Pembelajaran di akhir minggu diupayakan sesantai mungkin. Ini semacam ‘hadiah’ kecil karena pada minggu-minggu sebelumnya, anak-anak belajar dengan serius: praktik lisan tenses di luar kepala dan menjawab soal-soal latihan. Kontan saja, mereka menolak. Guru tidak ingin membebani materi terbaru. Sebagai jalan tengah, tuntutannya dipenuhi dengan praktik lisan tenses secara bersama-sama dan perorangan.

Lalu, guru memberikan waktu keluar main. “Tidak mau,” kata seorang anak, “Kita sebaiknya belajar perkalian.” Guru langsung merespons, “Ini bukan kelas matematika, tetapi bila kalian mau, boleh saja asalkan soal dan jawaban disebut dengan bahasa Inggris.” Anak-anak pun menunjuk Adeeva sebagai pemimpin yang mengatur permainan ini dengan menggunakan kartu. Mereka berlomba menjawab hingga puas. Setelah itu, mereka pun mau keluar main tanpa diminta.

Pada pembelajaran selanjutnya, Nisa mengusulkan untuk menyebut angka satu sampai satu juta dalam bahasa Inggris. Ia bersedia menjawab semua soal yang diberikan. Guru pun bertanya hingga angka ribuan. Mengetahui Nisa sudah mampu menjawab dengan baik, semua anak diperkenankan bertanya hingga angka ratusan juta. Nisa meladeni semua pertanyaan, meskipun ia kadang-kadang membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari yang sebelumnya.

Guru kemudian bertanya, “Apakah kalian mengakui kecerdasan Nisa?” Sebagian menjawab ‘ya’, tetapi sebagian menolak. Penolakan itu terjadi karena mereka menganggap soal seperti itu gampang dijawab, sedangkan mereka yang menerima karena mengakui kecerdasan Nisa.

Permainan terakhir adalah bermain tebak-tebakan kosakata dalam bahasa Inggris. Misal, bila mereka sepakat huruf ‘q’, maka jawaban harus dimulai huruf q seperti queen, Qatar, dan Qur’an. Yang paling sulit mereka jawab adalah huruf yang dimulai ‘x’ dan ‘z’. Namun, ada juga yang mampu menjawab dengan mengatakan x-ray dan Zimbabwe. Huruf yang lainnya relatif lebih mudah karena mereka telah terbiasa dengan bacaan berbahasa Inggris.

Belajar menggunakan kurikulum itu memang bagus dan tersistematis, tetapi belajar tanpa terlebih dahulu merujuk kurikulum pembelajaran dalam artian meminta anak-anak bersantai dalam belajar juga baik seperti yang terjadi di atas. Malahan, para pelajar yang menuntut belajar dan menciptakan ‘kurikulum sendiri’–pakar pendidikan menyebutnya kurikulum organik: berbasis pada kebutuhan pembelajar–bukan tuntutan kurikulum atau tuntutan guru. Itulah gambaran kecil pada kemerdekaan belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB).

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 11 September 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

The English Spirit of Alika and Faika at RBB

Alika and Faika practiced speaking English together for a long time—almost forty minutes. They chose…

1 hari ago

Jiwa Bhs. Inggris Alika dan Faika di RBB

Sebuah percakapan berbahasa Inggris secara terstruktur telah dikerjakan oleh Alika dan Faika. Waktunya lumayan panjang:…

1 hari ago

Abizar: Resilient in the Ocean of Learning

Every time he reads seriously, his hands shake. His English reading is also hesitant and…

1 hari ago

Abizar: Tangguh Menghadapi Samudra Belajar

Setiap kali membaca dengan serius, tangannya gemetar. Bacaan berbahasa Inggrisnya pun terbata-bata, tetapi satu hal…

1 hari ago

Menjebol Siri’ Pendidikan

Seorang anak kecil sembilan tahun, masih sangat berwajah polos dan memancarkan cahaya mata ingin mengetahui…

2 hari ago

Resilience in the Era of Greedy Instant Education

A 4th-grade elementary student and a 7th-grade junior high student are here to remind us…

3 hari ago