran sekolah, Nisa banyak dididik oleh Suci Rahmayani Masdah, guru utamanya pada kelas Matematika di Rumah Belajar Bersama. Pelajarannya Miss Uci menekankan untuk terlebih dahulu menuntaskan semua materi yang diberikan untuk mendapatkan waktu keluar main. Dan Nisa dengan senang hati mengikuti nasehat gurunya. Nisa telah terbiasa mengerjakan soal soal Matematika yang belum dipejari di sekolahnya. Tak mengherankan bila Nisa selalu berpendapat bahwa pelajaran sekolah itu gampang yang ia buktikan dengam sering mendapatkan nilai seratus. Dan bila ia kebanyakan bermain, ia selalu mengatakan bahwa ia sudah mengerjakan semua soal yang diberikan Miss Uci.

    Sekarang ini, untuk membuat Nisa lebih bersemangat belajar, ia perlu tantangan. Selain menuntaskan Matematika sekolah sesuai tingkat kelasnya, Nisa akan mendapatkan soal yang erat kaitannya dengan aritmatika (tambah, kurang, kali dan bagi) lanjutan yang bentuk soalnya mengasah ketelitian, kecepatan dan ketelitian berpikir.

    Semua in akan kita tekankan dalam waktu dekat. Ujian lisan pada Perkalian dan Pembagian akan dihadapi Nisa sebagai konsekuensi lulus ujian tulis. Dari sini, kita akan dapat mengukur sejauh mana kemampuannya dan akan memberikan soal soal lanjutan yang sesuai dengan perkembangan otaknya.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan