Jebakan Cerdas

Apa guna sekolah mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga kuliah? Untuk mengubah dan mengembangkan cara pandang. Apakah mengubah cara pandang bisa didapatkan tanpa sekolah? Bisa. Dengan apa? Dengan literasi.

Bagaimana menggandengkan sekolah dengan literasi? Penulis pernah menyediakan ribuan buku dalam bentuk perpustakaan mini untuk mengajak para pemuda-pemudi untuk rajin membaca dan mendiskusikan hasil bacaan. Beberapa waktu gerakan ini dapat berjalan lancar namun seiring waktu, komunitas kecil tersebut bubar karena ada urusan yang dianggap lebih penting daripada kegiatan berwacana. Kendala yang ditemukan, buku yang menjadi kesepakatan bersama untuk dibahas tidak dibaca sehingga enggan untuk terlibat dalam diskusi yang mengharuskan mereka menjelaskan isi bacaan.

Penulis berpikir bahwa menggerakkan pemuda-pemudi mengurusi persoalan intelektual memang berat, sedikit peminatnya atau tidak menemukan peminat yang tepat. Penulis mencoba beralih ke pelajar SMA dan SMP. Sama saja. Alasan tumpukan tugas sekolah membuat mereka tidak punya cukup waktu untuk membaca.

Pilihan terakhir jatuh pada anak SD dan TK. Mereka yang suka bermain itu diajak duduk sejenak membaca buku cerita bergambar sambil bermain didampingi oleh guru. Ternyata, banyak anak-anak cilik yang antusias. Bagi mereka yang belum suka membaca diminta duduk dengan anak-anak lainnya yang sedang asyik membaca. Perlahan-lahan tapi pasti, mereka turut terpengaruh untuk mengambil dan membuka buku.

Menyaksikan secara langsung minat baca yang hidup ini, penulis dan rekan-rekan pemerhati literasi mencoba menyediakan buku-buku anak-anak yang lebih lengkap dengan cara meminjam buku dari Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bulukumba. Perpusda tahu betul perjuangan Perpustakaan Rumah Belajar Bersama (RBB) dan meyakinkan Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan untuk menyumbangkan buku ke RBB.

Selain itu, RBB juga terdaftar di Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) lembaga non-profit didirikan oleh (Alm.) Kak Nirwan Ahmad Arsuka. Penulis ingat dimana Kak Nirwan yang langsung menghubungi penulis agar RBB masuk daftar PBI. Itu adalah sebuah kehormatan dan kenangan manis tersendiri diajak oleh tokoh utama literasi Indonesia yang mengabadikan hidupnya pada literasi.

Penulis berterima kasih kepada Kakak senior Muhammad Ridwan Alimuddin, rekan akrab Kak Nirwan dan pendiri Perahu Pustaka yang menurut pengakuan Kak Nirwan bahwa karena berkat jasa Perahu Pustaka dirinya diundang oleh Presiden RI, menguatkan jejaring ini sekaligus merekatkan ingatan penulis sebagai sesama alumni mahasiswa Yogyakarta yang berada pada frekuensi yang sama.

Agar tradisi literasi mengakar kuat, RBB membuka kelas Reading (Bacaan) pada kelas Bahasa Inggris. Secara otomatis, setiap kali pelajar datang, tugasnya adalah membaca. Setelah itu, mereka ditawarkan membaca dalam bahasa Indonesia.

Karena peminat Bahasa Inggris mencakup SD, SMP, SMA, mahasiswa dan Umum, mereka mau tidak mau membaca buku cerita berbahasa Inggris. Bagaimana dengan pelajar yang memilih kelas Grammar and Speaking (Tata Bahasa dan Bicara)? Sama saja. Mereka semua punya buku yang wajib dibaca, dikerjakan latihannya dan dipraktekkan dalam bentuk bicara. Bahasa Inggris menjadi gerbang utama membuka literasi dan memperkenalkan perpustakaan yang lumayan kaya dengan beragam buku berbahasa Indonesia dan asing.

Tantangan super berat mengatasi kebuntuan menghidupkan gerakan literasi terjawab dengan terus menghadapi masalah hingga pada satu titik sebuah sistem seperti di atas dapat diwujudkan. Pada akhirnya, berbagai macam kalangan baik yang sekolah ataupun sudah tidak sekolah dapat memperkaya khazanah pemikiran untuk mengembangkan dan mengubah cara pandang yang membuatnya bisa memilih jalan yang tepat sesuai dengan alur kehidupannya.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Sabtu, 6 Juni, 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *