Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang tidak pintar, permasalahan itu dapat ditelusuri dengan menggunakan pendekatan pribadi. Bisa jadi itu terjadi karena kekurangan gizi atau ada persoalan keluarga. Tetapi jika dalam satu kelas tersebut hampir semua pelajarnya bodoh, maka yang bermasalah bukan lagi para pelajar, melainkan guru atau kurikulum. Pendekatan perorangan tidak efektif lagi.
Analisis yang dijelaskan dengan sangat sederhana di atas untuk menerangkan alur berpikir Marxian ini pernah diterangkan oleh Kang Jalal. Kebodohan terjadi bukan karena anak-anak, tetapi karena struktur memang sengaja membuat mereka bodoh sehingga struktur itu harus dimusuhi, dilawan, dan dihancurkan. Tidak ada jalur kompromi.
Di ruang perkuliahan, aliran berpikir ini memang diajarkan dan menjadi bagian dari kekayaan berpikir yang pernah dan dominan di dunia. Apakah kritik ketidakbecusan dunia pendidikan ala Marxisme itu salah? Lagi pula, ‘pedang’ analisis Marxisme menggunakan tesis dan anti tesis itu memang jitu dalam memetakan konflik.
Bukankah Islam juga melawan pembodohan? Apa yang membedakan Marxisme dengan Islam? Sama saja, kan? Menurut Murtadha Mutahhari, Marxisme membiarkan saja kebobrokan itu terus terjadi sehingga ada alat untuk mempropagandakan kemarahan rakyat tertindas untuk memberontak. Sedangkan Islam berbeda. Nabi Musa AS bersama Nabi Harun AS datang kepada Firaun untuk mengingatkan kesalahannya dan mengajak untuk kembali ke jalan yang benar. Tenggelamnya Firaun bersama bala tentaranya bukan karena tidak tahu kebenaran, tetapi menolak dan hanya mau bertobat di saat segalanya telah terlambat.
Sekelompok kecil pelajar SD dan SMP yang mengikuti kelas bahasa Inggris di luar sekolah, dari kemampuan membaca, menulis, dan berbicara, mereka seolah-olah tidak pernah belajar bahasa Inggris. Apakah para pelajar seperti ini dominan di masyarakat kita? Sikap mengambil jalan lain semacam inisiatif mengikuti pembelajaran di luar sekolah menjadi solusi terbaik. Sampel kecil ini tidak dapat dijadikan rujukan untuk menggeneralisasi rapuhnya pendidikan di pendidikan formal. Namun, setidaknya ini adalah alarm bahwa ada masalah besar yang sedang terjadi dan menjatuhkan reputasi pendidikan formal bila saja itu tidak mampu diselesaikan secara optimal pada pendidikan formal kita.
Tumbuh suburnya pendidikan alternatif di Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur adalah bukti bahwa bahasa Inggris belum mampu diselesaikan lewat pendidikan formal. Mereka tidak memberontak—tidak ada kalkulasi ideologis yang melekat seperti ajaran komunisme—tetapi tidak puas dan tidak percaya pada sistem yang sudah ada dapat mengatasi kebutuhan mereka.
Meskipun belajar di Kampung Inggris masih menawarkan harga yang terjangkau—sebagian lembaga baru bermunculan mengikuti sistem kapitalis yang jauh dari spirit dibentuknya kampung itu—masih lebih banyak rakyat di luar Pulau Jawa yang tidak mampu mengaksesnya karena persoalan biaya transportasi dan akomodasi yang tinggi untuk ke sana. Pendidikan alternatif yang mempunyai kualitas setara dengan Kampung Inggris itu dapat menjadi rujukan terbaik untuk menyelamatkan generasi penerus kita yang membutuhkan bahasa Inggris untuk menambah pengetahuannya.
Rumah Belajar Bersama (RBB) Bulukumba yang umurnya telah lebih dari satu dekade dan semua pengajar bahasa Inggrisnya saat ini pernah belajar selama bertahun-tahun di Kampung Inggris merupakan salah satu lembaga yang terinspirasi dan menerapkan model pendidikan yang mirip—sengaja tidak dibuat sama karena faktor lingkungan dan tantangan yang berbeda. Lembaga lain yang mempunyai kesadaran dan tanggung jawab cenderung melakukan hal yang sama.
Para elit yang mendesain kurikulum pendidikan bahasa Inggris di Indonesia itu juga tentu dapat mengadakan penelitian tentang bagaimana Kampung Inggris mensukseskan para pelajarnya ahli berbahasa Inggris, mulai dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 20 Oktober 2026
Note:
Penulis pernah berguru di Kampung Inggris selama satu setengah tahun.

Tinggalkan Balasan