‘Guten tag’ (Selamat siang). Oh! Itu salah. Guten abend’, (Selamat malam) itu lebih salah lagi. Kalimat yang pertama penulis ucapkan lewat telepon saat Mr. Irfan, manager Cahaya Bone Travel of Kalla Group di Bulukumba, memberikan telponnya kepada untuk berbicara kepada seorang tamu dari Jerman yang hendak ke Makassar. Kontan saja, ucapan disambut tawa oleh gadis muda itu di telepon karena penulis seharusnya mengucapkan, ‘Guten morgen’. Hari memang menjelang siang tapi matahari belum tergelincir, penanda pagi belum berlalu.
Setelah berbicara dalam beberapa kalimat dalam Bahasa Jerman, penulis tidak tahu mau bilang apa lagi. Akhirnya, dengan baik hati, ia menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Yang kami tahu kami akan menjemputnya pada 3.45 sore karena ia terlebih dahulu akan pergi diving (menyelam) di hari terakhir di laut Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Saat bertemu, faktor ‘Wow!’ pun hadir. Seorang gadis bule dengan tinggi 185 cm–sebuah ukuran yang menakjubkan bagi orang Indonesia–punya keramah-tamahan dalam berbicara dilengkapi dengan kecerdasan komunikasi yang memukau dalam mengungkapkan pendapat. Hal ini mengingatkan penulis pada Johann Wolfgang von Goethe, sastrawan kesohor Jerman era Neoklasisme dan Romantisisme Eropa di akhir abad 18 dan awal abad 19.
Namun, kita hidup di abad 21. Orang Jerman yang dalam dunia nyata kami temui adalah Verena Schubert, perwujudan kecerdasan manusia abad modern, berpendidikan dan pandai bergaul. Ia mengungkapkan bahwa keindahan dan kekayaan alam Indonesia layaknya surga yang harus dijaga. Apa bedanya dengan Soerkarno, sang proklamator kita? Soekarno juga pernah bilang, “Indonesia adalah sepotong surga”. Statement mereka sama saja.
Selama minggu berada di Bira, selain setiap hari Verena menyalurkan hobby diving-nya menikmati keindahan terumbu karang bawah laut, ia pun turut aktif kegiatan Dego Dego Na Bira dan Tevana yang berkonsentrasi menanam dan merawat terumbu karang. Pada saat yang sama, ia mengkampanyekan stop buang sampah plastik ke laut dan pembakaran sampah plastik sembarangan di biasa ia temui dalam perjalanannya berkeliling dunia. Tak lupa, Verena pun tidak tutup mata bahwa pencemaran akibat industrialisasi di barat juga terjadi.
Ajakan kesadaran bersama ini kemudian ditindaklanjuti dengan mengungkapkan, “Kita akan menghancurkan rumah kita sendiri. Kita akan membuat rumah kita sendiri terbakar api. Pilihan kata yang halus tanpa harus menyalahkan orang lain. Kalau bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?
Ajakan Verana tidak dibatasi oleh timur saja tapi juga barat juga, seluruh ummat manusia. Kepedulian manusia yang tidak dibatasi oleh kutub ini pernah juga disampaikan dalam West-Ostlicher Diwan (Diwan Barat-Timur) oleh Goethe:
Wer sich selbst und andre kennt,
Wird auch hier erkennen:
Orient und Okzident
Sind nicht mehr zu trennen.
Sinnig zwischen beiden Welten
Sich zu wiegen lass’ ich gelten;
Also Zwischen Ost und Westen
Sich bewegen, sei’s zum Besten!
(Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)
Yang kenal diri juga sang lain
Di sini pun kan menyadari:
Timur dan Barat berpilin
Tak terceraikan lagi.
Arif berayun penuh manfaat
Di antara dua dunia;
Melanglang timur dan barat
Mencapai hikmah mulia!
(Mukadimah Diwan Barat-Barat)
Guten morgen, Guten tag dan Guten abend adalah harapan keselamatan sesama manusia dalam menjalani perputaran kehidupan. Kegagalan memaknai “Gooten” dapat diselamatkan dengan menerjemahkan ke bahasa yang kita pahami. Bumi yang luas ini kita tapaki untuk melihat dan membaca prilaku manusia. Tidakkah kita mau merenungkannya dan menyampaikan kepada sesama hal hal yang baik dari negeri yang pernah kita kunjungi?
Pertemuan dengan Horst Liebner
Orang Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut ulung dan pembuatan perahu kayu yang paling populer di Indonesia. Mayoritas perahu dipesan dari Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba yang tersebar di berbagai desa. Dan saat itu, kami berada di pusat galangan perahu, Tanah Beru.
Merupakan suatu keberuntungan di mana kami dapat bertemu Dr. Horst Liebner, seorang pakar perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan, Verena dan kami dapat bertemu dengan Pak Horst yang sedang duduk bersantai di salah satu galangan kapal miliknya Pak Najib, teman akrab Pak Horst.
Karena sesama berkebangsaan Jerman, Verena tidak merasa asing dengan Pak Horst. Sebelum berakrab ria, “Tunggu dulu”, sambil berdiri di dekat Verena. “Tinggi kan. Ah! Tingginya orang Jerman seperti ini”, sembari Pak Horst menatap Verena. Pak Horst yang sudah hampir menetap selama 40 tahun di Indonesia sengaja bercanda karena mengerti bahwa tinggi badan hal yang selalu jadi perhatian di Indonesia.
Selebihnya Horst berbicara dalam Bahasa Jerman dengan Verena sembari memperlihatkan beragam foto perahu tradisional Indonesia dari generasi ke generasi. Penulis hanya menikmati betapa asyiknya mereka berbicara. Paling sedikit, Verana tahu ada orang Jerman yang punya dedikasi dan berpengetahuan luas di negeri yang ia kunjungi. Indonesia memang bukan kampung halamannya namun dengan adanya Pak Horst, ia tidak merasa sendiri.
Sejurus kemudian, Pak Horst mengalihkan pandangan, “Sudah kamu perlihatkan Perla Anugerah Ilahi?” Itu mengacu perahu tradisional tanpa mesin yang ia buat. “Saya kira perahu itu sedang berlabuh di sini”, jawab penulis. “Tidak. Perahu itu berada di pelabuhan Bira”. Tempat itu telah kami lewati, tidak mungkin untuk kembali. “Di kesempatan lain, perahu itu akan kami tunjukkan ke Verena”, kata penulis. Pak Horst mengerti. Kami kemudian pamit karena Verena mobil yang akan membawanya ke Makassar telah menunggu di Bulukumba.
Kesan yang muncul adalah Verena disambut baik oleh Pak Horst. Jika dia mau dan ada kesempatan, ia tentu bisa ikut berlayar di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu-satunya perahu layar Indonesia yang hanya mengandalkan angin. Tanpa deru mesin yang ribut dan asap menghitam, Perla menyatu dengan alam. Yang kita dengarkan adalah suara angin berhembus, desiran ombak dan keheningan di malam hari menatap bulan dan bintang penuh kedamaian. Ya, itu sedikit pengalaman yang penulis temukan saat ikut berlayar bersama Pak Horst dari Bulukumba ke Makasar.
Dalam bayangan Verena, itu seperti Yoga. Iya, bila dengan Yogya orang menemukan kedamaian. Verena mengerti Yoga sedangkan penulis adalah pelatih karate, tentu berbeda. Pengalaman itu adalah pengetahuan partikulat di mana ukurannya sangat subjektif, kembali kepada orang yang mengalaminya.
Perjalanan kehidupan adalah langkah langkah. Ada pertemuan, ada perpisahan. Aris Irfan, sang manager Cahaya Bone Travel dan Villa Malomo Bira telah menjamu tamunya, Verena Schubert, dengan sangat baik. Orang orang akan terus berjalan di muka bumi. Kita berharap suatu saat kita semua dapat bertemu kembali dalam keadaan lebih baik. Jembatan kehidupan. Guten! 😀
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, 23 April, 2026
"Guten tag" (Good afternoon). Oh! It's wrong. "Guten abend" (Good evening) it was even worse.…
Tanya jawab online untuk kedua kalinya dengan Salma Minasaroh, penggagas lembaga pendidikan GAIA di Pati,…
Tidak berolahraga itu benar benar menyiksa. Cedera sakit pinggang menyebabkan penulis berhenti latihan karate selama…
Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika.…
Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk…
Ini foto seorang dosen Hubungan Internasional UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) dan doktor muda dari Bulukumba,…
Leave a Comment