Menembus Batas Tulisan dan Lisan

Sekali ditulis, seribu kali diulang. Pepatah Arab ini diterapkan kepada Faika Qhinara Putri Ridwan. Anak kelas 4 SD yang telah tamat buku Question and Answer ini kembali menjawab soal, bukan dengan tulisan lagi tetapi dengan lisan. Dalam proses ini, seorang pelajar membaca soal, sementara Faika menjawab dengan mengandalkan ingatan.

Faika Qhinara Putri Ridwan, pelajar Rumah Belajar Bersama.

Pada sesi pertama, Alika, pelajar yang juga tamat buku yang sama, menanyakan isi cerita. Soal tersebut terbagi tiga: yes-no questions (jawaban ya atau tidak), choice (pilihan), and information questions using what (pertanyaan informasi menggunakan what).

Rekan-rekan Faika memberikan soal dari bacaan secara bergantian. Di sini, Faika tidak diperkenankan membaca buku lagi agar daya ingatnya lebih ia aktifkan.

Pada yes-no questions, Faika hampir menjawab dengan sempurna. Ini memang sederhana. Misal:

+ Is Robert Jones a detective?
– Yes, he is.
+ Is Robert Jones a librarian?
– No, he isn’t.
+ Can she paint pictures?
– No, she can’t.

Pada choice, ia sudah harus menjawab dalam bentuk kalimat sehingga ia harus berpikir mengubah pertanyaan positive interrogative (kalimat tanya) ke kalimat positive (pernyataan).

Misal:
+ Does the inspector want a book or a ladder?
– The inspector wants a book.
+ Is Mr. Price upstairs or downstairs?
– Mr. Price is upstairs.
+ Is Mrs. Robinson talking to Mrs. Price or to her husband?
– Mrs. Robinson is talking to Mrs. Price.

Sebenarnya jawaban pendek bisa dibuat, namun, karena Faika telah mengerti tenses, ia wajib menjawab dalam kalimat utuh sebagai praktik penguatan dan bukti bahwa ia menggunakan simple present dan present progressive dengan benar.

Pada information questions, Faika memberikan informasi jawaban. Misal:

+ What is John going to do?
– John is going to see his baby.
+ What do they want?
– They want a coat.
+ What does Sally do with the pictures?
– Sally shows the pictures to her mother.

Dari cerita lesson (pelajaran) 1 sampai 7, terdapat 175 soal yang dijawab oleh Faika dalam satu pertemuan. Sebagai gambaran lebih lanjut, buku tersebut terdiri dari 48 lessons. Itu berarti ribuan soal akan ia jawab secara lisan.

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa ini penyiksaan bagi anak berumur sembilan tahun. Tidak juga. Sejak awal, penulis telah menjelaskan bahwa Faika telah menamatkan buku tersebut, menjawab soal-soal secara tertulis. Ini adalah materi tindak lanjut di mana jawaban tulisan dijadikan bahan lisan sehingga kecerdasan berbahasa itu tidak hanya terlihat di atas kertas tetapi juga tampak dalam percakapan sehari-hari.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa, 14 April 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *