Inggris, Konjo dan Bugis di Bawah Matahari Bulukumba

Bermula dari Irregular Verbs (kata kerja yang tidak beraturan) pada kelas Bahasa Inggris yang diusulkan oleh Aul, pelajar yang paling cepat datang di pagi hari. Anak kecil ini ingin menunjukkan kemampuannya menghapal beberapa perubahan kata dengan mantap. Dengan penuh semangat, ia pun berhasil membuktikannya.

Aul yang paling cepat datang dan langsung mendapatkan pelajaran seorang diri.

Anak kampung dari Herlang dan Kindang ini berbahasa Konjo–mirip dengan bahasa Makassar–setiap hari karena ia bersekolah di Herlang. Selama liburan sekolah, ia berada di kegiatan di Kampung Belajar di kota Bulukumba yang menyebabkan harus berbahasa Indonesia.

Aul, Zalfa (tengah) dan Fifi.

Tiba-tiba penulis teringat dengan sepenggal kata Ali Syariati, “… menggunakan bahasa kaum.” Menurut intelektual Iran itu, bahasa kaumlah yang paling cocok untuk memudahkan dalam memahamkan, mencerdaskan dan menggerakkan rakyat. Ketika usulan untuk menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa lokal mulai muncul, itu segera diterima. Aul sungguh senang, bahasa kesehariannya di kampung dipakai di kota. Fifi, pelajar dari Bonto Tiro yang campuran suku Banjar di Kalimantan dan Konjo memilih menerjemahkan ke bahasa Konjo. Sesaat kemudian, Zalfa yang berasal dari keluarga Ujung Loe, keturunan Bugis, diminta berbicara dalam bahasa Bugis. Zalfa protes, mengaku tidak bisa. “Ibuku saja tidak bisa berbahasa Bugis,” katanya. Jurus yang ampuh untuk menghindar.

Faizan dan Heri yang berbahasa Bugis bergabung.

Beruntung, Fauzan dan Heri yang juga berbahasa Bugis datang, tiba di kelas. Fauzan yang meskipun tidak lagi berbahasa daerah di rumahnya mengatakan, “Saya bisa sedikit bahasa Bugis karena sering ke rumah nenekku.” Karena itu, ia betapapun tidak begitu mahir, ia menerima tantangan menerjemahkan Inggris ke Bugis. Sedangkan Heri, ia ikut dengan jawabannya Fauzan karena ia juga tidak berbahasa Bugis lagi di rumahnya.

Dari 40 irregular verbs plus 30 tambahan setelah Faika datang, suasana relatif berbeda dari yang sebelumnya. Para pelajar ini yang sudah lumayan akrab dengan perubahan kosakata Inggris kembali berpikir lebih dalam lagi karena mereka harus menemukan padanan kata dalam bahasa daerahnya masing-masing. Penulis juga senasib dengan mereka. Arti dalam bahasa daerah yang mereka tidak tahu ditanyakan, sebagian mampu dijawab. Itu berarti, sebagian tidak bisa. Ampoa Alborongi–Institut Konjologi Nusantara (IKN) yang dipanggil “Om” oleh anak anak yang hadir di tempat saat pelajaran sedang berlangsung menjadi sumber utama untuk membantu menyelematkan kebuntuan terhadap bahasa lokal tersebut.

Faika, jilbab putih, juga datang dan memimpin kelas pada Irregular Verbs.

Aul dan Fifi relatif lebih banyak tahu karena mereka tinggal di desa yang kehidupannya berbahasa Konjo. Sedangkan Fauzan, Zalfa dan Heri, nanti setelah materi menjelang selesai, mereka bisa mengungkapkan arti dalam bahasa Bugis. Ini karena kehidupannya sudah (hampir) tidak berbahasa Bugis lagi. Semuanya mengaku bahwa mereka berbahasa Indonesia terkecuali kalau pergi ke kampung.

Dari hasil pembelajaran di atas, para pelajar ini berpendapat bahwa bahasa Inggris yang disandingkan dengan bahasa daerah masing-masing pelajar mempunyai beragam manfaat. Diantaranya:

1. Seru.
2. Menambah kosakata.
3. Menggantikan bahasa Indonesia. Ide ini terlalu berani tapi namanya pendapat, ditulis saja sebagai referensi pemikiran dari pelajar itu sendiri.
4. Lebih mudah diingat.
5. Mengetahui bahasa lain.
6. Mengingat bahasa zaman dulu.
7. Bahasa Indonesia dibantu dengan Bugis dan Konjo supaya lebih mudah paham pelajaran.

Usulan Aul dan pelajar lainnya sangat penting untuk didengarkan agar pembelajaran dapat lebih membumi, sesuai dengan konteks. Proses belajar pun terlihat sangat natural, tanpa ada beban dan duduk santai sambil belajar. Sinar matahari pagi yang cerah seolah menyatu dalam lingkungan membuka jalan pencerahan lewat pengetahuan bahasa.

Akankah kita mau lebih mendengarkan usulan pelajar kita?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 8 Juli 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Menyemai Emas di Lingkungan Belajar

Afwa Afiza Arsi, gadis kecil berusia tujuh tahun, kini bersekolah di SD Negeri 128 Turungan…

22 jam ago

Dari Olimpiade hingga Kemandirian Berpikir

Dua orang anak mendapatkan kelas tambahan untuk persiapan lomba. Faika Qhinara Putri Ridwan (Faika) hobinya…

2 hari ago

Sakkar Menaklukkan Badai dan Logika

Sakkar adalah the young sailor man (sang pelaut muda) dari Turungan Beru, Herlang, Kab. Bulukumba.…

3 hari ago

Amuk Marxisme dan Jalan Damai Pendidikan Alternatif

Jika dalam satu kelas terdapat 40 orang pelajar, ada dua atau tiga orang anak yang…

3 hari ago

Keajaiban Metode 40

Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, "Dimana kertasku?"…

5 hari ago

Tragedi Pragmatisme pada Bahasa Inggris

Kalangan orang-orang terdidik tidak bisa hanya menguasai satu elemen berbahasa Inggris saja. Untuk ujian Test…

5 hari ago