Pelajar kelas Reading (Membaca) biasanya membaca tanpa perlu tahu banyak tentang unsur yang membentuk suatu kalimat. Sesuai namanya, Reading aktivitasnya adalah terus membaca dari satu buku ke buku yang lain secara berkelanjutan.
Bacaan berbahasa Inggris itu terasa hambar bagi pelajar bila mereka tidak mengerti makna. Makna mendalam ditemukan dari proses pembelajaran struktur. Alika Mumtazah Al Hakim adalah pelajar kelas Reading. Setelah cukup akrab dengan buku asing, perlahan-lahan ia dilatih tidak mengandalkan modul terjemahan buku Reading-nya. Ia mendapatkan materi Passive — pembalikan kalimat aktif ke pasif.
Ini karena gurunya itu pernah berjanji. “Bila kamu mengerti tenses (kalimat aktif), belajar kalimat apa pun pasti bisa,” sang guru berkata. Alika anak kelas 1 SMP telah memahami dasar-dasar tenses. Janji itu pun diwujudkan.
Berikut ini kalimat yang Alika pelajari.Misalnya pada passive. I speak English (Saya berbicara bahasa Inggris).Kalimat aktif itu diubah ke pasif menjadi English is spoken by me (Bahasa Inggris dibicarakan oleh saya).
Kuncinya terletak pada be + V3. Rumus itulah yang diolah dalam bentuk perubahan kalimat dengan bantuan kotak kosong passive. Karena Alika telah mengerti cara memainkan be dalam hal ini “is” saat belajar tenses, maka perubahan dan perpindahan kalimat dengan mudah ia lakukan—hal lebih detail tidak dijelaskan di sini untuk menghindari pembahasan yang terlalu teoretis. Hebatnya, ia mampu mempraktikkan secara lisan ke sepuluh kotak passive—bukan enam belas sebagaimana tenses. Enam passive yang tersisa tidak diajarkan karena itu tidak dipakai dalam kebiasaan native speakers (penutur asli) baik dalam bahasa pergaulan sehari-hari maupun dalam bahasa resmi.
Alika tersenyum puas atas capaiannya ini, yang hanya dalam sekali pertemuan memahami pasif. “Saya tidak menyangka, Mister. Ternyata, saya bisa. Dulu, saya berpikirnya cuma ha ho ha ho,” kata Alika.”Apa itu ha ho?” tanya guru yang heran dengan istilah baru anak remaja itu.”Item maksudnya, saya merasa otak saya tidak bisa pelajaran seperti ini. Saya bangga bisa melakukannya,” terang Alika dengan senyum merekah.
Pada pertemuan pembelajaran yang mendatang, Alika akan melakukan review pada dua buku bacaan cerita berbahasa Inggris. Tugasnya adalah mencari kalimat passive dan berlatih menerjemahkan bacaan yang sesuai dengan konteks cerita. Variasi bentuk passive semacam stative passive dan lainnya dengan serta merta mengikuti.
Para pembelajar bahasa di era modern ini lebih menekankan pada kemampuan berbicara dan membaca. Fokus pembahasan tentang kaidah tata bahasa tidak menjadi perhatian utama lagi. Begitulah yang terjadi di Indonesia. Akibatnya, tingkat pemahaman terhadap bacaan lebih rendah meskipun banyak membaca. Memahami bacaan lewat terjemahan itu memang membantu, tetapi itu pengantar saja. Kedalaman makna dari bahasa dalam mengungkap hal-hal terselubung ditemukan dalam tata bahasa itu sendiri. Dalam bahasa Inggris, itu disebut grammar.
Kesadaran pelajar kita masih dominan pada keaktifan berbicara, mengamankan pelajaran sekolah atau kuliah. Kepentingan ini sebenarnya baik saja, ada alasan mengapa orang harus berbahasa Inggris. Kita perlu selangkah lebih maju dengan menjadikan bahasa itu sebagai alat pengetahuan. Bacaan buku kurikulum sekolah bukan karena mengejar nilai bagus. Mereka bisa diajak berpikir bahwa itu cara menemukan hal yang baru. Para mahasiswa yang telah lulus TOEFL pun biasanya tidak belajar bahasa lebih lanjut lagi. Buku yang direkomendasikan dosen untuk kebutuhan kuliah hampir tidak pernah dibaca—sebuah tanda miskin literasi.
Agar kebuntuan ini teratasi, pelajar zaman sekarang sangat perlu diajak untuk mau belajar secara komprehensif. Memulai dari speaking, reading, atau grammar etc. (bicara, bacaan, atau tata bahasa dll.), tergantung kesukaan saja. Minimal tiga elemen dasar ini sebaiknya mampu dipelajari—tidak saling dibenturkan—agar pelajar bisa menggunakan pengetahuan bahasanya lebih efisien dan multi fungsi.
Zulkarnain Patwa
Palopo, 13 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan