Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Kecerdasan Super Anak pada Ibunya

    Bulukumba, RBB (29/8)—B. J. Habibie pernah menyampaikan bahwa super intelligent sofware (Perangkat lunak kecerdasan yang luar biasa) pada anak ada pada ibu. Seorang anak kelas 3 di SMP 4 Matekko bernama Andi Zaky Diryananda adalah satu-satunya anak remaja yang telah menamatkan buku Basic English Grammar dan Fundamentals of English Grammar karya Betty Scampfer Azar di Bulukumba. Dari bekal handal tersebut, Zaky mendapatkan “ticket” pelatihan basic TOEFL (Test of English as a Foriegn Language)—Sebuah pengantar  bila suatu saat ia ingin kuliah di kampus ternama atau sekolah ke luar negeri.

    Dari mana kemampuan anak 14 tahun ini?  Mari kita telusuri super intelligent sofware-nya. Andi Ayu Cahyani yang merancang anaknya ini memberi pengantar, “Tipe Zaky itu lebih gampang menerima pelajaran dalam situasi yang agak santai. Ia tidak suka pelajaran yang begitu serius seperti belajar di sekolah. Bila di tempat kursus serius lagi, kan membosankan. Saya putuskan untuk memilih lembaga yang mempunyai metode belajar yang yang tidak monoton, ada permainan dan rileks”, katanya.

    Langkah yang cerdas dari Ayu ini bukan tanpa masalah. “Awalnya Zaky agak malas. Saya memberi pertimbangan pentingnya belajar Bahasa Inggris.  Dia dan anak seumurannya suka main game yang kosa katanya rata-rata berbahasa Inggris. Nah, saya agak lebih mudah mempengaruhi pikirannya bagaimana pentingnya untuk belajar Inggris.” Zaky bergabung di Rumah Belajar dan sukses menyelesaikan buku tebal Basic English Grammar dalam 7 bulan.

    Pada perjalanan menuntaskan buku Fundamentals of English Grammar dan basic TOEFL, Zaky membutuhkan energi lebih ekstra. Ia dihadapkan pada kumpulan soal-soal grammar, listening and reading yang jauh lebih rumit. Kosa katanya pun aneh-aneh dan jarang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Ragam soal-soal tersebut memang menciptakan tantangan tersendiri tapi siapapun juga yang selalu bertemu dengan rutinitas, kebosanan pasti datang mendera juga. Hal ini pun terjadi pada anak remaja seperti dirinya.

    Di sini lah peran ibu yang selalu hadir mendampingi. “Saya mendorong bahwa Bhs. English mendukung masa depannya dan bisa survive di mana saja”, terang Ayu. Selangkah lebih maju,  “Saya pahamkan bahwa Bhs. Inggris itu kebutuhan, bukan kewajiban. Dalam sebulan, satu dua kali saya bolehkan tidak pergi. Kalau saya sudah capek membujuk, saya sedikit memaksa juga”, lanjutnya.  Ibunya selalu mencari cara agar ia mau berangkat karena ibunya yakin bahwa bila ia sudah berada di kelas, ia larut dalam pembelajaran dan enjoy (baca: menikmati)”. Karena itu, Zaky mampu lalui tahapan sulit dengan sangat baik.

    Pembuktian kemajuan belajar Zaky dapat dilihat dari pengalaman. “Alhamdulilllah, kalau ada pekerjaan saya di Bira, Zaky sering ikut dan berbicara dengan turis mancanegara. Rumah belajar sering juga mengundang tamu mancanegara yang membuatnya mudah berinteraksi langsung dengan orang asing. Selain itu, ia pun biasa praktek sesama pelajar”, terang Ayu yang juga menjabat sebagai kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata, Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Adapun mengenai pelajaran sekolahnya, “Saya sering mengevaluasi buku-bukunya. Saya lihat hasil pemeriksaan gurunya, rata-rata tinggi. Komentar guru Bhs. Inggrisnya, “Excelent.” Rata-rata nilainya 90 ke atas. Kursus Bhs. Inggris sangat bagus menunjang pembelajarannya di sekolah”, ugkap ibunya.

    Proses penamatan buku Fundamentals of English Grammar karya Betty Scrampfer Azar. Buku ini menjadi panduan Universitas Gadjah Mada untuk pelatihan TOEFL bagi calon mahasiswa S 2 pada tahun 2000.

    Dari pengalaman Bu Ayu dan Zaky ini, orang tua dan pelajar sebenarnya tidak perlu takut lagi pada Bhs. Inggris. Sebagai motivasi, Ayu memberi pesan, “Pelajari karakter anak kita. Dimana dia tertarik, di situ kita masuk untuk mempengaruhi keinginannya untuk belajar, termasuk Bahasa Inggris”, tutupnya.

    * Disadur dari petikan wawancara pada 25 Agustus 2020 di kantor Dinas Pariwisata Bulukumba.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    Latihan Berdiskusi Dalam Bahasa Inggris, Iccan Dan Pandi

    https://www.instagram.com/p/CEOThPEp7IY/?igshid=17nwd4s86jqna

  • Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Saatnya Anak SD Praktek Bhs. Inggris dengan Wisatawan

    Bulukumba, RBB (22/8)—Andi Alodia Syahda Syakira adalah pelajar kelas 6 di SD 32 Palambarae, Kec. Gantarang.  Kedua orang tuanya sangat menyadari bahwa Bahasa Inggris sebagai bekal utama dalam menghadapi tuntutan perubahan zaman di masa akan datang. Untuk itulah, Alo diikutkan kelas Bahasa Inggris.

    Pada saat liburan keluarga di Dego-Dego Na Bira (9/8), seorang wisatawan dari Italia berkunjung. Dengan bekal pengetahuan belajar bahasa selama 2 tahun, Alo memberanikan diri menyapa dan berkenalan dengan Mr. Marco. Pembicaraan hangat pun terjadi. Ia menanyakan berbagai hal tentang tempat wisata yang pernah Marco kunjungi di Indonesia, Eropa, dan negara-negara yang pernah dikunjunginya di dunia. Marco melayani semua pertanyaan. Dan karena Alo mengerti pembicaraan, Marco bersemangat menjelaskan satu persatu.

    Bahasa Inggris layaknya telah menjadi jendala Alo untuk menambah wawasannya dalam mengenal dunia yang luas ini. Ia pun sering mengekspresikan diri dengan mengatakan, “Wah!” saat Marco menceriterakan dunia bawah laut dan hal-hal yang baru baginya. Ifha Musdalifa yang juga tahu berbahasa Inggris dan hadir di tempat tersebut mengatakan, “Itu pertanda bahwa ia mengerti apa yang bule tersebut bicarakan”. Sebagai bentuk dukungan, “Pengalaman dan praktek seperti ini perlu untuk menambah kepercayaan dirinya”, kata ibu Alo ini.

    Saat Marco menanyakan siapa saja orang ramai yang berada di sekelilingnya, anak berumur 11 tahun ini dengan sigap menjelaskan semua orang tersebut adalah keluarganya. Ia menerangkan bahwa ia datang ke sini bersama ibu, ayah, 1 orang saudara laki laki, 2 orang saudara perempuan, dan 4 orang tantenya untuk kunjungan liburan. Marco pun memberikan berbagai pertanyaan yang menarik perhatian dunia anak yang membuat Alo menjawab dengan riang gembira.

    Sementara itu, Nain yang juga turut mendidik Alo di Rumah Belajar Bersama mengatakan, “Kemampuan Alo ini adalah hal yang wajar karena ia teratur mengikuti kelas belajar, tekun mengerjakan latihan yang membuatnya paham Basic English. Anak ini pun telah mengerti struktur tense—sangat sedikit anak SD di Indonesia yang menguasainya—yang memudahkannya berbicara dengan benar atau tidak terbalik balik sehingga orang lain cepat mengerti. Inilah yang membantunya untuk tidak perlu menerjemahkan pembiacaraan kata per kata, betapa pun penambahan kosa kata itu penting untuk terus ditingkatkan.”

    Ia menambahkan, “Dialog dengan orang asing itu menambah semangat para pelajar. Pelajar pun dapat tahu sejauh mana kemampuan dirinya dalam berbahasa Inggris. Kita pun sebagai pengajar akan lebih tahu hal-hal apa yang kurang dan lebih sehingga kita dapat mengambil langkah yang paling tepat untuk  percepatan pencerdasan pelajar tersebut.”

    Saat ini Alo bersama rekan rekannya di Rumah Belajar sedang giat-giatnya membaca buku cerita berbahasa Inggris. Tiap pertemuan, mereka diwajibkan tampil di depan kelas untuk mengkisahkan kembali apa yang dipahami dari bacaannya. Menurut Nain, “Kelas tersebut khusus bagi pelajar kategori pre-intermediate.”, tutupnya.

    Rumah Belajar Bersama sekarang ini terdapat  di 2 kabupaten. Kab. Bulukumba beralamat di Jl. Teratai No. 16, Kecamatan Ujung Bulu. Adapun yang Kab. Bantaeng beralamat di Jl. Sungai Calendu No. 5, Kelurahan Mallilingi.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bhs. Inggris: Berpura-Pura menjadi Guru

    Bulukumba, RBB (14/08)—Pada pembahasan buku Basic English Grammar, tiap pelajar maju menjelaskan isi yang penting pada Bab I di depan rekan-rekan kelasnya. Seseorang berpura-pura menjadi guru sementara yang lainnya seolah-olah tidak mengerti sehingga harus bertanya untuk mengetahui. Karena peserta kelas pre-intermediate ini hanya 3 orang, ada cukup banyak waktu untuk praktek secara bergiliran.

    Yang mendapat tugas paling utama adalah Fadel. Ia telah menegrti cara membagi sub-sub bagian materi dan memberikan beberapa contoh kalimat pada tiap pembahasan. Kesulitan yang ia hadapi adalah  cara menjelaskannya masih sering menghadap dan berbicara ke papan tulis, bukan rekan kelasnya. Kelebihannya, ia mampu menjawab semua pertanyaan rekan kelasnya dengan benar.

    Hanifah yang berpura-pura menjadi guru kelas.

    Adapun Hanifah dan Alodia masing-masing diberi kesempatan menerangkan materi penting yaitu pada “negatif dengan be, singlular noun and plural noun, constractions, dan be + place.”  Kelemahannya adalah terkadang tidak diperhatikan saat menjelaskan.

    Alodia yang juga berpura-pura menjadi guru. 😀

    Target yang ingin dicapai pada pembelajaran kali ini bukan lagi pada penguasaan materi tapi lebih pada cara menumbuhkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bulukumba, RBB (14/08)—Kelas Bahasa Inggris kategori pre-intermediate malam ini belajar tentang bagaimana cara tampil percaya diri berbicara dalam Bhs. Indonesia dan Inggris. Mereka unjuk kebolehan secara bergantian.

    Alodia terlebih dahulu bercerita tentang “A good Book” (Sebuah buku yang Bagus) dan Hanifah kemudian menceriterakan “In a Departement Store” (Di Sebuah Toko). Penampilan mereka ini lebih baik dari sebelumnya karena telah sangat yakin terhadap penguasaan materi. Alodia mengatakan, “Saya lebih sedikit tenang dan tidak gugup karena latihan di rumah dan paham isi cerita namun mimik dan gerakan tanganku masih kurang. Baru dua sampai tiga kali saya sanggup menggerakkan tangan”, katanya jujur.

    Explaining “A good Book.”

    Hal senada dialami rekan kelasnya. Hanifah menjelaskan, “Sebelum hadir di kelas, latihan di rumah sangat membantu saya untuk mampu menyampaikan apa yang saya pikirkan. Saya butuh latihan yang banyak agak lebih mahir”, ungkapnya.

    Sebagai langkah tindak lanjut, guru kelasnya memberinya lagi PR (Pekerjaan Rumah) yang sama tapi materi yang berbeda dengan menganjurkan untuk berlatih berbicara di depan cermin di rumah masing-masing. Supaya lebih mudah, praktek latihan terlebih dahulu dalam Bhs. Indonesia. Setelah merasa lebih baik, latihannya dalam bahasa Inggris.

    Kelebihan dan kekurangan mereka akan diketahui pada pertemuan berikutnya di hari Senin, 17 Agustus 2020.

    Bersambung…

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

     

     

  • Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bahasa Inggris untuk Pemula

    Bulukumba, RBB (15/8)—Anak anak SD (Sekolah Dasar) di Rumah Belajar sore ini sedang belajar latihan dialog. Mereka terlebih dahulu menuliskan diskusi yang baru saja mereka pelajari bersama. Setelah itu, mereka akan menghapal dan melakukan praktek berbicara secara berpasangan.

    Adapun yang dipelajari adalah tentang penggunaan penggunaan Wh-Question pada “what, who dan where.” Kalimatnya berisi tentang perbedaan antara kalimat yang kata bendanya tunggal dan jamak. Contoh sederhana:

    1. A: What is this/that? (Apa ini/itu?)
    B: This/that is a tree. (Ini adalah sebuah pohon)
    2. A: Who are they? (Siapa mereka?

    B: They are Neyra and Fateh (mereka adalah Neyra dan Fateh.)
    3. A: Where are you? (Dimana Anda?)
    B: I am here.     (Saya di sini.)

    Beberapa kalimat tidak dituliskan di sini namun secara garis besar telah terdapat pada contoh di atas.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • Tense sebagai Kunci Kemudahan Berbahasa Inggris

    Tense sebagai Kunci Kemudahan Berbahasa Inggris

    Bulukumba, RBB (13/8)—Siapa yang mengerti materi tense (baca:waktu), maka ia mudah membaca tulisan berbahasa Inggris. Ini karena setiap kalimat dan klausa mengandung tense. Karena pentingnya pelajaran ini, maka tidak heran jika kampus di berbagai universitas di Indonesia masih mengajarkan materi ini pada semester awal.

    Seorang anak kelas 5 SD (Sekolah Dasar) bernama Andi Alodia adalah bagian dari segelintir anak yang telah lancar tense verbal dan tense nominal* yang berhasil ia pahami melalui belajar intensif selama satu bulan. Metode yang dipakai untuk menguasainih bya adalah Medote 40—perulangan latihan soal baik secara lisan dan tulisan (minimal) sebanyak 40 kali. Pada tense verbal, ia memperoleh soal tulisan sebanyak 1.920 dan soal tense nominal sebanyak 960. Jadi ia telah mengerjakan sedikitnya 2.880 soal. Pada latihan lisan, ia memperoleh soal yang jauh lebih banyak.

    Setelah melalui proses belajar panjang tersebut, ia sudah jarang lagi bertanya saat membaca dan mengerjakan buku buku berbahasa Inggris berbahasa Inggris baik dari L. G. Alexander maupun Betty Scrampfer Azar. Hal yang biasa yang ia tanyakan yaitu kosa kasa yang baru ia temui—hal yang wajar dihadapi bagi tiap orang yang belajar bahasa asing dan berbagai kalimat mengandung materi lanjutan seperti gerund, adjective clause dan lainnya.

    Saat ini selain ia terus mendalami speaking (berbicara) dan grammar (tata bahasa), ia juga sedang fokus melatih diri untuk bisa tampil percaya diri di depan kelas. olehnya itu, ia selalu diberi tugas tampil di depan kelas untuk menceriterakan kisah kisah menarik yang terdapat pada buku L. G. Alexander.

    *Tense verbal dan tense nominal sebenarnya tidak dikenal dalam literatur buku berbahasa Inggris namun pembedaan ini akrab di Indonesia karena dianggap mudah untuk menjelaskan tense.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

     

  • Praktek Menjelaskan Buku Berhabasa Inggris

    Praktek Menjelaskan Buku Berhabasa Inggris

    Bulukumba, RBB (12/8)—Setelah melalui latihan sendiri sekitar 1 jam, 2 (dua) orang pelajar tampil di depan kelas mengisahkan satu cerita dari buku Question and Answer karya L. G. Alexander dan satu orang menjelaskan ulang Bab 2 pada Basic English Grammar, karya Betty Scrampfer Azar.

    Latihan menyusun pembahasan pada bab 2 di Buku Basic English Grammar

    Semua pelajar yang  baru saja praktek bercerita dan mengajar di depan kelas merasa cukup senang dan bangga karena bisa meguasai bahan yang mereka sampaikan. Menurut Nain, “Terdapat penguasaan baik terhadap materi tapi namanya juga pemula, mereka masih terbata-bata berekspresi dan sesekali gugup”, Katanya. “Langkah awal ini harus berkelanjutan agar mereka semakin gemar hingga sampai pada tahapan percaya diri untuk berbicara di publik. Selain itu, “Latihan ini membuatnya paham lebih mendalam terhadap bacaan berbahasa Inggris”, lanjut Guru Rumah Belajar ini.

    Hanifah is explaining “In A Departement Store” written by L. G. Alexander.

    Karena itulah, mereka diberi PR (Pekerjaan Rumah) dengan berlatih berbicara di rumahnya masing-masing sehingga tidak perlu lagi menyita waktu untuk latihan di kelas. Ini cara efektif dalam percepatan pencerdasan. Dan ke depan, setelah kepercayaan diri terbangun, mereka akan diwajibkan untuk menjelaskan dalam Bahasa Inggris.

    Zukarnain Patwa
    Rumah Belajar Bersama

  • Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bahasa Inggris: Melatih Kepercayaan Diri Berbicara

    Bulukumba, RBB—kedua pelajar ini telah membaca buku L. G. Alexander berjudul Question and Answer yang berisi kumpulan dialog. Mereka telah praktek bicara dan memahami isinya.

    Pada Rabu malam ini (12/8), mereka sedang berlatih untuk bisa menceriterakan ulang apa yang ia pahami. Sebagai langkah awal, mereka hanya diminta untuk mampu menjelaskan kembali isi cerita dalam Bahasa Indonesia di depan kelas. Tiap dari mereka memilih cerita pendek yang paling disukai dan paling mudah dijelaskan.

    Menurut Nain, Guru Bahasa Inggris, “Saya membaca bahwa pelajar tersebut telah banyak memahami dasar dasar Bahasa Inggris tapi masih kurang percaya diri untuk berdialog dengan orang lain, terutama orang asing. Saya berharap langkah ini bisa membantunya untuk menumbuhkan kepercayan dirinya”, terangnya.

    Menurut pelajar Hanifah bahwa ia memang jarang berbicara. Tugas ini membuatnya tidak harus diam lagi dan mendorong dirinya untuk mampu menjelaskan apa yang saya pikirkan.

    Adapun Alodia menyatakan bahwa isi cerita buku ini mudah namun ia masih tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Jadinya, ia berbicara sendiri seolah olah menjelaskan agar nantinya mampu bercerita saat guru memintanya tampil.

    Zulkarnain Patwa
    Staf Rumah Belajar Bersama

  • RBB

    RBB

    Rumah Belajar Bersama