Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis ia sudah ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk beluk perahu Indonesia khususnya Sulawesi Selatan dan Barat, terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan thesis kuliahnya.
Beruntung, pertemuan saya di Tanah Beru ini, kami sekedar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing yang sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa, itu sangat personal, tidak ada ukuran yang pas. Namun setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang Pak Najib.
Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu namun saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat yang akhirnya itu menganttarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.
Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan. Karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala, asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.
Tapi saya heran juga. Kok saya menikmati perdebatan mereka. Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif, kenapa harus ditolak.
Saya berharap bila tulisanku nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan sehingga saya tidak memilih lagi jadi penonton tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.
Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya dan Panrita Lopi (Ahli pembuat perahu) yang berkat ilmunya yang luar biasa dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal juga dengan negeri maritim.
Nanti lanjut lagi. Mau main catur 😀
Zulkarnain Patwa
Minggu, 24 Mei 2026
Bergaul dengan Ahli Perahu
Menulis bersama Dr. Horst Liebner membuat saya berpikir berat karena apa yang sebenarnya ia minta untuk saya tulis telah ia ketahui. Orang tahu ia tokoh yang mengetahui secara mendalam tentang seluk-beluk perahu Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan dan Barat. Semua itu terdokumentasikan lewat buku-bukunya dan tesis kuliahnya.
Beruntung, dalam pertemuan kami di Tanah Beru ini, kami sekadar menambah sedikit tulisan yang telah dibuat dan sedikit berdebat tentang penggunaan kata yang tepat. Ini yang asyik. Pertimbangan yang dipakai adalah KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan otak masing-masing sesuai cita rasa sendiri yang dirasakan nyaman dan mudah diterima publik. Ini yang lama. Namanya juga rasa. Itu sangat personal dan tidak ada ukuran yang pas. Namun, setelah kami saling bertukar pikiran, ternyata ada juga kesepakatan yang dicapai. Dua bagian tulisan selesai di Bantilang (tempat pembuatan perahu) Pak Najib.
Setelah itu, saya mencari bahan pembuatan kayu pada perahu. Wawancara dengan Pak Najib telah sangat membantu. Namun, saya mesti berkeliling di berbagai Bantilang untuk bisa melihat lebih dekat–yang akhirnya itu mengantarkan saya sampai di Kaluku Bodo, dekat pelabuhan Tanah Beru.
Saya bertemu dengan Pak Pudding dan Fian, anaknya. Kayu lokal dan kayu dari luar pulau disebutkan karena ramai. Kemudian, Pak Horst datang juga. Eh, malah berdebat tentang perahu zaman Belanda hingga Sawerigading segala–asal usul manusia dan perahu. Terjadi benturan antara rasionalitas dengan folklor, cerita rakyat. Saya tidak mau terlibat dan memilih sesekali berkomentar bila ada perdebatan yang tajam. Ya, semacam iklan agar suasana lebih santai.
Tapi saya heran juga: kok saya menikmati perdebatan mereka? Dari sore hingga matahari tenggelam, saya tetap tinggal. Baru setelah menjelang Isya, kami memutuskan untuk bubar. Nampaknya, bila bertemu lagi, perdebatan intelektual akan terulang kembali. Saya pikir itu bagus karena kritisisme memang perlu dibangun. Pembahasannya pun konstruktif: kenapa harus ditolak?
Saya berharap bahwa tulisan saya nanti tentang kayu yang digunakan pada pembuatan perahu juga mereka perdebatkan. Dengan demikian, saya tidak memilih lagi jadi penonton, tapi pelaku debat yang mempertahankan pendapat.
Asyik juga bergaul bersama Pak Horst. Saya merasa bisa mengenal lebih dekat cara berpikir kritisnya. Saya juga berterima kasih kepada Panrita Lopi (ahli pembuat perahu), yang berkat ilmu dan tenaganya membuat perahu, Indonesia dikenal dengan negeri maritim.
Nanti lanjut lagi. Mau main catur. 😀
Zulkarnain Patwa
Minggu, 24 Mei 2026
Sebuah kebahagiaan mendapatkan kunjungan silaturahmi dari seorang rekan yang aktif mengkampayekan Bahasa Inggris. Fathy Cayadi,…
Dengan menanamkan kebiasaan membaca sejak masa anak-anak, niscaya kita tidak perlu khawatir lagi tentang kualitas…
Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu. Pepatah Arab yang diadopsi Melayu mengingatkan…
Oleh: Aris Irfan Bira, Kamis, 21 Mei 202 Saat ponsel istriku berbunyi, terdengar percakapan yang…
Belva dan Gavino dua orang bersaudara yang selalu menyapa dalam Bahasa Inggris baik saat baru…
The Ministry of Primary and Secondary Education (Kemendigdasmen) no longer focuses on grammar in school…
Leave a Comment