Menemukan Jalan Pintas Berbahasa Inggris

Tenses adalah pintu gerbang untuk memasuki cabang pembelajaran bahasa Inggris yang luas. Lalu, apa itu tenses? Tenses adalah kalimat yang menghubungkan antara waktu dan kejadian atau kondisi. Sederhana, ia memperjelas kejadian di masa lampau, sekarang, dan akan datang.

Orang yang buta huruf, fasih bicara tetapi tidak pandai membaca dan menulis tidak butuh tenses. Orang yang fasih bicara itu sudah lumayan bagus karena pada intinya bahasa itu alat komunikasi. Mereka sudah bisa memenuhi satu bagian terpenting dari bahasa. Tetapi, apakah manusia hanya puas sampai tahap Speaking (Berbicara) saja? Tentu tidak. Masih ada Reading, Pronunciation, Grammar, dan Writing (Membaca, Pengucapan, Tata Bahasa dan Menulis).

Mengapa tenses sebagai solusi jalan pintas tercepat untuk semua cabang bahasa Inggris di atas? Beberapa argumentasi di bawah ini yang dihimpun dari pengalaman mengajar sepertinya layak menjadi bahan pertimbangan untuk diterima. Kalau pun tidak, itu bisa menjadi bahan dasar membangun kritisisme yang akan lebih memperkaya kemampuan kita belajar bahasa asing, khususnya Inggris.

Pertama, ketika mengajarkan perubahan kalimat dalam tense, pelajar diminta bersuara nyaring. Itu jelas, membangkitkan kepercayaan diri untuk berani berbicara (speaking). Ini mirip dengan Audio-Lingual Method (Metode Audio-Lingual). Persamaannya terletak pada pengulangan struktur kalimat untuk membangun memori otot lidah dan percaya diri.

Kedua, dari suara yang dihasilkan, pronunciation (pengucapan) benar atau salah dapat diketahui dan diperbaiki. Ini yang sangat membutuhkan perhatian yang tinggi mengingat pelafalan kata dalam bahasa Inggris sungguh jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.

Ketiga, tense adalah bagian dari pembelajaran grammar (tata bahasa). Otomatis apa yang diucapkan sesuai standar tata bahasa itu sendiri. Pelajar akan tahu perubahan kelas kata, minimal verb (kata kerja) dan subjek dalam bentuk noun or pronoun (kata benda atau kata ganti) karena perubahan verb dipengaruhi oleh subjek.

Keempat, buku resmi untuk kebutuhan Reading menggunakan aturan grammar. Tulisan tidak resmi yang bertebaran di media sosial, betapapun tidak sepenuhnya sesuai kaidah grammar, mayoritas masih sesuai dengan alur grammar. Justru dengan mengetahui tenses, pembaca mempunyai sedikit wawasan untuk mengetahui celah kesalahan teks. Language Awareness (Kesadaran Bahasa) ini mengantarkan orang yang paham tata bahasa memiliki kepekaan instingtif untuk mendeteksi mana yang formal dan mana yang berupa bahasa gaul.

Kelima, setiap kalimat berpola tense. Jadi apapun yang ditulis, pasti berpola tense. Dalam penulisan formal, hanya orang yang mengerti tata bahasa yang mempunyai kemampuan menulis secara akademis.

Mungkin saja, ada yang berpikir bahwa memilih jalur mempelajari tense di atas bukan jalan pintas, melainkan jalan rumit. Orang yang baru belajar bahasa Inggris sudah dicecoki logika berpikir untuk mencocokkan kata yang tepat. Itu memperlambat kemampuan berbicara. Cukup memperbanyak kosakata saja dan kemudian dipakai berkomunikasi.

Pendapat tersebut mengandung kebenaran. Tetapi, bagaimana saat hendak menggabungkan kosakata yang telah dihafal itu menjadi kalimat? Apakah itu tidak membutuhkan logika sederhana juga?

Kosakata memang perlu. Tanpa kata, kalimat tidak mungkin terbentuk. Menggabungkan kata, itu butuh logika. Alangkah lebih baik bila logika sederhana tersebut diarahkan pada tense saja sembari terus mengajarkan hafalan kosakata baru. Kosakata yang baru itu dipakai dalam tense. Hal ini senada dengan teori lexical approach yang pernah digagas Michael Lewis. Dari grammar atau tenses, kalimat logis dan bermakna.

Sejujurnya, mengajarkan tenses kepada pelajar pemula dan anak-anak bukan perkara yang mudah. Kita akan menemukan penghalang besar di mana kemampuan berpikir logis dalam berbahasa dari setiap pelajar berbeda-beda. Tetapi, dengan terus menyuguhkan kalimat yang terstruktur, pelajar tersebut terbiasa menyampaikan hal yang benar. Waktu yang menyadarkan mereka bahwa apa yang mereka pelajari itu sesungguhnya jalan pintas terbaik untuk memenuhi kebutuhan berbahasa Inggris yang lebih kompleks dan komprehensif.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin 10 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *