Sirin dan Halisa adalah dua anak sahabat dekat. Di ruang kelas, mereka selalu duduk berdampingan. Ini karena irama hidupnya sama: suka tidak memperhatikan pelajaran, selalu paling terlambat menyetor tugas, dan bermain saja di kelas. Teman-teman sekelasnya yang lain baru bermain ketika waktu keluar main. Tertinggal dari materi pelajaran sama sekali bukan masalah bagi kedua anak ini. Tidak ada perasaan bersalah. Hebat, kan!
Justru, orang yang pusing adalah tutor kelas. Masalahnya, pelajaran tidak selaras bila beberapa anak tertinggal. Perhatian pengajaran akan terpecah. Pelajar yang tertinggal akan semakin sulit mengejar, sehingga tingkat perhatian mereka pada pelajaran bertambah rendah. Mengeliminasi Sirin dan Halisa juga bukan keputusan bijak, bahkan sama sekali tidak dibenarkan. Orang tua mengirim mereka les bukan hanya agar bisa berbahasa Inggris, tetapi juga agar bisa lebih baik dalam belajar. Sebagai konsekuensi, tutor yang bertanggung jawab tidak boleh lepas tangan begitu saja. Spirit belajar harus bisa ditanamkan kepada mereka.
Solusi kecil pun dibuat. Setiap kali jam belajar, Sirin dan Halisa dipisah agar tidak saling bergosip. Rekan sekelas yang akrab dengan kedua anak itu menjadi pasangan belajarnya. Mereka bertugas memahamkan materi yang telah berlalu, semacam tutor sebaya. Beruntung, rekan-rekan kelasnya itu peduli dan dengan senang hati selalu mau membantu. Langkah ini cukup berfungsi. Kebiasaan mereka berbicara tanpa arah—yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran—mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Mereka bisa memahami pelajaran dengan baik. Semua rekan yang memandu tidak pernah mengalami kendala berat dalam memahamkan pelajaran. Otak Sirin dan Halisa ternyata mampu sebagaimana pelajar yang lainnya.
Kebanggaan pertama yang Sirin dan Halisa capai adalah menyetor seluruh perubahan kalimat tenses secara teratur di luar kepala pada Kamis, 3 September 2026 lalu. Di kelas malam Rumah Belajar Bersama (RBB) itu, mereka memang paling terakhir. Namun, anak SD mana yang bisa tenses di luar kepala? Banyak pelajar SMP dan SMA sama sekali tidak tahu tenses, meskipun bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di sekolah. Tugas berikutnya adalah memahami tenses secara acak di luar kepala.
Titik perhatian selanjutnya adalah memahamkan dengan baik jam belajar dan bermain. Tutor selalu mengingatkan, “Di RBB, kalian tidak dilarang bermain karena sebagai anak-anak, dunia kalian memang dunia bermain. Yang perlu kalian ingat, selesaikan tugas dengan baik sebelum keluar main.” Sirin dan Halisa mendengarkan. Mereka tidak protes, meskipun diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat yang berbeda. Hubungan persahabatan erat mereka sama sekali tidak diganggu. Jadi, mereka merasa nyaman saja.
Sebenarnya, RBB bisa saja dengan mudah mempercepat materi untuk menunjukkan superioritasnya dalam mencetak pelajar berkualitas di atas rata-rata dengan berfokus pada anak-anak yang memenuhi target belajar saja. Namun, itu adalah sikap individualis, mementingkan diri sendiri tanpa peduli pada yang lainnya. Pendidikan akan terasing dari sisi humanisme. Padahal, akar semboyan pendidikan Indonesia adalah di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat/kemauan, dan di belakang memberi dorongan (Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani).
Konsep yang sama, paling tidak mirip, juga diterapkan di Finlandia, negara dengan sistem pendidikan terbaik dunia yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan, keterbukaan, dan kerja sama dalam meraih kesuksesan belajar. Mereka tidak menciptakan kompetisi ketat seperti di Amerika dan Inggris yang membuat jurang pemisah lebar antara yang pintar dan yang bodoh. RBB tidak menjadikan cita-cita mulia Ki Hadjar Dewantara itu sebagai slogan, tetapi menerapkannya dari ruang kecil sebaik yang ia mampu.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 4 September 2026
"Seseorang yang naik ke kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan." Perkataan singkat Aristoteles, sang…
Aneh tapi nyata. Itulah yang terjadi bagi para Tenaga Kesehatan (Nakes) Indonesia yang melamar pekerjaan…
Sebagai pelajar dan guru, kita tidak perlu sungkan, terlebih lagi malu belajar. Penulis baru saja…
Kalimat-kalimat berbahasa Inggris diucapkan anak-anak dengan kaidah yang benar. Dengan memanfaatkan hari Senin ini, mereka…
Membayangkan anak-anak SD belajar tata bahasa dalam bahasa Indonesia itu hampir tidak mungkin, terlebih lagi…
Era teknologi memanjakan manusia untuk bisa serba cepat. Sekarang, AI (artificial intelligence) bisa memberikan jawaban…
Leave a Comment