Kategori: Uncategorized

  • Wasit Juri Karate Indonesia

    Wasit Juri Karate Indonesia

    Karate bukan sekedar urusan membela diri yang berisi kumite dan Kata (Bertarung dan jurus-jurus untuk bertarung) tapi ia juga ruang kejuaraan untuk pengembangan diri dalam bentuk kejuaraan. Indonesia kemudian ikut serta dalam kejuaraan menggunakan aturan WKF (World Karate Federation) ala Eropa, bulan aturan Jepang, tempat asal kelahiran karate.

    Alasannya sederhana. WKF lebih menekankan pada olah raga, bukan lagi bela diri. Ini cukup aman bagi para atlet, tidak ada serangan telak dan keras yang boleh dilakukan. Bila itu terjadi, petarung diskualifikasi. Itu tentu bertolak belakang dengan tradisi kejuaraan karate Jepang masih mengedepankan pertarungan yang saling baku hantam dengan keras, karate tradisional. Skin touch (Sentuhan ringan) pada lawan sama sekali tidak dihitung.

    14 April 2026, FORKI (Federasi Karate Do Indonesia) Sulawesi Selatan mengadakan pelatihan dan ujian Wasit-Juri dan Pelatih. Semua itu untuk mengisi ruang ruang kejuaraan di Indonesia. Hanya para peserta yang terdiri sabuk hitam yang berhak mengikuti dan bisa menjadikan bagian dari jenjang karir.

    Soal soal WKF menyangkut test tulis dan praktek. Karena asalnya berbahasa Inggris, soal itu terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Transfer penerjemahan Bahasa Inggris ke Indonesia terkadang membuat para peserta terkendala memahami isi soal disebabkan oleh terjemahan yang buruk. Sebagai penyelamatan, mereka harus belajar pada orang yang sebelumnya telah lulus dan benar benar mengerti isi penjelasan saat pelatihan.

    Kendala lain, jumlah soal yang sangat banyak. Soal kumite lebih dari 250 lebih dan Kata hampir dua ratus. Namanya juga soal, tipuan soal pasti berlaku. Karena itu, pemahaman disertai logika yang bisa mengatasi tipuan soal tersebut. Beruntung, jumlah soal kumite yang akan diujikan sekitar 70 dan Kata sekitar 50. Tapi kan, soal diacak. Tidak ada pilihan lain selain belajar. Bagi yang cukup waktu belajar, ia dapat mempelajari semua soal untuk mendapatkan pemahaman yang lebih utuh.

    Para wasit juri dan pelatih pendamping atlet yang ber-license ini yang banyak mempengaruhi perkembangan kejuaraan karate Indonesia. Menang atau kalah dari para atlet yang berbakat berada dalam keputusannya. Dari sini, atlet atlet terbaik akan lahir mewakili Indonesia di kejuaraan antar negara dan dunia yang memakai sistem WKF.

    Zulkarnain Patwa
    Makassar, Minggu 10 April 2026

  • Mengembangkan Otak Anak

    Mengembangkan Otak Anak

    Mengajar anak anak dengan menargetkan memahami suatu materi tertentu dengan pemahaman yang utuh bukan perkara yang mudah. Saat sedang belajar saja, mereka sering bertanya, ‘Kapan keluar main?’ Mereka suka cepat-cepat menyelesaikan tugas hanya karena ingin keluar main, bermain main.

    Istilah ‘main-main’ yang merupakan kesenangan anak anak yang tidak bisa diganggu gugat itu dapat disetel untuk memenuhi target belajarnya. Bagi anak-anak yang lebih dahulu menyelesaikan tugas, mereka memperoleh keluar main lebih awal. Mereka pun akan berlomba.

    Tapi ada juga anak anak yang tidak suka pendekatan ini sehingga jurus yang kita gunakan adalah sedikit ancaman dengan mengatakan tidak ada keluar main bagi yang tidak menyelesaikan tugas. Karena tidak ingin kesempatan bermain hilang, mereka segera mengerjakan tugasnya dengan cara bertanya ke teman-temannya dengan maksud menjawab latihan dengan cepat.

    Kendala yang sering muncul adalah keakraban antara guru dan anak-anak seringkali membuat guru tidak diperhatikan. Hal ini dipengaruhi oleh sikap guru yang memberikan kebebasan berekspresi pada muridnya. Ketika guru sedang menjelaskan, sebagian murid akan berbicara yang menyebabkan penjelasan guru tidak mereka dengar. Kebisingan kelas terjadi, ruang belajar tidak kondusif, suara bertabrakan.

    Sekali waktu, penulis pernah tidak mau mengajar satu kelas anak anak. Mereka berusaha datang merayu tapi penulis tidak menggubris. ‘Silahkan keluar main sepuasnya. Anggap saja waktu belajar itu waktu keluar main’, kata penulis. ‘Saya tidak mau mengajar kalian lagi’. Gertakan ini sengaja diberikan agar mereka bisa berpikir serius mencari akal menemukan solusi.

    Solusi Cerdas Anak anak
    Anak-anak terdiam dan berkumpul berdiskusi dan kemudian menemukan solusi sendiri. Mereka sepakat membaca materi pelajarannya secara bersama-sama tanpa guru. Bila ada yang bikin gaduh, mereka saling menegur untuk kembali fokus pada pelajaran. Sebagai penguat, rekaman video dibuat sebagai bukti bahwa mereka telah berubah. Setelah selesai, video tersebut diperlihatkan ke penulis.

    Negosiasi anak-anak berjalan sukses. Karena senang dengan trik rayuannya, penulis Kembali mendidik malam itu juga. Sebagai balasannya, mereka dapat games. Mereka bergembira karena guru kelasnya bersedia kembali mengadakan dan games adalah kesukaannya yang selalu dinantikan setelah belajar.

    Kesulitan dalam mendidik anak-anak dapat terselesaikan dengan tidak semata-mata menargetkan mereka untuk paham materi dalam waktu yang singkat mengingat ada ruang bermain yang harus dipenuhi. Percepatan dalam dilakukan dengan cara mengemas kelas belajar dalam suasana bermain dan menjawab waktu keluar main dapat diisi dengan permainan yang mengembangkan otak anak dan berpikir.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu, 19 April 2026

  • Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Melepaskan Ego Kebesaran dalam Belajar

    Apakah anda pernah belajar ke kampung Inggris, Pare, Kediri di Jawa Timur? Mungkin anda akan heran pelajar sekolah mahasiswa dan dosen berada di dalam satu kelas belajar. Tidak ada pemikiran perbedaan umur, apalagi kebanggaan status. Para guru-gurunya pun relatif yang masih muda. Bahkan, banyak diantara mereka yang tamat SMA tapi ilmu Inggrisnya bertaraf internasional.

    Lingkungan seperti itu sangat kondusif untuk tidak memikirkan status. Para anak muda itu tidak akan sungkan bertanya pada anak remaja yang telah paham materi tertentu. Dan karena saling tolong menolong dalam hal berbagi ilmu itu kejadian biasa yang kita temukan dalam keseharian, dala. suasana santai pun dapat belajar.

    RBB (Rumah Belajar Bersama) pun menerapkan hal yang sama. Adeeva, seorang anak yang telah menamatkan buku cerita Inggris, membantu Lulu, seorang pelajar pemula yang telah tamat SMA. Lulu terkesan dengan kemampuan Adeeva yang memahami isi cerita dengan baik dan cara menjawab menjawab soal-soal dengan benar. Karena keduanya saling terbuka untuk belajar tanpa memikirkan status, dalam waktu yang singkat, sebuah cerita berbahasa Inggris dapat Lulu selesaikan.

    Lulu kini tahu bahwa ia tidak semata-mata bertumpu pada guru kelas. Dengan bergaul kepada sesama pelajar RBB, ia bisa bertanya dan menyelesaikan persoalan Inggris yang ia sedang pelajari. Dan bagi Adeeva dan pelajar lainnya yang telah tamat beberapa buku, itu semacam micro teaching untuk mengasah kemampuan berbagi ilmu yang membuatnya lebih paham pada materi yang ia telah pelajari. Keakraban sesama pelajar pun terbina dimana obrolan mereka bukan lagi sekedar gosip tapi pengetahuan.

    Ketika proses belajar di atas sedang berlangsung, guru kelas sebaiknya tidak berada di dekat para pelajar agar sang guru tidak menjadi rujukan utama. Biarkan saja mereka saling berdiskusi untuk menyelesaikan permasalahannya. Bila terdapat masalah yang tidak dapat dipecahkan, guru bisa turun tangan membantu memberikan arahan cara menjawab, bukan memberitahu jawaban agar eksplorasi berpikir lebih terasah.

    Perkembangan belajar secara kultural ini sangat kuat membangun tradisi belajar dimanapun kita berada. Dengan meleburkan status sebagai orang penting, ego otomatis terkikis. Para pelajar tidak akan sungkan lagi untuk belajar kepada siapapun juga termasuk bertanya kepada anak anak yang berilmu. Ketika kita berada di lingkungan seperti itu, maka dimanapun kita berada atau dalam kondisi santai sekalipun, belajar tetap bisa dilakukan. Dan para guru yang dicap punya kemampuan mengelola kelas seperti di atas adalah rekan belajar. Semua meleburkan diri jadi satu kesatuan, belajar bersama.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Minggu 19 April 2026

  • Tanya Jawab Inggris secara Online

    Tanya Jawab Inggris secara Online

    Dua gadis cilik memperoleh kesempatan berharga bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris lewat zoom. Pilihan Miss Salma Minasaroh pada Adeeva kelas 4 SD dan Faika kelas 3 SD ini dari hasil pengamatan belajar anak anak di media sosial RBB (Rumah Belajar Bersama). Adeeva anak yang lancar berbicara, tamat dua cerita buku Inggris dan paham perundang-undangan tenses luar kepala dan Faika selain tamat juga dua buku berbahasa Inggris, jika juga peraih medali emas olimpiade Bahasa Inggris pada National Olympiad.

    Salma yang merupakan alumni Bahasa Inggris di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta dan UAD di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta serta BEC (Basic English Course) di Kampung Inggris Pare, Jawa Timur tahu betul cara melakukan pendekatan pada anak anak agar suasana perkenalan tidak kaku. Ia terlebih dahulu mengirimkan dua puluh pertanyaan sederhana sebagai pembuka untuk dipelajari anak anak.

    Berikut pernyataannya:

    1. What is your full name?
    2. Spell your name, please.
    3. Where and when were you born?
    4. What is your father’s name?
    5. What is he? Or what is his job?
    6. What is your mother’s name?
    7. What is she? Or what is her job?
    8. What is your favourite drink? Why?
    9. What is your favourite food? Why?
    10. What are your hobbies?
    11. Who is your idol?
    12. What do you want to be?
    13. What favourite vegetable do you like?
    14. What favourite fruit do you like?
    15. Can you tell me about your last birthday?
    16. How many siblings do you have?
    17. What is the most important thing in your living room?
    18. What is the most important thing in your kitchen?
    19. What is your favourite spot at your home?
    20. What do you want to eat and drink (now)?

    Adeeva dan Faika terlebih dahulu diberikan kesempatan untuk bertanya hingga tuntas. Setelah itu, Miss Salma balik bertanya. Anak-anak yang selama tiga hari dilatih cara menjawab soal oleh Mr..Ancha, pengajar RBB, berekspresi mengungkapkan gagasannya sebisa mungkin tidak menjawab dalam satu kalimat saja melainkan minimal dua atau tiga kalimat. Kedua anak tersebut pun puas.

    Sebagai pengembangan, anak-anak kembali bertanya :

    1. What is your job?
    2. Where do you study?
    3. What games do you like?
    4. What is your favorite color?
    5. Where do you live?
    6. What books do you like?
    7. What countries do you want to visit?
    8. How old are you?
    9. What kind of music do you like?

    Tentu saja Miss Salma menjawab dengan perlahan agar anak anak mengerti penjelasannya. Di sela-sela pertanyaan itu, Miss Salma juga memberikan pertanyaan lain. Sesekali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia agar anak anak mampu menyusun jawaban dengan benar. Itulah tahap di mana tanpa disadari, anak anak Sulawesi Selatan memperoleh informasi tentang kehidupan di Jawa Tengah. Obrolan ini berjalan selama tujuh puluh menit.

    Inisiatif Miss Salma untuk terhubung dengan para pelajar berbakat secara online sangat membantu pelajar di berbagai daerah untuk mengenal dunia luar. Segelintir anak yang terpilih merasa menjadi istimewa dan termotivasi belajar lebih giat untuk bisa tampil lebih meyakinkan. Sedangkan anak anak yang belum memperoleh kesempatan ingin juga mendapatkan tiket untuk bisa juga tampil bicara dengan orang luar. Mereka makin tahu ada beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk ngobrol Inggris dengan orang luar. Intinya semua itu memicu semangat belajar yang lebih tinggi.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Kamis, 10 April 2026

  • Membuat Pertanyaan

    Membuat Pertanyaan

    Apakah kita terbiasa melatih para pelajar kita membuat pertanyaan? Biasanya mereka dilatih menjawab pertanyaan-pertanyaan. Mereka yang terbiasa bertanya selalu berupaya menemukan jawaban. Para filosof bahkan malahan masih mempertanyakan jawaban. Dengan demikian pengetahuan terus bergerak.

    Dalam Bahasa Inggris, cara membuat pertanyaan disebut Information Question (pertanyaan informasi) yang berisi segala bentuk model pertanyaan. What, who, whom, why, where dan how (apa, siapa untuk subjek, siapa untuk objek, kenapa dan bagaimana) adalah materi inti yang harus diketahui polanya dengan baik sebelum melangkah pada ragam variasi pengembangannya. Pelajar yang sanggup mempertanyakan setiap kata yang mengandung seluruh Information Question dalam satu kalimat dapat dipercaya bahwa ia mengerti materi tersebut.

    Bagaimana cara mencapainya? Tahap utama adalah mengerti tenses. Ini tidak bisa ditawar-tawar karena terdapat pola pertanyaan positive interrogative yang menjadi pengantar masuk ke information question. Tahap kedua langkah lebih baik bila pelajar tersebut part of speech (kelas kata). Tapi karena materi ini terlalu panjang untuk dipahamkan, ada baiknya cara membuat pertanyaan diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehingga meskipun pemahaman part of speech dari pelajar terbatas, information question tetap dapat dibuat karena pelajar bisa menggunakan logikanya sendiri untuk menempatkan pertanyaan yang sesuai dengan informasi yang dibutuhkan.

