SD kelas 1, mereka harus mulai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang terpenting: bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, Rusia, dan Prancis. Itulah penggalan pidato Presiden Prabowo saat Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Jumat, 14 Agustus 2026. Itu artinya presiden tidak sedang main-main.
Sebelumnya, di Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Prancis, pada Kamis, 28 Mei 2026, ia juga telah memanfaatkan isu bahasa Prancis kepada Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Bahasa Portugis kepada Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 23 Oktober 2025. Prabowo memanfaatkan isu bahasa sebagai strategi diplomasi bilateral.
Presiden menyebut SD kelas 1 adalah kejutan, entah apakah itu tidak sengaja atau ada pengaruh semangat mencerdaskan yang masih tetap hidup dari dalam diri presiden. Penulis yang telah aktif mengajar dua dekade dan lebih satu dekade di Rumah Belajar Bersama (RBB), Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel), melakukan hal mirip, tetapi itu dalam ruang lingkup yang sangat kecil. Kami (baca: Penulis, Mr. Fajar Hamzah dan Mr. Agung Pratama Salassa, alumni Kampung Inggris Pare, Kediri, Jawa Timur) mendidik anak TK secara tidak sengaja. Pada 2021, Faika Qinara Putri Ridwan, anak TK, meraih juara karate internal INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulsel. Atas prestasi itu, Faika berhak mendapatkan beasiswa di RBB dengan pilihan bahasa Inggris, bukan Matematika.
Waktu itu Faika belum bisa membaca. Pada 2025, satu lagi anak TK, Afwa Afiza Arsi, setiap hari berada di RBB karena mengikuti ibunya, Miss Uci, guru Matematika RBB. Afwa sering memperhatikan pelajar membaca buku bahasa Inggris. Ia yang sudah pandai membaca dalam bahasa Indonesia itu merasa penasaran ingin membaca dalam bahasa Inggris yang dianggapnya bukan aneh, melainkan menarik.
Singkat cerita, pada Februari 2026, Faika yang hobi mengikuti kejuaraan meraih emas pada Olimpiade Bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO). Sedangkan Afwa, ia telah masuk SD pada 2026. Ia tampaknya satu-satunya anak kelas 1 SD di Bulukumba yang lancar membaca buku dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Kemampuan ini yang jarang dimiliki anak seumurannya di Indonesia. Kebanyakan anak kelas 1 SD masih belajar mengeja alfabet dan suku kata dalam bahasa Indonesia.
Dari peristiwa kecil itu, mungkin seperti itulah gambaran yang diharapkan presiden dalam bentuk skala besar. Prabowo dalam pidatonya itu mengatakan, “Anak-anak kita harus punya akses kepada pendidikan terbaik agar mereka nanti kalau masuk ke …” ia berpikir sejenak, “kalau sudah mencari lapangan kerja, mereka punya kemampuan lebih, mereka bisa diterima di mana-mana. Mereka bisa bekerja dengan pihak mana pun.”
Persoalannya, jangankan beragam bahasa asing, bahasa Inggris saja yang sedang diterapkan kepada anak-anak kelas 3 SD sekarang ini tidak memperlihatkan tanda-tanda keberhasilan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memilih menjalankan proyek mendidik guru kelas sekolah yang tidak punya dasar atau kemungkinan besar tidak minat untuk belajar bahasa Inggris, bukan merekrut sarjana bahasa Inggris yang sekarang ini banyak menjadi “pengangguran terdidik”. Pemerintah menyia-nyiakan sumber daya manusia siap kerja yang sudah tersedia dengan satu alasan klasik, keterbatasan anggaran.
Kenapa kita tidak belajar dari Iran? Contoh negara apa pun, boleh saja. Di tengah impitan hegemoni dan embargo Amerika Serikat dan Eropa, Iran percaya diri membangun kekuatan internalnya dengan memanfaatkan intelektual dalam negerinya. Keterbatasan membuat mereka lebih kreatif. Berdasarkan platform International IQ Test (IIT) yang dirilis pada 2026, Iran menduduki posisi keempat dunia dengan rata-rata skor IQ 104,80, sedangkan Indonesia menduduki posisi 126 dengan rata-rata skor IQ 89,96.
Ini memang kontras dengan pemikiran B. J. Habibie, manusia yang dikenal superjenius Indonesia yang tidak percaya dengan standar IQ. Menurut Habibie, “Tidak ada gunanya Anda memiliki IQ tinggi tapi pemalas, tidak memiliki disiplin. Yang penting adalah Anda sehat dan mau berkorban untuk masa depan yang cerah. Dan Anda konsisten, bekerja keras, berdisiplin.”
Kendati demikian, IQ orang Indonesia yang diklaim rendah bisa dibalik. Kemampuan dwibahasa (bilingual) sejak dini—seperti pengalaman belajar Faika dan Afwa—mampu memicu proses pengembangan kecerdasan otak dan meningkatkan fungsi kognitif (IQ) anak, sehingga klaim IQ rendah itu bisa dipatahkan lewat aksi nyata, bukan sekadar menjelaskan kehebatan teori pengajaran di atas tumpukan lembaran kertas.
Dalam arti lain, klaim usang tentang keterbatasan anggaran bukanlah batu sandungan untuk mewujudkan niat baik presiden. Ia hanya perlu menindaklanjutinya melalui regulasi yang benar dengan jalan membuka akses seluas-luasnya dalam merekrut dan memberdayakan para intelektual Indonesia yang sebenarnya banyak yang hebat, tetapi mereka lebih memilih tiarap daripada muncul di permukaan karena sistem yang tidak memberikan mereka peluang sehingga mereka tidak percaya lagi pada pemerintah. Mengutip Prabowo, “Pelajaran apa pun, kita kumpulkan guru-guru terbaik,” menjadi tugas utama para pengambil kebijakan untuk mendukung, meyakinkan, dan membuktikan kepada rakyat bahwa Presiden Prabowo tidak “omon-omon”.
Apakah mungkin Presiden Prabowo akan berpidato agar anak TK mulai belajar bahasa asing? Apakah Kemendikdasmen dan jajarannya di Dinas Pendidikan Provinsi dan Daerah serta dinas yang terkait, mempunyai konsistensi, disiplin, dan kerja keras dalam menindaklanjuti pidato Prabowo? Dan satu hal lagi, selama 81 tahun Indonesia merdeka, berapa tahun lagi anak-anak SD di Indonesia hingga bisa akrab berbicara dalam empat sampai lima bahasa asing seperti di Finlandia? Prabowo dalam pidatonya di atas itu sedikitnya menyebut delapan bahasa asing.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 26 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan