Manusia adalah tempatnya lupa. Apa yang telah dipelajari sebelumnya mudah berlalu begitu saja. Itu butuh cara agar hal penting teringat baik dalam pikiran. Satu-satunya cara yang dilakukan manusia yang dari dahulu sampai sekarang adalah review, pengulangan.
Bacaan dasar pada lesson (pelajaran) 28 telah diajarkan minggu lalu. Miss Fathy Cayadi ingin kelasnya lebih menarik. Anak-anak tidak diminta membaca buku, tetapi bermain yang permainannya tentang lesson 28. Dalam satu kelompok, tiga orang belajar memahami preposition of place (kata depan untuk tempat): in, on, out, and between (di dalam, di atas, di luar, dan di antara). Pemahaman teks pada bacaan itu kini lebih terinternalisasi dalam diri karena teks berubah menjadi tindakan, lebih sulit untuk dilupakan.
Keceriaan anak-anak terus berlanjut. Pada lesson 30, itu tentang kalimat perintah atau anjuran. Anak-anak tidak diminta lebih dahulu membaca buku. Potongan kertas yang berisi tentang kalimat perintah adalah permainannya. Misalnya, sweep the floor (sapulah lantai).
Agar suasana belajar lebih hidup, Miss Fathy mengatakan, “Saya pancing melalui kegiatan kerja sama berkelompok menghubungkan dua kalimat. Masing-masing anak mempunyai tugas untuk mampu ‘menjodohkan’ kalimat yang tepat. Lalu, setiap orang membaca kalimat yang berhasil mereka buat.” Mereka seolah-olah menyusun kalimat yang mereka buat sendiri. Kemudian, gerakan literasi mengikuti, semua pelajar membaca lesson 30 pada buku bacaannya.
Tantangan besar yang menjadi hantu para guru dan pelajar adalah grammar (tata bahasa) yang hadir di lesson 31 dan 32 yang membahas tentang present progressive (aktivitas yang sedang berlangsung sekarang ini). Di tangan dingin Miss Fathy, grammar itu berhasil diolah menjadi permainan terstruktur juga. ‘Sweep the floor!‘ yang sebelumnya dibahas di lesson 30 adalah contoh kalimat perintah yang berubah menjadi ‘She is sweeping the floor’ (Dia sedang membersihkan lantai) pada lesson 32. Anak-anak senang melihat perubahan kata ‘sweep‘ menjadi ‘sweeping‘.
Beberapa verb (kata kerja) lainnya yang ada di buku digunakan dalam praktik kalimat. “Mereka sangat tertarik karena menemukan banyak verb. Ini sesuatu yang baru bagi anak-anak karena minggu lalu, mereka hanya mendapatkan adjective (kata sifat),” terang Miss Fathy. Kekayaan materi ini terasa karena subjek he, she, and it (dia untuk laki-laki, dia untuk perempuan, dan itu untuk benda tunggal) membuat anak-anak lebih paham cara menggunakan kalimat dengan tepat—mengacu pada orang atau benda yang dimaksud.

Setelah semua urusan belajar dalam bentuk bermain tersebut, para pelajar Rumah Belajar Bersama (RBB) Tanete ini tetap diarahkan kembali pada bacaan buku. Untuk apa? Bukankah para pelajar sudah memahami materi pelajaran? Miss Fathy menutup permainan dengan bacaan pada lesson 28 dan 30. Lesson 32 juga diperlakukan demikian untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh. Itulah model pembelajaran yang lengkap.
Literasi itu sangat penting. Sebagai gambaran, skor literasi membaca dari pelajar Indonesia mencapai 359 poin, sedangkan standar rata-rata negara maju anggota OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development) 476 poin. Indonesia masih jauh tertinggal. Melalui langkah kecil berarti dari Miss Fathy di RBB ini, ia mengetuk hati pembuat kebijakan, para penggerak, serta pemerhati pendidikan dan kawan-kawan agar terus berkreasi membuat pembelajaran saling terkait dengan literasi agar mampu mencapai tingkat pemahaman. Para pelajar pun akan senang dengan buku, bukan anti-buku.
Membaca data PISA (Programme for International Student Assessment atau Program Penilaian Pelajar Internasional) itu, kita tidak bisa berpura-pura tidak tahu atau bahkan lupa bahwa literasi pada pendidikan kita masih sedang menghadapi segudang masalah serius yang harus segera ditemukan solusinya.
Apakah Kurikulum Merdeka dari pemerintah sudah cukup efektif membumikan kurikulumnya? Jangan lupa! Indonesia itu sudah cukup kenyang dengan pergantian kurikulum. Langkah jitu apa yang dilakukan pemerintah agar para guru di sektor pendidikan itu lebih termotivasi berkreasi? Adakah pembelajaran yang lebih menarik untuk menguatkan pemahaman pelajar selain review?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 22 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan