Ruang Kreatif Aul di Kampung Belajar

Aul seorang anak kelas 3 SD dari Kec. Herlang, jauh-jauh datang ke kota Bulukumba khusus bergabung di Kampung Belajar untuk bisa berbahasa Inggris. Awalnya, wajahnya terlihat keinginan mau belajar namun ada raut wajah khawatir–tumpukan pemikiran bahwa Inggris itu sulit mengendap baik dalam kepalanya. Ayahnya, Andi Alamsyah, yang menemaninya ke Rumah Belajar Bersama mengatakan, “Bagus di sini. Para gurunya hebat mengajar.”

Agar Aul tidak tegang, guru kelas terlebih dahulu menemaninya berbicara santai. Ia diajak bercerita tentang aktivitas kesukaannya di kampung. Kemudian, guru menjelaskan bahwa bahasa Inggris itu gampang, mirip bahasa Konjo–bahasa kesehariannya di kampung. Aul kaget dan penasaran, seakan tidak percaya. Dalam keadaan seperti itu, guru berpikir bahwa itu adalah waktu yang tepat untuk memasukkan pelajaran Inggris tanpa tulisan.

Mereka pun belajar Parts of the Body (Bagian-Bagian dari Tubuh) tanpa tulisan di papan tulis dan buku catatan. Mereka praktik bicara sambil memegang bagian tubuh yang disebut dalam bahasa Inggris. Ia terlihat terbata-bata menyebut hair, head, forehead dan lainnya tapi ia suka sesuatu hal yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya. Terlebih, ia merasa bahwa ini semacam permainan saja.

Saat memasuki kegiatan membaca teks, Aul menjadi lebih heran. Ia menemukan bacaan yang serba lain tulisan, lain pula cara bacanya. Gurunya pun berkali-kali mengulang sampai pengucapan Aul sesuai hingga beberapa lessons (pelajaran) mampu Aul ucapkan dengan benar. Wajahnya berkeringat. Ini waktu yang tepat memberikan waktu istirahat.

Pada pelajaran selanjutnya, Aul bertemu dengan Faika, anak kelas 3 SD. Bacaan teks dan percakapan Inggris Faika terlihat sangat lancar. Maklum, Faika telah mengikuti Kampung Belajar di liburan sekolah semester lalu dan pernah juara olimpiade Inggris se-Indonesia pada Februari 2026. Aul tidak minder. Malahan, ia mencari cara akrab dengan Faika. Faika pun senang karena ada anak yang seumurannya menjadi teman bermain dan belajar.

Hari demi hari berjalan normal hingga memasuki akhir minggu kedua. Tiba-tiba Aul menyampaikan sesuatu kepada seorang guru kelasnya.

“Saya sudah tahu siapa anak yang paling pintar di kelas,” katanya memancing.
“Siapa?” tanya guru.
“Faika,” jawab Aul sigap.
“Kenapa?” lanjut guru yang ingin tahu alasan.
“Karena Faika paling lancar membaca. Dia juga pintar menulis dalam bahasa Inggris,” terang Aul berdasarkan hasil pengamatannya.

Beberapa waktu kemudian, Aul melanjutkan, “Saya sudah tahu rahasianya Faika pintar.”
“Bagus, Aul,” kata guru yang senang memperoleh dampak positif dari lingkungan Kampung Belajar. “Apa itu rahasianya?”

“Dia sangat rajin membaca,” jawab Aul dengan bangga menemukan sesuatu yang ia anggap berharga. Faika itu memang anak yang jarang menolak ketika ia diminta membaca dengan suara nyaring. Kalaupun ia punya alasan untuk menolak, ujung-ujungnya ia tetap bersedia.

“Lalu, kamu mau pintar seperti Faika?”
“Mau lah,” jawab Aul dengan cepat.
“Bagaimana caranya?”
“Rajin membaca dan bicara ” Maksud Aul adalah Faika sering membaca nyaring pada buku bacaan–sebuah kebiasaan yang dibangun tiap belajar.

Cara berpikir Aul disambut hangat. Tak heran, ketika di waktu istirahat, Aul seringkali meminta kepada guru untuk dipandu membaca buku percakapan dan buku grammar (tata bahasa). Ia tidak terburu-buru untuk pindah lesson sebelum agak lancar pada lesson-nya. Bahkan, ia takkan berhenti membaca hingga wajahnya berkeringat, tanda ia sudah lelah.

Di lain sisi, Faika juga bercerita ke guru.
“Mister, saya punya fans sekarang.”
“Siapa itu Faika?” tanya guru seolah tidak tahu.
“Aul. Dia bilang dia nge-fans sama saya,” jawab Faika sambil tersenyum.
“Kenapa bisa?” pertanyaan lanjutan mengikuti.
“Saya tidak tahu,” balas Faika dengan nada santai.
“Coba cari tahu alasannya,” tambah guru agar Faika mengerti kenapa sebuah pernyataan dibuat.
Ia sepakat saja.

Faika kemudian tidak ditanya lagi. Gurunya yakin bahwa kedua anak mungil tersebut akan kembali bercerita bila ada sesuatu yang menarik. Kisah mereka sengaja dicatat di sini untuk mengetahui sejauh mana dampak positif dari pembicaraan dan pergaulan mereka di lingkungan belajarnya.

Kampung Belajar yang mempertemukan pelajar desa seperti Aul dengan kota seperti Faika semasa liburan sekolah bukan sekadar mengajak para pelajar pandai berbahasa Inggris tetapi juga memberikan ruang agar para pelajar bisa berpikir kreatif, menemukan jalan sendiri dalam menumbuhkan dan menjawab rasa ingin tahunya dalam menuntut ilmu.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Minggu, 28 Juni 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Serpihan Surga dalam Kepungan Plastik

Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan ke bumi (qit'atun min al-jannah), ungkap Syekh Mahmud Syaltut…

12 jam ago

Anak Daerah Berdaya Saing Nasional

Dua orang pelajar SD asal Bulukumba yang meraih emas olimpiade bahasa Inggris membuktikan bahwa anak-anak…

2 hari ago

Bahasa Inggris Hidup di Kampung Belajar

Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan…

2 hari ago

Adeeva Raih Emas: Olimpiade Inggris SD Rasa Kuliah

Adeeva Syakila Zulfikar adalah satu-satunya pelajar SD di Sulawesi Selatan yang meraih emas pada olimpiade…

2 hari ago

Nyala Api Literasi di Kampung Belajar

Jam 9 di pagi hari, dua orang anak remaja dan satu orang dewasa lebih dahulu…

3 hari ago

Menjadikan Bahasa Inggris Bukan Penjara

Kemampuan membaca anak-anak SD ini telah sampai pada tahap yang menggembirakan. Sepuluh lessons (pelajaran) mereka…

4 hari ago