Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya ikut olimpiade bahasa Inggris sedangkan Alika belum pernah ikut kejuaraan, tetapi karena menjadi teman dekat Faika, ia pun ikut kelas tambahan itu dan turut terpengaruh oleh Faika yang telah mendulang beberapa juara olimpiade tingkat nasional. Guru kelas pun mengambil jalan praktis dengan mengajak mereka membuka buku grammar (tata bahasa). Beragam latihan grammar dalam bentuk dialog telah mereka selesaikan. Jalan pintas pun dibuat dengan cara mereka berdiskusi berdasarkan dialog itu.

Karena pemahaman struktur mereka sudah lumayan bagus yang dibuktikan dengan jawaban yang benar, kedua anak ini diajak menerjemahkan pembicaraan mereka. Setiap satu kalimat yang dibaca terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan kemudian dilanjutkan lagi ke kalimat berikutnya. Alhasil, masalah ditemukan. Beberapa kata tidak mereka tahu artinya dan cara penerjemahannya pun kurang sempurna. Ini kesempatan yang bagus bagi guru untuk menjelaskan ulang makna yang dikandung dalam suatu struktur. Barulah setelah itu, tingkat kesalahannya semakin menurun.

Percakapan yang komunikatif sesama teman dekat membuat para pelajar ini merasa nyaman. Mereka pun saling mengingatkan bila terjadi kesalahan penyebutan dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Ketika mendapatkan persoalan yang sama pada bacaan lainnya, mereka sudah sadar sendiri dan merasa tidak perlu bantuan rekan. “Tidak usah beritahu. Saya bisa sendiri.” Kalimat ini sesekali mereka ucapkan ketika tersendat dan mengingatkan teman untuk tidak usah terlibat. Ada upaya untuk membuktikan bahwa mereka bisa mengandalkan diri mereka sendiri. Mereka hanya sedikit terbata-bata, tahu cara menyelesaikannya, dan hanya butuh waktu sejenak untuk berpikir tanpa interupsi.

Beberapa bagian kecil pada lembaran soal percakapan yang telah mereka jawab itu diperbaiki tanpa perlu berkonsultasi kepada gurunya. Sang guru pun hanya melirik apakah perbaikan jawaban itu benar atau tidak. Karena benar, ia seolah-olah tidak tahu. Guru pun berpikir bahwa keakraban sesama rekan itu biasanya saling membantu. Ini malah melahirkan bentuk bantuan yang berbeda: bukan dengan mendikte jawaban, melainkan dengan saling menghargai pikiran masing-masing. Pada tingkat lanjut, bantuan sama sekali tidak dibutuhkan lagi.

Belajar adalah proses mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri manusia. Para pelajar memang membutuhkan guru untuk membimbing agar tidak salah jalan, tetapi hal yang paling penting adalah guru itu mampu membuat para pelajarnya menemukan jalan mereka sendiri. Dengan menerapkan cara berpikir demikian ini, kita dapat menekan kebiasaan menyontek secara signifikan karena setiap anak sejatinya perlu terdidik untuk tidak tergantung pada orang lain baik kepada teman-teman sekelas maupun kepada gurunya sekali pun. Hal ini terlihat saat ujian. Tidak ada bantuan dari siapa pun juga.

Kita tahu, menyontek itu hal yang sangat sulit dihilangkan meskipun dengan pengawasan ketat. Malahan, semakin super ketat pengawasan, kreativitas menciptakan contekan, semakin ahli juga cara mendesain contekan yang lolos dari pengawasan. Ada baiknya, kreativitas itu dialihkan saja ke wilayah yang menumbuhkan rasa percaya diri pada kemampuan berpikir sendiri.

Satu hal penting lainnya yaitu mengetahui waktu istirahat buat para pelajar utamanya anak-anak karena ada masa titik jenuh tiba sehingga mereka akan mengalami kesulitan belajar ketika pelajaran dilanjutkan. Bila waktu fleksibel untuk keluar main ini diterapkan, guru yang sedang mengajar harus mengetahui secara pasti apakah para pelajar memang sudah lelah atau trik saja untuk keluar main.

Faika dan Alika mendapatkan tawaran dari gurunya. Dengan respon yang sangat cepat, keduanya langsung sepakat. Sisa waktu menjelang shalat Maghrib itu mereka gunakan untuk bermain catur. Mereka tidak lelah belajar karena kenyataan mengasah otak dengan catur adalah cara lain dari hiburan akal yang dianggap menyenangkan hati. Sebelum kelas belajar sore mulai, keduanya sedang asyik bermain catur. Waktu belajar telah selesai dan mereka ingin juga menyelesaikan perseteruan caturnya di hari yang sama tanpa didikte oleh siapa pun. Olimpiade itu penting untuk menumbuhkan minat belajar, tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan kualitas diri melalui proses belajar yang membebaskan manusia dari segala macam penjara kehidupan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 22 Oktober 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *