Jam 9 di pagi hari, dua orang anak remaja dan satu orang dewasa lebih dahulu hadir di kelas Kampung Belajar. Kumpulan kecil ini sudah mampu berpikir abstrak dan logis serta tertarik mengatasi persoalan grammar (tata bahasa) yang dihadapinya di hari sebelumnya. Karena pasukan kecil anak-anak belum hadir, penulis yang bertugas mengajar percakapan dan reading (bacaan) mempersilakan peserta kelas membahas grammar.
Saat membuka latihan buku grammar, sebenarnya tidak ada hal sulit yang pelajar itu hadapi. Mereka telah mengerti konsep materi simple sentences pada nominal tense. Kendala mereka terletak pada keterbatasan kosakata untuk memahami arti soal. Padahal, menjawab soal-soal grammar tidak mesti tahu artinya. Namun, penulis membiarkan mereka mencari arti kosakata agar bahannya untuk bercakap dan lainnya bertambah.
Pelajaran grammar terus berlangsung sekitar 80 menit. Anak-anak SD yang datang belakangan juga turut terpengaruh membuka buku grammar-nya. Penulis membiarkan mereka saling bekerjasama mengerjakan latihan sembari sesekali membantu hal-hal yang rumit dalam pikiran mereka. Suasana kelas sangat santai–belajar sambil mendiskusikan pelajaran yang telah mereka lewati. Sesekali mereka juga membahas hal di luar pelajaran semisal nonton film dan makanan kesukaan. 10 menit terakhir menuju pukul 10.30, mereka pun istirahat dan memesan makanan.
Setelah urusan makanan selesai, semua pelajar membaca buku percakapan secara bersama-sama dengan suara nyaring. Setelah membaca satu lesson, mereka berpasangan melakukan percakapan berdasarkan bacaan yang baru saja dibaca. Terdapat 10 lessons yang berhasil mereka selesaikan. Praktik bicara ini menghabiskan banyak energi karena percakapan dalam setiap lesson cukup panjang serta menyita banyak waktu dan suara. Untuk membuat mereka tetap semangat, penulis membagi waktu 90 menit pada sesi kedua ini dengan memberikan istirahat selama dua puluh menit. Jadi, 10 lessons tersebut tidak terasa menguras banyak energi.
Persoalan yang penulis hadapi adalah tidak sempat menerjemahkan isi percakapan secara lisan kepada pelajar.
“Mereka punya modul terjemahan yang mereka bisa baca sendiri,” pikir penulis. Penulis memaksimalkan waktu untuk bercakap dan memperbaiki cara pengucapan mereka.
“Kalau kemampuan bicara mereka bagus, kepercayaan diri untuk bicara dengan orang lain pasti tumbuh,” pikir penulis dalam hati. Jadi, kosakata tidak lazim saja yang penulis terjemahkan.
Namun, penulis tidak yakin 100 persen bahwa pelajar tersebut membaca buku terjemahannya. Ada rasa khawatir dari dalam hati karena berdasarkan hasil riset Programme for International Student Assessment (PISA), literasi pelajar Indonesia itu tergolong rendah.
“Sial! Kenapa pula saya mengingat PISA itu?” pikir penulis. “Harus ada kepastian bahwa mereka membaca modulnya.”
Oleh karena itu, pada pertemuan berikutnya, ada baiknya bila percakapan pada buku dimengerti sebelum aktif bercakap. Dalam artian, mereka akan membaca modul terjemahan di kelas.
Para pelajar di Kampung Belajar ini sebenarnya telah membaca buku. Tiap kelas pagi, siang, sore, dan malam hari, pelajaran mereka berbasis buku-buku asing. Jadi, sebenarnya tingkat literasi-nya lumayan menggembirakan. Di tiap kelas pasti ada bacaan. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana membuat mereka mau membaca selain di ruang kelas. Memberikan tugas bacaan di rumah mereka masing-masing nampaknya bagian dari solusi. Tugas yang diberikan oleh guru itu dapat dianggap sebagai beban. Tak mengapa lah untuk sementara karena hal tersebut punya dampak positif. Ini belum keputusan final–masih mempertimbangkan apakah tepat atau tidak. Suasana perkembangan kelas belajar akan sangat menentukan untuk menemukan jurus yang paling efektif.
Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana menciptakan rasa ingin tahu lebih banyak. Penulis seringkali mengajak pelajar untuk berpikir fungsi belajar bahasa Inggris. Mereka menanggapi bahwa belajar bahasa Inggris adalah jalan kemudahan untuk mencapai cita-citanya. Selama mereka berada di Kampung Belajar, fokus belajarnya pasti terjaga. Mereka hadir di kelas sembilan jam sehari. Penguatan lebih lanjut dapat dilakukan oleh orang tua masing-masing di rumah agar anak-anaknya dapat tetap aktif belajar di sekitar lingkungan terdekatnya.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Kamis, 25 Juni 2026

Tinggalkan Balasan