Tadi pagi ada pelatihan diving untuk tingkatan advance. Tantangannya adalah divers harus tidak memasang alat selam di permukaan air. Seluruh peralatan harus dipasang di dalam/bawah air. Memasang semua bagian regulator diantaranya first and second stages, submersible pressure gauge (SPG). Mask, Fin dan mask dan lainnya. Rumitnya lagi, untuk bisa mengapung, kantong udara harus diisi secara manual, ditiup dengan mulut. Wah! rumit kan. Memasang di atas perahu saja, butuh waktu yang lumayan lama. Lebih lebih di dalam air. Divers harus mampu lebih tenang dan lebih jernih memutuskan alat apa yang lebih dahulu di pasang di tubuh. Dan benar benar terbukti alat alat dipasang di bawah air, kepala tidak boleh muncul di permukaan.

Sebagai manusia yang terlatih, sang guru Darmawan Didit Didot memberi contoh. Sulit mengetahui bagaimana ia melakukannya dengan mudah karena dari atas perahu, kami tidak bisa melihat jelas durinya di bawah air. Namun kemustahilan bahwa hal itu tidak bisa dengan segera terbantahkan. Saya pun tertarik melakukannya tapi karena belum waktunya, saya hanya berpikir bagaimana cara mensukseskan diri sebagaimana Kak Didit nantinya.

Menurutku, yang paling utama adalah memasang alat pernapasan agar tidak segera lemas. Lalu, mask agar bisa melihat dalam air. Bila kedua hal tersebut tuntas, atur saja mana yang lebih dianggap penting dan lebih mudah dikerjakan.

Divers tingkat advance pun ujian. Kebanyakan dari mereka mengapung. Sembari berusaha menganalisa, saya mencari masalahnya. Kendala mendasar mereka adalah menahan nafas, bukan, membuang nafas. Menahan nafas membuatnya mengapung karena ruang udara dalam tubuh lebih banyak. Bila sedikit udara, lebih mudah tenggelam. Lalu saya tersadar bahwa ilmu sederhana nan ampuh ini pernah dijelaskan oleh kawanku Yaser Muhammad Arafat sewaktu kami berlatih duduk seperti ala Budha di dasar kolam yang airnya dari aliran sungai.

Adapun tim kami sebagai diver pemula, saya juga mengalami kendala. Awalnya saya masih sulit mencapai dasar laut karena saya hanya mengingat dua diantara tiga jalan untuk membuang udara. Jalan pembuang udara pertama sukses, tapi masih saja ada udara. Say mencari pelepas udara di belakang pinggang, sebelah kanan. Ketemu tapi talinya nga ada. Saya cukup mempertahankan diri untuk tidak sampai ke permukaan dan memperhatikan alat selam orang lain. Nah, ketemu juga. Tempatnya sebelah kanan belakang punggung. Tarik dan beres. Kantong udara benar benar kempes. Terumbu karang tepat di depan mataku.

Begitu asyiknya, saya tidak memperhatikan bahwa ada bahaya dan memang kondisi putaran air laut kuanggap tidak berbahaya karena saya masih dapat mengendalikan cara menyelam. Tabung udaraku pun masih cukup banyak, 160 psi. Pelatih menunjuk ke atas, pertanda naik ke permukaan. Saya beri kode OK tapi ia tidak ke atas membuatku tetap berada di dasar laut. Beberapa orang mendekati dan memberi tanda yang sama. Saya semakin heran tapi karena ini kerja tim, saya ikuti sajalah arah tim.

Tiba di permukaan, Kak Didit mengingatkan dari atas kapal meminta agar semua naik ke kapal segera. Arus perputaran air laut sangat kuat. Berbahaya! Penyelamatan ditunda dan dilanjutkan besok pagi. Horeee! Saya senang saja karena tim kami dapat jatah double untuk diving.

Bira, 26 Juli 2020

Bersambung…..

Zulkarnain Patwa
Peserta Pinisi Diving Club.
Staff Pengajar Rumah Belajar Bersama

Zulkarnain Patwa

Leave a Comment
Share
Diterbitkan oleh
Zulkarnain Patwa

Recent Posts

Teror Pencerdasan Bahasa Inggris

Bahasa Inggris ataupun bahasa asing apapun juga pasti terasa asing dilidah bila tidak dibiasakan. Mengulangi…

11 jam ago

Tragedi 8 x 3 di SMK Menampar Wajah Kurikulum Kita

Kejeniusan Mr. Crack, B. J. Habibie, tentulah turut mengharumkan nama baik Indonesia, disegani di dunia…

1 hari ago

Menghapus Sekat Belajar

Salah eja atau ucap seringkali dialami para pelajar bahasa inggris. Fokus kebanyakan orang adalah kemahiran…

2 hari ago

Di RBB, Pelajar yang Paling Pintar Pun Jadi Biasa Saja

Para pelajar yang menguasai perubahan seluruh kalimat tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah jaminan bahwa…

3 hari ago

Memoar Kak Madi: Pepaya Matang WME Kembali ke Pemilik-Nya

Ahmadi Hatta adalah mahasiswa jurusan Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 87. Pada tahun 2000-an,…

5 hari ago

Terbaik: Setiap Tempat Adalah Belajar

Suatu pembelajaran akan terasa sangat mudah dipelajari apabila para pelajar tidak asing dengan lingkungan kehidupan…

5 hari ago