Bahasa apa yang paling awal dikenali manusia? Bahasa isyarat. Seorang bayi akan menangis atau mengerakkan bagian tubuhnya untuk meminta air susu dari ibunya. Setelah sedikit besar menjadi anak-anak, proses berbicara secara lisan menggunakan bahasa ibunya, bahasa Indonesia, pun dimulai. Kemudian, Di sekolah, kita melihat para ‘mantan bayi’ belajar membaca dan menulis.
Bahasa Inggris itu asing bagi para pelajar sekolah. Itu akan bertambah asing lagi ketika mendekatinya dengan membaca dan menulis. Tapi, ini bukan sekolah. Anak-anak dan remaja yang kursus ini mengikuti hukum alamiah yang mirip terjadi dalam bahasa Indonesia. “Proses belajar hari ini pada speaking (berbicara) tanpa writing (menulis), kata Miss Fathy Cayadi, pengajar RBB Tanete, Kab. Bulukumba. Pertama, perkenalan tentang nama, dan kebangsaan. Kedua, tanya jawab sederhana untuk bahan percakapan. Barulah setelah pondasi lisan itu terbangun kuat, tahapan ketiga diajarkan: menerjemahkan kalimat-kalimat bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Semua tahapan ini memaksimalkan pada keaktifan para pelajar untuk berani dan aktif berbicara.
Itu mudah kan! Pembelajaran ini bukan berarti anti buku, melainkan rangkuman dari bacaan buku, pengalaman, dan renungan yang diolah sedemikian rupa sehingga menjadi bahan pelajaran yang membumi, selaras dengan kodrat tahapan perkembangan berbahasa pada manusia. Alat penyampaian pemikiran terwujud dalam bentuk bahasa dimengerti oleh sang pembicara dan rekan bicara.
Lalu, kenapa kemudian banyak orang berpendapat bahwa bahasa Inggris itu susah? Itu karena mereka salah dalam metode belajar. Belajar teks di SMP itu sangat penting, tetapi kita tidak boleh sampai lupa bahwa pengantar dasar berbahasa secara alamiah tidak boleh ditinggalkan karena itu sama sekali tidak bertentangan dengan kurikulum apapun. kegagalan lainnya adalah jumlah siswa yang terlalu banyak dalam satu kelas, kurangnya jam praktik, minimnya motivasi siswa, hingga kreativitas guru yang kesulitan menemukan pola yang tepat dari masalah yang runyam itu.
Akibatnya, kebanyakan dari pelajar itu tidak sanggup berbahasa Inggris dengan baik hingga tamat sekolah.
Para orang tua pelajar mencoba mencari alternatif lain dengan mengupayakan memasuki pendidikan non formal, sebuah konsekuensi logis ketika pendidikan formal tidak bisa menyelesaikan masalah sederhana ini. Iklan yang memikat pun jadi perhatian utama dengan janji manis seperti cepat pintar dibungkus dengan garansi ditambah lagi fasilitas mewah, ruangan ber-AC dll. Tidak sedikit orang yang terhipnotis, menjadi sasaran empuk.
Padahal, Metode belajar atau pengajaran serta kualitas yang bertanggung-jawab, peduli menyelesaikan hal-hal yang belum dimengerti para pelajar, yang paling utama yang seharusnya menjadi prioritas karena itulah yang akan persoalan yang kita hadapi yang belum tuntas selama berpuluh-puluh tahun lamanya. Faktor pendukung tersebut seharusnya bukan dijadikan landasan utama, sebab kapitalisasi dalam dunia pendidikan akan semakin merajalela.
Namun, proses belajar yang mengikuti proses alami manusia tidak boleh berhenti sampai di situ saja. Orang bisa pandai berbahasa Inggris tapi buta huruf. Kemampuan membaca dan menulis harus serta merta mengikuti. Variabel lain semacam pronunciation dan grammar (tata bahasa) dari materi sederhana hingga kompleks mesti diajarkan agar para pelajar bahasa Inggris itu multi talenta.
Itulah yang dibangun RBB menghancurkan mitos bahwa bahasa Inggris itu susah. Selama lebih dari sepuluh tahun berjuang, para pelajarnya tidak hanya menjuarai berbagai macam kompetisi besar tetapi juga berani mengikuti kegiatan berskala internasional: pertemuan para pemuda yang diakan oleh United National (Perserikatan Bangsa-bangsa), beasiswa lanjut kuliah di luar negeri.
Zulkarnain Patwa
Makassar, Minggu, 8 Nopember 2026

Tinggalkan Balasan