Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Risma Aulia Udhar: Melejitkan Bakat Anak (2) Selesai

    Risma Aulia Udhar: Melejitkan Bakat Anak (2) Selesai

    Bulukumba, RBB (16/8)—Risma Aulia Udhar menikmati kesibukannya mengikutkan anaknya, Ahmad Faqiwh Dzakwan pada kegiatan Mengaji, Baca Puisi, Ceramah, Pidato dan Matematika. Mari kita lihat kesibukan Faqiwh dan ibunya yang selalu setia menemani.

    1. Mengaji di TPA Baeturrahiem, Kampung Loka oleh Ust. Tawakkal, Dosen Al-Ghazali.
    2. Ceramah di Dai Muda Bulukumba oleh Ust. Ikhwan Bahar.
    3. Puisi di Sanggar Seni Eppa Sulapa, Kampus Al Ghazali.
    4. Puisi di Teater Kampoeng oleh Om Dashraf.
    5. Pidato di rumah oleh kedua orang tuanya.
    6. Matematika di Rumah Belajar Bersama oleh Siti Satriana.

    Apakah kepadatan kegiatan ini tidak merenggut masa bermain anak? Tidak karena Faqiwh menyenanginya dan tetap punya waktu untuk bermain; baik bersama saudaranya ataupun rekan belajarnya.

    Pilihan belajar yang Risma lakukan ini didahului dengan penjajakan bakat dan potensi. Menurut Risma, sejak kecil Faqiwh itu hiper aktif banyak bicara, cerewetlah. Ia manfaatkan keaktifannya itu pada pidato, ceramah dan puisi. Faqiwh yang waktu itu masih berumur 7 tahun kemudian memperoleh momentum Hari Sumpah Pemuda pada 27 Oktober 2019 untuk menunjukkan kebolehannya berpuisi di hadapan khalayak ramai. Puisinya berjudul Bulukumba karya Musfirah Arifin mendapat pujian. Tepuk tangan meriah dari para penonton.  Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali berkata, “Saya bangga dengan kamu.”

    Pada tahun yang sama, Faqiwh kemudian ikut lomba Ceramah tingkat SD/MI (Madrasah Ibtidaiyah)  di Pesantren Babul Khaer. Menurut Risma, “Itu sebagai pembelajaran untuk pengalaman saja karena saat itu lawannya kelas 5 dan 6 SD sementara ia masih kelas 1 SD, baru lepas TK pada 2019”, katanya menyemangati.

    Pada 2020 di tengah teror Covid 19, Faqiwh yang sekarang ini telah berumur 8 tahun mengikuti Lomba Baca Puisi Daring  jenjang SD/MI Tingkat Nasional yang diadakan oleh Rumah Cermat di Jawa Barat. Saat ini Faqiwh terus melaju masuk dalam kategori 10 besar Se-Indonesia.

    Risma juga menjelaskan bahwa kemampuan Faqiwh ini erat kaitannya dengan SD 24 Salemba Bulukumba yang sangat peduli pada pengembangan minat dan bakat anak-anak. Pada tiap Jum’at pertama di awal bulan, SD 24 mengadakan Jum’at Bersahaja. Dalam artian, tiap anak boleh menyumbang apapun untuk ditampilkan di depan siswa-siswi sekolah. Dan Faqiwh sering tampil.

    Adapun mengenai literasi, sejak TK (Taman Kanak-Kanak), Faqiwh sudah bisa membaca. Karena ketertarikannya pada buku luar biasa, ibunya pun banyak menyediakan buku-buku pengetahuan umum di rumah. “Ia kurang tertarik pada cerita anak tapi ia suka mengenal tokoh tokoh dunia dan sirah nabawiyah (Kisah hidup rasul)”, kata Risma.

    Sedangkan tentang cita-cita ke depan, Faqiwh masih dalam tahapan penjajakan. Ibunya pun menyampaikan bahwa terlalu dini untuk menyimpulkan. “Saya tidak pernah menekankan pada anak mau jadi apa. Cukup biarkan saja kebiasaan baiknya berproses dan mengalir”, tutupnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Risma A. Udhar: Menginspirasi Anak-Anaknya Rajin Belajar (1)

    Risma A. Udhar: Menginspirasi Anak-Anaknya Rajin Belajar (1)

    1. Bulukumba, RBB (16/8)—Orang tua adalah kunci utama keberhasilan anak. Inspirasi kali ini dari orang tua pelajar bernama Risma Aulia Udhar. Di tengah kesibukannya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil di Dinas Perikanan dan Kelautan Bulukumba, hal ini tidak membuatnya luput untuk terlibat secara langsung dalam mengembangkan bakat dan pendidikan anak-anaknya. Ini kami baca dari keaktifannya menyebarkan info pendidikan anak di jejaring sosial pribadinya membuat kami tertarik mengenalnya lebih dekat.

    Untuk pendidikan non formal, Risma memilih lembaga yang ia yakini bukan hanya karena lembaga itu sudah terkenal sejak lama tapi juga karena kwalitasnya memang dapat diandalkan. Pilihan pendidikan anak-anaknya jatuh pada Rumah Belajar. Menurut Risma, “Banyak anak anak dari teman temanku berhasil di kelas Baca Tulis dengan baik”, kata ibu 3 (tiga) anak ini.

    Meskipun ia begitu semangat mengantar anaknya mengantar untuk mengikutkan pada kegiatan bermanfaat, ia sangat tahu kebutuhan yang utama yang harus didahulukan. Ia menjelaskan, “Sebenarnya anakku dulu (baca: 2019) pernah di Rumah Belajar cuma ia kepadatan jadwal; sekolah, ikut saya ke kantor, mengaji, puisi, dan Rumah Belajar. Anak saya lelah. Saat ada wabah Corona, anak-anak saya sudah tidak terlalu sibuk, tidak ke sekolah. Rumah Belajar  buka kelas, ya saya masukkan kembali ke sini. Sekarang, Ahmad Faqiwh Dzakwan berumur 8 tahun ikut kelas Matematika dan Adelia Dwy Rayhanah berumur 5 tahun ikut kelas Baca Tulis.”, terangnya.

    Mengenai kemajuan belajar yang dicapai, Risma menjelaskan, “Faqiwh itu dulu hanya bisa penjumlahan. Setelah di Rumah Belajar, saya heran, kok anak ini bisa ya perkalian. Hampir tiap pertemuan ada saja progress (kemajuan). Sekarang ia sudah bisa penjumlahan ribuan dan itu luar biasa”, katanya jujur. “Sedangkan Adelia pada Baca Tulis, ia tidak ada dasar sama sekali . Sekarang ia sudah bisa membaca gabungan suku kata dan masuk pada pelajaran bagaimana membaca huruf mati pada kata”, tambahnya.

    Mengenai cara mendidik di rumah, Risma melanjutkan bahwa kemajuan itu karena ia menanamkan kebiasaan belajar yang ia tanamkan sejak anaknya Faqiwh masih TK (Taman Kanak-Kanak). “Anak pertama adalah motivasi awal supaya buat adik-adiknya bisa mengikut ke kakaknya. Saya pun menghadirkan permainan yang bersifat edukatif, menyiapkan bahan bacaan dan membatasi tontonan. Saya selalu mendampingi dan memonitoring PR (Pekerjaan Rumah) yang diberikan dari tempat belajarnya”, katanya meyakinkan.

    Sebagai penutup, Risma melanjutkan bahwa dirinya sebagai orang tua harus pro aktif, peduli dan jeli melihat tumbuh kembangnya anak-anak. Jadi bukan hanya proses belajarnya tapi bagaimana mereka bersikap dalam kehidupan sehari-hari.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Sumbangan Barang Bekas untuk Spot Diving Terbaru

    Sumbangan Barang Bekas untuk Spot Diving Terbaru

    Bulukumba, RBB (15/8)—Pernahkah Anda membayangkan barang bekas yang dibuang itu jadi barang berharga? Sebegitu bernilainya, pada saat rapat Panitia Menyambut Hari Pariwisata Dunia membahas tentang material yang dapat diturunkan ke laut, para panitia mengusulkan untuk menyurati BPKD (Badan Pengelola Keuangan Daerah) dan Instansi Non Pemerintah (baca; swasta) di Bulukumba dan sekitarnya agar berkenan menyumbangkan barang bekasnya untuk destinasi spot wisata bawah laut terbaru di Bira. Diskusi yang hangat ini di ruang Kepala SDM (Bidang Sumber Daya Manusia) di Kantor Dinas Pariwisata (Dispar) pada Sabtu, 15 Agustus 2020.

    Mendengar pembahasan tersebut, Aslinda menawarkan rangka motor Vespa milik keluarganya yang tidak terpakai lagi. Ia menunjukkan foto barang tersebut dan disenangi oleh seluruh peserta. “Silahkan datang mengambilnya”, kata Linda yang juga pengawai Dispar. Panitia dengan sigap menyanggupi untuk menjemputnya.

    Jiad, Ketua Bidang Logistik, menyatakan bahwa bidangnya siap memodifikasi Vespa ini dengan memasang stir dan tempat duduk yang nyaman agar tampak menarik menjadi tempat berfoto bawah laut nantinya. teamnya ini pun akan dibantu oleh rekan rekan SMK 1 Bulukumba—tempat dimana Jiad mengajar.

    Adapun Imbang, Ketua Panitia, menegaskan pengharapannya kepada seluruh panitia bergerak aktif mensosialisasikan kegiatan rencana destinasi spot diving ini dan penanaman terumbu karang yang puncak pelaksanaannya pada 27 September 2020. Agar barang bekas terbuang itu lebih berguna, Ia pun meminta agar sosialisasi kegiatan ini dilakukan secara massif (berkelanjutan). Untuk itu, kepada seluruh pembaca yang ingin berpartisipasi, silahkan bergabung, termasuk menyumbang barang bekas Anda untuk diturunkan ke dasar laut.

    Zulkarnain Patwa
    Pantia Hari Pariwisata Dunia
    Anggota Pinisi Diving Club
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bulukumba, RBB (14/08)—Pada pembahasan buku Basic English Grammar, tiap pelajar maju menjelaskan isi yang penting pada Bab I di depan rekan-rekan kelasnya. Seseorang berpura-pura menjadi guru sementara yang lainnya seolah-olah tidak mengerti sehingga harus bertanya untuk mengetahui. Karena peserta kelas pre-intermediate ini hanya 3 orang, ada cukup banyak waktu untuk praktek secara bergiliran.

    Yang mendapat tugas paling utama adalah Fadel. Ia telah menegrti cara membagi sub-sub bagian materi dan memberikan beberapa contoh kalimat pada tiap pembahasan. Kesulitan yang ia hadapi adalah  cara menjelaskannya masih sering menghadap dan berbicara ke papan tulis, bukan rekan kelasnya. Kelebihannya, ia mampu menjawab semua pertanyaan rekan kelasnya dengan benar.

    Hanifah yang berpura-pura menjadi guru kelas.

    Adapun Hanifah dan Alodia masing-masing diberi kesempatan menerangkan materi penting yaitu pada “negatif dengan be, singlular noun and plural noun, constractions, dan be + place.”  Kelemahannya adalah terkadang tidak diperhatikan saat menjelaskan.

    Alodia yang juga berpura-pura menjadi guru. 😀

    Target yang ingin dicapai pada pembelajaran kali ini bukan lagi pada penguasaan materi tapi lebih pada cara menumbuhkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Matematika dengan Cara Bermain

    Matematika dengan Cara Bermain

    Bulukumba, RBB (14/08)—Kelas Matematika di Rumah Belajar Bersama tidak sepenuhnya identik dengan hitungan.  Bila anda datang bersilaturahmi, justru suasana bermainlah yang anda sering temukan terutama kelas didikan Master Awal Fajri.

    Awal memang telah lama berjuang merubah persepsi orang terhadap Matematika. Menurutnya, bila yang dididik anak-anak, tidaklah mengapa bila guru menjadi anak-anak juga. Ia pun membuktikan pendapat yang diyakininya ini. Di sela-sela waktu keluar main, para pelajarnya memintanya untuk bermain domino. Ia pun dengan riang gembira turut terlibat. Karena nomino juga ada hitungannya, sesekali ia sisipkan cara-cara berhitung yang benar dan efektif.

    Bagaimana tanggapan Anda terhadap cara mendidik ini?

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bulukumba, RBB (14/08)—Kelas Bahasa Inggris kategori pre-intermediate malam ini belajar tentang bagaimana cara tampil percaya diri berbicara dalam Bhs. Indonesia dan Inggris. Mereka unjuk kebolehan secara bergantian.

    Alodia terlebih dahulu bercerita tentang “A good Book” (Sebuah buku yang Bagus) dan Hanifah kemudian menceriterakan “In a Departement Store” (Di Sebuah Toko). Penampilan mereka ini lebih baik dari sebelumnya karena telah sangat yakin terhadap penguasaan materi. Alodia mengatakan, “Saya lebih sedikit tenang dan tidak gugup karena latihan di rumah dan paham isi cerita namun mimik dan gerakan tanganku masih kurang. Baru dua sampai tiga kali saya sanggup menggerakkan tangan”, katanya jujur.

    Explaining “A good Book.”

    Hal senada dialami rekan kelasnya. Hanifah menjelaskan, “Sebelum hadir di kelas, latihan di rumah sangat membantu saya untuk mampu menyampaikan apa yang saya pikirkan. Saya butuh latihan yang banyak agak lebih mahir”, ungkapnya.

    Sebagai langkah tindak lanjut, guru kelasnya memberinya lagi PR (Pekerjaan Rumah) yang sama tapi materi yang berbeda dengan menganjurkan untuk berlatih berbicara di depan cermin di rumah masing-masing. Supaya lebih mudah, praktek latihan terlebih dahulu dalam Bhs. Indonesia. Setelah merasa lebih baik, latihannya dalam bahasa Inggris.

    Kelebihan dan kekurangan mereka akan diketahui pada pertemuan berikutnya di hari Senin, 17 Agustus 2020.

    Bersambung…

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

     

  • Anak-Anak Semakin Senang Matematika

    Anak-Anak Semakin Senang Matematika

    Bulukumba, RBB (14/08)—Dengan berkembangnya pemahaman anak anak pada Matematika, kita bisa semakin yakin bahwa ke depan Matematika bukan lagi pelajaran yang menakutkan bagi anak-anak Indonesia, khususnya di daerah Bulukumba karena selama ini Rumah Belajar Bersama telah turut berperan serta menawarkan dan menjalankan solusi belajar yang cukup menggembirakan.

    Ketertarikan anak anak terhadap Matematika semakin tinggi. Hal ini dapat dilihat dari bertambah ramainya anak-anak mulai dari kelas 1 sampai kelas 6 SD yang mau belajar berhitung. Dari hasil diskusi dengan orang tua pelajar, hal ini karena orang tua sangat terbantu dengan kehadiran Rumah Belajar yang membuka kelas saat belajar tatap muka di sekolah tidak dapat terlaksana. selain lebih paham Matematika, keinginan anak-anaknya untuk belajar dan mengulangi pelajaran di rumah masing-masing menguat.

    Belajar secara detail dengan membahas bersama pada masalah yang dihadapi. Foto: Kelas Matematika didikan Rifa’atul Mahmudah.

    Demi menghindari keramaian kelas, Rumah Belajar pada periode tanggal 10 Agustus ini hanya membuka kelas Matematika pada Selasa, Kamis, Jum’at pada pukul 15.00 – 16.30, atau 16.30 – 18.00 dan 19.15 – 20. 45 Wita yang didik oleh Master Awal fajri. Dengan jadwal terbaru tersebut, Master Awal yang sebelumnya hanya mengajar di kelas malam, kini bersedia mengajar di sore hari.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Jum’at Berkah dengan berbagi Donat

    Jum’at Berkah dengan berbagi Donat

    Bulukumba, RBB (14/08)—Menurut beberapa penceramah, hari Jum’at adalah hari raya mingguan ummat Islam. Ramai ummat Islam terutama laki-laki shalat Jum’at berjamaah di seluruh dunia. Dan ada pula yang berpendapat hari Jum’at itu hari yang sangat baik untuk berbagi.

    Rumah Belajar telah membiasakan berbagi makanan pada tiap jum’at kepada para pelajarnya. Selain alasan berkah Jum’at, ini adalah hari dimana semua pelajar Rumah Belajar berkumpul bersama. Donat bisa lebih mengakrabkan suasana saat keluar main.

    Inilah yang terjadi selama dua minggu terakhir ini. dan bagi bagi rekan-rekan yang mau turut menyumbang, Rumah Belajar dengan senang hati menyambutnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bhs. Inggris: Menargetkan Tamat Satu Buku dalam Sebulan

    Bhs. Inggris: Menargetkan Tamat Satu Buku dalam Sebulan

    Bulukumba, RBB (14/08)—Ita Mufrita JBI (Juru Bahasa Isyarat) dan Fitrahwati Nur alumnus SMA 1 Bulukumba memilih waktu luangnya untuk belajar Bahasa Inggris. Ita memilih Rumah Belajar karena terkesan pada saat kunjungan pertama dimana orang-orangnya ‘welcome’ dan penuh keceriaan. Adapun Fitrah karena sebelumnya kakaknya telah bergabung selama bertahun tahun di Rumah Belajar.

    Ita mempelajari buku Questions and Aswers karya L. G. Alexander yang berisi 48 cerita; narasi dan dialog. Menurut kesepatakan dengan gurunya, ia berniat menuntaskan buku tersebut dalam 6 x pertemuan belajar. Dan pada pertemuan ke 3 hari ini, ia telah selesai membaca 24 cerita. Tadi ia sibuk mencari arti kosa kata yang tidak ia mengerti dan berlatih membaca dengan pelafalan yang benar.

    Adapun Fitrah yang karena akan kuliah di Makassar, waktu belajar di Bulukumba hanya sebulan. Gurunya menyarankan agar saat berada di rumah, Fitrah lebih banyak mengerjakan buku merah Basic English Grammar karya Betty Azar sehingga saat berada di Makassar, ia telah mempunyai bekal yang cukup untuk mengikuti kelas pre intermediate. Permintaan tersebut disangggupi.

    Menurut Nain, “Mengutamakan keaktifan belajar di kelas dan di rumah akan mempercepat proses pencerdasan pada kedua anak tersebut.” Ia pun melanjutkan, “Pandemi Corona alasan bukanlah yang untuk bermalas-malasan tapi alasan untuk lebih rajin karena waktu santai itu sebenarnya lebih banyak”, tutupnya.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bulukumba, RBB (15/8)—Anak anak SD (Sekolah Dasar) di Rumah Belajar sore ini sedang belajar latihan dialog. Mereka terlebih dahulu menuliskan diskusi yang baru saja mereka pelajari bersama. Setelah itu, mereka akan menghapal dan melakukan praktek berbicara secara berpasangan.

    Adapun yang dipelajari adalah tentang penggunaan penggunaan Wh-Question pada “what, who dan where.” Kalimatnya berisi tentang perbedaan antara kalimat yang kata bendanya tunggal dan jamak. Contoh sederhana:

    1. A: What is this/that? (Apa ini/itu?)
    B: This/that is a tree. (Ini adalah sebuah pohon)
    2. A: Who are they? (Siapa mereka?

    B: They are Neyra and Fateh (mereka adalah Neyra dan Fateh.)
    3. A: Where are you? (Dimana Anda?)
    B: I am here.     (Saya di sini.)

    Beberapa kalimat tidak dituliskan di sini namun secara garis besar telah terdapat pada contoh di atas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama