Kategori: News

Berita terbaru dari Rumah Belajar Bersama

  • Kepentingan Kuliah

    Kepentingan Kuliah

    Belajar sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Pengingat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini mengajak manusia untuk tidak berhenti belajar. Ada kalanya orang dewasa mengatakan bahwa dirinya sudah tua, tidak sanggup lagi menerima pelajaran atau alasan kesibukan dan yang paling berat adalah malas. Pada hal ia tahu bahwa untuk mewujudkan hal yang ingin diraihnya, ia harus menuntut suatu bidang ilmu tertentu.

    Khadijah, berkacamata, mahasiswa yang hampir tamat S 2 (strata dua) sedangkan Nilam telah tamat S 1 (strata satu). Mereka belajar Bahasa Inggris untuk mengejar beasiswa karena berencana untuk kuliah lagi. Target yang ingin dicapai adalah lulus TOEFL (Test of English as a Foreign Language), sebuah standar akademik yang telah lama diterapkan di universitas ternama di Indonesia. Sebelum mereka sepakat belajar, kami terlebih dahulu memberikan gambaran bahwa untuk sampai pada pembelajaran TOEFL itu butuh proses yang panjang. Soal-soalnya mencakup grammar, reading dan listening (tata bahasa, bacaan dan mendengarkan percakapan). Namanya juga tes standar internasional, kosa-kata yang dipakai adalah yang tidak lazim digunakan.

    Rekan-rekan di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekarang diisi oleh guru-guru Bahasa Inggris yang bertahun-tahun fokus belajar di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mereka meyakinkan Khadijah dan Nilam bahwa TOEFL itu bukanlah pelajaran yang sulit asalkan para pelajar mau peduli pada akar-akar pengetahuan alias basic. Kebanyakan orang gagal karena mereka langsung ikut pelatihan TOEFL tanpa punya pondasi dasar. Hasilnya pastilah berantakan.

    Kita ingin para pelajar kita tidak hanya mampu menggunakan Bahasa Inggris tersebut untuk kepentingan pragmatis semisal lulus TOEFL untuk memperoleh beasiswa tetapi juga mampu menjadikan bahasa sebagai alat memperoleh pengetahuan dengan kemampuan membaca jurnal-jurnal dan buku-buku berbahasa Inggris. Bela perlu, mereka bisa menulis dalam Bahasa Inggris.

    Untuk itu, para pelajar tidak perlu terburu-buru. Ya, itu memang membutuhkan waktu lebih banyak tapi hasilnya tentu berbeda. Kami pun sedikit berbagi pengalaman. Mr. Ancha, Mr. Agung dan penulis yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Kampung Inggris belajar membangun basis pengetahuan dari dasar meliputi reading, speaking, grammar dan listening di berbagai macam tempat sebelum sampai pada TOEFL. Pengalaman ini tidak mesti sama ke Khadijah dan Nilam dan pelajar lainnya tapi pada intinya, proses belajar secara terstuktur itu sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal.

    Khadijah dan Nilam yang terdidik itu tentu sepakat dengan tawaran kami. Mereka pun menjalani proses belajar pada Reading, grammar dan pronunciation (pengucapan). Mereka pun tidak canggung bergaul dengan para pelajar sekolah yang lebih muda darinya. Para pelajar SD (Sekolah Dasar) malahan selalu mencari Miss Nilam, panggilan akrab anak-anak, saat tidak melihat Nilam berada di kelas. Ya, layaknya kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, tidak ada sekat antara para pelajar anak-anak dan orang dewasa. Semua kalangan menikmati dunia belajar dengan riang gembira.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 1 April 2026

  • Permainan Serius

    Permainan Serius

    Belajar dengan suasana bermain adalah pilihan yang diberikan pada anak anak setelah pembelajaran serius selesai. Para anak-anak telah menyelesaikan beberapa lesson (pelajaran) Bahasa Inggris dan telah merasa capek membaca. Guna memanfaatkan waktu yang tersisa, mereka bermain kartu joker untuk belajar penjumlahan menggunakan penyebutan Bahasa Inggris.

    Syarat yang diberikan sederhana. Yang boleh menjawab soal adalah yang menyebutkan angka misal 5 + 7. Mereka terlebih dahulu harus menyebut five times seven. Itulah yang berhak menjawab. Bila tidak, meskipun jawaban benar, yang menjawab tidak mendapatkan poin. Pada akhirnya, tiap anak yang ikut lomba, berpikir dalam kosa-kata Inggris dan kemampuan berhitung sederhana juga terasah.

    Bagi anak-anak yang merasa lancar dalam berhitung selalu mau tampil pertama dan mencari lawan yang sepadan. Para pelajar ang lainnya tidak mau kalah. Mereka pun melakukan yang sama sembari menunggu yang sedang bertanding selesai sembari berpikir pikir siapa orang yang seimbang untuk dihadapi. Cara ini cukup adil. Poin yang diperoleh tidak melambung jauh, poin bersaing dengan ketat yang membuat mereka selalu semangat dalam menjawab lebih cepat.

    Kendala yang paling sering mereka temui adalah mengetahui jawaban benar dalam bahasa Indonesia tapi salah penyebutan atau bahkan tidak tahu mengungkapkan dalam Bahasa Inggris. Bila ini terjadi, orang-orang akan tertawa bersama. Para penonton yang tahu jawaban biasanya ikut membantu menjawab baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Bila demikian, biarpun peserta menjawab benar, soal dianggap batal. Tidak ada poin.

    Sedemikian serunya permainan ini, meskipun jam belajar telah berakhir, para pelajar tetap ingin melanjutkan permainannya. Orang tua pelajar yang telah datang menjemput mesti sabar menanti hingga permainannya selesai karena mereka tidak mau pulang. Guru pun harus meminta kepada orang tua pelajar agar berkenan sedikit menanti. Dan agar tidak kelamaan, dicarilah trik agar permainan segera selesai dengan jalan mengurangi jumlah kartu yang akan dijadikan soal.

    Dalam mendidik, kita pasti ingin agar materi yang diberikan itu mampu dikuasai oleh pelajar kita. Ini memang harus serius dikerjakan tapi kita juga tidak lupa bahwa santai dalam belajar itu penting. Bagi anak-anak, santai itu lebih penting daripada serius. Betapapun mereka berada dalam lingkungan belajar, mereka ingin bermain. Oleh karena itu, kita mesti cerdas merancang kegiatan belajar yang dunia bermain yang serius dapat menyemangati dan mendukung kemajuan dalam belajar.

    Zulkarnain Patwa 
    Bulukumba Selasa, 31 Maret 2026

  • Bakat Anak Enam Tahun

    Bakat Anak Enam Tahun

    Afwa anak TK (Taman Kanak-Kanak) yang suka mengikuti banyak kegiatan belajar. Saat berumur lima tahun, ia telah lancar membaca dalam Bahasa Indonesia dan langsung ikut kelas Reading (Bacaaan) Bahasa Inggris. Ia juga senag berhitung khususnya penjumlahan, perkalian dan pengurangan. ‘Saya sudah Iqra dua di megaji’ kata Afwa. Miss Uchi, ibunya yang guru Matematika, mengatakan bahwa Afwa mengaji pada neneknya sendiri. Untuk olahraga, pilihannya pada Karate.

    Semua ini Afwa peroleh karena Afwa hampir tiap hari berada di lingkungan belajar. Ia selalu ikut ke RBB (Rumah Belajar Bersama) ketika ibunya mengajar. Awalnya tujuannya sekedar ikut ibu dan bermain. Lama kelamaan, ia tertarik untuk mempelajari banyak hal dan bergabung di kelas yang ia senang lihat. Ibunya yang mengajarkan membaca dalam Bahasa Indonesia. Terheran-heran pada tulisan Inggris yang berbeda cara bacaannya dengan Bahasa Indonesia dan karena teman-teman bermainnya banyak juga dari anak anak di kelas Bahasa Inggris, ia pun tertarik bergabung kelas Inggris. Dan wow! Di luar dugaan, ternyata anak umur lima tahun bisa lancar pada buku bacaan berbahasa Inggris. Sebenarnya, ia sudah bisa tamat satu buku tapi ia lebih suka mengulang-ulang bacaannya agar lebih fasih. Namun ada juga kemungkinan ia agak kewalahan membaca pada halaman pada pertengahan lembaran buku karena pada bagian itu telah terdapat banyak kosa kata yang sulit diucapkan untuk pelajar asing.

    Pada Matematika, ibunya Afwa menjadikan pelajaran tersebut sebagai ‘makanan’ harian. Perhitungan yang berhubungan dengan kehidupannya sehari-hari sangat sering ditanyakan padanya dan dilatih untuk menemukan jawabannya sendiri. Untuk penjumlahan dan pengurangan, ia sudah tergolong cepat untuk ukuran anak yang saat ini berumur enam tahun sekarang ini. Sedangkan latihan perkalian, ia banyak mengerjakan secara tertulis pada Modul Metode 40 yang berisi perkalian dan pembagian satu sampai sembilan. Ia telah sampai pada perkalian tujuh dan guru-guru di RBB selalu memberikan soal soal latihan lisan untuk membuatnya bisa paham luar kepala.

    Urusan mengaji, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Neneknya adalah seorang guru mengaji senior di salah satu Masjid di Turungan Beru, Kec. Herlang Bulukumba. Namun hal itu hanya dapat ia lakukan bila ia pulang kampung. Jadi ibunya yang lebih banyak mendidiknya. Ia juga pernah belajar mengaji di RBB sewaktu masih tersedia kelas mengaji.

    Para guru berusaha sebaik-baiknya agar Afwa minimal dapat tamat satu atau dua buku Bahasa Inggris dan menguasai perkalian dan pembagian satu sampai sembilan sebelum berumur tujuh tahun, masuk SD selama ia tetap menikmati dunia belajarnya karena kita tidak ingin memberikan beban pelajaran yang berat pada anak. Jadi cara yang biasa kita lakukan adalah membiarkannya terlebih dahulu bermain hingga puas. Setelah itu, kita mengajaknya belajar. Cara ini efektif dan ia benar-benar aktif mengerjakan latihan-latihannya dengan serius, terlebih bila ia belajar dengan anak anak yang hampir seumuran dengannya, ia merasa bahwa belajar itu adalah bermain.

    Pengetahuan itu luas, bercabang-cabang. Kita akrabkan saja ilmu pengetahuan yang ditafsirkan akan sangat berguna untuk mendukung masa depan anak. Afwa adalah salah satu anak yang dapat mempelajari banyak tanpa merasa terbebani. Berkat ibunya yang selalu berada di lingkungan belajar dimana dia hadir di dalamnya, ia menikmati dunia belajarnya. Ia pun sangat memungkinkan menekuni pelajaran lainnya selain yang disebutkan di atas dan kita di RBB memang mengharapkan hal demikian. Biarkan anak mempelajari banyak hal hingga pada suatu saat dapat memilih sendiri cabang ilmu pengetahuan yang paling ia paling minati. Pilihannya itu yang akan menemaninya sepanjang perjalanan kehidupannya.

    Zulkarnain Patwa

    * Selasa, 31 Maret 2026

  • Liburan Belajar Mahasiswa

    Liburan Belajar Mahasiswa

    Kesadaran mengisi liburan dengan belajar itu biasanya dimiliki oleh orang-orang dewasa. Mereka yang sedang berkuliah mengisi waktunya dengan belajar Bahasa Inggris karena punya cita-cita hendak kuliah ke luar negeri. Waktu liburan yang tanpa kesibukan tak ingin dibuang percuma. Itu adalah momentum terbaik mempelajari hal hal yang cenderung tidak diajarkan di kampus.

    Pemikiran itulah yang mengendap kuat dalam diri Nashwa Aliya Irfan. Kesibukannya mengurusi tugas kampus memang di atas rata-rata karena ia memilih dua universitas dalam waktu yang bersamaan. Di UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah di Jakarta, ia mengambil jurusan Ilmu Hadist dan National Open University di Gambia di Afrika jurusan Psikologi–pembelajaran secara online.

    Kehadiran Nashwa di RBB (Rumah Belajar Bersama) sebenarnya ia telah lakukan semasa SD. Setelah masuk pesantren, ia sama sekali tidak berhubungan dengan RBB lagi. Entah pengaruh apa, ia malu untuk kembali RBB. Melalui diskusi panjang dengan orang tuanya Aris Irfan dan Hasriyanti, ia mendapat saran bahwa belajar bahasa asing itu tidak boleh berhenti terlebih bila punya cita cita kuliah ke luar negeri. Ia kemudian berhasil menyisihkan rasa malu dan bersiap menghadapi tuntutan yang akan dibebankan RBB di pundaknya.

    Pertanyaan yang muncul saat Nashwa berhadapan dengan tugas grammar (tata bahasa), pentingkah grammar itu? Jawabannya ia temukan pada saat belajar pada kelas Reading (bacaan). Nashwa bisa menjawab sesuai kaidah standar bahasa Inggris. Banyak pelajaran yang selama ini ia pelajari di YouTube khususnya tentang Question and Answer (pertanyaan dan jawaban) baru terjawab di kelas belajarnya ini. Selama ini, ia hanya mengandalkan kemampuan sendiri dan itu benar benar merepotkan dirinya karena banyak hal tidak bisa ia jawab dengan menyakinkan. Dari pengalaman ini, ia dapat memetik hikmah bahwa guru-guru sangat dibutuhkan untuk mengarahkan cara belajar yang tepat.

    Pengakuan Nashwa takkala dididik oleh Mr. Agung Pratama Salassa yaitu segala pertanyaan yang ia tanyakan terjawab. Menurutnya cara berpikir sang guru sangat terbuka sehingga ia tidak sungkan menanyakan apapun juga. Lagi pula, setiap ia menyelesaikan satu bab materi, bab yang sebelumnya tetap dibahas dan dihubungkan dengan bab yang terbaru dihadapi. Dalam satu bulan lebih sedikit belajar, ia sanggup menyelesaikan sembilan bab dari enam belas bab yang tersedia pada buku Basic Grammar, edisi standar internasional.

    Pada kelas Reading diajarkan oleh Mr. Ancha, Nashwa banyak berlatih membaca dengan suara nyaring disertai pembelajaran intonasi suara agar iramanya enak didengarkan. Pengucapan yang benar sedikit banyak menumbuhkan kepercayaan diri berkomunikasi dengan orang lain. Bacaan cerita yang disertai soal tanya jawab secara otomatis menambah perbendaharaan kosa kata tanpa harus menghapal. Dari empat puluh delapan lessons (pelajaran) yang tersedia, ia sanggup menyelesaikan tiga puluh tiga lessons pada buku Reading tersebut.

    Overall, Nashwa merasa liburan belajar itu berharga dan have fun (menyenangkan). Metode belajar yang ia peroleh dari guru-guru di RBB ia nyatakan bagus karena meskipun pembelajarannya sangat detail, ia tidak begitu kewalahan menerima penjelasan materi. ‘Serasa tidak belajar padahal belajar’, katanya. Liburan selesai. Semua pengetahuan yang ia peroleh kini ia bawa ke tempat kuliahnya untuk mendukung cita-citanya dapat kuliah ke luar negeri nantinya. Selamat menerapkan dan berjuang lebih lanjut di tempat lebih luas, Nashwa. Good luck!

    Zulkarnain Patwa
    Senin, 30 Maret 2026

  • Menemukan Cara Belajar Efektif

    Menemukan Cara Belajar Efektif

    Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya tapi juga mengajak anak didiknya mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Dari buku inilah mereka bisa mengenal pemikiran dunia yang tidak hadir langsung di hadapannya.

    Pekerjaan ini memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita tahu bahwa tradisi kita lebih kuat dengan pembelajaran verbal, seperti orang Afrika, kata Kang Jalal. Bila kita teliti lebih dalam, anak anak Indonesia itu akrab juga kok dengan literasi. Mayoritas anak yang bergama Islam tiap hari mengaji dan diusahakan hingga tamat Al Quran. Dahsyat kan! Sayangnya, motivasi ini cenderung tidak didorong pada pengetahuan umum. Padahal setiap hari mereka menghadapi pelajaran sekolah.

    Dari dulu sampai sekarang, pelajaran yang paling menakutkan di sekolah adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Coba deh, kita minta anak anak tiap hari membaca buku pelajaran Inggris dan Matematika, tidak mesti seketat mengaji. Buat mereka penasaran dengan mempertanyakan mengapa bisa begini atau begitu. Jawaban yang tidak memuaskan pikirannya akan membuatnya terus bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti dengan sendirinya melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan.

    Sebagian kecil dari kalangan keluarga terdidik menerapkan hal di atas. Ada juga yang berpikiran lebih praktis dengan mengirimkan anak anaknya masuk ke lembaga pendidikan alternatif semacam LKP (Lembaga Kursus Pelatihan)–Istilah pemerintah di Kementerian Pendidikan–les atau kursus istilah masyarakat umum. Mereka sadar betul bahwa ke depan pengetahuan agama dan pengetahuan umum harus mampu berjalan seiring menghadapi tuntutan zaman di era serba modern dan terbuka ini sangat dipengaruhi oleh pengembangan teknologi. Untuk jangka pendek, sedikitnya anak-anak tidak takut lagi pada pelajaran Matematika sekolahnya karena mereka tahu cara menjawab soal-soal, bukan menyontek. Untuk jangka panjang, mereka bisa mengikuti jejak B. J. Habibie atau ahli teknologi seperti pemuda pemudi Iran yang sedang berkembang pesat saat ini.

    Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya pada Mengaji, Matematika dan Bahasa Inggris. Ada ilmu pengetahuan sosial, alam seni dan masih banyak lagi. Manusia pun punya bakat yang berbeda beda. Kita perlu mengenalkan mereka semua itu agar dapat menemukan ketertarikan yang tepat yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembiasaan pada bacaan buku akan memudahkannya tahu apa apa yang telah terjadi yang pernah dilakukan oleh orang orang besar dunia dan kemudian, mereka bisa memilih jalan pemikiran yang sesuai pilihannya atau malahan mereka bisa mengkritisi dan menciptakan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

    At last, anak anak pada foto ini adalah pelajar Bahasa Inggris di malam hari. Pada sore hari.hingga jelang Maghrib, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Banyak diantara mereka juga mengambil dua kelas mengikuti kelas Matematika dengan cara belajar secara selang seling. Jadwal memang padat dan terkesan melelahkan, seolah merampas dunia bermain anak. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita menjadikan belajar dengan suasana bermain. Membaca buku sering dilakukan secara bersama-sama terkesan seru dan riuh. Mereka juga punya banyak tawaran ide semisal membuat kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah dan berakting dalam menyampaikan satu gagasan dari tugas yang diberikan. Cara belajar yang mereka usulkan itu seringkali diterima oleh guru-guru kelas yang menjadikannya merasa dihargai. Suasana hatinya senang dan tak jarang diikuti suara bersorak ria, hore. Pada intinya, mereka menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia.

    Zulkarnain Patwa 
    Senin, 30 Maret 2026

  • Selangkah Lebih Maju

    Selangkah Lebih Maju

    Datang dan pergi adalah perjalanan hidup manusia. Kita akan berkunjung kembali ke tempat yang telah kita temui bilamana ada kesan baik ataupun kebutuhan pada tempat tersebut. Itulah yang dialami oleh Fauzan Saputra yang kini di kini bersekolah di Pondok Pesantren DDI (Darud Da’wah Wal Irsyad) Mattoanging, Kab. Bantaeng. Semasa SD, ia aktif belajar di RBB (Rumah Belajar Bersama).

    Pilihan untuk belajar ketika pulang kampung di Bulukumba bagi Fauzan bukan sekedar mengingatkan cara mengisi waktu luang tapi sebuah kebutuhan tindak lanjut yang telah ia perjuangkan sebelumnya. Jauh sebelumnya, ia telah tamat dua buku Reading (bacaan) berbahasa Inggris dan mengetahui struktur perubahan tenses di luar kepala namun hal itu tidaklah cukup baginya. Ia tahu bahwa banyak hal yang belum ia tuntaskan. Untuk ukuran pelajar SMP (Sekolah Menengah Pertama), menguasai tenses itu sudah di atas rata-rata. namun di RBB, ia masih merasa belum hebat karena dirinya masih belum mampu menuntaskan ujian tulis dan lisan yang penuh dengan jebakan soal–Sebuah masalah sekaligus tantangan yang penting ia hadapi untuk menguatkan kepercayaan diri.

    Kelebihan Fauzan pada Reading memotivasinya untuk cepat berkembang. Kemampuannya membaca dengan suara nyaring disertai intonasi yang terukur telah terasah sehingga memudahkannya untuk berbicara dalam Bahasa Inggris dengan lumayan fasih. Tingkat kesalahannya sudah sangat rendah dan ia pun dengan segera dapat memperbaiki bila terjadi kesalahan dalam berucap. Kemampuannya dalam menjawab soal-soal cerita pun sudah tidak diragukan lagi.

    Buku Reading ketiga yaitu pada tahapan Pre Intermediate yang selama liburan Ramadhan 2026 yang ia pelajari punya kerumitan yang tinggi. Oleh karena itu, betapapun sebagian lessons (pelajaran) telah ia pelajari pada tahun lalu, ia memilih untuk mengulang dimulai dari lesson satu, halaman pertama. Pilihan cara cerdas ini membuatnya lebih rileks dalam belajar karena tentu ia telah mengenal isi cerita bacaan dan ia dapat melakukan pendalaman. Ini juga tanda bahwa dirinya tidak sekedar ingin dikenal telah menamatkan beragam buku tapi ia ingin benar-benar tamat dengan kualifikasi yang baik.

    Kendala yang dihadapi Fauzan tampak ketika ia memasuki pertengahan buku. Pada dasarnya, kemampuan untuk menjawab soal-soal cerita diperuntukkan bagi pelajar yang telah tamat Basic Grammar (tata bahasa) sedangkan Fauzan hanya memilih kelas Reading saja. Coba banyangkan, dalam satu soal, terdapat empat pertanyaan dimana semua jawaban harus mampu disusun dan digabungkan dalam satu kalimat saja. Wah, itu kan materi tingkat tinggi dari clause. Kalau jawaban hanya satu clause semisal noun clause atau adjective clause, itu mungkin masih agak mudah buatnya. Tak jarang, adverbial clause, noun clause serta adjective clause pun harus ikut serta dalam penulisan. Pusing kan! Sebagai alternatif, guru kelasnya memintanya menjawab dengan cara biasa, semampunya saja. Setelah itu, jawaban yang ia buat dimodifikasi sesuai dengan kemampuannya memahami isi pelajaran.

    Segi positif yang Fauzan temui dari kendala belajar di atas adalah dirinya telah mengenal pembelajaran yang tidak biasa ditemui oleh pelajar kelas 1 SMP. Dan yang terpenting, ia tidak patah semangat dan terus berusaha sebaik yang ia bisa. Hingga liburan Ramadhan selesai, ia belum juga menamatkan bukunya itu tapi yang jelas, ia terus bergerak maju selangkah demi selangkah. Menjaga mental belajar demikian ini pastilah pada akhirnya membuatnya bisa tamat. Harapan tersebut dapat terwujud manakala ia datang lagi belajar pada liburan berikutnya atau belajar pada guru-guru yang ada di lingkungan terdekatnya.

    Fauzan telah datang dan kini pergi kembali ke dunia pendidikan formalnya pesantren. Sebagaimana pengakuannya sebagai bintang sekolah semasa SD pada pelajaran Bahasa Inggris, reputasi tersebut nampaknya tetap melekat pada dirinyalah di pesantrennya. Ia sih pernah bilang bahwa kalau teman-tema SD-nya mau menyontek, mereka biasanya bayar ribuan rupiah. Ia sadar itu merepotkan orang karena uang jajan teman temannya habis hanya karena harus menyontek. Saran yang diperoleh dari gurunya yaitu membantu teman-temannya untuk memahami pelajaran agar mereka bisa cerdas hingga bisa mandiri menjawab soal-soal pelajaran sebagaimana Fauzan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 29 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa

  • Cara Belajar Adam

    Cara Belajar Adam

    Adam adalah anak yang sangat berbakat dalam hal berbicara Inggris. Selain suaranya nyaring, ia pun mudah beradaptasi dengan kosa kata bacaan yang baru ia kenali. Bacaan buku pertama pada Basic Reading sebenarnya bukanlah kendala yang berarti baginya namun ia tidak mudah juga untuk tamat. Mengapa?

    Sebagai seorang anak yang berbadan sehat dan ikut silat, Adam memiliki energi lebih untuk bergerak. Baginya, keberadaannya di Rumah Belajar Bersama adalah bermain. Hal ini didukung oleh kemampuannya bergaul dengan baik kepada anak laki-laki dan perempuan. Tapi tak jarang juga, ia berantem dan ia biasanya menang karena tahu sedikit jurus silat. Hebatnya, bermusuhan ala anak anak itu dapat kembali akrab dalam waktu yang tidak lama.

    Ketika memasuki bulan Ramadhan 2026, Adam telah tamat Basic Reading dan memulai buku kedua. Cara berpikirnya pun mulai berubah. Karena tuntutan bacaan sudah berbeda dari buku sebelumnya, waktu bermainnya pun lebih sedikit. Ia sibuk memahami isi bacaan cerita Inggris dan menjawab soal-soal latihannya pada tumpukan beragam cerita. Perlahan tapi pasti, ia pun merubah cara belajarnya.

    Melejitkan potensi anak dengan mengajak terbiasa menyukai bacaan buku butuh pendampingan berkelanjutan. Perhatian dan pendampingan yang intensif membuat kita mampu membaca celah yang perlu diisi menutupi kelemahan anak anak dalam belajar. Adam mengalami perubahan yang berarti dalam dirinya karena ia tahu bahwa bacaan buku kedua yang sedang ia hadapi saat ini tidak bisa lagi ia anggap remeh. Ia tahu bahwa bila dirinya tidak lebih aktif berinisiatif belajar, ia tidak bisa berbuat banyak untuk mampu mewujudkan harapannya menamatkan buku lagi.

    Bakat yang dimiliki anak yang perlu dimaksimalkan dengan memperbanyak praktek bacaan yang memberikan tantangan untuk berpikir maju. Seiring dengan waktu anak anak akan menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia hingga pada tahap mampu berpikir bahwa dunia belajar itu sama menariknya dunia bermain. Dan Adam bersama rekan-rekan pelajar lainnya sedang menapaki jalan tersebut. Good luck, children!

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 28 Maret 2026.

  • Valerio

    Valerio

    Anak ini berhasil menemukan kebanggaan belajar Bahasa Inggris. Katanya, banyak teman temannya di sekolah belum mampu membaca tulisan Inggris. Padahal itu sangat gampang. Sejurus kemudian, ia pun mengucapkan beberapa kosa kata yang telah ia kuasai dengan baik. Saya terkesan dan selalu mengajaknya bercerita setelah kelas Basic Reading-nya selesai.

    Namanya Valerio, kelas 3 SD. Ia anak yang konsisten untuk membaca buku setiap kali datang belajar. Ia tidak pernah menghindar takkala gurunya memintanya untuk membaca. Tapi setelah ia selesai dan keluar main, ia tidak mau lagi membaca. Rayuan dan ancaman tidak mempan. Alasan yang paling sering ia sebut adalah capek. Menurutnya, ia telah belajar dan waktu yang lainnya untuk bermain. Bila terus didesak, ia akan diam, tidak menemani siapa pun untuk berbicara–Sebuah tanda protes yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada lagi belajar. Titik.

    Namun sikap ini sempat berubah. Pada 25 Maret 2026, hari pertama belajar setelah Idul Fitri, Vale adalah pelajar yang pertama datang ke kelas. Dari awal hingga jam pelajaran, ia seorang diri. Tiada seorang anak pun yang datang. Setelah membaca beberapa lesson, ia minta istirahat. Lalu, ia bermain hingga merasa bosan.

    ‘Ayo Vale, kita belajar lagi’, kata penulis. Tiba-tiba, ia menyanggupi. Ia langsung membuka lesson delapan puluh ke atas. Menurutnya, bacaan sebelumnya yaitu review lesson satu sampai sepuluh terlalu mudah. Penulis memenuhi permintaannya dan turut membantu memperbaiki pelafalan bacaannya yang masih sulit ia ucapkan. Lima lesson yang cukup panjang ia tuntaskan. Takkala badannya agak berkeringat, itu tanda bahwa dirinya butuh istirahat lagi dan ia pun memperolehnya. Saat kembali bugar, ia melanjutkan lagi bacaannya yang panjang itu.

    Enam puluh lima menit berlalu dengan efektif. Sisa jam belajar sebanyak dua puluh lima menit tidak ingin ia gunakan lagi. Ia meminta agar dapat menelepon ibunya untuk pulang. Permainannya segera dikabulkan.

    Memang sih, ketika anak-anak kekurangan rekan, waktu belajarnya akan lebih banyak dan malas untuk mencari alasan untuk menolak tawaran belajar. Sebaliknya, ketika ramai, seribu alasan bisa digunakan untuk menghindar karena dalam pikiran anak anak, bermain itu di atas segala galanya. Para guru yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak tentu tahu cara menyeimbangkan ini karena tujuan orang tua memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan adalah untuk belajar. Jurus membagi waktu untuk memenuhi kebutuhan tersebut penting agar selain masa kecil untuk bermain anak anak tidak dirampas tetapi di sisi lain, belajar tetap berjalan.

    Selain itu, anak perlu dilatih untuk menemukan kebanggaan kenapa mereka memilih suatu pelajaran. Vale merasa punya kelebihan berbahasa Inggris dibandingkan sebagian rekan rekan sekolahnya sehingga ia merasa berharga. Dengan Demin, kepercayaan diri pun berkembang.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 28 Maret 2026

  • Ganda

    Ganda

    Memahami seluruh struktur tenses secara utuh tidaklah menjamin para pelajar untuk bisa berbicara banyak. Itu memang satu kelebihan tapi tentu saja tidak cukup untuk menyampaikan banyak hal. Sebagai solusi, beragam perubahan kata kerja harus lebih banyak dipraktekkan yang sesuai dengan dengan tempatnya.

    Adeeva adalah pelajar kelas 4 SD sedang berusaha mengerti perubahan verbs (kata kerja) bukan dengan cara hapalan melainkan praktek perubahan kalimat pada struktur perubahan tenses. Puluhan verbs dipakai pada kalimat simple, Progressive, Perfect dan perfect Progressive. Dengan melakukan hal ini, ia secara langsung dapat tahu bagaimana menempatkan perubahan verb yang sesuai pola tenses.

    Persoalan-persoalan yang muncul bagi anak anak yang seumurannya adalah bagaimana menggunakan secara tepat fungsi tenses tersebut. Ini memang agak berat mengingat materi tersebut terletak pada two-concept event (konsep dua kejadian). Materi itu membutuhkan kecerdasan lebih untuk bisa menganalisa secara logis. Kendala yang sering dihadapi guru adalah menemukan bahasa yang tepat untuk menjelaskan secara sederhana kenapa anak anak. Ya, tidaklah mungkin menggunakan argumentasi sebagaimana diterapkan pada para pelajar orang dewasa. Oleh karena itu, kita tidak perlu terburu-buru. Kita biarkan saja pelajar seperti Adeeva ini praktek sebanyak-banyaknya dengan tanpa perlu memberikan penjelasan detail. Cukup memberikan beberapa contoh kalimat saja yang mengandung penggabungan kalimat dan diterangkan secara perlahan-lahan sesuai kemampuannya pada waktu yang tepat. Itu pasti akan sangat membantu.

    Kita pun harus mengingat bahwa dunia anak adalah bermain. Faika pelajar kelas 3 SD adalah anak yang baru saja meraih Emas pada National Olympiad tapi ia masih belum tertarik belajar tenses secara utuh sebagaimana Adeeva. Agar dunia belajarnya tetap menarik, keduanya berlatih listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada irregular verbs tanpa harus dihapal. Kita desain sedemikian rupa dimana mereka sebanyak mungkin mengulang-ulang baik secara bersamaan berbicara ataupun bergantian. Tanpa terasa dalam dua hari tepatnya dia pertemuan mereka mampu menyelesaikan 110 irregular verbs. Mereka punya gambaran bahwa dari 110 kata tersebut paling sedikit berubah menjadi 330 kosa kata. Kemajuan yang berarti.

    Pendekatan dengan tenses ini kemudian dengan sendirinya bukan lagi sekedar pembelajaran struktur melainkan strategi mengasah kemampuan berbicara lancar dengan teratur yang mempunyai manfaat ganda karena hal hal yang mereka pelajari mempunyai keterhubungan erat dengan bacaan teks-teks bahasa inggris pada jurnal atau buku berbahasa Inggris dan menjawab soal-soal dengan tulisan yang benar. Bahasa inggris sebagai pergaulan internasional dan sebagai pembelajaran akademik dapat berjalan seiring.

    Zulkarnain Patwa 
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama

    Bulukumba, Sabtu 28 Maret 2026.