Kanal: NewsWisata

Kamus Pinisi

Pak Rusli adalah orang yang turut punya peranan besar hingga Pinisi dikenal lebih luas dengan keterlibatannya pada pelayaran Pinisi 11.000 mil laut dinakhodai Kapten Gita Ardjakusuma ke Vancouver, Kanada pada 1986. Wajahnya masih terlihat segar bugar, tetap aktif dalam pembuatan layar Pinisi dan sesekali aktif berlayar dengan angin di Pinisi Perla Anugerah Ilahi.

Kehadiran Prof. Antonia Soriente sebagai seorang dosen senior di Universitas Orientale di Neplas, Italia yang saat ini konsentrasi menulis kamus Bahasa Konjo terkhusus pada segala macam penyebutan istilah di Pinisi menjadi berharga dalam menguak kekayaan pengetahuan Pinisi. Ini adalah bagian dari penyelamatan Bahasa Konjo klasik yang hampir punah karena istilah-istilah tersebut jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh penutur orang Konjo sekali pun. Di samping itu, buku ini menembus batas karena orang orang dari berbagai macam latar belakang dapat mempelajarinya dimana mereka berada.

Dalam beberapa pelatihan pelayaran Pinisi, orang luar yang ikut pelatihan cenderung kelimpungan mengenal kosa kata tersebut. Betapa tidak, ketika kita berada di tengah laut, Pak Horst Liebner, sang kapten di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, tidak pernah memerintahkan pergeseran layar dalam Bahasa Inggris, Jerman atau Indonesia. Semua kembali ke asalnya, bahasa Konjo. Kalau para crew tidak mengerti, pastilah pening kepala untuk bertindak. Ini bukan karena tidak mau bekerja tapi tidak tahu mau berbuat apa.

Beruntung, ibu Antonia telah beberapa kali mengadakan kunjungan ke Tanah Beru di Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan untuk menghimpun data terpenting guna menuntaskan kamus Konjo tersebut dan Pak Rusli adalah salah satu rujukan penting yang ia temui. Pak Rusli pun selalu menyambut dengan hangat karena kehidupannya memang erat kaitannya dengan Pinisi, tidak kehabisan bahan menerangkan tentang tali temali, layar yang merupakan pekerjaannya membuat dan memasang dan dan segala hal istilah Pinisi. Betapapun ia kini lebih sering bertemu dengan Pinisi bermesin, ia tidak lupa tentang Pinisi klasik karena dirinya masih bagian dari crew Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu satunya perahu layar Pinisi tanpa mesin. Wajar bila otaknya masih segar menjelaskan.

Kita berharap kamus pertama Pinisi tersebut dapat segera selesai dan dinikmati oleh generasi penerus sehingga pewarisan dan kekayaan pengetahuan yang tersembunyi di balik Pinisi itu dapat dikenal dan dicintai oleh generasi penerus kita. Dengan demikian, pelayaran ke Vancouver di Kanada yang pernah dilakukan oleh Pak Rusli dkk dapat ditindaklanjuti oleh anak muda mudi sekarang mengarungi samudra luas, negeri negeri terjauh. Siapa yang tahu tapi semoga!

Sekian dulu. Nanti dilanjutkan lagi tulisannya karena saat ini saya ada tugas mengajar 😉

Zulkarnain Patwa
* Penulis Bebas

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

12 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

1 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

2 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

3 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago