Adeeva Syakila Zulfikar adalah satu-satunya pelajar SD di Sulawesi Selatan yang meraih emas pada olimpiade bahasa Inggris yang diselenggarakan oleh Kompetisi Sains Nasional (KOMPAS) pada Minggu, 21 Juni 2026. Keberanian bertarung antar pelajar se-Indonesia ini tumbuh karena Adeeva telah punya pengetahuan bahasa Inggris melampaui pelajaran kurikulum sekolahnya. Pelajarannya pada buku reading, speaking, dan grammar (bacaan, bicara, dan tata bahasa), mengacu pada buku-buku standar asing, dikerjakan dengan tekun.
Melihat ketekunan, spirit belajar, dan kemampuan Adeeva menuntaskan beragam buku berbahasa Inggris, sang ibu merasa perlu membuktikan pengetahuan yang telah dipelajari anaknya: layak punya daya saing atau tidak. Ibunya yang juga punya pemahaman bahasa Inggris tentu telah mengukur dan melakukan uji coba kualitas dengan langsung mengikutkan anaknya pada kompetisi tingkat nasional. Beberapa urusan administrasi semisal surat keterangan bahwa Adeeva bersekolah di SDN 230 Palambarae Bulukumba—pengganti Kartu Pelajar—dan beberapa urusan administrasi resmi lainnya ia urus agar anaknya bisa ikut berkompetisi online KOMPAS tersebut.
Jika mengacu pada pembelajaran sekolah, capaian Adeeva pada emas mungkin mengagetkan. Guru sekolah SDN 230 Palambarae Bulukumba sama sekali belum mendapatkan pelatihan bahasa Inggris dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Mereka tidak masuk hitungan. Kalaupun mendapatkan pelayanan dari Kemendikdasmen, gurunya masih dalam tahap proses belajar. Terlebih lagi, ia bersekolah di tempat yang jauh dari segala fasilitas belajar yang serba lengkap.
Tentu orang akan bertanya: bagaimana ini bisa terjadi?
Ternyata, Adeeva telah lama bergabung belajar bahasa Inggris di Rumah Belajar Bersama (RBB). Memperhatikan bakatnya yang luar biasa dalam menyelesaikan basic English (bahasa Inggris dasar), para guru RBB segera memberikan pembelajaran tingkat Pre-Intermediate. Umur Adeeva masih sepuluh tahun, kelas 4 SD, tapi ia diyakini sanggup mengerti pelajaran tingkat lanjutan. Pemahaman reading dengan segala latihan soal diajarkan hingga tamat tiga buku asing oleh Mr. Ancha, online speaking dengan Miss Salma Minasaroh di lembaga GAIA di Pati, Jawa Tengah, dan tenses di luar kepala secara acak yang super sulit oleh Mr. Agung Pratama Salassa. Ditambah lagi, akar-akar grammar–pelajaran yang kini dihapus oleh Kurikulum Merdeka–diperdalam oleh Adeeva untuk memperkokoh kemampuan akademis. Itu semua bermanfaat untuk kejuaraan olimpiade.
Benturan pada Olimpiade
Tapi, itu bukan berarti dunia belajar Adeeva berjalan mulus. Rekan kelas Adeeva di RBB bernama Faika Qinara Putri Ridwan, kelas 3 di SD 2 Bulukumba dan peraih emas pada bahasa Inggris di National Science & Mathematics Academic Olympiad (NSMAO), pada Februari 2026 juga mempunyai masalah yang sama. Keduanya mengaku agak kesulitan mengenali kosakata yang tidak lazim dipakai dalam kejuaraan. Gurunya memberikan tanggapan bahwa justru itulah mengapa mereka dikenalkan olimpiade: hal-hal yang tidak akrab tersebut bisa dijadikan akrab. Lagi pula, soal olimpiade itu memang sengaja dibuat susah.
Betapapun demikian, para pembuat soal olimpiade itu tidak sepenuhnya bebas dari kritik. Mereka juga perlu mengingat bahwa berdasarkan kurikulum Indonesia, anak kelas 3 SD yang belajar bahasa Inggris bisa ikut olimpiade. Olimpiade yang diadakan sekarang cenderung tidak membagi pada tingkat kelas lagi: kelas 3, 4, 5, dan 6 SD, bertarung pada soal yang sama. Sebagian penyelenggara olimpiade dengan sengaja membuat materi soal yang dibuat menggunakan grammar tingkat intermediate, yaitu pendalaman clause (klausa). Itu semacam “penyiksaan akademik”, bukan kompetisi yang sehat.
Para pembuat soal olimpiade itu perlu mempertimbangkan kemampuan anak kelas 3 dan 4 SD agar tidak takut menghadapi olimpiade. Olimpiade itu memang perlu tantangan, tapi ia jangan dibuat menjadi hantu menakutkan yang membuat anak-anak kita melarikan diri. Artinya, jangan terlalu jauh meninggalkan kurikulum agar peluang anak-anak lainnya juga terbuka lebar.
Oleh karena itu, para pembuat soal itu mesti berbasis pada realitas kemampuan pelajar Indonesia saat ini, dan pemerintah, khususnya Kemendikdasmen, tetap perlu memberikan pengawasan dan batasan dengan klasifikasi kelas sekolah di olimpiade sehingga tingkat kerumitan terukur lebih tepat. Dengan demikian, ini memancing daya tarik anak-anak Indonesia mengikuti olimpiade dan menjadi bagian dari solusi kita membumikan bahasa Inggris.
Solusi Lanjutan
Adeeva dan Faika sebagai pelajar daerah yang jauh dari hiruk pikuk pembelajaran bahasa Inggris yang canggih sebagaimana di kota besar pasti telah mempunyai solusi ke depan dalam menghadapi kerumitan kosakata dalam menjawab soal tingkat tinggi. Mereka bersama rekan-rekannya yang diprediksi punya peluang yang sama akan diakrabkan pada bacaan tingkat Intermediate setelah menyelesaikan Pre-Intermediate.
Namun, ini tidak dilakukan dengan terburu-buru. Segala materi yang telah lalu di-review kembali, menipiskan tingkat kelemahan, dan sekaligus menguatkan pondasi untuk persiapan pembelajaran yang lebih tinggi. Selain itu, pelajaran grammar tetap dipertajam karena itu adalah alat yang ampuh untuk menjawab soal tanpa perlu mengerti arti dari kosakata, memperkuat struktur untuk menganalisis kesalahan soal.
Dengan demikian, entah soal olimpiade mengalami perubahan ke arah yang lebih familiar untuk pelajar SD atau tidak, semua tantangan tetap siap dihadapi dengan basis pengetahuan terbarukan.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Jum’at 26 Juni 2026
Ketika kelas baru saja mulai, guru ingin mengetahui sejauh mana pelajar berminat mengerti arti bacaan…
Jam 9 di pagi hari, dua orang anak remaja dan satu orang dewasa lebih dahulu…
Kemampuan membaca anak-anak SD ini telah sampai pada tahap yang menggembirakan. Sepuluh lessons (pelajaran) mereka…
Memasuki pertemuan ke-43 sampai ke-49 di Kampung Belajar pada Rabu, 24 Juni 2026, keterasingan para…
Liburan sekolah dengan mengisi kegiatan berbahasa Inggris di Kampung Belajar adalah strategi cerdas memanfaatkan waktu…
Orang yang ingin praktik bicara Inggris dengan gaya bebas melibatkan berbagai macam kalangan dapat bergabung…
Leave a Comment