Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Cara Belajar Adam

    Cara Belajar Adam

    Adam adalah anak yang sangat berbakat dalam hal berbicara Inggris. Selain suaranya nyaring, ia pun mudah beradaptasi dengan kosa kata bacaan yang baru ia kenali. Bacaan buku pertama pada Basic Reading sebenarnya bukanlah kendala yang berarti baginya namun ia tidak mudah juga untuk tamat. Mengapa?

    Sebagai seorang anak yang berbadan sehat dan ikut silat, Adam memiliki energi lebih untuk bergerak. Baginya, keberadaannya di Rumah Belajar Bersama adalah bermain. Hal ini didukung oleh kemampuannya bergaul dengan baik kepada anak laki-laki dan perempuan. Tapi tak jarang juga, ia berantem dan ia biasanya menang karena tahu sedikit jurus silat. Hebatnya, bermusuhan ala anak anak itu dapat kembali akrab dalam waktu yang tidak lama.

    Ketika memasuki bulan Ramadhan 2026, Adam telah tamat Basic Reading dan memulai buku kedua. Cara berpikirnya pun mulai berubah. Karena tuntutan bacaan sudah berbeda dari buku sebelumnya, waktu bermainnya pun lebih sedikit. Ia sibuk memahami isi bacaan cerita Inggris dan menjawab soal-soal latihannya pada tumpukan beragam cerita. Perlahan tapi pasti, ia pun merubah cara belajarnya.

    Melejitkan potensi anak dengan mengajak terbiasa menyukai bacaan buku butuh pendampingan berkelanjutan. Perhatian dan pendampingan yang intensif membuat kita mampu membaca celah yang perlu diisi menutupi kelemahan anak anak dalam belajar. Adam mengalami perubahan yang berarti dalam dirinya karena ia tahu bahwa bacaan buku kedua yang sedang ia hadapi saat ini tidak bisa lagi ia anggap remeh. Ia tahu bahwa bila dirinya tidak lebih aktif berinisiatif belajar, ia tidak bisa berbuat banyak untuk mampu mewujudkan harapannya menamatkan buku lagi.

    Bakat yang dimiliki anak yang perlu dimaksimalkan dengan memperbanyak praktek bacaan yang memberikan tantangan untuk berpikir maju. Seiring dengan waktu anak anak akan menemukan cara belajar yang membuatnya bahagia hingga pada tahap mampu berpikir bahwa dunia belajar itu sama menariknya dunia bermain. Dan Adam bersama rekan-rekan pelajar lainnya sedang menapaki jalan tersebut. Good luck, children!

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Sabtu, 28 Maret 2026.

  • Valerio

    Valerio

    Anak ini berhasil menemukan kebanggaan belajar Bahasa Inggris. Katanya, banyak teman temannya di sekolah belum mampu membaca tulisan Inggris. Padahal itu sangat gampang. Sejurus kemudian, ia pun mengucapkan beberapa kosa kata yang telah ia kuasai dengan baik. Saya terkesan dan selalu mengajaknya bercerita setelah kelas Basic Reading-nya selesai.

    Namanya Valerio, kelas 3 SD. Ia anak yang konsisten untuk membaca buku setiap kali datang belajar. Ia tidak pernah menghindar takkala gurunya memintanya untuk membaca. Tapi setelah ia selesai dan keluar main, ia tidak mau lagi membaca. Rayuan dan ancaman tidak mempan. Alasan yang paling sering ia sebut adalah capek. Menurutnya, ia telah belajar dan waktu yang lainnya untuk bermain. Bila terus didesak, ia akan diam, tidak menemani siapa pun untuk berbicara–Sebuah tanda protes yang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada lagi belajar. Titik.

    Namun sikap ini sempat berubah. Pada 25 Maret 2026, hari pertama belajar setelah Idul Fitri, Vale adalah pelajar yang pertama datang ke kelas. Dari awal hingga jam pelajaran, ia seorang diri. Tiada seorang anak pun yang datang. Setelah membaca beberapa lesson, ia minta istirahat. Lalu, ia bermain hingga merasa bosan.

    ‘Ayo Vale, kita belajar lagi’, kata penulis. Tiba-tiba, ia menyanggupi. Ia langsung membuka lesson delapan puluh ke atas. Menurutnya, bacaan sebelumnya yaitu review lesson satu sampai sepuluh terlalu mudah. Penulis memenuhi permintaannya dan turut membantu memperbaiki pelafalan bacaannya yang masih sulit ia ucapkan. Lima lesson yang cukup panjang ia tuntaskan. Takkala badannya agak berkeringat, itu tanda bahwa dirinya butuh istirahat lagi dan ia pun memperolehnya. Saat kembali bugar, ia melanjutkan lagi bacaannya yang panjang itu.

    Enam puluh lima menit berlalu dengan efektif. Sisa jam belajar sebanyak dua puluh lima menit tidak ingin ia gunakan lagi. Ia meminta agar dapat menelepon ibunya untuk pulang. Permainannya segera dikabulkan.

    Memang sih, ketika anak-anak kekurangan rekan, waktu belajarnya akan lebih banyak dan malas untuk mencari alasan untuk menolak tawaran belajar. Sebaliknya, ketika ramai, seribu alasan bisa digunakan untuk menghindar karena dalam pikiran anak anak, bermain itu di atas segala galanya. Para guru yang berkecimpung dalam dunia pendidikan anak tentu tahu cara menyeimbangkan ini karena tujuan orang tua memasukkan anaknya ke lembaga pendidikan adalah untuk belajar. Jurus membagi waktu untuk memenuhi kebutuhan tersebut penting agar selain masa kecil untuk bermain anak anak tidak dirampas tetapi di sisi lain, belajar tetap berjalan.

    Selain itu, anak perlu dilatih untuk menemukan kebanggaan kenapa mereka memilih suatu pelajaran. Vale merasa punya kelebihan berbahasa Inggris dibandingkan sebagian rekan rekan sekolahnya sehingga ia merasa berharga. Dengan Demin, kepercayaan diri pun berkembang.

    Zulkarnain Patwa
    Sabtu, 28 Maret 2026

  • Ganda

    Ganda

    Memahami seluruh struktur tenses secara utuh tidaklah menjamin para pelajar untuk bisa berbicara banyak. Itu memang satu kelebihan tapi tentu saja tidak cukup untuk menyampaikan banyak hal. Sebagai solusi, beragam perubahan kata kerja harus lebih banyak dipraktekkan yang sesuai dengan dengan tempatnya.

    Adeeva adalah pelajar kelas 4 SD sedang berusaha mengerti perubahan verbs (kata kerja) bukan dengan cara hapalan melainkan praktek perubahan kalimat pada struktur perubahan tenses. Puluhan verbs dipakai pada kalimat simple, Progressive, Perfect dan perfect Progressive. Dengan melakukan hal ini, ia secara langsung dapat tahu bagaimana menempatkan perubahan verb yang sesuai pola tenses.

    Persoalan-persoalan yang muncul bagi anak anak yang seumurannya adalah bagaimana menggunakan secara tepat fungsi tenses tersebut. Ini memang agak berat mengingat materi tersebut terletak pada two-concept event (konsep dua kejadian). Materi itu membutuhkan kecerdasan lebih untuk bisa menganalisa secara logis. Kendala yang sering dihadapi guru adalah menemukan bahasa yang tepat untuk menjelaskan secara sederhana kenapa anak anak. Ya, tidaklah mungkin menggunakan argumentasi sebagaimana diterapkan pada para pelajar orang dewasa. Oleh karena itu, kita tidak perlu terburu-buru. Kita biarkan saja pelajar seperti Adeeva ini praktek sebanyak-banyaknya dengan tanpa perlu memberikan penjelasan detail. Cukup memberikan beberapa contoh kalimat saja yang mengandung penggabungan kalimat dan diterangkan secara perlahan-lahan sesuai kemampuannya pada waktu yang tepat. Itu pasti akan sangat membantu.

    Kita pun harus mengingat bahwa dunia anak adalah bermain. Faika pelajar kelas 3 SD adalah anak yang baru saja meraih Emas pada National Olympiad tapi ia masih belum tertarik belajar tenses secara utuh sebagaimana Adeeva. Agar dunia belajarnya tetap menarik, keduanya berlatih listen and repeat (mendengarkan dan mengulangi) pada irregular verbs tanpa harus dihapal. Kita desain sedemikian rupa dimana mereka sebanyak mungkin mengulang-ulang baik secara bersamaan berbicara ataupun bergantian. Tanpa terasa dalam dua hari tepatnya dia pertemuan mereka mampu menyelesaikan 110 irregular verbs. Mereka punya gambaran bahwa dari 110 kata tersebut paling sedikit berubah menjadi 330 kosa kata. Kemajuan yang berarti.

    Pendekatan dengan tenses ini kemudian dengan sendirinya bukan lagi sekedar pembelajaran struktur melainkan strategi mengasah kemampuan berbicara lancar dengan teratur yang mempunyai manfaat ganda karena hal hal yang mereka pelajari mempunyai keterhubungan erat dengan bacaan teks-teks bahasa inggris pada jurnal atau buku berbahasa Inggris dan menjawab soal-soal dengan tulisan yang benar. Bahasa inggris sebagai pergaulan internasional dan sebagai pembelajaran akademik dapat berjalan seiring.

    Zulkarnain Patwa 
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama

    Bulukumba, Sabtu 28 Maret 2026.

  • Buku Tahap Kedua

    Buku Tahap Kedua

    Afifah anak SD yang telah tamat satu buku Basic Reading (Bacaan Dasar). Dari sini, ia terlihat punya kemampuan untuk mengucapkan kosa kata Inggris dengan intonasi yang berirama, enak didengar. Dan kemampuan itu terus diasah pada tingkatan buku kedua yang sedang ia pelajari. Bedanya, kali ini ia tidak hanya dituntut membaca dengan suara nyaring tapi juga mengerti isi cerita dan menjawab soal soal cerita.

    Pekerjaan ini awalnya tidak mudah bagi Afifah mengingat ia sama sekali tidak mengikuti kelas grammar (tata bahasa) dimana jawaban pada soal soal pasti membutuhkan penulisan yang sesuai kaidah grammar. Untuk itu, sebelum menjawab ia terlebih dahulu membaca secara berulang cerita inggris hingga paham dan kemudian mengerti trik trik menjawab dengan benar adalah sebuah keharusan. Namanya juga trik, pola belajar sebagaimana kelas grammar tidak diberlakukan. Yang terpenting cara menjawab sudah benar, itu cukup.

    Yang menarik dalam dunia belajar Afifah adalah semangat berlatihnya di atas rata rata. Setiap kali belajar, ia selalu duduk dengan tenang dan menggerakkan penanya hingga semua tugas soal soal ceritanya yang menjadi ia selesaikan. Untuk beberapa hal-hal sulit ia ingin mengerti, ia tanyakan langsung kepada guru kelasnya. Setelah ia, tuntas ia pun segera membaca dengan nyaring cerita singkat tersebut disertai kumpulan jawaban yang ia yakini benar.

    Pada pertemuan perdana setelah Ramadhan 2026 ini, Afifah belajar sembilan puluh menit penuh tanpa istirahat. Ia sibuk me-review bacaannya dari lesson satu sampai lesson enam. Cerita dari lesson satu sampai lima sekedar membaca cerita Inggris saja namun pada lesson enam, ia membaca cerita sekaligus menjawab soal-soalnya. Baginya ini bukanlah hal yang begitu sulit karena beragam cara menyelesaikan masalah telah banyak ia pelajari sebelum Ramadhan. Dan review kali ini upaya menyegarkan kembali kebiasaan membacanya setelah beberapa waktu istirahat liburan jelang hingga pasca Idul Fitri 2026.

    Pelajar yang tekun tentu tidak berhenti pada satu tahapan buku saja. Afifah tahu bahwa tantangan buku kedua yang ia hadapi bukan perkara yang mudah. Terdapat delapan puluh empat lesson yang harus tuntas dan itu pasti membutuhkan waktu, daya tahan dan kecerdasan untuk menyelesaikannya.Kehadirannya di kelas secara teratur adalah bukti bahwa ia sedang berjuang untuk menamatkan buku keduanya ini. Ia menemukan cara tersendiri membuat dirinya selalu semangat dalam belajar. Dan tentu, kita pun ingin melihat ia berhasil mewujudkan harapan tersebut.

    Zulkarnain Patwa 
    * Pengajar Rumah Belajar Bersama
    * Sabtu, 28 Maret 2026

  • Kecerdasan Pelajar pada Ramadhan

    Kecerdasan Pelajar pada Ramadhan

    Memahami inti Basic Grammar (tata bahasa dasar) pada struktur tenses dengan segala bentuk perubahannya bukanlah perkara yang mudah. Karena begitu penting, materi ini diajarkan di SMP, SMA dan bahkan tak jarang diulang lagi di tingkat universitas. Heran juga, kenapa mesti melakukan banyak perulangan. Membosankan. Bukankah itu bisa dituntaskan sekali waktu saja semisal di SMP saja?

    Pada bulan Ramadhan 2026 ini, Adeeva Syaqila Zulfikar yang masih kes 4 SD telah berkali-kali latihan tenses luar kepada hingga pada akhirnya Mr. Agung telah memberikan pelatihan yang rumit mengatakan bahwa Adeeva hampir 100 mengerti tenses. Pengakuan ini tidak dengan serta merta tapi berdasarkan pemberian soal secara acak selama berjam-jam dalam beberapa pertemuan. setiap kali berlatih, Adeeva mampu menjawab dan menuntaskan perubahan delapan puluh delapan kalimat sesuai yang diinstruksikan cukup dengan mengandalkan otak saja, tanpa catatan sama sekali.

    Pelatihan Tenses luar kepala oleh Mr. Agung kepada Adeeva, kelas 4 SD saat Ramadhan 2026.

    Adeeva merasa senang saja dengan capaiannya ini tapi karena puasa, ia merasa lebih capek dan lemas juga. Semangat bermain pun agak menurun karena rekan-rekan kelasnya agak lebih sedikit yang datang belajar di sore hari selama Rumadhan. Sebagai konsekuensinya, Adeeva punya kesempatan untuk belajar lebih banyak kepada guru-guru bahasa Inggris seperti Mr. Ancha yang memberikan strategi memahami dan menjawab soal soal cerita tingkat pre Intermediate yang sangat berguna untuk menambah wawasan kejadian dunia luar, mengenal tipikal penulisan orang orang barat dan bekal bacaan dan tulisan dalam dunia akademik yang lebih tinggi nantinya.

    Kegiatan tersebut juga akan sangat bermanfaat bila Adeeva bila ingin mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris mengingat ia memang sudah saatnya melakukan uji kemampuan dengan kompetisii yang punya daya saing bagus untuk menambahkan semangat dan ketekunan dalam belajar. Sekedar info, rekan Adeeva bernama Faika kelas 3 SD yang hampir sama cerdasnya dengan Adeeva baru baru ini meraih emas pada Academic Olympiad Bahasa Inggris tingkat SD se-Indonesia (link dapat anda baca di sini: https://rumahbelajarbersama.org/2026/02/21/emas-untuk-faika-pada-academic-olympiad/) Mengingat kapasitas, Adeeva punya peluang yang sama dan perlu membuktikan kemampuannya juga.

    Sedangkan Mr. Agung mendidik pada penguatan struktur tense agar Adeeva mampu menghilangkan sedikit kesalahan dalam menjawab secara lisan. Ini juga dapat dimanfaatkan menjawab soal-soal cerita secara tertulis yang sesuai international standard lessons (pelajaran standar internasional). Jadi Adeeva dapat menawarkan jawaban dalam bentuk struktur kalimat sesuai pilihannya, entah mau dijawab panjang atau pendek, pilihan saja. Selain itu, ia juga telah berlatih kemungkinan jebakan jebakan soal sebagai persiapan
    ujian tenses nantinya di RBB (Rumah Belajar Bersama). Maklum, ujian kelulusan tenses di RBB tergolong sangat ketat. Semua pelatihan tersebut dapat Adeeva hadapi tanpa hambatan yang berarti.

    Setelah pelajaran Reading (Membaca) dan Grammar (Tata Bahasa), kini Adeeva akan mencoba dalam interaktif speaking (praktek bicara). Bekal reading dan grammar tersebut akan membuatnya lebih percaya diri berbicara karena ia telah banyak mengenal kosa kata sebagai bahan utama untuk bicara dan grammar yang membuat kemampuan berbicaranya tidak terbalik-balik. Langkah awal, ia akan banyak ditanya dimana ia sekedar menjawab saja dan kemudian setelah agak mahir, ia akan berlatih untuk lebih banyak bertanya daripda menjawab.

    Mencetak pelajar yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata selama Ramadhan memang tidak.mudah. Tantangannya telah kita jelaskan di atas. Namun karena semua kendala terus dihadapi hingga tuntas, contoh pelajar bernama Adeeva layak menjadi rujukan selama Ramadhan 2026 ini karena ia telah berhasil memahami pelajaran yang sebenarnya bukan tingkat SD melainkan SMP, SMA dan bahkan kadang-kadang diulang di tingkat universitas. Semoga ini motivasi untuk melakukan loncatan belajar yang lebih baik lagi buat Adeeva dan pelajar lainnya.

  • Emas untuk Faika pada Academic Olympiad

    Emas untuk Faika pada Academic Olympiad

    Sebuah pesan WhatsApp orang tua pelajar masuk mengatakan, ‘Medali emas ki tawwa Faika, Mr. Nain.’ Pesan ini terkirim enam hari yang lalu dan baru saya baca pada hari ini (21/02/2026). Ah, ‘Sungguh terlalu’, kata Raja Dangdut kita, Bang Roma. Saya langsung cek data lebih lanjut. Faika Qinara Putri Ridwan ternyata ikut Olimpiade Bahasa Inggris dan namanya terpampang sebagai peraih medali emas pada NSMAO (National Science and Mathematics Academic Olympiad) 2026.

    Hatiku senang juga mendapatkan kabar juara dari murid Mr. Ancha dimana saya juga turut mendidiknya di RumahBelajar Bersama ini. Murid-murid kami di Bulukumba Sulawesi Selatan ini memang jauh dari hiruk pikuk pusat kemajuan pendidikan yang serba lengkap fasilitasnya dan kumpulan guru guru intelektual handal namun betapapun serba terbatas, Faika mampu membuktikan diri sebagai bagian dari yang terbaik juga diantara pelajar se-Indonesia.

    Tapi sebenarnya saya tidak kaget karena desain seperti ini sudah biasa saya lakukan bersama rekan rekan aktivitas HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) semasa kuliah. Para mahasiswa yang suka kejuaraan kami ajak dan wajibkan banyak baca buku, diskusi, dan debat. Kami tanamkan dalam pikiran adalah juara 1. Orang berilmu tidak boleh minder berhadapan dengan siapapun. Bagaimana kalau jadinya juara 2? Itu akibat saja. Yang terpenting ialah selalu berpikir dan bertindak menjadi nomer satu. Dan ya, mereka membuktikan bagian dari terbaik di berbagai macam kompetisi.

    Hal menarik dari Faika adalah ia masih kelas 3 SD dan telah terbiasa dengan beragam bacaan buku berbahasa Inggris. Soal-soal cerita berbahasa Inggris pun telah banyak ia tuntaskan. Ia memang belum terbiasa debat tapi pemahamannya telah berkembang dengan baik dan mampu menceritakan banyak hal dalam Bahasa Inggris selama beberapa menit. Terlebih lagi kemampuan grammar-nya (tata bahasa) telah terasah diajarkan bukan melalui hapalan tapi pendekatan pemikiran logis sehingga kami yakin ia mempunyai kreativitas berpikir sendiri dalam menyelesaikan masalah yang ia hadapi.

    Itu berarti Faika punya peluang untuk sukses lebih besar dari apa yang kami kerjakan semasa mahasiswa. Start-nya jauh lebih awal dibandingkan kami. Tapi kami sadar juga bahwa tantangan yang ia hadapi sekarang juga tidak mudah. Faika yang sudah aktif baca buku masih sangat senang main game di Android. Itulah persoalan ‘kids zaman now’. Tapi sedikitnya apa yang telah sukses dilakukan Faika ini dapat dicontoh dengan memberikan jadwal main game di Android secara teratur dan kemudian membuat anak anak kita itu lebih banyak mengikuti kelas belajar sesuai minatnya agar hidupnya senang. Permainan games di Android tetap harus bisa dikontrol.

    Buat Bu Nurlaelah, ibunya Faika, maaf ya tidak sempat membalas pesan atas kemajuan belajar dan kesuksesannya Faika. Biarlah tulisan ini sebagai balasannya. Semoga Faika terus rajin membaca, menjaga semangat belajar dan berprestasi hingga ke kejuaraan tingkat internasional.

    Sekian dulu. Waktunya sahur jelang puasa lagi. Terima kasih banyak.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Merancang Perubahan Dunia

    Merancang Perubahan Dunia

    Dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, anda punya daya saing untuk turut terlibat aktif merancang dan menghadapi perubahan dunia.

    Foto: Kampung Belajar, 2025.

  • Speaking dan Reading

    Speaking dan Reading

    Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa asing itu urusan komunikasi. Itu benar karena kita akan menggunakannya berbicara dengan orang asing yang tidak menggunakan bahasa kita. Wajar bila kelas speaking (bicara) ramai peminatnya.

    Bagaimana bila pelajar membutuhkan hal lebih selain kemampuan berbicara? Tawaran yang menarik adalah kelas reading (membaca). Reading bagian dari cara pembaca mampu mengenali pemikiran orang lain lewat buku yang ditulisnya tanpa sang penulis perlu hadir di hadapannya. Kisah kisah tempo doeloe terjelaskan yang dapat dijadikan pelajaran untuk membaca dan mewujudkan cita-cita penulis di masa akan datang.

    Kelas Bahasa Inggris di Kampung Belajar mencoba untuk saling menghubungkan antara speaking dan reading. Untuk itu kelas binaan Mr. Ancha alias Pocha Pocha bertujuan untuk:

    1. Mendidik para pelajar memahami pembicaraan Bahasa Inggris lisan.
    2. Mendidik para pelajar membaca dengan suara nyaring dengan penekanan dan intonasi yang benar.
    3. Melatih para pelajar menjawab dan menggunakan segala model pertanyaan dan membangun fondasi kebiasaan berbicara Inggris.
    4. Melatih berekspresi secara lisan dengan bebas dengan berdiskusi mengenai tema tema yang dibahas pada buku bacaan.
    5. Mempersiapkan para pelajar untuk ujian standar internasional.

    Secara sederhana untuk mewujudkan target di atas, semua bagian bagian pada buku dibaca dan latihannya dikerjakan secara menyeluruh. Dengan demikian speaking dan reading menjadi alat pembelajaran yang sangat efektif membangun komunikasi berbahasa asing.

    Zulkarnain Patwa

  • Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekelompok kecil para pelajar SD, SMP dan SMA yang bergabung di Kampung Belajar selama liburan sekolah ini percaya bahwa Bahasa Inggris dapat membangun cita citanya tinggi. Ada yang mau jadi guru, dokter dan bahkan mau kuliah ke keluar negeri. Mereka datang dengan penuh semangat untuk belajar memahami setiap materi yang penting dan mereka yakini sangat berguna untuk masa depannya.

    Perbedaan umur atau jenjang sekolah bukanlah kendala untuk membuatnya bersatu dalam satu ruangan. Maklum, semuanya masih tergolong pemula dari segala tingkatan. Itu bagus karena tidak ada yang paling menonjol sehingga para pelajar ini saling berlomba untuk paling cepat memahami pelajaran di luar kepala. Yang lebih dahulu mengerti dan punya keberanian angkat tangan, dialah yang mendapatkan rekaman biasa ataupun siaran langsung, sebuah strategi agar mereka mau belajar serius dimana tiap pelajar tidak ingin tampil buruk di depan kamera. Lagi pula, tidak ada proses editing. Dalam dua hari, tidak ada satupun yang gagal membuat conversation (percakapan) tanpa teks. Itu berarti mereka mampu mengingat bahan pembicaraannya.

    Pada kelas Reading (Bacaan), mereka diminta membaca buku cerita dengan suara nyaring, memahami isinya dan menjawab soal-soalnya. Ini berguna untuk kebutuhan akademik dan penguatan budaya literasi. Kita ingin kemampuan berbicara Inggris dan membaca buku buku inggris dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan dan mengakses informasi tertulis.

    Kelas grammar (tata bahasa) yang merupakan momok bagi para pelajar Indonesia sudah dapat ditebak. Mereka benar-benar pemula juga dan masih belajar menentukan kata benda (noun) yang tunggal dan jamak, adjective (kata sifat) dan adverb (kata keterangan) serta bagaimana kata kerja berlaku pada sebuah subjek. Dan setelah mereka mengerjakan latihan, Basic Grammar tersebut dibaca kembali disertai rekaman video dan dibuat contoh percakapan agar apa yang telah diikat dengan tulisan lebih mahir diucapkan.

    Kelas pronunciation (pengucapan) pun punya daya kesan tersendiri. Mereka disadarkan bahwa salah ucap mengakibatkan salah makna. Bagaimana mengucapkan kosa kata yang mirip dengan benar? Misal set vs sat, feel vs fill dan green vs grin dan masih banyak lagi. Mereka diberitahu arti pada perbedaan kata tersebut yang membuatnya jadi lebih peduli untuk fasih dalam berbicara.

    Conversation, Reading, Grammar dan Pronunciation pada Kampung Belajar ini dibuat saling terhubung erat. Semua kelas jadi penting. Enam kali pertemuan belajar dengan sedikitnya menghabiskan waktu sembilan jam dalam sehari itu benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat waktu yang cukup bila ada pelajar untuk review bagi yang mengalami kesulitan ataupun ingin pendalaman materi lebih lanjut.

    oppo_2

    Liburan sekolah memang tidak membawa mereka pergi jalan-jalan sebagaimana orang lain yang punya kesempatan. Mereka berlibur di kampung halamannya dengan menikmati dunia belajar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kesenangan tentu mengiringi karena materi hanya dapat dilanjutkan bila dimengerti. Di Kampung Belajar ini, selama mereka tekun dan berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak ada alasan yang cukup untuk untuk tidak mengerti. Guru-guru kelasnya pun tergolong berpengetahuan luas dan berpengalaman belajar dan mengajar di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur dan sarjana di universitas.

    Sebuah kombinasi yang apik untuk mewujudkan cita-cita pada pelajar dan target Rumah Belajar Bersama (RBB) yang memilih mengedepankan kwalitas sumber daya manusia dalam mendidik para pelajar. Di sinilah, kita meramu pelajar SD, SMP dan SMA saling mendukung untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi tersebut. Demikian sekilas tentang Kampung Belajar, 2025 di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Enjoying Togetherness

    The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan  invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.The exhaustion of a long night of karate training didn’t have to make me reluctant to get up early. Aris Irfan invited me to accompany him to pick a guest up at 8:00 a.m. at the  tourism area in Bira heading to Sultan Hasanuddin Airport in Makassar. I’m always excited to meet new people and see a window of the world through conversations with knowledgeable foreigners without having to set foot in a foreign country.

    Wow! that was truly interesting. In Bira, we met a cheerful young girl who is on vacation with her father and mother. We briefly chatted with the family, who seemed happy about their vacation. We saw the way they communicated with each other, exuding positive energy, as we witnessed the girl saying goodbye to her parents.

     

    When we were in the car, Tessa told us that she is a student in a five-month exchange from her university in the Netherlands to Gadjah Mada University in Yogyakarta. She is going to return to her university in the Netherlands next month.

    Tessa’s curiosity about the vast world has driven her to travel the world. Because she has visited so many countries, she lost count. Being in Indonesia, where she has time to study and explore the beauty of islands like Bira, the vast and enchanting expanse, has greatly supported her hope and education, as she is majoring in International Relations.

    Indonesian students, especially those with at least English language skills, are also encouraged to follow iTessa’s footsteps. This opportunity is abundant because student exchange relationship is built on good relations between countries and then followed by a collaboration between universities. Therefore, it is important for students to become proficient in foreign languages by enrolling in alternative educational institutions like Rumah Belajar Bersama or other similar institutions to develop themselves before entering university.

    Being in a foreign country, Tessa has a positive impression of the Islamic world. She believes that Indonesians have a strong social awarness. She has learned this from her experience, witnessing how even people living in poverty still think of others by helping others. This is rare in her country which has highly individualistic lives in Europe.

    The world is full of color and diverse daily activities. Karate, however tiring, strengthens the mind and body. Meeting new international people enriches our perspective and ties the bonds of brotherhood, like those of Mr. Irfan and others like him, making life more meaningful.

    Zulkarnain Patwa
    * Independent Writer