Dunia pendidikan mesti akrab dengan bacaan buku. Tugas para guru bukan sebatas mampu mentransfer pengetahuannya tapi juga mengajak anak didiknya mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Dari buku inilah mereka bisa mengenal pemikiran dunia yang tidak hadir langsung di hadapannya.
Pekerjaan ini memang tidak mudah tetapi bukan berarti tidak mungkin. Kita tahu bahwa tradisi kita lebih kuat dengan pembelajaran verbal, seperti orang Afrika, kata Kang Jalal. Bila kita teliti lebih dalam, anak anak Indonesia itu akrab juga kok dengan literasi. Mayoritas anak yang bergama Islam tiap hari mengaji dan diusahakan hingga tamat Al Quran. Dahsyat kan! Sayangnya, motivasi ini cenderung tidak didorong pada pengetahuan umum. Padahal setiap hari mereka menghadapi pelajaran sekolah.
Dari dulu sampai sekarang, pelajaran yang paling menakutkan di sekolah adalah Bahasa Inggris dan Matematika. Coba deh, kita minta anak anak tiap hari membaca buku pelajaran Inggris dan Matematika, tidak mesti seketat mengaji. Buat mereka penasaran dengan mempertanyakan mengapa bisa begini atau begitu. Jawaban yang tidak memuaskan pikirannya akan membuatnya terus bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Mereka pasti dengan sendirinya melakukan pengembaraan ilmu pengetahuan.
Sebagian kecil dari kalangan keluarga terdidik menerapkan hal di atas. Ada juga yang berpikiran lebih praktis dengan mengirimkan anak anaknya masuk ke lembaga pendidikan alternatif semacam LKP (Lembaga Kursus Pelatihan)–Istilah pemerintah di Kementerian Pendidikan–les atau kursus istilah masyarakat umum. Mereka sadar betul bahwa ke depan pengetahuan agama dan pengetahuan umum harus mampu berjalan seiring menghadapi tuntutan zaman di era serba modern dan terbuka ini sangat dipengaruhi oleh pengembangan teknologi. Untuk jangka pendek, sedikitnya anak-anak tidak takut lagi pada pelajaran Matematika sekolahnya karena mereka tahu cara menjawab soal-soal, bukan menyontek. Untuk jangka panjang, mereka bisa mengikuti jejak B. J. Habibie atau ahli teknologi seperti pemuda pemudi Iran yang sedang berkembang pesat saat ini.
Kita tahu bahwa ilmu pengetahuan itu tidak hanya pada Mengaji, Matematika dan Bahasa Inggris. Ada ilmu pengetahuan sosial, alam seni dan masih banyak lagi. Manusia pun punya bakat yang berbeda beda. Kita perlu mengenalkan mereka semua itu agar dapat menemukan ketertarikan yang tepat yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Pembiasaan pada bacaan buku akan memudahkannya tahu apa apa yang telah terjadi yang pernah dilakukan oleh orang orang besar dunia dan kemudian, mereka bisa memilih jalan pemikiran yang sesuai pilihannya atau malahan mereka bisa mengkritisi dan menciptakan sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya.
At last, anak anak pada foto ini adalah pelajar Bahasa Inggris di malam hari. Pada sore hari.hingga jelang Maghrib, mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji. Banyak diantara mereka juga mengambil dua kelas mengikuti kelas Matematika dengan cara belajar secara selang seling. Jadwal memang padat dan terkesan melelahkan, seolah merampas dunia bermain anak. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita menjadikan belajar dengan suasana bermain. Membaca buku sering dilakukan secara bersama-sama terkesan seru dan riuh. Mereka juga punya banyak tawaran ide semisal membuat kelompok untuk menyelesaikan suatu masalah dan berakting dalam menyampaikan satu gagasan dari tugas yang diberikan. Cara belajar yang mereka usulkan itu seringkali diterima oleh guru-guru kelas yang menjadikannya merasa dihargai. Suasana hatinya senang dan tak jarang diikuti suara bersorak ria, hore. Pada intinya, mereka menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia.
Zulkarnain Patwa
Senin, 30 Maret 2026

























