Tanya jawab online untuk kedua kalinya dengan Salma Minasaroh, penggagas lembaga pendidikan GAIA di Pati, Jawa Tengah, dipadati oleh anak-anak SD dan segelintir anak SMP berjumlah 16 peserta dari RBB (Rumah Belajar Bersama) di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak-anak semangat dan antri mendapatkan pertanyaan yang jawabannya telah mereka siapkan. Rasa penasaran ini muncul karena pada pertemuan pertama, hanya dua orang pelajar saja, yaitu Adeeva dan Faika, yang mendapatkan kesempatan untuk ngobrol online.
Dalam hal menjawab, anak-anak telah mempersiapkan dengan baik. Hal yang menjadi kendala adalah mereka ingin cepat mendapatkan pertanyaan dan ingin akting bicara. Tanda acungan tangan ✋ banyak muncul di kamera dan teriakan “me” (saya) menandakan mereka ingin segera tampil juga.
Miss Salma berusaha semaksimal mungkin agar semua anak mendapatkan kesempatan untuk bicara. Setelah anak-anak menjawab pertanyaan, ungkapan “Okay” sering muncul dari Miss Salma, pertanda anak-anak sudah menjawab dengan tuntas.
Patut diakui, beberapa orang yang masih kesulitan memahami pertanyaan berusaha mendatangi guru kelasnya di RBB (Rumah Belajar Bersama) agar terlihat mampu berbicara dengan baik seperti teman-temannya yang lain. Sebagian berbisik-bisik kepada teman-temannya tentang kosa kata yang mereka lupakan. Beragam emoji yang lucu sering mereka hadirkan di depan kamera. No one can stop children’s expression (Tidak ada yang dapat menghentikan ekspresi anak-anak).
Keputusan pada kepedulian obrolan online bahasa Inggris ini terjadi karena Miss Salma merasa berkepentingan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Pelajar RBB mendapatkan kesempatan bertemu karena selain ada hubungan perkawanan yang baik sewaktu kuliah dengan pengajar RBB, Miss Salma juga melihat ada perkembangan berarti dari para pelajar yang ia amati melalui media sosial.
Berdasarkan pertimbangan di atas, pendidikan akademik Miss Salma di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta serta non akademik di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur sama sekali tidak membatasi dirinya untuk berakrab ria kepada para pelajar pemula tapi malahan jadi strategi untuk lebih membumi dalam turut mendukung kemajuan pendidikan anak anak Indonesia. Bahasa Inggris semestinya bukan lagi ‘hantu’ bagi para pelajar sekolah kita.
Hal positif lainnya yang dapat dipetik di sini adalah terdapat kesabaran yang tingkat tinggi dalam menghadapi anak anak yang suka bikin suara ramai meskipun belum ditanya. Jam terbang mengajar memang sangat mempengaruhi. Terbukti, dari semua peserta yang bertahan hingga akhir pembelajaran sekitar dua jam, 20 pertanyaan kepada para peserta dapat diselesaikan.
Tentunya, terdapat juga kelemahan dari tanya jawab online tersebut. Dari pengalaman dua pertemuan ini, kami akan mendesain program yang lebih baik lagi sehingga rasa penasaran pelajar yang ingin praktek Inggris lebih banyak dapat terpenuhi.
As a closing statement, “You have to study more and more. Don’t be lazy!” said Salma. That’s right. And you have just given great motivation to our students here, in South Sulawesi. Thank you very much.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 22 April 2026

Tinggalkan Balasan