Bulukumba itu sangat kaya akan potensi sumber daya manusia. Anak anak ramai di RBB (Rumah Belajar Bersama) ini bergembira belajar Bahasa Inggris dengan wisatawan mancanegara. Ratusan tamu asing dari berbagai macam latar belakang telah sering berkunjung ke RBB. Kenapa mereka mau ke kota Bulukumba? Alasan yang paling berkesan adalah karena mereka peduli pada pendidikan dan ingin mengenal dengan berkomunikasi dengan penduduk lokal.
Lalu, kenapa di daerah wisata Bulukumba seperti Tanah Beru, Lemo-Lemo, Ara, Dato Tiro di Hila-Hila dan Amma Toa di Kajang dan lainnya tidak dibangun pusat pembelajaran bahasa asing? Wisatawan mancanegara itu
seringkali mengeluhkan kurangnya kemampuan orang lokal yang bisa berbicara bahasa internasional sedikitnya Bahasa Inggris. Mereka tidak tahu bertanya kepada siapa terhadap informasi lebih lanjut pada tempat yang mereka ketahui dari media sosial.
Coba perhatikan Borobudur, Prambanan dan Bali. Wow kan! Masyarakat di kawasan wisata meyalani tamu dengan bahasa asing, lapangan kerja tercipta. Kemampuannya bukan hanya Bahasa Inggris tapi Perancis, Belanda, Jerman dan banyak lagi. Para turis itu jadi nyaman menanyakan banyak hal dan memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Nuansa wisatanya benar-benar hidup.
Ya, itu karena pemerintahnya punya perhatian ditambah anak muda-mudinya sadar, mau belajar diberikan fasilitas. Kombinasi yang apik antara pemerintah dan pelaku wisata. Penduduk lokal kemudian itu punya perhatian lebih ke pariwisata karena mereka juga memperoleh dampak ekonomi, tidak sekedar jadi penonton.
Para pemuda-pemudi yang mengerti asing yang berada di kawasan wisata sebaiknya membuat pelatihan, kursus, atau apalah namanya untuk mendidik orang-orang di sekitarnya. Tidak usah menunggu bantuan dari X, Y dan Z. Mulai saja. Itu pasti berkembang mengingat selain pembelajaran dari guru lokal, wisatawan mancanegara yang silih berganti datang sepanjang tahun bisa dimanfaatkan untuk diundang mengajar sehari berbagi ilmu kepada para pelajar.
Kalau kalian yang pintar-pintar itu tidak memulai, siapa lagi yang mau diharapkan? Jika punya jawaban, silahkan tindak lanjuti. Bila, tidak, berbuatlah. Intinya, kemajuan itu harus berdasarkan kualitas sumber daya manusia karena hanya otak yang cerdas dapat mengelola sumber daya alam untuk kemakmuran masyarakat di daerah wisata tersebut.
Apa yang ada, sudah cukup untuk memulai, kata Mohamad Natsir. Mulailah dari hal yang terkecil. Apa lagi pepatah orang dulu itu? Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Asalkan konsisten, pasti bisa sukses. Lagi pula, kalian tidak sendiri. Silahkan menggandeng RBB atau lembaga apapun yang terpercaya untuk melakukan percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di Bulukumba.
Atau apakah kita sudah lumpuh?
Zulkarnain Patwa
Minggu, 31 Mei 2026

Tinggalkan Balasan