oppo_2
Kelas pagi langsung dibuka dengan Irregular Verbs (kata kerja tidak beraturan) lagi, sebuah usulan dari Aul yang paling cepat datang. Ia praktik seorang diri. Mendengar cara bicara dan pronunciation (pengucapan) yang cukup baik dari anak kelas 2 SD ini, penulis tertarik memvideokan pelajarannya. Ia meningkatkan kemampuan bicaranya, seolah-olah terlihat seorang ahli. Ia diberi kebebasan membaca dengan caranya sendiri.
Tatkala Aul sudah mulai kewalahan pada pengucapan yang salah, bantuan diberikan. Penerapan listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) diaplikasikan lagi. 70 perubahan irregular verbs mampu ia lakukan dengan baik. Saat ia mengulangi, tingkat kesalahannya makin sedikit.
Kemudian, Fifi dan Zalfa pun datang. Seorang anak Rumah Belajar Bersama (RBB) kelas malam juga turut hadir di program Kampung Belajar ini agar ia dapat terpengaruh belajar lebih banyak. Dan pelajar yang terakhir datang adalah Fauzan dan Heri, rekan akrab Aul.
Karena sudah cukup ramai, maka permainan dibuat. Seseorang memimpin kelas memberikan pertanyaan Irregular Verbs secara acak. Ketika Aul yang memimpin, ia ditafsirkan curang oleh Zalfa karena meskipun dirinya dan pelajar lainnya lebih cepat angkat tangan, Fauzan yang selalu diberikan kesempatan. Begitupun ketika Fauzan memimpin—kesempatan menjawab selalu diberikan kepada Aul.
Fifi dan Zalfa protes. Ketika Fifi menjadi pemimpin, ia tetap bisa bersikap adil, tidak membeda-bedakan. Ini karena anak SMA ini sudah berpikir dewasa dan menganggap ini sekadar permainan, seru-seruan saja.
Kehebatan Fauzan dan Aul mulai berkurang ketika Zalfa memimpin kelas. Fauzan dan Aul tidak diberikan kesempatan menjawab, tidak peduli mereka lebih dahulu angkat tangan atau tidak. Perlahan tapi pasti, kedua anak itu akhirnya tidak tahan dan melayangkan protes. “Curang,” kata Aul. “Iya, saya tidak diberikan kesempatan,” sambung Fauzan. Zalfa yang sudah lama memendam rasa jengkelnya mengatakan, “Kalian tidak memberikan saya kesempatan saat kalian memimpin.” Aul dan Fauzan tidak bisa membantah. Mereka menerima kritik Zalfa.
Setelah beberapa menit, kejengkelan Zalfa mereda karena beberapa kejadian semisal kosakata yang disebut salah dalam pengucapan dan hal lain ditanyakan lain pula jawaban menciptakan tawa. Suasana kembali ceria. “Bermusuhan” ala anak-anak itu tidak lama, terlupakan. Semua mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjawab soal.
Suasana semakin akrab saat Nisa dan Heri memimpin. Tidak ada lagi sekarang membatasi rekan kelas menjawab. Siapa yang tercepat angkat tangan, dialah yang mendapatkan kesempatan.
Pada materi berikutnya yaitu Reading dan Conversation (Membaca dan Percakapan), penulis membantu cara pengucapan yang benar dan kemudian mereka praktik bacaan dan beberapa percakapan sederhana. Reading mengasah kemampuan diri berbicara sendiri dan Conversation adalah tindak lanjut berbicara dengan orang lain.
Pemahaman Irregular Verbs, Reading dan Conversation serta perbaikan pengucapan dengan Pronunciation di kelas pagi adalah capaian yang cukup menggembirakan bagi para pelajar yang berhasil diperoleh di Kampung Belajar selama empat minggu (satu bulan). Bekal tersebut yang akan menjadi kenangan dan menjadi modal untuk bisa mengembangkan diri lebih luas termasuk menyelesaikan persoalan kecil seperti pelajaran bahasa Inggris di sekolah masing-masing.
Zulkarnain Patwa
Kamis, 9 Juli 2026
Keseruan anak-anak yang bermain tidak kalah menarik dengan belajar sebaya. Enam orang pelajar dipasangkan: tiga…
Bermula dari Irregular Verbs (kata kerja yang tidak beraturan) pada kelas Bahasa Inggris yang diusulkan…
Penyederhanaan pada kerumitan berbicara dalam bahasa Inggris terletak pada materi pronunciation (pengucapan). Materi ini sengaja…
Faika Qhinara Putri Ridwan kembali lolos Olimpiade bahasa Inggris tingkat nasional di Sigma Sains Student…
Fauzan Saputra anak yang cerdas tapi punya banyak trik untuk tidak banyak belajar. Sekali waktu,…
Kebiasaan yang punya daya ledak yang tinggi butuh konsistensi. Kenapa seorang penulis memilih menulis setiap…
Leave a Comment