(Tidak) Berbobot

Sebuah kenyataan tak terbantahkan ketika Adeeva, anak kelas 4 SD, mampu praktik lisan pada active and passive voices (kalimat aktif dan pasif) dengan beragam bentuk perubahan berbekal kotak kosong tanpa melihat catatan sama sekali dan disiarkan secara live (siaran langsung) di Facebook. Orang bisa mengamati dan menyaksikan apakah Adeeva menyontek atau tidak. Penulis yang memandu secara terus-terang menyatakan bahwa Adeeva mengerti perubahan tersebut di luar kepala.

Karena latihan tersebut disertai dengan praktik lisan, ini adalah bukti bahwa belajar grammar (tata bahasa) tidak membuat anak-anak SD gagap berbicara Inggris. Justru ini bekal berharga untuk speaking (bicara) sesuai standar bahasa yang sangat berguna dalam percakapan dan pembelajaran akademik. Mengajarkan speaking tanpa perlu perhatian yang sama pentingnya dengan grammar dengan alasan belum waktunya anak-anak SD belajar grammar adalah bayang-bayang ketakutan saja atau sebuah simplifikasi (penyederhanaan) untuk menghindari kompleksitas pengajaran yang berbobot.

Orang bisa berpikir bahwa ini adalah generalisasi–satu contoh yang sukses dijadikan klaim untuk banyak orang. Itu benar. Tapi apa salahnya satu contoh yang baik tersebut dijadikan acuan untuk diterapkan kepada para pelajar dalam skala yang lebih luas? Dengan metode belajar yang tepat, itu adalah peluang untuk membantah generalisasi. Apakah anak-anak SD yang mayoritas bisa seperti Adeeva masih dapat disebut generalisasi? Keadaan pasti akan berbalik. Justru anak-anak SD yang tidak mampu itulah yang disebut generalisasi.

Para intelektual yang bergelut dalam dunia pendidikan sudah saatnya melakukan terobosan dengan mematahkan argumentasi para pendesain kurikulum bahasa Inggris sekolah yang hanya menitikberatkan pada speaking. Mana lah mungkin membaca teks dan menjawab pelajaran sekolah dengan baik bila tidak mengerti grammar? Terlebih, bahasa Indonesia mengunakan hukum D-M (Diterangkan-Menerangkan), sedangkan bahasa Inggris menggunakan hukum M-D (Menerangkan-Diterangkan). Terbalik, kan? Bisakah itu dipahamkan dengan mayoritas speaking saja? Mau tidak mau, dasar-dasar grammar pasti berlaku. Dan itu minimal dijelaskan pada frase dan paling efektif di kalimat dengan menggunakan tenses–orang berkomunikasi paling sering memakai kalimat.

Patut diingat, selain pendalaman grammar pada tenses dan passive yang dituduh tidak relevan bagi anak-anak, apa yang dilakukan Adeeva sejalan dengan kurikulum melalui cara pembiasaan literasi pada buku reading (bacaan) yang mempunyai tuntutan menjawab soal-soal sebagai pembuktian pemahaman terhadap bacaan. Nah, dalam menjawab soal, grammar mutlak perlunya, tidak cukup dengan modal speaking. Misal: Does Anita go to school? Jawaban yang tepat: Yes, she does. Anita goes to school. Anak-anak yang sekedar belajar speaking biasanya menjawab: Yes. Anita go to school. Pendengar bisa paham dan mengerti maksudnya, tapi jawaban itu salah.

Kemudian, untuk apa pula pemerintah mengizinkan Olimpiade Bahasa Inggris yang soalnya jauh lebih rumit? Pelajar yang mengandalkan speaking dari sekolah–itu yang dominan diajarkan–tanpa pembelajaran grammar yang baik, mereka pasti tersingkir. Pembelajaran ala sekolah tidak akan mencetak para juara. Tugas kurikulum pemerintah memang bukan mencetak para juara, tapi di sisi lain, pemerintah memberikan jalan lebar bagi penyelenggara untuk membuat soal yang melampaui kurikulum. Kan itu tidak fair bagi pelajar.

Pada akhirnya, kombinasi praktik lisan, reading, dan grammar harus mampu berjalan seiring untuk menutup celah kelemahan pembelajaran bahasa Inggris dalam dunia akademik.

Have they read books or have books been read by them? (Sudahkah mereka membaca buku-buku atau apakah buku-buku telah dibaca oleh mereka?) adalah hal biasa untuk Adeeva pahami dan dipraktekkan olehnya baik dalam bentuk active atau passive.

Zulkarnain Patwa 
Bulukumba, Kamis, 11 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *