Andi Widya Maulidyah peraih juara 1 pada Grammar Competition di English Fair 2026 diselenggarakan oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas negeri Makassar). Ia menerima Piala, Piagam dan Hadiah lainnya.
Kompetisi mengasah kecerdasan manusia tanpa bantuan AI (Artificial Inteligence) kecerdasan mesin digelar oleh FBS UNM (Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar) dengan tema “Empowering Students through English for Global Competence” pada 7 -9 Mei 2026. Pembulatan 500 peserta, tepatnya 497 peserta jurusan Bahasa Inggris bertarung. Mengangetkan! Dari enam kategori kompetisi, Grammar Competition (Kompetisi tata bahasa) paling ketat diikuti 269 peserta. Itu kompetisi rumit karena melibatkan urusan berpikir logis. terlebih lagi kurikulum sekolah Indonesia tidak fokus pada grammar lagi.
Respon Orang Tua Widya
Juara 1 (satu) Grammar Competition diraih oleh mahasiswi semester dua, Andi Widya Maulidyah. Dari mana Widya bisa secepat itu menjadi yang terbaik? Investasi pendidikan. Widya sejak di SDN 221, SMPN 2 hingga tamat SMAN 1 Bulukumba telah ikut kursus Inggris. Tantenya Andi Ayu Cahyani memperkenalkan RBB (Rumah Belajar Bersama) dan langsung disambut oleh kedua orang tuanya Andi Halil Badawi dan Nuraidah Arifin Sallatu. Sang ayah yang mengetahui minat dan bakat anaknya tanpa lelah mengantar kursus sementara sang ibu yang acap kali mengunggah kegiatan Widya di media sosial termasuk takkala Widya lulus di UNM jalur prestasi, 2025.
Mari kita simak ekpresi kebahagiaan orang tua dari sang ayah di facebook pribadinya:
Alhamdilillah, tidak sia-sia anak gadisku kursus di Rumah Belajar Bersama Bulukumba. Hari ini dapat kabar darinya: Juara 1 Final English Fair 2026 di Kampus UNM dari 300 peserta menjadi 30 lalu masuk final 8 orang dan akhirnya juara satu.
Hal senada juga disampaikan oleh sang ibu juga di facebook:
Masya Allah Tabarakallahu. Selamat nak, Andi Widya Maulidyah atas pencapaiannya lomba English Grammar at English Fair 2026 UNM dari 300 peserta menjadi 30 besar, dari 30 besar menjadi 8 besar dan dari 8 besar menjadi juara 1.
Widya yang semasa sekolah telah tamat buku Basic Grammar, Pre Intermediate Grammar, Intermediate Grammar standar internasional katya Betty Scrampfer Azar dan beberapa bagian TOEFL (Test of English as a Foreign Language) serta membaca buku beragam buku bahasa inggris seperti Decisive Moments, Indonesia’s Long Road to Democracy karya B. J. Habibie, L. G. Alexander dan lainnya. Dengan aksen British English (Bahasa Inggris ala orang Inggris, bukan Amerika) mengekspresikan rasa senangnya dengan mengatakan:
Honestly, I still can’t fully believe it because winning first place against so many participants means a lot to me but I also feel like I wouldn’t have achieve all of this without your teachings and guidance for all this science. I learnt a lot from Rumah Belajar Bersama. Thank you very much.
Terjemahan bebas:
“Sejujurnya, saya masih belum sepenuhnya percaya karena memenangkan juara pertama melawan begitu banyak peserta sangatlah berarti bagiku. Namun, saya juga merasa tidak akan bisa mencapai semua ini tanpa ajaran dan bimbingan kalian dalam bidang sains. Saya telah belajar banyak dari Rumah Belajar Bersama. Terima kasih banyak.”
Karena Widya pelajar yang punya kemampuan di atas rata-rata, ia seringkali dipercaya oleh guru RBB untuk meng-handle para pelajar berbakat yang sedang berkembang. Sebelumnya, hal yang sama juga diberikan kepada sepupunya, Andi Junila yang kini telah malang melintang di berbagai macam negeri. Pelajar Andi Aufassaif Mallombassi Patwa, seorang alumni MAN Insan Cendekia Gorontalo, sekolah didirikan B. J. Habibie, yang sanggup belajar Inggris sekitar 11.30 jam sehari berpikir penting menghubungi Widya untuk menghadapi Ujian Tulis dan Lisan Tenses luar kepala. Widya berkenan dan Aufa pun lulus Basic Grammar di RBB. Beberapa kelas yang sudah cukup punya kapasitas bagus, kadang-kadang diberikan ke Widya sebagai pembelajaran micro teaching untuk membangun kepercayaan dirinya dan mental kepemimpinnya.
Untuk hal tersebut, mari kita dengar pendapatnya:
What I gained during my time learning in RBB was not only about knowledge but also confidence and deeper understanding grammar especially. Honestly, all of you guys are the ones who taught me grammar until I was finally able to reach this point and achieve something like this. I am truly grateful for all the lessons and support you’ve given to me.
Terjemahan:
“Apa yang saya dapatkan selama belajar di RBB bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga rasa percaya diri dan pemahaman yang mendalam, khususnya mengenai tata grammar (tata bahasa). Sejujurnya, kalian semualah yang mengajariku grammar hingga akhirnya saya bisa mencapai titik ini dan meraih prestasi seperti sekarang. Saya sungguh bersyukur atas semua pelajaran dan dukungan yang telah kalian berikan kepadaku.”
Cara Belajar Widya
The Little Girl at the Window (Gadis Cilik di Jendela) buku mengkisahkan Totto Chan yang penuh rasa ingin tahu, bukan kaku. Jepang terkenal dengan konsep belajar disiplin dan tegas. Sayang sekali Totto Chan dengan pemikiran dan prilakunya yang mengeksplorasi dunia sekelilingya, ia suka berdiri di jendela memanggil pemusik datang ke kelas, bertanya pada burung saat belajar, membuka dan menutup laci membuat gurunya sangat jengkel, ia dianggap anak nakal padahal tidak.
Semua itu adalah ekspresi polos anak kecil yang tidak dapat diterima oleh sekolah di Jepang. Beruntung, ibunya menemukan sekolah baru dibuat dari gerbong kereta bekas. Sosaku Kobayashi, Kepala sekolah menyakinkan bahwa Totto Chan anak yang baik. Kisah nyata kehidupan Tetsuko Kuroyanagi, sang penulis buku, sangat terkenal dan bahkan dijadikan film animasi pada 2023.
Widya tidak pernah nakal di kelas, punya keceriaan belajar layaknya Totto Chan. Ia menemukan belajar Inggris untuk menyenangkan dan menarik. Tidak ada sekolah bekas rel kereta api, ia ke RBB. Tidak ada pertentangan sama sekali antara bermain dan belajar,. Seandainya ia punya ide kebebasan berekspresi seperti Totto Chan, itu sama sekali bukan masalah selama ia mampu mengerjakan tugasnya. Malahan, ia lebih banyak berimajinasi dan berkreasi pada soal soal yang ia pelajari. Kalau ia mendapatkan masalah, ia akan termenung sambil sesekali memegang pulpen hingga titik tertentu, ia mengatakan, “Kudapatmi”. Bila ditanya, ia akan menjelaskan dengan cara berpikirnya sendiri. Mengagumkan.
Guru yang memang memberikan penjelasan dan pertanyaan itu penting namun yang lebih penting adalah melatih dan memberikan kebebasan berpikir. Benar atau salah pada jawaban bukan soal utama. Bila pelajar salah, kesalahan tersebut dijadikan alat untuk menunjukkan jalan yang benar. Dan bila benar, itu sudah sesuai target yang kita inginkan sambil memperhatikan dasar argumentasi yang dibangun. Kehidupan dalam belajar merupakan proses untuk mengembangkan pola pikir.
Masa SD Widya di RBB juga suka banyak bermain. Di SMP, ia terlihat lebih banyak belajar dengan sedikit bermain dan saat SMA, ia menikmati pelajaran, tidak ada waktu bermain. Ia datang, duduk, mengerjakan latihan dan hampir tidak bergeser dari tempat duduknya hingga kelasnya selesai, 90 menit. Bila ia punya waktu luang, 02 sampai 2.30 jam fokus belajar dan bahkan lebih saat ada kegitan Kampung Belajar, ia sering masuk di pagi sore dan kadang kadang di malam hari dalam sehari.
Dari jam belajar yang padat itulah, Widya sudah mampu memahami teks inggris sehingga ia tidak merasa perlu untuk bertanya kecuali pada hal yang benar-benar yang sulit dimengerti. Cukup dengan penjelasan sekilas, ia kembali bekerja. Itulah ia mengapa guru RBB menyebut bahwa dirinya mengerti pelajaran grammar tingkat universitas karena apa yang guru ajarkan padanya itu adalah materi tingakt universitas.
Yang dahsya lainnya adalah kemampuan belajar ototidak dari Widya. Ia banyak belajar dari rumahnya. Tiba-tiba ia pintar pengucapan ala British English tanpa pernah mendapatkan tanpa pernah ikut kelas pronunciation. Itu ia peroleh dari berselancar di internet. Guru di RBB yang mengerti aksen British English tahu bahwa apa yang disampaikan Widya bukan hanya benar tapi juga terdengar indah dengan intonasi yang khas. Dan karena grammar-nya sudah bagus, otomatis cara bicara tertata dengan baik. Itu keren.
Betapapun pilihan belajar Widya sebatas grammar saja, ia aktif juga ikut EPC (English Practice Club) yang isinya orang dewasa dari berbagai latar belakang. Pengalaman berharga pertamanya saat ia menjadi pembicara Gen-Z faces the Future di EPC ketika masih duduk di SMP, 2021. Anda bisa tebak bagaimana anak gadis remaja berjuang untuk berbicara di depan khalayak umum yang bukan seumurannya meskipun panelisnya Aufa, anak yang baru tamat SMP. Terlihat keduanya bisa berbicara fasih karena mereka terlebih dahulu mencari bahan bacaan berhubungan dengan tema dan berlatih praktek bicara. Andi Ayu Cahyani, Ketua EPC waktu itu, membuka ruang lebih luas kepada remaja yang kemudian anaknya Dzaki yang juga SMP bisa tampil juga di EPC.
Seseorang yang naik kekuasaan tanpa perjuangan akan turun tanpa kehormatan, kata filsuf Aristoteles. Apa yang diperjuangkan Widya pada Grammar Competition di UNM hingga menjadi yang terbaik dari yang terbaik adalah proses belajar yang panjang, tidak instant. Dibalik semua itu, dibalik kesuksesan itu, ada orang tua bersama keluarga, pelajar itu sendiri dan lingkungan belajar yang tepat yang sesuai minat dan bakat untuk berkembang. Selebihnya adalah doa.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Selasa 12 Mei 2026
Andi Widya Maulidyah yang masih semester dua kini jadi juara 1 English Fair di UNM…
Sophie Amundsen seorang gadis remaja 14 tahun dalam Dunia Sophie (Sophie's World) menggambarkan sejarah filsafat…
"She is great and has high interest to improve her English", pujian manis dari Fathy…
Bila bukan kita sendiri yang memulai, siapa lagi? Pertanyaan ini seringkali kita temukan dari para…
Seorang anak kelas 3 SD belajar Perkalian dan Pembagian 2 sampai 9 dengan metode 40,…
Bahasa Inggris pelajaran wajib mulai tahun 2027/2028 merupakan Wujud komitmen pemerintah untuk menyiapkan profil lulusan…
Leave a Comment