    Mungkinkah ini diterapkan pada anak-anak? Patut diakui bahwa hanya segelintir saja anak anak SD yang bisa mempelajarinya. Hal ini bisa saja disebut banyak asalkan memenuhi syarat tahap pertama, memahami tenses. Kami sedang mengembangkan pembelajaran ini untuk dimengerti oleh anak SD. Seorang pelajar berbakat bernama Adeeva, kelas 4 SD, sedang mempelajari information question ini, berlatih tanpa secara lisan dengan harapan dapat dipergunakan dalam komunikasi, percakapan. Dalam dua hari, ia sanggup membuat pertanyaan menggunakan what, whom dan where (apa, siapa untuk objek dan dimana) pada seluruh struktur tenses.

    Untuk lebih jelas, kita hadirkan contoh.

    + You study English at school.
    + Kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah
    +? Do you study English at school?
    +? Apakah kamu belajar Bahasa Inggris di sekolah

    Information Question menggunakan What dan where. Dari kalimat simple present pada pola +? (Positive Interrogative) tersebut yang diolah dengan menghilangkan hal yang ditanyakan.

    Menanyakan ‘English’ menggunakan ‘what’.

    What do study at school?
    Apa yang kamu pelajari di sekolah?
    Jawaban: English (Bahasa Inggris).

    Menanyakan ‘at school’ menggunakan ‘where’.

    Where do you study English?
    Dimana kamu belajar Bahasa Inggris?
    Jawaban: at school (di sekolah).

    Karena kita mengajarkan pada anak SD, penggunaan contoh pertanyaan ‘whom’ (siapa) dibuatkan kalimat baru.

    + Adeeva meets Adam at school.
    + Adeeva bertemu Adam di sekolah.
    +? Does Adeeva meet Adam at school?
    +? Apakah Adeeva bertemu Adam di sekolah?

    Menanyakan ‘Adam’. Karena kata ‘Adam’ berada pada posisi objek, menggunakan ‘whom’ bermakna ‘siapa’, bukan ‘who’ yang artinya juga ‘siapa’.

    Whom does Adeeva meet at school?
    Siapa yang Adeeva temui di sekolah?
    Jawaban: Adam.

    Pola perubahan ini berlaku untuk seluruh tenses sehingga relatif mudah untuk membuatnya asalkan tahu pola kalimat +? (positive interrogative). Contoh pemahaman yang baik yang dilakukan oleh Adeeva adalah bukti bahwa hal ini mampu diterapkan pada anak anak. Ya, memang ada kendala pada cara membuat pertanyaan yang menanyakan subjek tapi itu bisa dijelaskan di akhir agar tidak campur aduk alias membingungkan dengan materi di atas.

    Melatih cara membuat pertanyaan dengan struktur yang benar sebagaimana pembelajaran bahasa juga dibahas secara detail dalam materi logika dimana premis (peryataan) dijadikan pertanyaan. Keduanya saling berkaitan selain sama-sama suka bertanya, mereka menuntut kaidah (aturan)! yang benar. Bukankah membuat pertanyaan demikian adalah cara menemukan informasi yang benar? Biarkan pengetahuan terus bergerak maju.

    Zulkarnain Patwa
    Jum’at, 3 April 2026

  • Menemukan Cara Belajar Efektif

    Menemukan Cara Belajar Efektif

    Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya tapi juga mengajak anak didiknya mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Dari buku inilah mereka bisa mengenal pemikiran dunia yang tidak hadir langsung di hadapannya.

    Pekerjaan ini memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita tahu bahwa tradisi kita lebih kuat dengan pembelajaran verbal, seperti orang Afrika, kata Kang Jalal. Bila kita teliti lebih dalam, anak anak Indonesia itu akrab juga kok dengan literasi. Mayoritas anak yang bergama Islam tiap hari mengaji dan diusahakan hingga tamat Al Quran. Dahsyat kan! Sayangnya, motivasi ini cenderung tidak didorong pada pengetahuan umum. Padahal setiap hari mereka menghadapi pelajaran sekolah.

    Dari dulu sampai sekarang, pelajaran yang paling menakutkan di sekolah adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Coba deh, kita minta anak anak tiap hari membaca buku pelajaran Inggris dan Matematika, tidak mesti seketat mengaji. Buat mereka penasaran dengan mempertanyakan mengapa bisa begini atau begitu. Jawaban yang tidak memuaskan pikirannya akan membuatnya terus bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti dengan sendirinya melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan.

    Sebagian kecil dari kalangan keluarga terdidik menerapkan hal di atas. Ada juga yang berpikiran lebih praktis dengan mengirimkan anak anaknya masuk ke lembaga pendidikan alternatif semacam LKP (Lembaga Kursus Pelatihan)–Istilah pemerintah di Kementerian Pendidikan–les atau kursus istilah masyarakat umum. Mereka sadar betul bahwa ke depan pengetahuan agama dan pengetahuan umum harus mampu berjalan seiring menghadapi tuntutan zaman di era serba modern dan terbuka ini sangat dipengaruhi oleh pengembangan teknologi. Untuk jangka pendek, sedikitnya anak-anak tidak takut lagi pada pelajaran Matematika sekolahnya karena mereka tahu cara menjawab soal-soal, bukan menyontek. Untuk jangka panjang, mereka bisa mengikuti jejak B. J. Habibie atau ahli teknologi seperti pemuda pemudi Iran yang sedang berkembang pesat saat ini.

    Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya pada Mengaji, Matematika dan Bahasa Inggris. Ada ilmu pengetahuan sosial, alam seni dan masih banyak lagi. Manusia pun punya bakat yang berbeda beda. Kita perlu mengenalkan mereka semua itu agar dapat menemukan ketertarikan yang tepat yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembiasaan pada bacaan buku akan memudahkannya tahu apa apa yang telah terjadi yang pernah dilakukan oleh orang orang besar dunia dan kemudian, mereka bisa memilih jalan pemikiran yang sesuai pilihannya atau malahan mereka bisa mengkritisi dan menciptakan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.

    At last, anak anak pada foto ini adalah pelajar Bahasa Inggris di malam hari. Pada sore hari.hingga jelang Maghrib, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Banyak diantara mereka juga mengambil dua kelas mengikuti kelas Matematika dengan cara belajar secara selang seling. Jadwal memang padat dan terkesan melelahkan, seolah merampas dunia bermain anak. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita menjadikan belajar dengan suasana bermain. Membaca buku sering dilakukan secara bersama-sama terkesan seru dan riuh. Mereka juga punya banyak tawaran ide semisal membuat kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah dan berakting dalam menyampaikan satu gagasan dari tugas yang diberikan. Cara belajar yang mereka usulkan itu seringkali diterima oleh guru-guru kelas yang menjadikannya merasa dihargai. Suasana hatinya senang dan tak jarang diikuti suara bersorak ria, hore. Pada intinya, mereka menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia.

    Zulkarnain Patwa 
    Senin, 30 Maret 2026

  • Dukungan Keluarga

    Dukungan Keluarga

    Orang yang jauh dari pusat pendidikan tapi punya keinginan kuat untuk belajar dapat mengikuti cara yang dilakukan Naura. Ia anak dari bukit Kindang yang tidaklah mungkin baginya untuk mengikuti lembaga ekstrakurikuler untuk kebutuhannya pada Bahasa Inggris dan Matematika. Tahun lalu pada 2025 tepat setelah tamat SD, ia menggunakan waktunya secara penuh belajar dan tinggal di kota Bulukumba. Pada liburan sekolah pada Ramadhan 2026, ia pun kembali belajar dari siang hingga jelang buka puasa.

    Tindakan pelajar seperti ini agak jarang kita temui dan menimbulkan rasa ingin tahu. Penulis pun berusaha menggali informasi dari ayah Naura. Ayahnya berpikir untuk hendak menyekolahkan anaknya di Pesantren Ummul Mu’minin, sekolah binaan Muhammadiyah di Kab. Maros, Sulawesi Selatan. Selain usaha lulus ujian, ia berharap Naura tidak ketinggalan dalam hal pelajaran. Hal itu pun didiskusikan dalam keluarganya sendiri dan menghasilkan keputusan untuk menggunakan waktu liburan dengan bergabung di RBB (Rumah Belajar Bersama). Karena bermanfaat, keputusan untuk kembali belajar pada 2026 bukanlah hal yang membosankan.

    Rekan-rekan pengajar di RBB pun punya kesan yang mendalam kepada ayah Naura. Setiap mengantar ke RBB, ayahnya tidak langsung pulang. Ia suka duduk di pagar sembari memperhatikan anaknya yang sedang belajar di ruang teras rumah. Ya, itu untuk Bahasa Inggris. Hal itu membuatnya bisa menyaksikan atmosfer belajar yang sedang berlangsung. Ia tentu dapat membaca apakah anaknya menikmati atau mengerti pelajaran atau tidak. Perhatian ini berlangsung bukan dalam sehari saja tapi setiap hari. Ternyata ia adalah anak semata wayang (anak satu satunya dalam keluarga). Naura merasa nyaman bila ayahnya tidak jauh dari sisinya ketika ia sedang beraktifitas.

    Sang ayah yang berpikir mengedepankan pendidikan sama sekali tidak terusik, tak merasa membuang waktu percuma. Ini karena ia tidak harus serba sibuk di lahan pertaniannya di kampung karena ia telah menanam cengkeh dan tanaman sejenis lainnya yang tidak mengharuskan hadir di ladang tiap hari. Kami pun jadi lebih akrab dengan orang tua pelajar.
    Kelas Belajar Naura
    Naura adalah anak yang pendiam. Ia lebih suka memperhatikan rekan kelasnya daripada berbicara. Kesan sabar ini menjadikannya tidak banyak bermain, lebih banyak fokus pada lembaran kertas latihan. Pendek kata, full belajar, minus bermain. Istirahatnya dengan duduk santai tanpa mengganggu atau diganggu oleh siapapun.

    Dalam hal pelajaran Bahasa Inggris, sebenarnya berbagai macam materi Basic English telah ia pelajari dan pahami tahun lalu. Pada kedatangan keduanya ini, kami agak kaget. Ia tidak lupa tapi beberapa pelajaran inti nampaknya tersimpan di alam bawah sadarnya. Padahal kami percaya bahwa apa yang ia telah pelajari erat kaitannya dengan pelajaran sekolahnya. Tanpa harus menyalahkan siapapun, kami mengambil sikap me-review materi yang lalu dan menambahkan bahan-bahan yang kemungkinan ia pelajari untuk anak SMP seumurannya.

    Sedangkan pelajaran Matematika yang baru ia pilih tahun ini, guru kelasnya tentu banyak mengajarkan menyeimbangkan dengan pelajaran sekolahnya dan memberikan penguatan pemahaman matematika dasar agar pondasinya kokoh dalam mempelajari Matematika tingkat lanjut di SMP. Ia menikmati proses belajar ini karena merasa cukup terbantu mengetahui materi yang belum sempat ia tuntaskan di sekolah.

    Sebagai penutup, belajar itu tidaklah mesti dibatasi oleh ruang dan waktu. Keinginan yang kuat akan mendekatkan kita pada pada tempat-tempat pendidikan yang dipercaya sesuai dengan kebutuhan dan cita-cita. Naura meskipun kampung halamannya masih kurang menawarkan pendidikan ekstrakurikuler, berkat dukungan keluarga bisa menembus batas tersebut dan telah berhasil menambah bekal dan meningkatkan kwalitas diri untuk menggapai masa depan yang cerah. Sampai ketemu lagi pada liburan berikutnya!

    Zulkarnain Patwa

  • Hari Ibu

    Hari Ibu

    Kebersamaan dengan ibuku sangat singkat, hanya sampai kelas 3 (tiga) SD (Sekolah Dasar). Waktu itu, Tettaku–Panggilan untuk ayahku–yang bertugas sebagai Penilik Agama, setara dengan Kepala KUA (Kepala Urusan Agama,
    di Kec. Bontotiro, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan, dimutasi ke Kantor Departemen Agama sebagai Kepala Seksi. Ini satu tingkat di atas Penilik. Yah, itulah nomenklatur lembaga di bawah naungan Menteri Agama yang saat ini berubah jadi Kemenag (Kementrian Agama).

    Setelah Tettaku dimutasi ke kota Bulukumba, Ummi’ku (Baca: Ibuku) beserta saudara yang lain ikut berpindah. Lain dengan diriku yang memilih tetap tinggal di kampung. Dengan pertimbangan belum lancar Bahasa Indonesia, susah beradaptasi dengan anak-anak kota yang kala itu informasinya nakal-nakal, suka naborongi (keroyok) orang kalau berkelahi dengan orang berasal dari kampung, susah pelajaran sekolahnya dan berbagai alasan lainnya membuatku menghindar bertemu orang kota. Aku lebih suka jadi orang kampung, kampungan pula.

    Setelah tamat SD, aku memilih merantau menuntut ilmu di Pesantren Modern Putri IMMIM di Pangkep, Sul Sel. Dan kembali ke Bulukumba setelah menyelesaikan kuliah di Universitas Hasanuddin.

    Kebersamaan yang singkat dengan ummi’ku tak menjadikanku jauh darinya. Waktu yang singkat namun cukup banyak mengukir kenangan indah dalam memori. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu bercerita. Cerita fabel tentang pesan moral alias pelajaran hidup yang menarik imajinasi. Tak lupa, cerita tentang kisah-kisah heroik tokoh-tokoh lokal yang sangat menginspirasi. Ia pun mengajarkanku membaca dan menulis dengan bantuan cahaya pelita. Kalau sudah pagi, barulah nampak pada muka dan bulu hidung yang semuanya menghitam.

    Ah, terlalu banyak kenangan dengan ummi’ku hingga saat dia berpulang ke Rahmatullah, 2 tahun setelah diriku kembali ke rumah dari perantauan, itu tentu sangat menyakitkan. Sejak saat itu ada ruang kosong yang tercipta dalam hati sanubari.

    Saat ini, aku juga telah menjadi seorang Ibu dari empat orang putri. Namun yang dilakukan ibuku dulu tidak dapat kuteruskan kepada anak-anakku. Kebersamaanku dengan anak-anak cukup singkat karena setelah tamat SD, mereka merantau, merantaunya pun lebih jauh dariku dulu semasa sekolah. Tiga orang, Asse Nur Izza Maharani, Fitriah Ramdhanah Azzahra dan Silvia Salsabila bersekolah di Pesantren Gontor di Jawa Timur. Hanya satu orang yang bersekolah di Sul Sel yaitu Nabila Alamanda tepatnya Pesantren DDI Bantaeng karena pada masa itu, pandemi Covid 19 tidak memberikan ruang bagi anakku yang baru saja lulus SD untuk mendaftar di Gontor. Kusadari, tak banyak kenangan yang bisa kuukir indah dalam memorinya.

    Hanya satu yang selalu kuusahakan buat anak anakkku tercinta. Saya selalu hadir di momen-momen pentingnya. Momen dimana orang tua sangat diharapkan kehadirannya dan tentu semua itu tak pernah kulewatkan; Mengambil raport semasa SD, menjadi saksi alias menonton saat mereka berlomba dimanapun dan Kejuaraan apapun mereka ikuti. Menjadi saksi mereka yang menjadi santri Gontor pada pagelaran akbar seperti Panggung Gembira, Drama Arena, Laksana Gembira, Gebyar Seni Darussalam, Mengantar Fitriah Ramdanah Azzahra menuju Mesir, mengikuti Jambore Muslim Pramuka s e Dunia (World Muslim Scout Jambore) di Bogor, Jawa Barat.

    Dan yang paling membahagiakan saat aku menghadiri acara wisuda Azze Nur Izza Maharani, anak pertama setelah menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Studi Agama di Universitas Darussalam Gontor. Momen dimana keberhasilannya dipersembahkan untuk kedua orangtuanya. Jiwaku terpanggil untuk tidak melewatkan peristiwa capaian pertama anakku dalam meraih sarjana. Sedikitnya, aku bisa menapaki jejak orang tuaku yang berhasil mensarjanakan semua anaknya yang berjumlah tujuh orang. Ya! Pendidikan telah menjadi prioritas utama dalam keluarga.

    Hanya itu yang bisa kulakukan untuk anak-anakku. Apakah itu menjadi kenangan yang akan mereka ingat suatu saat nanti? Entahlah! Yang jelas, keinginanku sebagai ibu ialah ingin selalu hadir bersamanya di momen-momen penting dalam kehidupannya. Itu memang singkat tapi aku bahagia bersama anak anakku. Dalam bayanganku, seperti itulah kebahagiaan ummi’ku saat aku bersamanya. Singkat!

    Selamat Hari Ibu.

    Fatmawati Patwa 

  • Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Grammar (tata bahasa) adalah pembelajaran yang tersistematis dan menguras banyak energi berpikir untuk dapat memahaminya. Grammar bukan hanya ukuran fundamental bagi dunia pendidikan akademik tetapi juga tulisan resmi dan kemampuan berbicara yang tergolong ‘intelek’ itu pastilah punya standar tata bahasa.

    Karena begitu rumitnya memahamkan Basic Grammar, para guru pun bekerja ekstra. Kelas utama grammar ini dipercayakan kepada Mr. Agung Pratama Salassa, seorang pemuda berbakat yang sekitar tujuh tahun tinggal di Kampung Inggris, Jawa Timur, selalu berusaha maksimal membuat seluruh para peserta pemula di Kampung Belajar mengerti materi basic ini. Loncatan berarti terlihat karena dalam seminggu, peserta didik ini telah menyelesaikan latihan soal-soal dalam dua bab dan kini masuk bab ketiga. Isinya mencakup struktur simple present baik nominal.maupun verbal tenses disertai beberapa pola penggunaannya.

    Tapi ini bukan berarti bahwa pelajar telah paham total. Karena itu, kelas lain yang dihandle oleh Mr. Ancha memberikan dukungan pemahaman dengan melatih pelajar menulis dimana terjemahannya dibuat sedemikian rupa berhubungan dengan materi grammar yang sedang dipelajari. Penulis yang juga bertugas mengajar pronunciation (pengucapan) turut me-review materi grammar dengan menghubungkan dengan pronounciation. Para pelajar diajak membaca ulang dengan suara nyaring pada latihan grammar-nya yang berguna untuk mengetahui tingkat kesalahan dan sekaligus pendalaman tata bahasa serta memperbaiki cara pelafalan yang benar dalan tiap kata hingga kalimat.

    Memasuki minggu kedua, materi simple present pada grammar telah lebih utuh dimengerti. Dasar penguatannya terlebih dahulu diletakkan pada teks yang kemudian teks dilepas. Semua materi harus mampu diucapkan secara lisan tanpa melihat lagi buku catatan lagi. Dan karena disiarkan secara live (siaran langsung), semua pelajar berusaha secara maksimal dan yang hadir pagi tadi mampu melakukannya dengan baik, hampir sempurna.

    Pancaran kebahagiaan pun tersebar di dalam kelas. Jelang kelas pagi selesai, tiap orang masing mengeluarkan alasan mengapa Tenses paling dasar seperti simple present itu telat mereka pahami. Inti yang dapat kita sampaikan di sini adalah terdapat sebuah metode yang efektif, jam belajar yang padat dan semua yang terlibat melakukan yang terbaik. Cara pandang para pelajar pun tentang kerumitan pada grammar itu perlahan berubah menjadi lebih sederhana. Ini menjadi motivasi yang kuat untuk berani menghadapi bab bab selanjutnya pada grammar.

    Betapapun Kampung Belajar hanya sekedar pengisi waktu luang bagi orang yang tidak punya kegiatan liburan ke luar kota selama liburan sekolah, kami percaya ini adalah waktu yang terbaik untuk memasukkan materi terpenting dalam bahasa Inggris: Speaking (bicara), Reading (Membaca), Grammar (tata bahasa) dan Pronounciation (pengucapan) dapat dibedah secara mendalam. Itu sangat memungkinkan karena pelajar tidak disibukkan dengan urusan pelajaran sekolah sehingga mereka dapat fokus pada semua materi yang disediakan di Kampung Belajar. Paling sedikit, materi gambaran garis besar basic dapat dimengerti.

    Modal awal tersebut menjadi pembuka jalan lebar untuk menapaki sistematika grammar tingkat menengah dan lanjutan. Para pelajar yang berbicara dengan tata bahasa yang baik pastilah mampu tercipta lagi.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    Selasa, 23 Desember 2025

  • Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekelompok kecil para pelajar SD, SMP dan SMA yang bergabung di Kampung Belajar selama liburan sekolah ini percaya bahwa Bahasa Inggris dapat membangun cita citanya tinggi. Ada yang mau jadi guru, dokter dan bahkan mau kuliah ke keluar negeri. Mereka datang dengan penuh semangat untuk belajar memahami setiap materi yang penting dan mereka yakini sangat berguna untuk masa depannya.

    Perbedaan umur atau jenjang sekolah bukanlah kendala untuk membuatnya bersatu dalam satu ruangan. Maklum, semuanya masih tergolong pemula dari segala tingkatan. Itu bagus karena tidak ada yang paling menonjol sehingga para pelajar ini saling berlomba untuk paling cepat memahami pelajaran di luar kepala. Yang lebih dahulu mengerti dan punya keberanian angkat tangan, dialah yang mendapatkan rekaman biasa ataupun siaran langsung, sebuah strategi agar mereka mau belajar serius dimana tiap pelajar tidak ingin tampil buruk di depan kamera. Lagi pula, tidak ada proses editing. Dalam dua hari, tidak ada satupun yang gagal membuat conversation (percakapan) tanpa teks. Itu berarti mereka mampu mengingat bahan pembicaraannya.

    Pada kelas Reading (Bacaan), mereka diminta membaca buku cerita dengan suara nyaring, memahami isinya dan menjawab soal-soalnya. Ini berguna untuk kebutuhan akademik dan penguatan budaya literasi. Kita ingin kemampuan berbicara Inggris dan membaca buku buku inggris dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan dan mengakses informasi tertulis.

    Kelas grammar (tata bahasa) yang merupakan momok bagi para pelajar Indonesia sudah dapat ditebak. Mereka benar-benar pemula juga dan masih belajar menentukan kata benda (noun) yang tunggal dan jamak, adjective (kata sifat) dan adverb (kata keterangan) serta bagaimana kata kerja berlaku pada sebuah subjek. Dan setelah mereka mengerjakan latihan, Basic Grammar tersebut dibaca kembali disertai rekaman video dan dibuat contoh percakapan agar apa yang telah diikat dengan tulisan lebih mahir diucapkan.

    Kelas pronunciation (pengucapan) pun punya daya kesan tersendiri. Mereka disadarkan bahwa salah ucap mengakibatkan salah makna. Bagaimana mengucapkan kosa kata yang mirip dengan benar? Misal set vs sat, feel vs fill dan green vs grin dan masih banyak lagi. Mereka diberitahu arti pada perbedaan kata tersebut yang membuatnya jadi lebih peduli untuk fasih dalam berbicara.

    Conversation, Reading, Grammar dan Pronunciation pada Kampung Belajar ini dibuat saling terhubung erat. Semua kelas jadi penting. Enam kali pertemuan belajar dengan sedikitnya menghabiskan waktu sembilan jam dalam sehari itu benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat waktu yang cukup bila ada pelajar untuk review bagi yang mengalami kesulitan ataupun ingin pendalaman materi lebih lanjut.

    oppo_2

    Liburan sekolah memang tidak membawa mereka pergi jalan-jalan sebagaimana orang lain yang punya kesempatan. Mereka berlibur di kampung halamannya dengan menikmati dunia belajar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kesenangan tentu mengiringi karena materi hanya dapat dilanjutkan bila dimengerti. Di Kampung Belajar ini, selama mereka tekun dan berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak ada alasan yang cukup untuk untuk tidak mengerti. Guru-guru kelasnya pun tergolong berpengetahuan luas dan berpengalaman belajar dan mengajar di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur dan sarjana di universitas.

    Sebuah kombinasi yang apik untuk mewujudkan cita-cita pada pelajar dan target Rumah Belajar Bersama (RBB) yang memilih mengedepankan kwalitas sumber daya manusia dalam mendidik para pelajar. Di sinilah, kita meramu pelajar SD, SMP dan SMA saling mendukung untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi tersebut. Demikian sekilas tentang Kampung Belajar, 2025 di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan