Membuat empat puluh soal pertanyaan bersumber empat puluh kalimat berbahasa Inggris telah tuntas. Berikutnya, anak-anak membacakan dengan suara nyaring pertanyaan-pertanyaan itu disertai dengan terjemahan dalam bahasa Indonesia. Apakah mereka capek? Tentu saja. Guru yang berpikiran terbuka akan selalu mencari cara memaksimalkan waktu belajar tanpa harus memenjarakan anak-anaknya.
Strateginya terletak pada membagi latihan bicara itu menjadi empat bagian: sepuluh soal dalam setiap sesi. Setelah satu sesi selesai, anak-anak dibiarkan bebas membicarakan apa pun dalam beberapa menit. Itu seperti keluar main, tetapi tubuh mereka tetap berada di dalam kelas. Canda tawa menyemarakkan suasana. Ketika kegembiraan mereka itu hampir mengarah pada suasana yang benar-benar bermain, sang guru pun berkata, “Ayo semuanya! Kita kembali belajar.” Kontan saja, mereka protes. “Tunggu dulu. Kami masih mau bermain,” kata Ainun. “Permainan kalian boleh dilanjutkan asalkan mampu membaca sepuluh pertanyaan: pertama, kita baca secara bersama-sama melalui pendampingan guru agar kesalahan dalam pengucapan dapat dikoreksi secara langsung. Kedua, kalian ulangi lagi bacaan secara berpasangan sesama rekan kelas yang kalian suka,” balas guru itu. “Kalau kalian tidak mau, tidak ada keluar main lagi,” kata sang guru. Pilihan yang sulit, seolah-olah hendak merenggut kebebasan anak-anak.
Mereka pun berinisiatif untuk berdiskusi. “Ini curang. Kita sudah praktik, tetapi kita masih disuruh belajar lagi,” kata seorang anak. “Percuma protes. Kita tidak diberikan izin karena menurut guru, kita datang ke sini untuk belajar, bukan main-main,” tanggap pelajar lainnya. “Gampang itu. Kita ikuti saja permintaannya guru. Kalau sudah selesai sepuluh bacaan, kita pasti dapat jatah main-main lagi,” kata seseorang yang menawarkan solusi. “Siapa yang sepakat, angkat tangannya?” sebuah usulan hadir seperti mau membuat voting. Semua angkat tangan, meskipun ada juga sekadar ikut-ikutan saja. Guru yang menyaksikan diskusi mereka hanya tersenyum dan menanti keputusan bulat anak-anaknya. Lalu, mereka pun menyampaikan hasil rembukannya. “Kami mau membaca,” kata seorang anak yang mereka percaya sebagai penyambung lidah anak-anak.
Begitulah! Kenyataan pada sesi kedua, anak-anak itu memilih menyelesaikan semua bacaannya sehingga tidak ada lagi sesi ketiga dan keempat. Mereka mau menuntaskan semua pelajaran tanpa perlu lagi dipanggil masuk ke kelas untuk belajar setelah keluar main. Guru pun sebenarnya senang karena target belajar dalam satu pertemuan lebih cepat tercapai.
Pada saat keluar main, Adeeva dari kelas bahasa Inggris dari kelas yang berbeda mengajak membuat kelas belajar. “Ini pelajaran berhitung dan PPKN,” kata Audree. Adeeva pun memberikan soal-soal yang ia sudah paham di luar kepala, terlihat meyakinkan. Anak-anak kemudian saling berbisik untuk memperoleh jawaban. Bila ada yang melapor, anak-anak yang berbisik itu langsung diprotes oleh pelajar yang lain sebelum sang guru cilik menegur.
Guru tahu bahwa kegembiraan anak-anak tersebut tidak mungkin diganggu sehingga ia tidak mengusik kelas itu. Namun, ia tetap mencoba menguji sejauh mana mempertahankan kelasnya. “Ayo kita main game kosakata, yuk?” ajak guru. “Tidak mau,” jawab anak-anak serempak. “Kami sudah menyelesaikan pelajaran bahasa Inggris. Sekarang, kami mau main-main. Gurunya harus anak-anak dan pelajarannya bisa kami ganti-ganti,” terang seorang bocah yang berinisiatif berbicara ke gurunya. “Baiklah. Kalian boleh menikmati pelajaran sampai jam belajar selesai,” balas guru untuk memberikan rasa nyaman. “Thank you very much, Mister” (terima kasih banyak, Mister), balasnya.
Para pelajar pasti mengalami lelah dalam belajar. Dalam suatu kondisi di mana jam belajar belum selesai, guru yang banyak ide pasti mencarikan solusi. Ia dengan sabar dan tabah mendengarkan tuntutan yang meskipun terkesan hendak melarikan diri dari pelajaran, itu dapat diarahkan pada kegiatan yang lebih produktif yang tetap fokus belajar. Lingkungan yang tepat akan sangat mempengaruhi apa yang mereka rancang di waktu senggangnya. Hargai pendapat dan berikan kebebasan untuk berkreasi. Dengan niat yang konsisten untuk mencerdaskan disertai tindakan nyata dalam memberikan kebebasan dalam berekspresi, waktu keluar main dapat berubah menjadi belajar di waktu keluar main yang lahir dari kemauan anak-anak itu sendiri.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 28 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan