RBB Tanete Mematahkan Mitos Ketertinggalan

Rendahnya kualitas sumber daya manusia yang menggerogoti anak-anak daerah karena kita tidak mengambil sikap serius dan tepat sasaran untuk memperbaikinya. Kita tahu bahwa ada masalah besar yang selama beberapa generasi belum tuntas, tetapi itu dibiarkan saja, diam. Masalah itu adalah para pelajar kita tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik. Ini tidak dihiraukan sehingga anak-anak kita tidak tahu mau mengadu ke siapa dan diarahkan ke mana.

Membaca buku disertai gerakan tubuh yang sesuai dengan isi bacaan agar pelajar lebih mudah memahami isi cerita.

Padahal, pelajar daerah itu sebenarnya mempunyai potensi kecerdasan yang sama dengan pelajar di kota-kota besar. Minat belajar mereka juga sangat tinggi. Yang membedakannya adalah kebijakan, akses pengetahuan, dan duit.

Praktik berbicara secara berpasangan.

Pertemuan penulis selama tiga jam belajar dengan para pelajar di Tanete, Bulukumba, Sulawesi Selatan sangatlah berkesan. Ternyata, kemampuan mereka dalam berbicara dan membaca sudah terbentuk setelah belajar selama hampir dua bulan. Mereka bangga karena merasa lebih maju dibandingkan pelajar yang tidak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan berpikir bahwa pelajaran sekolah itu jauh lebih mudah. Ada rasa percaya diri dan kebanggaan dari hasil usaha belajar.

Percakapan berdasarkan teks buku.

Hal yang paling dahsyat yang sangat terasa melekat di hati adalah review materi. Tiap lembaran kertas di buku dikenali dengan sangat baik, dibaca dengan suara nyaring dengan tingkat kesalahan pengucapan yang sangat minim. Ini bukti bahwa mereka belajar dengan benar: modal bercakap yang sangat bagus dan gerakan literasi sungguh berfungsi, generasi anak bangsa ini suatu saat akan turut mengharumkan nama baik Indonesia membantah bahwa literasi anak Indonesia itu di bawah standar dunia.

Melatih kemampuan berbicara dengan bahan percakapan.

Kedahsyatan ini terjadi karena tiap anak hanya boleh naik tingkat dan mendapatkan buku terbaru setelah menamatkan satu buku. Jadi, mereka wajib menuntaskan bacaan pada bukunya dengan pemahaman baik dan dibuktikan dengan review. Dengan demikian, ini adalah literasi berkelanjutan, tiada henti.

Dengan literasi, mari kita membuat ruang kecil yang lebih baik untuk masa depan generasi penerus kita.

Sisi lain yang cukup unik adalah pengaruh buruk gempuran teknologi gadget yang telah memusingkan kepala orang sedunia tidak terpengaruh kuat di kelas Rumah Belajar Bersama (RBB) ini. Saat keluar main, tidak ada satu pun anak bermain gadget. Mereka semua bermain ala permainan rakyat: kejar-kejaran, lompat, dan duduk mengobrol santai. Jangan pula berpikir bahwa mereka ini tidak punya gadget. Kemungkinan besar, guru utamanya Miss Fathy Cayadi telah merancang kelas ini steril dari gadget untuk urusan game. Gadget hanya digunakan saat urusan belajar.

Membangun kepercayaan diri anak dengan menekankan pada ilmu pengetahuan agar mereka nantinya memiliki daya saing.

Tantangan terakhir dan terberat adalah grammar (tata bahasa) karena materi ini menuntut kemampuan berpikir Kurikulum sekolah malahan mengecilkan posisi grammar dengan tidak lagi membahas secara detail. Bagi RBB Tanete, itu bukan beban, guru-guru yang berkualitas dengan kelebihan masing-masing selalu berkreasi. Miss Fathy biasanya memberikan pelatihan tenses dalam bentuk percakapan, sedangkan dalam grammar murni, Mr. Ancha dan Mr. Agung dari RBB Bulukumba seringkali hadir menjelaskan teori untuk penguatan argumentasi dan praktik lisan untuk menyelaraskan teori dan praktik yang disiarkan secara langsung di media sosial untuk validitas kegiatan dan membangun keberanian serta kepercayaan diri pelajar berbicara.

Wafika pelajar SMA dipercaya untuk mengecek pemahaman anak-anak SD pada materi simple present tense. Terdapat juga rekaman video untuk publikasi pembuktian kemajuan belajar.

Jadi, klaim kerumitan grammar dapat diajarkan dengan berbagai pendekatan, bukan dengan mengesampingkannya sebagai pelajaran tambahan karena ini sangat berguna dalam percakapan sehari-hari tidak salah tafsir dan kebutuhan pendidikan akademis.

Temukan cara belajar yang membuat diri kalian bahagia.

Gebrakan RBB menyelamatkan ketertinggalan pendidikan di daerah memang masih sangat kecil, ruang lingkupnya sebatas kota Bulukumba dan Tanete. Ia tidak sedang menyelesaikan persoalan bahasa Inggris yang di setiap sudut daerah. Satu hal yang pasti, ia sadar dengan masalah, tidak diam, melainkan berjuang dengan segenap ide dan tenaganya mencerdaskan generasi penerus bangsa yang berada di lingkungan terdekatnya. Untuk jangkauan lebih luas, mari kita bergandengan tangan.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu 5 September 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

8 jam ago

Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…

1 hari ago

Sakkar Menaklukkan Badai dan Logika

Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…

3 hari ago

Amuk Marxisme dan Jalan Damai Pendidikan Alternatif

Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang…

3 hari ago

Keajaiban Metode 40

Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…

4 hari ago

Tragedi Pragmatisme pada Bahasa Inggris

Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test…

4 hari ago