Mengajarkan materi tingkat tinggi pada anak-anak dan remaja pasti dianggap susah. Alasan paling lazim adalah kemampuan daya otak mereka dipaksa berpikir sebelum waktunya. Itu sama saja menyiksa pelajar dengan dalih mendidik.

Pembenaran ini makin kokoh karena kita sering kali lupa untuk menguatkan pengetahuan yang paling mendasar. Misal, untuk apa membuang banyak waktu untuk mengajarkan pecahan, kuadrat, persen bagi pelajar yang belum paham aritmatika (perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan)? Oh, itu karena pelajarnya sudah bukan lagi kelas 3 SD sehingga mereka mau tidak mau harus belajar materi itu. Dengan mempertahankan argumen ini, Matematika selamanya menjadi momok menakutkan bagi pelajar kita.

Pelajaran yang lebih menakutkan terjadi pada bahasa Inggris. Berbicara dengan pengucapan yang benar, membaca buku, dan menjawab soal lebih jauh tertinggal. Mengapa? Persoalannya mirip dengan Matematika. Materi dasar tidak tuntas. Tambahan satu lagi, guru yang bukan bidangnya yang tidak mempunyai keahlian bahasa dituntut mengajar. Efeknya jelas. Banyak pelajar di SD, SMP, SMA, dan bahkan sampai mahasiswa masih sangat kewalahan mengucapkan kosakata sederhana bahasa Inggris. Padahal, di pendidikan formal mereka terus belajar.

Mari kita umpamakan masalah ini seperti balon raksasa yang ditiup dengan pompa. Balon itu semakin membesar hingga pada titik tertentu tidak mampu lagi menampung udara, meledak. Suara ledakannya itu menyadarkan bahwa orang yang dipercaya memegang amanat mengembangkan balon tidak mampu mengelola dengan becus.

Peniup balon harus tahu jumlah volume udara yang dibutuhkan agar balon tidak meledak. Buat apa terus-menerus membesarkan balon bila akhirnya harus meledak? Kita perlu mengukur. Kita tidak usah terburu-buru mengajarkan materi pecahan dan semacamnya bila tidak menguatkan aritmatika. Pelajar hanya akan bertambah frustrasi.

Bahasa Inggris juga demikian. Bukankah bahasa itu alat komunikasi? Buat apa menggelontorkan dana yang besar bila tidak mampu mendesain lingkungan berbahasa Inggris? Tidak ada gunanya merevisi atau merombak kurikulum bila tidak menciptakan kebiasaan berbahasa Inggris minimal di waktu tertentu sebagaimana yang diterapkan di dunia pesantren. Bukankah itu juga yang diterapkan di negara-negara maju?

Untuk Matematika, ini bukan maksud bernostalgia pada zaman penerapan Kurikulum 1984 yang menggunakan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Anak-anak SD selalu mendapatkan pertanyaan perkalian lisan dari gurunya. Pertanyaan itu biasanya diberikan sebelum masuk kelas, saat pelajaran berlangsung, atau sebelum pulang. Memang sih, ada mistar yang siap melayang bila siswa tidak sanggup menjawab dengan benar. Namun, dari rasa takut kena hukuman itu, anak-anak belajar minimal berusaha menguasai perkalian. Hal-hal yang berharga dari CBSA ini layak untuk diambil intisarinya.

Sekarang kita coba berpikir bahwa masalah persoalan dasar itu telah tuntas. Percepatan atau akselerasi bisa dibuat. Di sinilah pentingnya guru-guru yang berwawasan itu berani mengkreasikan materi yang diajarkan. Kecerdasannya menjebol status quo. Mereka menyederhanakan pelajaran tingkat tinggi dimulai dengan materi yang erat kaitannya yang dipahami pada tingkatan dasar. Setelah itu, berselancar ke mana pun akan jauh lebih ringan.

Soal olimpiade SD saja itu ribetnya minta ampun buat kebanyakan pelajar. Jika pengajarannya biasa saja, hanya sedikit pelajar saja yang mempunyai keberanian berkompetisi. Para guru yang mempunyai keberanian, kecerdasan, dan kreativitas yang bisa mengelola persoalan ini yang membuat para pelajarnya berkualitas dan mempunyai daya saing.

Orang bisa sepakat atau tidak dengan pendapat ini. Yang tidak sepakat bisa mengkritiknya dengan harapan memunculkan ide yang lebih cerdas dan membuktikannya. Sedangkan yang sepakat seperti Rumah Belajar Bersama, lembaga ini terus membumikan gagasan ini dan terus mencetak pelajar terbaik yang bukan hanya juara olimpiade, tetapi menjadikan ilmu pengetahuan itu menginternalisasi dalam diri yang berguna untuk menapaki perjalanan hidup di muka bumi ini.

Zulkarnain Patwa
Jeneponto, Jumat, 28 Agustus 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Rahasia Kecerdasan Pelajar RBB Tanete Berbahasa Inggris

Era teknologi memanjakan manusia untuk bisa serba cepat. Sekarang, AI (artificial intelligence) bisa memberikan jawaban…

15 jam ago

Tragedi Gadget

Dewasa ini, kita sering menjumpai anak-anak mulai kelas 4 sampai 6 SD yang tidak bisa…

3 hari ago

Menguji Ilusi atau Visi Delapan Bahasa Prabowo

SD kelas 1, mereka harus mulai bahasa asing. Bahasa-bahasa yang terpenting: bahasa Inggris, Mandarin, Arab,…

4 hari ago

Mimpi Berbahasa Inggris di Siang Bolong

Mochtar Lubis, tokoh pers legendaris Indonesia, di tahun 70-an mengkritik para sarjana terdidik Indonesia yang…

4 hari ago

Mendobrak Sistem Pendidikan yang Melelahkan

Pelajar kita setiap hari kelelahan dalam belajar. Mereka sekolah dengan bertumpuk-tumpuk pelajaran berbeda-beda mulai dari…

6 hari ago

Menghentikan Pembelajaran yang Kaku

Pembelajaran bahasa Inggris telah menjadi sangat kaku dengan kurikulum yang membosankan. Pelajar hanya belajar bukan…

7 hari ago