Menjinakkan “Hantu” Bahasa Inggris

Kids zaman now (Anak zaman sekarang) meme yang meledak pada 2017. Lidah orang Indonesia mudah menyebutnya dan enak didengar. Warganet pun ramai menggunakannya, lisan dan tulisan. Tapi, tahukah kita bahwa sepenggal kalimat ini sebenarnya sindiran pada anak-anak yang dewasa sebelum waktunya. Mereka lebih tampil beda di ruang publik. Pengaruhnya jelas, dunia digital sejak usia dini.

oppo_34

Menggunakan Android adalah permainan anak-anak. Buku dianggap pelajaran. Padahal, bacaan begitu banyak bertebaran di dunia maya. Namanya juga anak-anak, mereka tidak peduli semua itu. Target utama mereka bermain games.

Fathy Cayadi tidak membenturkan antara dunia belajar zaman old dengan zaman now, tetapi menggabungkannya. Dengan handphone dan laptop sederhana, ia bermain online games membahas tentang adjective (kata sifat). Seperti yang bisa kita tebak, anak-anak girang. Senangnya bukan main, kayak bermain.

Setelah semangat belajar sangat hidup, Miss Fathy kemudian mengajak para pelajarnya membuka buku Basic Reading membahas lesson 23 sampai 27. Anak-anak belajar meletakkan sebuah kata benda yang tepat pada adjective. Pembahasan tentang penggunaan a or an (sebuah) diberikan karena dalam aturan grammar (tata bahasa), a or an—meskipun dikategorikan sebagai article (kata sandang)—bisa berfungsi sebagai adjective. Misal, a book. Kata “a” bisa disebut sebagai kata sandang dan bisa juga disebut sebagai adjective–karena menjelaskan ke “book”, kata benda. Setiap kata yang menjelaskan benda disebut adjective.

Struktur itu sebenarnya membentuk noun phrase (frasa benda). Namun, agar tidak bingung, penjelasan mendalam tentang frasa sengaja tidak dibahas secara mendalam. Yang terpenting, peletakan adjective-nya sudah benar. Secara tidak langsung mereka telah belajar frasa. Nanti pada waktu yang tepat, argumentasi mengapa dikatakan frasa akan dijelaskan.

Pembelajaran lainnya tentang penggunaan objek pronoun (kata ganti) pada kalimat. Ini juga sangat penting dipahamkan karena objek pronoun dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Kata saya, mereka, kami dll. (I, they, we etc.) tidak berubah dalam tata bahasa Indonesia ketika berposisi sebagai subjek atau objek, sementara dalam bahasa Inggris, subjek I, they, we, etc. tatkala diletakkan di objek menjadi me, them, us, etc.

Materi yang tidak kalah menariknya adalah percakapan pada lesson 23 dan 24 yang dibuat sesuai konteks bacaan. Misal, dalam percakapan terdapat kalimat “give me a glass” (berikan saya sebuah gelas). Guru, dalam hal ini Miss Fathy, mengajarkan, “give me a book or give me a pen.” Benda-benda yang berada dalam jangkauan pelajar menjadi bahan perbincangan.

Dari sini, kita dapat membaca pembelajaran Miss Fathy kali ini menggabungkan dunia digital lewat online games, literasi dengan buku, dan lingkungan sekitar yang membuat anak-anak dapat melihat benda pada kosakata Inggris yang digunakan.

Kombinasi tiga pilar dalam pembelajaran ini berhasil menciptakan suasana kelas yang hidup dan menyenangkan. Pendekatan komprehensif tersebut terbukti ampuh mengikis bayangan “hantu” menakutkan tentang bahasa Inggris sehingga ketakutan serupa yang dulu menghantui pelajar generasi zaman old tidak terjadi lagi di zaman now pada para pelajar di kelas ini. Kita tahu pelajar sekolah zaman old itu terpaksa belajar bahasa Inggris hanya demi memenuhi tuntutan kurikulum sekolah.

Zaman terus bergerak. Sindiran meme kids zaman now yang lahir pada 2017 itu di ruang kelas Miss Fathy di Belajar Bersama (RBB) Tanete pada 2026 ini mengalami perubahan makna ke arah positif. Buktinya, kelas berakhir dengan setoran tenses di luar kepala yang disiarkan secara live (langsung) pada materi simple tenses di mana setiap anak tampil perorangan menyetor perubahan kalimat tanpa melihat teks buku.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 9 Agustus 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *