Bahasa Inggris Hidup di Kampung Belajar

Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan percakapan.

“Siapa yang mau tahu arti percakapan yang kita pelajari di hari-hari yang lalu?”, tanya guru.

Tiada seorangpun menjawab.

“Atau kalian terlebih dahulu mau membaca terjemahan lebih dalam bahasa Indonesia?”, lanjut guru.

“Tidak,” jawab serentak.

“Kenapa?,” guru heran.

“Kami mau memperbaiki irama suara dalam percakapan,” kata Fifi. Pelajar yang lain sependapat. Guru paham bahwa pengaruh seni berbicara di kelas percakapan ini telah mendominasi pikiran pelajar.

“Baiklah,” respon guru. “Kalian baca percakapan tiap kalimat, saya yang menerjemahkan agar kalian tidak kehilangan maknanya.”

Para pelajar menerima tawaran tersebut. Maka setelah membaca secara bersama, mereka bercakap secara berpasangan. Ini dilakukan sebanyak enam lessons (pelajaran).

Guru memang sengaja tidak meminta modul terjemahan bahasa Indonesia dibaca untuk menghemat waktu. Selain itu, ada rasa bersalah dari guru kelas yang datang terlambat. Hak belajar pelajar yang seharusnya tiga jam penuh telah berkurang. Terlebih lagi, hari belajar kali ini Jumat, kelas biasanya sedikit lebih cepat selesai karena alasan laki-laki bersiap-siap pergi shalat Jum’at.

Setelah urusan bacaan selesai, guru menanyakan tentang hal menarik lainnya dipelajari.

“Parts of the body,” (bagian-bagian dari tubuh), usul seorang pelajar.

“Ini yang saya paling suka,” kata Aul, pelajar SD.

Pelajar SMP dan SMA dipasangkan dengan anak-anak SD agar anak-anak SD tersebut tidak kewalahan menyebut anggota tubuh, mulai dari rambut hingga jari kaki. Lumayan banyak kan. Mereka terlebih dahulu diberikan jeda waktu untuk berlatih sebelum live (siaran langsung) di Facebook Rumah BelajarBersama.

Kolaborasi belajar terbukti sangat bermanfaat. Saat live, anak-anak lupa beberapa kata. Itulah mengapa mereka dibuat berkelompok agar saling mendukung, bukan sebatas kecerdasan individu. Bagi yang SMP dan SMA, membantu anak SD membuat mereka makin tahu cara menyebarkan ilmu pada orang lain. Lagi pula tutor sebaya ini tidak mengurangi pengetahuan yang telah diperoleh melainkan bertambah.

Dengan metode belajar seperti ini, bahasa Inggris sungguh tidak menyeramkan lagi. Mereka belajar seolah berdiskusi santai dengan rekan kelasnya. Kosakata dan bacaan Inggris tidak dipaksa dimasukkan ke dalam kepala melalui hapalan. Titik tekannya pada pemahaman yang jauh lebih kuat daripada hapalan. Inilah yang disukai pelajar. Guru pun tidak merasa memberikan beban berat kepada anak didiknya.

Ketika jam belajar hampir selesai, kegiatan membaca bersama dan percakapan disertai penerjemahan kembali dilakukan. Target yang ingin dicapai adalah menamatkan satu buku percakapan dalam satu bulan. Para pelajar telah melewati lesson 80. Ada sekitar 60 percakapan yang belum selesai dipelajari. Nampaknya ini bisa terwujud karena khusus kelas percakapan, masih terdapat 10 pertemuan dengan total waktu 30 jam yang akan diselesaikan dalam dua minggu ke depan.

Setelah berhasil menamatkan buku dengan kemampuan berbicara disertai pemahaman teks bacaan, kegiatan Kampung Belajar di Rumah Belajar Bersama ini akan menjadi pengingat program liburan sekolah patut untuk disemarakkan pada liburan berikutnya.

Dengan demikian, bukankah liburan itu sejatinya adalah jalan untuk memperluas pengetahuan?

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at, 26 Juni 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

13 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

2 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

3 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

4 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago