Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, memperkenalkan kepada kita bahwa pendidikan di Jerman itu sangat rasional, disiplin dan melatih kemandirian pelajar. Otak Habibie yang super cerdas itu juga dikenal dengan slogan German’s Mind, Medina Heart. “German’s mind” merujuk pada pengetahuan yang sangat rasional dari orang Jerman dan “Medina Heart” merujuk pada kota Madinah (peradaban) di Arab Saudi, sebuah kota yang aman di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari serangan orang-orang Mekah pada masanya. Dan dalam usaha mengikuti perkembangan teknologi, Habibie dikenang banyak mengirim pelajar untuk kuliah ke Jerman. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Indonesia termasuk di Makassar memasukkan pelajaran Bahasa Jerman di kelas 2 SMA.
Penulis pernah sekali bertemu dengan Habibie dan merasa beruntung juga berkenalan dengan orang Jerman terdidik yang berkunjung ke Bulukumba, Verena Schubert. “Jika anda tidak belajar, anda sebaiknya tidak usah jadi pelajar”. Sebuah kalimat sederhana yang mempunyai makna yang padat dari Verena ketika menggambarkan pendidikan di Jerman. Siapapun juga tekun, dan punya motivasi yang tinggi berhak mendapatkan pendidikan layak di universitas dibiayai penuh oleh pemerintah. Untuk beberapa jurusan seperti kesehatan dan teknik, para calon pelajar akan mendapatkan beberapa ujian tambahan untuk membuktikan bahwa mereka layak di jurusan tersebut. Dan bila sudah kuliah, ada kesempatan beberapa kali untuk mengulangi ujian namun bila tetap gagal, mereka pasti DO (Drop Out). Jadi, menjadi mahasiswa di Jerman harus mempersiapkan otak bekerja maksimal dan bermental baja. Begitulah penjelasan Verena sewaktu penulis bertanya padanya. Dalam pikiran orang Indonesia, ” Wajar ya, peralatan dan mesin buatan Jerman yang ada di Indonesia terkenal bagus kwalitasnya”, pikir penulis.

Tapi, kuliah tidak sebatas itu saja, Fergusso! Seorang rekan semasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Indonesia bernama Cita Deny melanjutkan kuliahnya Universität Viadrina Frankfurt di Jerman pernah mengeluhkan biaya hidup yang sangat tinggi di Jerman. Itu sudah pasti karena nilai mata uang Rupiah masih sulit bersaing dengan mata uang Euro. Dia beruntung, terlahir dari keluarga yang cukup mapan dan punya semangat belajar yang tinggi hingga mampu menyelesaikan S 2 master-nya di sana. Setelah kembali ke Indonesia, ia malah turut mempromosikan kuliah ke Jerman dengan aktif bekerja ke salah satu pusat pengembangan bahasa Jerman di Jakarta.

Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai keterbatasan ekonomi? Verena menjelaskan bahwa biaya tempat tinggal, makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang mahal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk meminjam sejumlah uang yang tidak terlalu besar di mana para mahasiswa dapat membayarnya kembali secara mencicil setelah bekerja.
Dan bila ingin mendapatkan uang tambahan, Verena yang kini seorang manager di sebuah perusahaan besar tidak merasa sungkan menceriterakan masa lalunya. “I works a waitress at the restaurant” (saya bekerja sebagai pelayan di restoran), ungkapnya sembari tersenyum manis. Kuliah S 1 di kampus bergengsi jurusan BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main di Jerman sama sekali tidaklah membuatnya malu atau gengsi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dianggap rendahan. Sebenarnya, tidak ada pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan itu mulia, asalkan halal.
Kemandirian hidup di Jerman telah dilatih sejak masa muda di mana orang tua tidak lagi membiayai kehidupan anak-anaknya ketika beranjak dewasa. Di Indonesia, orang tua bertanggungjawab membiayai anak-anaknya hingga menikah. Namun, ide kreatifitas cari duit dengan bekerja di paruh waktu ini juga banyak dilakukan oleh pelajar Indonesia di Yogyakarta—jantung kota pelajar dan wisata—dengan membuka lapak buku atau jual minuman dan makanan bermodalkan gerobak pusat keramaian di sore hari. Sebagian mahasiswa juga memilih masuk bekerja pada orang lain seperti yang dilakukan Verena. Jumlah uang tentu yang dihasilkan tidak banyak tapi sedikitnya mampu mengakali keterbatasan uang yang lazim ditemui oleh para mahasiswa. Kegiatan yang sama juga tentu terjadi di kota-kota lain di Indonesia tapi tidak sebanyak di Yogyakarta.
Alam dan Keramahtamahan di Indonesia
Tubuh yang menawan dan sehat adalah konsekuensi logis yang diperoleh bagi olahragawan yang konsisten. Verena berkeliling dunia dan berada di Indonesia selama lima bulan menyalurkan hobinya dengan olahraga pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. Ia terlihat lincah dalam bergerak. Ia memilih dua minggu untuk snorkeling, diving dan bermandikan matahari di Bira. Orang yang betah di suatu tempat pastilah punya alasan. Menurutnya, pantai pasir putih menawan, air laut jernih, perawatan terumbu karang dan manusia yang tidak ramai dan ramah melengkapi kehidupannya yang ingin hidup tenang dan damai.

Kisah yang lain yang sangat Verena suka adalah pebedaan agama. Dalam pandangannya, orang-orang menggunakan agama untuk tujuan yang salah. Ada peperangan dan mereka berperang atas dasar keyakinan agama. Di sini (maksudnya di Bulukumba) dan Nusa Tenggara Timur tempat yang ia pernah kunjungi orang-orang Islam dan Kristen hidup berdampingan. Kita bisa melihat masjid dan gereja dimana-mana. Tidak ada konfik. Mereka percaya pada suatu keyakinan yang baik, saling menghargai. Sedangkan di Jerman, ada masalah di mana orang-orang khawatir. Ada perang yang terjadi sekarang ini dan banyak hal buruk terjadi. Dan orang berlawanan satu sama lain. Tidak peduli budaya mana yang Anda miliki, itu tidak masalah. Pada akhirnya, kita semua adalah manusia.

Penulis tergugah dengan penjelasan Verena dan memberikan pujian manis terhadap kecerdasannya menyederhanakan pengalamannya yang luas dalam kalimat tidak boros kata, mudah dipahami. Ia menjawab, “Thank you. I am a manager”. Kami tertawa lepas. Istilah “manager” mangacu pada kemampuannya yang memimpin, memahamkan dan mengarahkan secara tepat pada sekumpulan banyak orang yang ia pimpin pada perusahaan yang sengaja tidak disebut namanya di sini. Belakangan penulis tahu ia lulusan S 2 (master) di International Innovation Strategy, Católica University in Lisbon, salah satu institusi pendidikan terbaik di Portugal.

Pilihan Verena traveling dalam waktu yang cukup lama dengan sekedar membawa dua tas yang sangat kecil menyadarkannya pada barang. Di rumahnya di Jerman, dia punya banyak barang. Dengan pengalaman berkeliling, kini ia percaya bahwa sebenarnya ia tidak butuh banyak barang. Ia mudah bergerak kemanapun dia suka tanpa beban dan bahagia.
Kunjungan ke Rumah Belajar Bersama
Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis ketika Verena berkenan mampir sejenak untuk berbicara dalam bahasa Inggris depan pelajar nonformal kami di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Ya. Itu sama sekali bukan masalah bila waktu memungkinkan”, kata Verena ketika kami dalam perjalanan dengan mobil pribadi dari Bira menuju kota Bulukumba. Aris Irfan, manager Cahaya Bone of Kalla Travel berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum mobil travel di Bulukumba mengantar Verena ke Makassar”.

Waktu telah menunjukkan hampir jam 5 sore. Para pelajar RBB telah banyak pulang namun beruntung masih ada segelintir pelajar di kelas intensif masih sibuk otak atik pelajaran grammar (tata bahasa) dan reading (bacaan). Dengan ramah Verana menyapa dan bersenda gurau layaknya seorang guru yang akrab dengan muridnya. Ia pun jadi pusat perhatian. Beberapa tanya jawab yang membangun komunikasi berkelanjutan terlaksana namun sayangnya, waktu sangat terbatas.

Kunjungan Verena memang sangat singkat tapi ini memberikan kesan mendalam bagi para pelajar. Mereka jadi lebih termotivasi untuk belajar. Mereka jadi lebih tahu tidak ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia dengan orang asing untuk mengkonfirmasi hal-hal yang ingin diketahui. Mereka juga harus punya wawasan untuk menanyakan sesuatu untuk membuat pembicaraan jadi lebih menarik. Dan karena bertemu dengan orang asing adalah hal yang belum lazim mereka dapatkan, itu adalah pengalaman berharga yang membangun kepercayaan diri bertemu dengan orang-orang baru.

Sekilas tentang Perspektif Penulis
Apa yang penulis gambarkan tidaklah mengambarkan secara utuh apa itu German’s Mind, terlebih lagi “Medina Heart” karena itu memang tidak disinggung mendalam di sini. Kalau pun ada gambaran, hanya secuil saja. Itupun berkat kesediaan Verena yang berkenan hati untuk wawancara dalam bentuk percakapan tidak resmi tentang pendidikan di Jerman. Hanya saja, patut disayangkan bila ada cerita atau pemikiran yang mungkin yang bisa saja berguna bagi orang lain. Karena itu penting bagi penulis untuk merangkai ulang dalam bentuk tulisan. Oh, iya. Dalam dua jam dua puluh menit bersama Verana, ia bertemu berbagai macam orang, ia selalu disambut hangat. Ia merasa sangat dihargai layaknya seorang supertar. That’s all.
Zulkarnain Patwa
Independent Writer
Bulukumba, Minggu, 26 April 2026

Tinggalkan Balasan