Meruntuhkan Kerumitan

Kerumitan adalah kesempatan untuk melakukan hal yang lebih baik, kata B. J. Habibie. Begitulah teori keseimbangan sayap pesawat ditemukan oleh Habibie. Merujuk pernyataan Habibie, Eropa pada masa itu tiap minggu gagal mendaratkan pesawatnya dengan selamat. Habibie diminta menyelesaikan masalah tersebut dan ia berhasil menyelesaikan persoalan super rumit tersebut.

Berguru dari filosofi Habibie tentang “kerumitan”, penulis bertanya kepada Mr. Agung mengenai masalah yang ia hadapi mengelola kelas grammar (tata bahasa) di Kampung Belajar–program liburan Rumah Belajar Bersama (RBB). Agung menjelaskan bahwa ada dua orang anak SD yang sangat kesulitan mengikuti pelajaran. Maklum, grammar itu butuh ketelitian dalam menganalisis soal. Ini sulit ditangani bukan karena tidak cukup waktu–tiga jam sehari– tapi karena tingkat soal-soal yang tersedia belum mampu dicerna dengan baik oleh logika berpikir pelajar tersebut.

Penulis berpikir sejenak. “Gampang,” ungkap penulis meyakinkan. “Agar jam mengajarmu tidak banyak menyita waktu mengurus mereka, serahkan saja anak-anak tersebut kepada saya karena saya tidak sibuk saat kamu sedang mengajar.” Mr. Agung sepakat.

Solusi terbaik buat kedua anak tersebut adalah memberikan jawaban pada latihan soal-soal dan dibaca dengan suara nyaring secara berulang-ulang hingga pikiran mereka akrab gaya bahasa grammar. Tindak lanjut berikutnya, grammar diajarkan dalam bentuk speaking (bicara). Dalam buku latihan grammar, terdapat banyak materi soal tanya jawab yang sangat memungkinkan didesain menjadi bahan percakapan. Kebiasaan membaca dan bercakap dengan terstruktur tersebut akan sangat berpengaruh membentuk pola pikir yang lebih tertata.

Dari kalimat-kalimat Inggris sederhana yang mereka kenal baik dalam pikiran mereka, itulah yang diolah dan dipahamkan secara perlahan. Penulis pernah menerapkan metode ini saat menghadapi pelajar yang mempunyai karakteristik mirip seperti yang dijelaskan di atas.

Jadi, jika Habibie menaklukkan kerumitan dengan analisis yang mendalam, penulis justru mencoba menaklukkannya dengan meruntuhkan kerumitan itu menjadi hal yang paling sederhana.

oplus_0

Sedangkan kelas belajar di malam hari pada materi mengarang, terdapat strategi dari Mr. Ancha, guru kelas, untuk membuat pelajar aktif berbicara dimulai dengan pertanyaan. Ia menyederhanakan proses mengarang yang menakutkan menjadi sekadar menjawab pertanyaan obrolan sehari-hari. Intinya, menurut Mr. Ancha, “Ini berguna untuk menghindari anak-anak menerjemahkan kata-kata ketika berbicara.” Mereka dididik agar mampu berbicara secara spontan (spontaneous speech). “Oleh karena itu,” lanjut Mr. Ancha, “mereka dituntut menjawab soal-soal di bawah ini dengan gaya deskripsi, bukan yes or no answers (jawaban ya atau tidak).”

1. Do you have a family?
2. How many people are there?
3. Who looks like your father and your mother?
4. How often do you spend your time with your family?
5. Say what you like about your family.
6. Say what you dislike about your family.
7. Do you have an extended family?

Dari jawaban pada soal-soal tersebut di atas, ini adalah bahan untuk dijadikan karangan. Layaknya peribahasa yang mengatakan sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui: kelas ini mengasah kemampuan berbicara dan mengarang.

Ketika kerumitan telah menjadi sederhana, masih adakah kerumitan itu?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 19 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *