Setiap kali membaca dengan serius, tangannya gemetar. Bacaan berbahasa Inggrisnya pun terbata-bata, tetapi satu hal yang membuatnya tangguh: semangat belajar yang tidak pernah padam. Ia suka bermain. Bila guru memanggil untuk membaca, ia rela meninggalkan semua aktivitasnya. Ia adalah A. Abizar Mappajaji, bocah yang senang diajar langsung oleh gurunya.
Di ruang kelas, satu atau dua anak perempuan saja yang ingin berpasangan dengan Abizar dalam praktik berbicara. Ia juga tidak peduli. Baginya, asalkan sudah ada rekan, itu sudah cukup. Yang terpenting adalah ia juga aktif mengerjakan tugas yang diberikan: bekerja dengan penuh semangat.
Di luar ruang kelas, ia anak yang paling sering disebut namanya. “Bukan Abizar panggilannya, Mister. Azibar,” kata seorang anak. “Iya. Azibar,” sahut yang lainnya. Bukankah kita tidak boleh menyebut atau mengganti nama orang seenaknya? Abizar sadar akan hal itu, terlihat tidak protes, dan menganggapnya candaan. Nama ‘Azibar’ yang paling sering disebut saat bermain. Lidah anak-anak suka menyebutkan dengan suasana hati riang gembira.
Baru-baru ini, Abizar mengikuti latihan tulis tenses secara acak. Pikirannya masih kesulitan mengetahui perpindahan tense dalam kalimat. Ia selalu duduk sabar menanti hingga gurunya tidak begitu sibuk lagi menjawab pertanyaan murid-murid. Ketika suasana agak tenang, Abizar berkata, “Tolong kasih tahu caranya.” Guru yang memang sangat perhatian kepada Abizar akan segera mendampingi hingga semua lembaran soal terjawab. Ia tidak pernah membantah apa pun yang diminta oleh gurunya untuk dikerjakan.

Kendala besar yang Abizar hadapi adalah tulisannya yang masih banyak coretan. Ia tidak terburu-buru untuk meminta lembaran kertas baru, tantangannya juga lebih sulit. “Abizar mau lanjut atau merapikan tulisan?” tanya guru. “Saya mau rapikan dulu, Mister,” jawabnya lugas. Kertas baru diberikan untuk menyalin ulang jawaban yang telah ia buat dengan benar.
Dalam pandangan penulis, Abizar mengantongi tanda-tanda kesuksesan. Jika dibagi dalam dua kutub, banyak anak yang pintar terlalu sering menganggap remeh pelajarannya sehingga tidak begitu perhatian lagi. Akibatnya, mereka tahu sepotong-potong saja, tidak memahami pelajaran secara utuh. Abizar adalah kebalikannya. Ia mengetahui sedikit demi sedikit dan terus berkelanjutan. Layaknya lari maraton, perjalanan manusia dalam belajar itu sangat panjang: SD, SMP, SMA, dan universitas serta lingkungan nonformal. Abizar yang teguh dalam belajar, pengetahuannya kemungkinan besar akan menggunung. Begitulah logika dalam pikiran. Waktu yang akan membuktikan bahwa kebenaran dalam pikiran ini menjadi nyata.
Fakta lain, ada banyak anak pintar yang juga tekun, rendah hati, dan memahami pelajaran secara utuh. Realitas tidak se-hitam-putih itu.
Siapa yang bisa memprediksi bahwa Abizar bisa menjadi orang yang hebat? Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) pernah bercerita tentang seorang pemuda yang nyantri di Bangkalan, Madura. Ilmunya biasa saja dibandingkan rekan-rekan lainnya. Santri-santri sudah banyak menghafal Al-Qur’an. Pemuda itu tidak hafal Al-Qur’an, tetapi ia mempunyai satu hal, berkhidmat ke gurunya. Tugas pemuda itu yang ia laksanakan dengan tulus adalah mengurus kuda: memberi makan, dan membersihkan kandang kuda milik gurunya, Kiai Syaikhona Kholil. Siapa sangka, di kemudian hari, pemuda itu dikenal sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pendiri organisasi Islam terbesar sedunia. Ia adalah K. H. Hasyim Asy’ari.
Dalam tradisi pendidikan Islam khususnya pesantren, kecerdasan isi kepala bukanlah segalanya. Keberkahan ilmu itu lahir dari kebersihan hati dan ketulusan dalam melayani (khidmah) kepada guru. Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Ilmu itu cahaya dan cahaya itu diturunkan kepada orang yang membersihkan hatinya.” Tentunya, penjelajahan pencerdasan otak harus terus bergerak juga.
Seperti halnya kisah Abizar sebelumnya yang tidak memilih jalan pintas dan fokus pada proses belajar. Ia anak sembilan tahun yang dalam kehidupan kesehariannya rendah hati, tidak sombong dan fokus menjalani proses belajar. Kita tidak tahu pasti apakah jejak kehidupannya juga akan menjadi tokoh besar atau tidak. Tetapi, beberapa hal kecil yang mirip dengan K. H. Hasyim Asy’ari juga ia lakukan.
“Sewaktu masih sangat kecil, Abizar belajar membaca di Rumah Belajar Bersama (RBB).” Setelah lancar, ia menyatakan diri tamat dan kemudian, memilih belajar bahasa Inggris. Di kelas inilah pikiran dan hati Abizar ditempa lebih tangguh menghadapi samudra kehidupan menuju masa remaja, muda dan dewasa.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis 10 September 2026

Tinggalkan Balasan