Tragedi Pragmatisme pada Bahasa Inggris

Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test of English as a Foreign Language (TOEFL), minimal harus mengerti tiga hal: reading, grammar, dan listening (membaca, tata bahasa, dan mendengarkan). Sementara itu, International English Language Test System (IELTS) membutuhkan kemampuan tambahan berupa writing dan speaking (menulis dan berbicara),
yang secara otomatis menempatkan pronunciation (pengucapan) sebagai bagian yang sangat penting agar tidak terjadi salah ucap saat wawancara.

Dewasa ini, kita sering dihadapkan pada fenomena pemahaman instan. Ketika siswa-siswi sekolah hanya belajar beberapa bulan berharap langsung pandai berbahasa Inggris, hal itu mungkin masih wajar karena selain masalah kematangan nalar, pikiran mereka termakan oleh iklan yang sangat menggiurkan. Namun, hal yang sangat mengherankan bila cara pandang instan ini juga menggerogoti mahasiswa dan sarjana yang ingin melanjutkan studi ke jenjang S-2 dan S-3. Apa guna berpikir kritis yang diajarkan di kampus atau universitas? Tak jarang kita menemui para pemuda-pemudi yang sama sekali belum mempunyai dasar-dasar bahasa Inggris yang kokoh, tetapi mereka tiba-tiba ingin langsung belajar TOEFL atau IELTS. Parahnya lagi, banyak lembaga-lembaga pendidikan yang tanpa melakukan seleksi awal dengan mudahnya memfasilitasi kebutuhan instan tersebut. Apa yang kemudian terjadi? Tebak-tebakan pasti menjadi pilihan favorit.

Pelajaran bahasa Inggris bukan lagi sesuatu yang dinikmati. Alih-alih berbahasa Inggris dengan baik, harapan lebih jauh seperti wacana tandingan pengetahuan yang diproklamirkan oleh Hassan Hanafi di Mesir yang melahirkan oksidentalisme: pengkajian terhadap Barat yang bisa dilakukan melalui jalur pendekatan bahasa asing sebagai antitesis orientalisme, pengkajian terhadap Timur yang dalam bentangan sejarah Barat berhasil mendominasi Timur, hampir mustahil terwujud.

Dalam realitas, kita masih berkutat dalam urusan pragmatisme dangkal yang sekadar lulus ujian dan mengejar beasiswa. Ironisnya, sistem seleksi formal yang kaku memang cenderung menuntut skor di atas kertas, sehingga memaksa mahasiswa berpikir pragmatis. Seperti apa cara meraih skor mentereng di atas kertas itu? Entahlah. Yang jelas, pola ini berpotensi besar merusak potensi besar dari para intelektual muda kita. Ketika disodorkan literatur asing yang menjadi bacaan wajib di kampusnya, mereka tidak bisa mengakses pengetahuan dengan baik dan akhirnya terisolasi dari pengetahuan global.

Bukankah ini sebuah tragedi intelektual dalam institusi pendidikan formal? Mengutip Mohammed Arkoun, islamolog asal Aljazair, “Negeriku mengalami kemiskinan intelektual.” Meskipun ungkapan tersebut bersumber dari spirit keagamaan, tidak ada salahnya jika hal itu menjadi pengingat bagi kita semua untuk menghadapi kebekuan dalam berbahasa Inggris, jejak rekam sejarahnya dapat dilacak pasca-Indonesia merdeka.

Padahal, jika kita mau menengok ke belakang, para pendiri bangsa ini sangat banyak yang pandai berbahasa asing. Jangankan tokoh intelektual komunis, tokoh Islam sekaliber Haji Agus Salim, penguasaan bahasa asingnya lebih banyak dari warna pelangi sangat layak menjadi teladan bagi Indonesia. Penguasaan poliglot beliau terhadap berbagai bahasa dunia diposisikan sebagai senjata diplomasi dan alat menyerap peradaban, sebuah kontras moral yang tajam bagi generasi terdidik hari ini yang gagap mengurai literatur asing.

Di balik kegelisahan tersebut, Futri Syam, seorang dosen Universitas Teuku Umar Aceh, menunjukkan pandangan yang agak realistis. Di masa izin cuti mengajar, ia pulang kampung ke Bulukumba, Sulawesi Selatan, untuk melepas rindu bersama keluarganya sekaligus mengisi waktu luang dengan belajar bahasa Inggris. Pilihan kelas belajarnya jatuh pada pronunciation dan reading yang disertai listening menggunakan media MP3 dari penutur asing.

Setelah cukup memahami pemetaan akan luasnya cakupan pembelajaran, ia pun sedikit demi sedikit mulai mempelajari basic grammar (tata bahasa Inggris dasar). Rasa penasarannya yang semakin tumbuh kemudian memicu keinginan untuk aktif speaking. Sementara untuk kemampuan writing, ia biasanya diminta untuk menulis dalam bahasa Indonesia terlebih dahulu, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai bahan pembelajaran. Pilihan kelas ini didasarkan pada hasil pemetaannya sendiri yang ia anggap sebagai jalan terbaik. Guru-guru yang mendampinginya hanya memberikan pertimbangan strategis yang paling cocok sesuai dengan minatnya.

Cara pandang non-dominan dari Futri ini patut disebarkan lebih luas. Hal ini penting agar pragmatisme sekadar lulus ujian demi meraih gelar master atau doktor—yang telah
menjadi pengetahuan umum sekaligus subjek kritik pedas dari para intelektual Indonesia—sedikit banyak dapat mengalami perubahan. Di sisi lain, diperlukan pembenahan struktural melalui rekonstruksi kurikulum pendidikan Indonesia agar anak-anak tidak harus berjuang keras belajar dasar bahasa Inggris lagi ketika mereka sudah dewasa sebagaimana yang dialami pemuda-pemudi kita sekarang ini.

Keberadaan Futri dan para pelajar dewasa lainnya yang telah belajar di Rumah Belajar Bersama (RBB) kemungkinan tidak akan berlangsung lama karena mereka dihadapkan pada urusan tuntutan pekerjaan. Betapa pun RBB mampu memberikan pelatihan pembelajaran hingga tingkat TOEFL atau IELTS, itu pasti tidak mudah diberikan begitu saja karena ada tahapan pelajaran yang berjenjang alias tidak instan yang membutuhkan ketekunan, waktu, kesabaran yang cukup panjang untuk mencapainya.

Oleh karena itu, akar-akar alat pengetahuan bahasa Inggris yang paling mendasar harus dikuatkan terlebih dahulu. Dengan begitu, para pelajar tersebut dapat memiliki fondasi untuk belajar secara mandiri, atau setidaknya lebih mudah menikmati proses belajar bahasa Inggris ketika mereka berpindah ke tempat lain nantinya.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 18 Oktober 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Keajaiban Metode 40

Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…

8 jam ago

Menjemput Pelangi dalam Belajar Inggris

Manusia takkan pernah lepas dari masalah. Dari masalah itu, pikiran berfungsi baik untuk mengatasi masalah.…

2 hari ago

Rahasia 90 Menit Belajar dengan Bahagia

Pada pukul 19.15 Wita, anak-anak memasuki belajar bahasa Inggris. "Ayo kita belajar," kata guru yang…

3 hari ago

Inilah Pendidikan Merdeka

Dalam sebuah ruang kelas yang menghargai kebebasan berekspresi, para pelajar akan berbicara sesuka hati. Mereka…

4 hari ago

Metode 40 Meng(h)ajar Kebuntuan Berbahasa Inggris

Kendala yang paling sering mengganggu para pelajar grammar (tata bahasa) adalah kemampuan berbicara. Waktu mereka…

5 hari ago

Membongkar Mitos Berbahasa Inggris

Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa Inggris itu diukur dengan kemampuan berbicara. Pada satu tahap,…

6 hari ago