oplus_32
Malu. Itulah yang dikatakan para pemuda-pemudi yang ingin belajar bahasa Inggris namun tidak mengikuti kelas. Bahkan, tidak sedikit yang bercita-cita untuk bekerja atau kuliah ke luar negeri. Obrolan ini sekadar angin lalu, tidak ditindaklanjuti dengan belajar mandiri atau mengikuti lingkungan belajar.
Hayyul Kayyum, pemudi dua puluh satu tahun mengambil langkah yang berbeda. Dipengaruhi oleh pamannya, Nur Anjas, professional guide di Bira, ia bergabung mengikuti dua kelas intensif meliputi Reading and Grammar (Bacaan dan Tata Bahasa). Dua buku Reading telah ia tuntaskan sementara buku grammar tingkat dasar yang tebalnya hampir 600 halaman hampir ia tamatkan juga.
Tidak malu. Begitulah perasaan Ayu, nama panggilan Hayyul Kayyum, saat berlatih bahasa Inggris dengan orang yang lebih muda ataupun yang lebih tua darinya. Ia malah terinspirasi melihat pelajar sekolah sangat lancar menjawab soal-soal latihan dan praktik bicara. Dari sini, ia memetik pelajaran bahwa ia dapat belajar kepada sesama pelajar–tanpa peduli umur–pada materi yang ia ingin kuasai. Gurunya juga berpikir bahwa kita semua sedang belajar.
Penulis terkadang berbagi ilmu dengan Ayu khususnya penguasaan tenses di luar kepala. Saat ini ia telah hampir menguasai nominal and verbal tenses disertai segala bentuk perubahannya. Tak heran, ia mampu mempercepat cara belajarnya di grammar. Sebab, semua kalimat Inggris pasti berpola tenses. Begitupun juga saat ia menyelesaikan soal-soal reading. Jawaban harus berstruktur.
Dalam satu bulan ke depan, Ayu tampaknya akan menamatkan buku basic grammar-nya. Ia telah sampai bab 13 dari 16 bab. Hal ini karena ia didukung waktu belajar yang padat, sekitar 20 sampai 23 kali pertemuan dalam sebulan dengan durasi 90 menit tiap belajar. Ia juga sudah bisa mengerjakan latihan secara mandiri sehingga ia dapat menggunakan waktu luang di rumah untuk menamatkan buku secepat mungkin. Toh, bila ia salah dalam menjawab dari latihan mandirinya itu, gurunya selalu mengoreksi, mengarahkan pada alur berpikir yang benar.
Berikutnya, karena Ayu tidak mengikuti kelas speaking, untuk mematangkan kemampuan berbicaranya, ia dianjurkan me-review buku tahap keduanya–Pre-Intermediate Reading. Seorang pelajar atau guru akan membaca soal pada buku sedangkan Ayu diminta menjawab secara lisan, tanpa buku lagi. Dialog semacam ini akan menguatkan pemahaman cerita-cerita berbahasa Inggris karena soal bersumber dari cerita dan sekaligus mengasah kemampuannya berinteraksi dengan orang lain.
Ide ini sebagai solusi agar kapasitas Ayu multitalenta: reading, speaking, and grammar. Harapannya, ia terus aktif belajar minimal hingga menamatkan diri pada tahap intermediate. Jadi kemampuannya bukan lagi sebatas bahasa Inggris pasaran tetapi juga bisa digunakan dalam dunia akademik. Artinya, dimanapun ia berada, bahasa Inggris dapat ia gunakan untuk bekerja ataupun kuliah.
Malu dan tidak malu. Ayu mewarisi dan hidup dalam keseharian yang menganut budaya siri’ (malu). Sebenarnya, ia malu duduk belajar bersama pelajar sekolah namun ia berhasil mengelola malu ke arah yang positif. Ia siri’ bila ia tidak sanggup melakukan hal mampu dilakukan oleh orang yang lebih muda darinya. Siri’ inilah yang memotivasinya belajar dengan sungguh-sungguh. Dari usahanya ini, ia pun tidak menyangka dirinya sanggup mengerti pembelajaran basic English secara detail. Ia senang dan bangga.
Terakhir, ia siri’ kepada pamannya Mr. Anjas yang memberikan fasilitas belajar dengan cara membuktikan bahwa apa yang ia sedang pelajari saat ini mampu ia pertanggungjawabkan dengan kemahiran berbahasa Inggris yang baik.
Bukankah dunia belajar orang dewasa seperti Ayu ini bukan angin lalu?
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 15 Juli 2026
Bertambah. Nabila Ayudia Varisha pelajar kelas 4 SD juga tertarik mengerti tenses di luar kepala.…
Sekali ditulis, seribu kali diulang. Pepatah Arab ini diterapkan kepada Faika Qhinara Putri Ridwan. Anak…
"Indonesia is a piece of heaven brought down to earth (qit'atun min al-jannah)," said Sheikh…
Tanpa teks di papan tulis dan buku bacaan, percakapan sederhana yang berhubungan dengan dunia anak…
Mengejutkan! Seorang anak dua belas tahun bernama Fathiyah Syabila Nur Faisyal telah menulis sebuah buku…
Far, far, far and near, near, near (jauh, jauh ,jauh dan dekat, dekat, dekat) adalah…
Leave a Comment