Menghapus Kemustahilan

“Mr. jangan beri tahu saya. Tolong perhatian saja!”, kata Faika ketika sedang berlatih pengantar 88 perubahan kalimat tenses secara acak di luar kepala. Saat itu, ia sedang kesulitan menjawab sehingga guru memberikan sedikit bantuan, namun bantuan itu ditolaknya karena ia percaya diri sanggup melakukannya tanpa bantuan siapa pun. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ia sudah memahami seluruh perubahan tersebut secara teratur.

Anak berumur sembilan tahun ini sungguh mempunyai daya juang yang jarang dimiliki anak seumurannya. Hal ini terlihat dari permintaannya untuk praktik kalimat pada setiap subjek: I, you, they, we, he, she, dan it. Coba bayangkan, dari setiap subjek tersebut, terdapat 88 perubahan kalimat kecuali subjek I hanya 86. Itu berarti 614 perubahan kalimat yang ia praktikkan tanpa melihat catatan, sebuah tantangan yang memang ia inginkan disiarkan secara langsung (live) di Facebook. Tiap pertemuan belajar, ia pun suka mengganti verb (kata kerja), membuat kalimat baru, membuktikan bahwa ia memahami perubahan verb dan praktik sedikitnya 128 perubahan kalimat.

Alasan paling kuat mengapa Faika jauh lebih tekun belajar Inggris dari sebelumnya ialah ajang Olimpiade Bahasa Inggris di masa mendatang. “Meskipun pernah meraih emas se-Indonesia, kamu pasti kalah jika tidak lebih tekun belajar”, ungkap gurunya mengingatkan. “Iye, pale“, (pale: baiklah), balas Faika. Beberapa contoh soal-soal rumit olimpiade terbaru untuk kelas 3 dan 4 SD sengaja diperlihatkan kepadanya agar semangat belajarnya tetap membara. Strategi ini efektif membuatnya fokus, terlebih kedua orang tuanya di rumah aktif mencari informasi olimpiade yang diadakan di Indonesia.

Tapi jangan kira Faika ini memanfaatkan seluruh waktu jam belajarnya saat berada di kelas Bahasa Inggrisnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). Di samping sifatnya suka bergaul dan suka bermain sebagaimana anak-anak lainnya, ia juga dikenal sebagai anak periang dan berani berpendapat. Ia selalu meminta jam keluar mainnya ditambah, termasuk berani protes bila tidak diberikan jam tambahan untuk bermain. Otaknya tidak tertekan pada sebuah sistem yang kaku. Usulannya itu kadang-kadang diterima dan ditolak oleh gurunya dengan mempertimbangkan apakah anak-anak masih fit (segar dan fokus) belajar atau tidak.

Faika dan anak-anak lainnya sengaja diberikan kebebasan berpendapat agar kreativitas berpikirnya tidak terpenjara. Apa pun pendapatnya perlu kita dengarkan agar mereka terbiasa mengungkapkan ide-idenya secara terbuka. Bila terdapat perbedaan, itu tidak serta-merta dikunci dengan aturan, melainkan dibahas bersama hingga pada tahap tertentu anak-anak mengerti kenapa idenya diterima atau ditolak. Dengan demikian, mereka merasa dihargai dan berusaha mencari alasan lebih bagus jika suatu saat mempunyai usulan baru.

Dunia belajar tidak semata-mata penguasaan materi akademis atau angka superioritas di atas kertas, melainkan juga ruang pertumbuhan karakter, daya juang dan kebebasan berekspresi anak. Biarkan anak-anak berkembang menjadi dirinya sendiri minimal seperti halnya Faika yang menemukan kemandiriannya sendiri dalam menjawab soal.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 10 Juni 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *