Menjebol Siri’ Pendidikan


Seorang anak kecil sembilan tahun, masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan, 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses teratur di luar kepala, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah. Seorang anak kecil berusia sembilan tahun yang masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui banyak hal. Ia menamatkan buku Basic Reading (bacaan dasar) kurang dari satu bulan: 144 lessons. Ia juga telah hampir menyelesaikan tenses, pelajaran setingkat SMP dan SMA yang hampir ditinggalkan oleh kurikulum Indonesia, secara teratur di luar kepala. Namanya Ashimah Nusaibah Shiddiqah.

Ashimah dengan dua orang anak segudang prestasi tingkat provinsi hingga nasional.

Fajar Hidayat, sang paman, mempunyai rekam jejak kuliah di Universitas Glasgow, bagian dari universitas terbaik dunia kedokteran di Skotlandia. Ia juga relawan kemanusiaan di Masjid Jami’ Glasgow.

Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.

Yuni Afriani Salim, ibu Ashimah, seorang dokter gigi yang bercita-cita menjadikan anaknya memiliki kecerdasan almarhum pamannya yang bersekolah hingga ke luar negeri. Ia ingin anaknya mempunyai kepekaan sosial. Lalu, seorang polisi yang aktivitasnya melebihi intelijen sangat rajin mengikuti video jejak perkembangan Ashimah di media sosial. Setiap video live Ashimah sebisa mungkin tidak terlewatkan ia tonton. Polisi muda ini adalah Aswar Adjieafry Zed, ayah Ashimah. Kedua orang tua ini sangat percaya bahwa kemajuan anaknya bersumber dari pendidikan.

Ashimah belajar bersama Faika (jilbab putih), pelajar kelas 4 SD yang meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Nasional diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO) pada 17 Februari 2026.

Tetapi, Ashimah dianggap oleh ibunya kurang pandai Matematika. Di kelas 4 SD, ia masih belum menguasai perkalian 1 sampai 9. Ini hal biasa di sekolah zaman sekarang. Anak-anak yang lain banyak mengalami nasib yang sama. B. J. Habibie mengatakan bahwa gen pada super intelligence software (perangkat lunak kecerdasan luar biasa) anak itu ada pada ibunya. Mungkin ibu ini ‘menyerah’ dengan sistem yang ada sehingga berpikir anaknya kurang pandai berhitung. Padahal, ia sendiri pandai berhitung. “Selain Inggris, saya ikutkan juga Ashimah les Matematika. Kalau dalam beberapa bulan, ia tidak bisa Matematika, saya sebaiknya hentikan saja di Matematika. Itu mungkin bukan bakatnya,” kata ibunya.

Ashimah bersama Adeeva, peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris diselenggarakan oleh GEMANESIA dan KOMPAS pada 23 Juni 2026.

Teori pendidikan modern hebat dalam hal mengukur umur dan kemampuan anak dalam berhitung. Sayangnya, itu sering kebablasan karena banyak anak yang sudah mencapai kelas 4 SD belum tuntas perhitungan sederhana: sungguh terlambat.

Sukreni Abdullah (Daeng Reni)—dokter gigi juga, seorang pelajar yang berasal dari Kalumpang, Kec. Bonto Tiro, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), pada tahun 80-an telah menjadi representasi terbaik Sulsel untuk kejuaraan cerdas cermat di Jakarta. Menurut pengakuannya, anak cerdas Desa Tri Tiro di SD Inpres 196 Kalumpang ini gagal juara satu nasional bukan karena tidak tahu jawaban atau kalah cerdas, tetapi sorotan video kamera TVRI membuatnya terhenyak kaget, demam panggung. Pikirannya buyar. Ia kembali ke kampung halaman dan menceritakan kepada keluarga serta rekan-rekannya tentang kesiapan mental anak ketika menghadapi keadaan yang tidak terduga dan tanpa didampingi langsung oleh orang tua. Hal ini sangat perlu diperhatikan.

Sukreni Abdullah bersama kedua orang tuanya Puang Dullah (Alm.), Ummi Sia, dan Daeng Accul serta anak-anaknya.

Fukushima, Tokyo dan Miyagi—hanya contoh karena hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—negeri Jepang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan Andi Dayat sarjana teknik bercerita, pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh, hanya bergoyang-goyang, serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.Fukushima, Tokyo, dan Miyagi—hanya contoh; hampir seluruh Jepang sangat aktif karena terletak di empat pertemuan lempeng tektonik—adalah bagian dari negeri Jepang yang paling rawan terkena gempa bumi. Keadaan alam memaksa mereka berpikir untuk mampu membuat bangunan kokoh anti gempa. Seorang rekan, Andi Dayat, sarjana teknik, bercerita bahwa pada pondasi bangunan kokoh di Jepang, ada bantalan karet laminasi, inti timbal, pegas baja raksasa, dan peredam hidrolik. Gedung tidak roboh dan hanya bergoyang-goyang: serasa bayi yang diayun-ayun oleh ibunya. Gempa megathrust sekali pun kini tidak semencekam dahulu kala.

Kecerdasan manusia Jepang dalam menghadapi tantangan alam.

Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang, tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras, disebut beras jagung. Enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.

SDN Inpres 196 dan SDN Inpres 134, dua sekolah dalam satu tempat tanpa dipisahkan oleh pagar. Di sinilah Daeng Reni, Fatmawati Patwa dan Saiful Patwa pernah bersekolah. Ummi Sia, ibu Daeng Reni, mengajar dan sebelum pensiun pernah menjadi Kepala Sekolah di SDN Inpres 134.

Bonto Tiro yang alamnya berbatu karang tidak ramah untuk pertanian besar. Makanan kesehariannya disebut beras jagung: hanya jagung yang diolah berbentuk seperti beras. Beras jagung enak dimakan jika baru saja dimasak atau hangat. Bila dingin, beras jagung ini keras membatu. Beras padi hanya milik orang kota. Beras dari kota itu primadona, betapa pun di kemudian hari hasil penelitian mengatakan beras jagung itu sangat sehat karena tidak memicu lonjakan gula darah secara drastis seperti yang biasanya terjadi setelah memakan beras padi.Untuk mengubah nasib, ada budaya siri’ (malu). Lebih baik mati daripada hidup menanggung siri’. Rakyat Bonto Tiro meledakkan energi siri’-nya ke arah pendidikan, bukan berkelahi untuk saling membunuh bila ada yang menghina. Siri’ ko punna tala sikola (malulah kamu atau kalian bila tidak sekolah/terdidik): sebuah proses pembudayaan pada pengalihan dari adu fisik ke adu otak. Tak heran, harta benda mudah dikorbankan untuk pendidikan anak-anak hingga minimal selesai tahap S-1. Hasilnya, Bonto Tiro di kemudian hari menjadi buah bibir sebagai sarang pendidikan termaju dengan mencetak sarjana terbanyak di Sulsel. Tentu saja, kesuksesan ini tidak berdiri sendiri. Faktor pendukung lainnya, seperti kualitas guru sekolah yang berdedikasi tinggi dan menjalankan kurikulum secara cepat, turut mempengaruhi.

B. J. Habibie dengan Asse Nur Izza Maharani, anak dari Fatmawati Patwa di Taman Pintar Yogyakarta, 2013.

Sewaktu TK hingga kelas 3 SD, penulis tinggal di Kalumpang, di rumah Daeng Reni. Abdullah Demma (Puang Dullah) dan Syamsiah Lambero (Ummi Sia), orang tua Daeng Reni, tiap hari memberikan soal aritmatika (penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian). Bila menginginkan sesuatu, penulis terlebih dahulu harus mampu menjawab soal. Di waktu bermain juga begitu. Itu sudah semacam lifestyle. Di kelas 1 SD, penulis sudah lancar perkalian. Anak-anak lain di sekolah juga banyak yang bisa. Itu hal biasa saja, tetapi istimewa buat kampung yang lain. Mungkin.

Fatmawati Patwa bersama anaknya Lala yang kini kuliah di Universitas Al Azhar di Kairo, Mesir.

Hampir semua—kata ‘hampir’ untuk menghindari hal yang luput dari perhatian—anak yang tinggal di rumah Daeng Reni pendidikannya berhasil. Dua orang kakak penulis, yaitu Fatmawati Patwa dan Saipul Patwa, juga berhasil. Fatmawati Patwa selalu mempunyai nilai rata-rata 10 di rapor selama bersekolah di Pondok Pesantren Modern IMMIM serta Pondok Pesantren Madinah. Kemudian, Saipul Patwa—nama panggilannya adalah Sampulo (sepuluh) karena terlalu sering dapat nilai sepuluh—menjadi pelajar SMA terbaik se-Bulukumba dan mendapatkan tiket sekolah khusus di Makassar yang dirancang oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel.

Saipul Patwa bersama anaknya Aufa Patwa sewaktu masih bersekolah di MAN Insan Cendekia Gorontalo, sebuah sekolah yang didirikan oleh B. J. Habibie. Setelah tamat SMA, Aufa bercita-cita kuliah di Universitas Harvard di Amerika Serikat, tetapi orang tuanya meminta S-1 di Indonesia. Pilihan terdekat pun jatuh ke Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulsel.

Keterbatasan alam menambah klaim manusia untuk berkeluh kesah. “Jangan mengeluh! Mengeluh adalah tanda kelemahan jiwa,” kata Soekarno. Keterbatasan itu dijebol. Di genggaman tangan orang-orang yang mempunyai ketangguhan mental dan kemandirian, mereka berpikir untuk menolak menyerah. Penanaman spirit yang tangguh ini sangat penting ditanamkan sejak usia anak-anak seperti Ashimah yang sedang didesain membongkar kemustahilan lewat jalur pendidikan nonformal di Rumah Belajar Bersama (RBB). Rumah Belajar Bersama pun mendorong agar lifestyle kesuksesan cara belajar yang dijelaskan di atas diterapkan secara bersama oleh orang tua anak di rumah masing-masing.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 9 September, 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *