Ide Mulia, Waktu Sekarat

Bisakah seluruh tenses itu diajarkan dan dipahamkan di luar kepala pada anak SD dan SMP? Pasti bisa. Sekolah punya sejumlah besar guru sarjana yang berkualitas lolos verifikasi standar pemerintah. Kenapa tenses penting? Karena tenses adalah hal yang paling mendasar untuk mengetahui perubahan kalimat berdasarkan waktu dan kejadian atau kondisi. Tanpanya, para pelajar tidak tahu apa itu kalimat dalam Bahasa Inggris.

Lalu, kalau itu penting, kenapa tidak diajarkan secara detail saja? Karena kurikulum sekolah baik Merdeka ataupun K 13 tidak lagi mengarah ke situ. Abdul Mu’ti, Kemendignasmen (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah), memberikan penekanan ke speaking (bicara) yang menurutnya sebagai persiapan untuk mencetak generasi produktif, adaptif dan berdaya saing global.

Dua orang anak sekolah yang sedang berjuang memahami tenses di luar kepala.

Tetapi ingat, Bahasa Inggris itu cuma diajarkan sekali dalam seminggu: SD sebanyak 70 menit dan SMP sebanyak 120 menit. Waktu yang sungguh tidak seimbang untuk membumikan ide besar yang mulia itu.

Inilah letak persoalannya. Pemerintah mau mencetak pelajar Indonesia punya daya saing tapi waktu belajar yang sangat terbatas. Untuk anak SD, membuang tenses mungkin dapat diterima dengan alasan untuk membangun keberanian berbicara dan pronunciation (pengucapan). Tapi kenapa di SMP dan SMA tidak diterapkan? Secara tidak langsung, pemerintah membiarkan pelajar tidak mampu menjawab soal-soal esai yang membutuhkan pemahaman akurasi struktur grammar (tata bahasa). Pada tahapan inilah, tenses wajib dimengerti untuk bisa menjawab kalimat.

Praktik penguasaan tenses di luar kepala menggunakan kotak kosong oleh Titania Noor Ilmi, pelajar kelas 1 SMP. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama, Jum’at 29 Mei 2026.

Teori Piaget mengatakan kapasitas anak SD berusia 7 sampai 12 tahun masih dalam tahap operasional kongkrit. Dalam artian, tenses yang penuh dengan rumus-rumus memaksa pelajar berpikir abstrak, logis atau matematis beresiko membuat bahasa Inggris jadi kaku, menakutkan dan benci Bahasa Inggris sejak masa kecil. Ini sungguh meremehkan kapasitas murid berbakat dan kreativitas guru. Pembelajaran tenses itu bisa sangat menyenangkan dengan alat peraga kotak kosong tenses tanpa rumus yang diajarkan dalam bentuk permainan, tulisan untuk mengikat makna dan percakapan. Ini malahan memperkuat anak-anak mampu berlogika melalui pendekatan bahasa.

Zhah Noor Aisyah kelas 4 SD sedang berusaha memahami cara memahami tenses di luar kepala dengan memperhatikan kotak kosong tenses. Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama pada Jum’at 29 Mei 2026.

Zhah Noor Aisyah anak kelas 4 SD dan Titania Noor Ilmi kelas 1 SMP adalah bukti potensi pelajar Indonesia di daerah yang sanggup melakukan itu. Anak anak SD dan SMP lainnya yang sudah punya vocabularies (kosa-kata) dan akrab dengan Bahasa Inggris justru lebih bisa berbicara lebih teratur dan terarah. Mereka tahu kapan menggunakan kalimat present past dan future (saat ini, lampau dan akan datang). Kemampuannya tidak berhenti sampai di situ saja. Seluruh perubahan kalimat mencakup pernyataan positif, pertanyaan positif, pernyataan negatif dan pertanyaan negatif mampu dipraktekkan. Hasilnya, mereka jauh lebih mudah membaca dan mengerti teks buku kurikulum sekolah.

Ayahnya Tita dan Zhah yang sedang menjamu tamu asing dari NGO Belanda membahas tentang penanganan penyakit lepra. Dari kesadaran orang tua, kedua anak bersaudara tersebut dapat meluangkan banyak waktunya untuk ikut belajar Bahasa Inggris di pendidikan alternatif.

Akibat pembiaran semasa SD dan SMP, pelajar SMA harus menanggung beban lebih berat karena pelajarannya pasti lebih rumit.Mereka seharusnya tidak lagi belajar tenses tapi pada kenyataannya, tidak demikian. Tidak ada penambahan jam belajar, 120 menit pada Kurikulum Merdeka seperti di SMP dengan sekali pertemuan per minggu.

Dengan memahami bahasa asing, mari menciptakan pergaulan dunia.

Tanpa tenses, apakah ini cukup untuk menciptakan pelajar yang punya daya saing global? Apakah pemerintah perlu menambah jam belajar Bahasa Inggris sekolah? Bisakah soal beasiswa kuliah ke luar negeri yang isinya TOEFL atau IELTS itu didapatkan tanpa mengerti grammar? Silahkan menjawabnya.

Zulkarnain Patwa
Sabtu, 30 Mei 2026

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Iqra Wajib Karena Manusia Malas?

Apakah perjuangan membumikan literasi telah membuahkan hasil? Mari kita simak pendapat anak-anak yang mengikuti kelas…

1 hari ago

Keliling Dunia dari Tempat Duduk

Bisakah manusia mengenal dunia yang luas ini tanpa harus keliling dunia? Bisa. Tanamkan literasi, kebiasaan…

1 hari ago

Anak TK Ketagihan Membaca Buku Inggris

Sehari setelah Idul Adha 1447 H./2026 M., RBB (Rumah Belajar Bersama) tetap buka meskipun tanggal…

2 hari ago

Melawan Candu Smartphone

Apple terkenal dengan kecanggihan teknologi smartphone. Steve Jobs, think tank sekaligus pendiri Apple, berdalih bahwa…

2 hari ago

Strategi Pencerdasan Sang Juara Inggris

Peraih emas Olimpiade Bahasa Inggris di NSMAO (National Science and Mathematics Olympiad) Februari 2026 ini…

3 hari ago

Jelang Idul Adha, Anak-Anak RBB memilih Belajar

Sehari sebelum hari raya Idul Adha (26/05/2026), banyak pelajar memilih libur di kegiatan belajar informalnya…

3 hari ago