Inspirasi Paman di Glasgow bagi Ashimah di RBB

Ashimah Nusaibah Shiddiqah seorang anak berwajah polos dan rasa ingin tahu yang tinggi serta bertekad kuat yang terbaca dari pancaran matanya baru saja bergabung di kelas Bahasa Inggris dan Matematika. Pada saat itu, ia diantar langsung oleh ibu kandungnya, drg. Yuni Afriani Salim, mendaftar di Rumah Belajar Bersama (RBB). Kami cukup terkesan karena biasanya seorang pemula, terlebih yang belum akrab dengan metode RBB, memilih satu kelas saja.

Ada apa gerangan? Sudah jelas, kesadaran terhadap pendidikan dari dokter ini juga tinggi. Pasti ada sesuatu yang berharga di balik pilihan menyibukkan anak belajar di sore hari. Belum sempat pertanyaan itu diajukan, Dokter Yuni berkata, “Saya dulu pernah ke sini, mau memasukkan Ashimah untuk persiapan kelas Olimpiade Bahasa Inggris,” katanya lugas.

Penulis berusaha mengumpulkan ingatan yang terlupakan. “Oh iya, ingat,” kata penulis, “kami mohon maaf tidak bisa melayani anaknya Bu Dokter waktu itu karena jadwal kejuaraannya sudah terlalu mepet,” terang penulis. Dokter muda yang mengabdi di Puskesmas Gantarang itu pun maklum. Ia sangat paham bahwa untuk sebuah kualitas, itu butuh proses yang panjang.

Fondasi Kokoh Menuju Olimpiade
Untuk desain olimpiade, RBB menetapkan beberapa syarat harus dipenuhi semisal pelajar wajib minimal menamatkan buku Basic Reading (Bacaan Dasar) yang berisi tentang mengakrabkan diri dari keterasingan bahasa asing, membangun kepercayaan diri, dan merobohkan asumsi bahasa Inggris itu susah. Bahan materinya kosakata dan percakapan sehari-hari. Ini tidak repot, cukup rajin membaca dengan suara nyaring dan mengetahui arti bacaan hingga 144 lesson (pelajaran). Tuntas.

Sesuatu hal yang biasa bagi RBB melatih pelajarnya memahami materi tenses di luar kepala tanpa rumus, melainkan modal kotak kosong seperti yang tepat ada di hadapan Ashimah.

Reading tahap kedua bernama Preface to Pre-Intermediate Reading (Pengantar untuk Bacaan Persiapan Pre Intermediate). Ada bahan percakapan dan paling banyak cerita yang masih sederhana. Itu setingkat pelajar SMP dan SMA di Indonesia. Bedanya, pembaca disuguhkan puluhan soal dalam setiap lesson yang mengajak pembaca mengetahui secara mendalam isi cerita. Total soal 1.236 dalam 48 lesson.

Tidak ada konsep membaca sepintas lalu di sini karena semua hal penting, bukan sekadar kumpulan untaian kata yang indah dan terstruktur, melainkan juga bagian dari wawasan tentang dunia luar. Pembaca diajak berimajinasi dan berpikir tentang kejadian di berbagai belahan dunia yang disajikan dalam bentuk kisah yang kosakatanya masih agak lazim ditemukan. Pemahaman dibuktikan dengan jawaban benar pada soal.

Tahapan ini seharusnya beriringan dengan grammar (tata bahasa). Tiap pertanyaan tidak bisa dijawab dengan gaya speaking (berbicara). Karena itulah, meskipun pelajar tidak mengikuti kelas grammar, mereka dibekali bonus pelajaran tenses agar mudah mengetahui arah alur cerita bacaan, bentuk soal, dan menjawab dengan struktur yang rapi dan tepat. Mengantisipasi kewalahan, strategi yang matang telah dibuat melalui pelatihan tenses sejak pelajar itu masih di Basic Reading agar mereka lebih siap ketika memasuki buku tahap kedua.

Sebanyak 1.436 perubahan kalimat yang diucapkan pelajar di luar kepala meliputi verbal tense dan nominal tense—kalimat yang diucapkan sebenarnya jauh lebih banyak karena pelajar berlatih secara berulang-ulang hingga pemahamannya merekat kuat dalam kepala. 5.000 kali? 10.000 kali? Jawaban bisa beragam, tergantung daya serap otak pelajar itu sendir. Berapa kali diulang bukan hitungan utama. Bila pelajar lebih banyak praktik, proses belajarnya jauh lebih banyak, lebih baik. Tapi, apa pun itu, intinya mereka mampu paham tenses di luar kepala secara teratur dan acak.

Wajarlah bila pelajar yang selesai basic tenses ini, buku Reading tahap keduanya agak mudah diselesaikan. Kemudian, mereka pun siap diolah lebih lanjut. Begitulah gambaran kecil dari perjuangan para pelajar SD yang berguru di RBB hingga para pelajarnya meraih emas Olimpiade Bahasa Inggris tingkat nasional.

Warisan Inspirasi sang Paman
Diskusi santai bersama Bu Dokter pun kemudian berlanjut.

“Apakah ibu berkenan mempersiapkan Ashimah untuk olimpiade di masa akan datang?” tanya penulis.

Dokter Yuni menjawab, “Iya, mau.”

Sejurus kemudian, ia bercerita, “Adik saya, Fajar Hidayat, pernah kuliah S-2 Universitas Glasgow, Inggris Raya.” Ia pun tak.lupa memperlihatkan gambarnya dengan toga sarjananya yang mengagumkan itu.

Dokter Fajar peraih beasiswa bergengsi Chevening Award dari Inggris Raya yang menyaring calon pemimpin masa depan dunia. University of Glasgow di Skotlandia itu institusi kedokteran yang mendunia dengan jejak rekam di bidang kardiovaskular, peredaran darah manusia—Fajar memilih jurusan tersebut. Gerakan sosialnya selama di Glasgow adalah relawan di Glasgow Central Mosque (Masjid Jami’ Glasgow) di mana ia banyak meluangkan waktunya mengorganisasi dan menyalurkan makanan halal, rakyat yang ekonomi lemah dan pengungsi yang hidupnya serba susah.

Dokter Fajar Hidayat. Adik kandung Dokter Yuni yang kuliah di Inggris. Sumber gambar: drg. Yuni Afriani Salim.

Lebih lanjut, penulis menyambung. “Itu sangat bagus. Ada pamannya Ashimah yang bisa membantu mengajarkan untuk mempercepat kecerdasan anak Anda,” sambut penulis.

“Sayangnya umurnya pendek,” lanjutnya.

“Maksudnya sudah almarhum?” Pertanyaan ini memotong pembicaraan karena kaget dan hendak memastikan.

“Iya,” balasnya singkat.

“Oh! Sungguh sangat disayangkan. Saya turut berduka cita. Paling tidak, Ashimah mempunyai inspirasi dari keluarga terdekatnya,” balas penulis.

“Iya. Itulah mengapa saya sangat ingin Ashimah menjadi penerusnya,” respon Dokter Yuni.

Sebagai penguat, penulis mengatakan, “Insya Allah, itu bisa. Kalau saya perhatikan anak-anak RBB yang berprestasi,” raut wajah dokter itu terlihat bersemangat setelah mendengarkan klausa tersebut, “orang tuanya rata-rata mempunyai kesadaran pendidikan yang tinggi seperti Bu Dokter. Pada saatnya nanti, guru-guru dan saya pun akan memberikan pelatihan olimpiade buat Ashimah. Semoga ia mampu mengikuti jejak pamannya yang pintar itu.”

“Amin,” balas dokter Yuni.

Memicu Kompetisi demi Penguatan Fondasi Ilmu
Beberapa hari kemudian, Ashimah masuk kelas di RBB. Dalam tiga hari, ia telah menyelesaikan 65 lesson pada buku Basic Reading. Guru kelasnya, Mr. Ancha berkomentar, “Ashimah dianggap remeh oleh Valerio, teman kelasnya. Vale mengatakan bahwa Ashimah itu lemah. Ashimah tersinggung dan ingin melambung bacaannya Vale.” Mr. Ancha berhasil menanamkan kompetisi terselubung dalam pembelajarannya. “Itu bagus Mr. Ancha. Usahakan Vale juga banyak membaca agar kompetisinya terus terjaga dan tetap mengarah pada hal positif—menjadikan keduanya lebih baik.”

Capaian pembelajaran Ashimah dalam diagram batang.

Sedangkan dalam pembelajaran tenses secara lisan, anak sembilan tahun ini telah berlatih empat tense: Simple present, simple past, simple future, dan simple past future meliputi 240 perubahan kalimat dalam tiga hari juga. Penulis tidak akan terburu-buru memindahkannya pada perfect tense karena selain itu agak rumit untuk pemula, Ashimah perlu meyakinkan dirinya bahwa apa yang ia pelajari di luar kepala itu sudah yakin ia kuasai dengan baik atau mastery learning (penguatan fondasi). Video belajarnya pun diunggah ke channel YouTube dan Facebook sebagai data sejarah, ditonton ibunya dan netizen yang berselancar di dunia maya.

Dengan menggunakan kotak kosong tenses, Ashimah sedang menjalani proses belajar latihan tenses di luar kepala.

Mengenai Matematika, penulis belum menelusuri lebih jauh. Penulis berakrab ria dengan permainan kartu untuk mengetahui kemampuannya dalam dasar aritmatika pada bagian penjumlahan dan perkalian. Ia bisa menjawab dengan benar, baik dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Dalam penjumlahan, ia lumayan cepat, tetapi dalam perkalian, ia butuh waktu sedikit lebih lama. Karena itu, modul Perkalian dan Pembagian ala Metode 40—semacam perulangan latihan sebagaimana bahasa Inggris—diberikan kepadanya untuk berlatih di rumah.

Proses belajar yang berkualitas memang membutuhkan waktu yang panjang, tekad yang kuat dan kesabaran menjalani proses guna menuntaskan akar-akar ilmu pengetahuan. Layaknya rumpun bambu, tahun-tahun pertama, fokusnya pada penguatan akar. Setelah itu, bambu akan menjulang tinggi hingga 20 sampai 25 meter dalam beberapa minggu saja. Ia sangat tinggi dan tidak mudah tumbang.

Ashimah berlatih tenses bersama Ken. Mereka berdua setara dalam hal materi ini.

Dokter Yuni melakukan hal hal sama. Di pagi hari, Ashimah beranjak ke sekolah hingga siang. Setelah itu, ia lanjut belajar hingga sore menjelang Maghrib, matahari tenggelam. Sebuah proses perjalanan yang panjang yang membutuhkan energi yang luar biasa. Sang Dokter telah menanamkan makna perjuangan jauh sebelum anaknya mengerti apa itu perjuangan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 11 Nopember 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *