Kategori: Bahasa Inggris

Program dan mata pelajaran Bahasa Inggris dari Rumah Belajar Bersama

  • Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Inisiatif untuk Cepat Pintar

    Kesan yang sangat menggembirakan. Pada waktu sedang istirahat, Zhah Noor Aisyah, pelajar kelas Malam Reading (Bacaan) yang telah tamat dua buku, tiba-tiba duduk di depan penulis dan membuka buku catatan grammar-nya. Ia langsung praktek bicara pada simple future menggunakan “be” sebagai kata kerja utama, nominal tenses istilah orang Indonesia. Di hari hari sebelumnya, ia mesti dirayu agar mau belajar simple present dan simple past hingga paham luar kepala. Sekarang, ia berinisiatif sendiri.

    Berbekal buku catatan, ia praktek lisan. Kewalahan menyusun kata pada perubahan simple future pasti Zhah temukan.
    Karena itu, ia lebih banyak bicara sambil melihat peta yang ia buat. Ilmu memang tidak secepat kilat bisa dipahami, butuh proses. Hukum perulangan menjadikan pelajaran melekat dengan baik di kepala.

    Seluruh proses perubahan kalimat termasuk pada penggunaan shall untuk British English pada subjek I dan We telah Zhah praktekkan. Variasi ini sengaja diajarkan karena ia tidak hanya membaca buku buku karya orang Amerika tetapi juga karya orang Inggris. Buku catatan sangat berguna untuk merujuk pada tiap kesalahan bicara yang ia praktekkan di depan gurunya.

    Setelah merasa cukup yakin, Zhah tidak memilih untuk beristirahat. Ia pun kembali mengerakkan pena, membuat catatan terbaru. Agar tidak kesulitan, ia menulis materi simple present, simple Past dan simple future pada verbal tenses sebagai pembanding dari simple pada nominal tenses. Pelajar Indonesia sering kali gagal membedakan ini, apakah menggunakan “do, does atau did” atau am, is atau are saat bertanya.

    Kemungkinan besar, Zhah tidak membutuhkan banyak penjelasan lagi dalam merangkai kata pada latihan berikutnya. Pemahaman penting yang akan disampaikan kepadanya yaitu mengapa “do” atau does” dipakai, bukan “am, is atau are” pada simple present untuk bertanya. Hal yang sama juga terjadi pada simple past. Mengapa “did” bukan “was, were” dan seterusnya.

    Apakah ini sulit dipahami oleh anak kelas 4 SD seperti Zhah? Tidak sama sekali. Zhah tergerak hari untuk mempelajari materi ini karena melihat beberapa teman seumurannya telah mengerti tenses dengan sangat baik. Berdasarkan proses belajar yang ia lakukan,
    ia dan guru guru di RBB (Rumah Belajar Bersama) yakin ia sanggup paham tenses luar kepala juga. Prediksi dalam dua atau tiga minggu ke depan, ia akan mendapatkan live (siaran langsung) disaksikan oleh publik untuk praktek perubahan seluruh kalimat tenses di luar kepala.

    Percepatan tersebut kuncinya terletak pada Zhah sendiri. Ketika ia mau menggunakan sebagian jam istirahatnya dengan duduk di depan guru, membuka buku catatan grammar-nya dan praktek, ia tidak hanya menyelesaikan tenses tapi pembelajaran Basic Grammar lainnya akan jauh lebih banyak ia mengerti yang sangat berguna memahami teks reading, speaking dan writing bila ia tertarik menulis dalam Bahasa Inggris.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 29 yang April 2026

  • Semua Aktif Belajar

    Semua Aktif Belajar

    Menarik dan sederhana. Itulah yang kita temukan ketika Steven Riley, seorang guru senior dari Australia, mengajar sehari di RBB (Rumah Belajar Bersama). Dalam berkomunikasi, ia mengajarkan intonasi yang erat kaitannya dalam tanya jawab. Pertama, ia menanyakan kabar dan nama peserta sembari memperhatikan cara menjawab. Kemudian, para pelajar diminta membuat pernyataan yang ditujukan kepadanya.

    Berangkat obrolan singkat tersebut, Steven yang sudah melanglang buana ke negeri terjauh sampai ke Jepang ini langsung tahu kapasitas pelajar. Dengan segera, ia mendekati pelajar yang kurang PD (percaya diri) bicara dan menyapanya menggunakan kosa-kata percakapan sehari-hari. Lalu, suasana jadi cair. Para pelajar jadi lebih siap. Setelah itu, ia memberikan contoh pengaturan tinggi rendah suara. “Kalau mau bertanya, naikkan nada suara di akhir kata pada kalimat. Sebaliknya, kalau mau menjawab, turunkan saja suara nada suara di akhir kata”, katanya. Sederhana itu.

    Pelajaran berlanjut. Karena Steven total berbahasa Inggris, ia pun menggunakan gerakan tubuh agar maksud penjelasannya bisa dimengerti. Penulis kadang-kadang hadir membantu menerjemahkan pada hal-hal yang rumit saja untuk membuat pelajar lebih cepat mengerti. Selebihnya, mereka diajak untuk berusaha menafsirkan sendiri segala hal yang dijelaskan Steven.

    Mengatur tinggi rendah suara terlihat remeh-temeh tapi mayoritas pelajar belum tahu cara menaikkan atau menurunkan suara dengan tepat dengan nada yang enak didengar. Steven tidak menyerah. Guru yang telah makan garam ini tahu betul cara mengatasinya. Pada setiap pelajar yang gagal berbicara dengan benar, ia diminta untuk membuat pengulangan. Dan bila mereka masih tetap gagal, meskipun umurnya mencapai 72 tahun, ia tidak terlihat lelah dan malahan tidak segan-segan aktif berjalan mendekati untuk membantu satu persatu pelajar mengikuti apa yang ia katakan hingga sampai pada ukuran suara yang menurutnya nyaman untuk didengarkan.

    Setelah itu, Steven melatih kemampuan berbicara lebih banyak. Untuk pemahaman tentang arah, Steven terlebih dahulu membuat tanda panah untuk arah utara, selatan, timur dan barat. Kemudian, membuat jalan berkelok-kelok mempunyai pertigaan dan perempatan. Ia juga menggambar rumah, sekolah, kantor dan lainnya. “Dimana sekolah?”, tanya Steven. Jawaban tidak sekedar menunjuk pada gambar tapi bercerita. Pelajar harus bisa mengatakan jalan terus ke arah barat, belok kiri dan kemudian kanan pada pertigaan dan seterusnya. Jawaban akan beragam karena yang ditanyakan adalah berbagai macam tempat yang berbeda.

    Capaian Pengajaran Steven
    Pembelajaran interaktif dua arah dari Steven berhasil merangsang cara berpikir, aktif berbicara dan memastikan tingkat pemahaman siswa secara langsung. Bahkan, para pelajar yang pasif pun berpikir dan mempersiapkan diri karena memprediksi dirinya akan mendapatkan pertanyaan. Dan bagi pelajar yang telah berani bicara, mereka akan lebih kreatif dan kritis dalam berpendapat.

    Suasana belajar juga terlihat lebih semarak karena terjalin hubungan komunikasi sesama pelajar dan pelajar dengan guru. Seorang guru yang berpemikiran terbuka seperti Steven tepat melakukan metode pembelajaran ini. Ia telah siap akan kemungkinan munculnya pertanyaan kritis yang tidak terduga. Pengalaman, wawasan dan mental Steven dalam mengelola kelas belajar membuat pembelajaran terlihat sangat menyenangkan dari awal hingga akhir yang berlangsung sekitar 90 menit.

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis. Ia bertemu dengan Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamunya, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan menguji RBB. Metode pengajaran Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi)

    Steven Riley sebenarnya saat ini tidak lagi berprofesi sebagai seorang guru tapi kontraktor di Perancis di mana sebelumnya ia mengajar di Jepang. Ia bertemu dengan Nur Anjas, seorang guide paham peta dan kebutuhan tamu di Bira, yang membuat Steven dapat menyalurkan hobby mengajarnya dengan mengunjugi RBB. Pengajaran sehari Steven yang erat kaitannya dengan pronunciation, speaking and intonation (Pengucapan, bicara dan intonasi) sangat bagus dan menjadi kekayaan referensi untuk ditindaklanjuti dalam mendukung percepatan kecerdasan para pelajar.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Selasa, 28 April 2026

  • Jurus Belajar

    Jurus Belajar

    Jurus Kung Fu mabuk sangat cocok bagi para pelajar yang sebenarnya tidak kurang perhatian dalam belajar. Mereka datang ke kelas untuk sekedar menutupi tuntutan orang tuanya. Tidak perlu banyak hal yang harus dibebankan padanya. Yang penting, mereka membaca dan praktek. Paham atau tidak, itu urusan belakangan. Berada di lingkungan belajar itu sudah cukup membantu mereka mengurangi bermain android–Masalah besar yang dihadapi kids zaman now. Kita doakan saja agar mereka bisa paham dengan pembiasaan belajar.

    Sementara itu, para pelajar yang sudah punya sedikit lebih bagus dari yang dijelaskan di atas cocok pakai jurus Kung Fu Master–Keahlian diperoleh dari ketekuna, disiplin dan waktu yang lama. Mereka mendapatkan pelajaran yang lebih terstruktur dan punya jam tambahan di luar jam belajar wajibnya. Ada waktu bermain tapi relatif lebih sedikit. Sebelum jemputan orang tuanya datang, sedapat mungkin belajar.

    Afifah dan Zhah adalah pelajar kelas Reading (Bacaan) tapi ia tertarik belajar Grammar (tata Bahasa. Melihat para pelajar grammar punya kemampuan berbeda dengan dirinya, mereka penasaran. Untuk setelah jam belajar reading-nya selesai, kami pun memintanya mencatat beberapa hal penting pada Tenses. Kemudian, mereka pun berlatih lisan pada tenses luar kepala dengan target bukan sebatas tahu tahu paham.

    Ah, yes! Faktor kebiasaan membaca
    pasti sangat mempengaruhi kecepatan berpikir. Para pelajar ini sudah sering menemukan kalimat yang sama atau minimal mirip tapi belum tahu kenapa ditulis seperti demikian–Tentu karena tidak tahu grammar. Jadi, dengan mendapatkan dasar dasar grammar, mereka lebih girang dan bersemangat mencari tahu lebih jauh. Hal ini kami lihat dari kebiasaannya bertanya, Apa maksudnya ini dan itu? Kenapa bisa begitu dan begitu? Rasa ingin tahu tersebut memotivasinya untuk memenuhi target yang ingin dicapai.

    Jurus Kung Fu Mabuk atau Jurus Kung Fu Master, itu adalah istilah atau klasifikasi saja. Yang utama adalah kesediaan menghadapi proses belajar. Dalam menjalaninya, tentu ada kemudahan, ada kesulitan saling silih berganti. Mari terus melangkah memperbaiki cara belajar kita. Siapa tahu, ada jurus Kung Fu Belajar lainnya yang ditemukan.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukimba, Sabtu, 25 April 2025

  • German’s Education and Indonesia’s Nature

    German’s Education and Indonesia’s Nature

    Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, the third President of Indonesia, introduced us to the idea that education in Germany is highly rational, disciplined, and fosters student independence. Habibie’s super-intelligent mind is also known by the slogan “German Mind, Medina Heart.” “German Mind” refers to the highly rational knowledge of Germans, and “Medina Heart” refers to the city of Medina (civilization) in Saudi Arabia, a safe city where the Prophet Muhammad (peace be upon him) was protected from attacks by the Meccans during his time. In an effort to keep up with technological developments, This understanding we got from Cak Maksun became a book by Kristian Morville. Habibie is remembered for sending many students to study in Germany. In fact, several leading schools in Indonesia, including those in Makassar, offer German language lessons in the second grade of high school.

    The writer once met Habibie and felt fortunate to also meet Verena Schubert, a well-educated German in Bulukumba. “If you don’t study, you don’t have to be a student.” A simple, meaningful quote from Verena describing education in Germany. Anyone who is diligent and highly motivated deserves a decent education at a fully government-funded university. For some majors, such as health and engineering, prospective students will take additional exams to prove their eligibility. Once enrolled, they have the opportunity to retake the exam several times, but if they still fail, they will definitely be dropped out. So, being a student in Germany requires a high level of mental fortitude and a strong mentality. That’s how Verena explained when the writer asked. In the minds of Indonesians, ” it is not surprising, German-made equipment and machinery available in Indonesia are renowned for high quality,” the writer thought.

    Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) met B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Picture Source: Zulkarnain Patwa.

    But, studying isn’t just about that, Fergusso! (Indonesian expression).Cita Deny, A friend from Muhammadiyah University of Yogyakarta in Indonesia, who continued her studies at the Universität Viadrina Frankfurt in Germany, once complained about the very high cost of living in Germany. This was undoubtedly because the Rupiah was still struggling to compete with the Euro. She was fortunate, born into a well-off family and with a strong passion for learning, which enabled her to complete her master’s degree there. After returning to Indonesia, he even helped promote studying in Germany by actively working at one of the German language development centers in Jakarta.

    Cita Deny explains studying in Germany via Zoom to our students in Bulukumba. Photo source: Rumah Belajar Bersama.

    So, what about those with limited financial resources? Verena explained that the high cost of home, food, and other living expenses led the government to consider borrowing a small amount of money, which students could repay in installments after working. And when someone wants to earn extra money, Verena, now a manager at a large company, doesn’t hesitate to share her past. “I work as a waitress at the restaurant,” she said with her sweet smile. Studying for her undergraduate degree at the prestigious BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main in Germany didn’t make her feel ashamed or embarrassed to do jobs considered menial. In fact, there are no menial jobs. Every job is noble, as long as it’s halal (permissible or lawful). Independence in Germany is cultivated from a young age, with parents no longer supporting their children’s living expenses when they reach adulthood. In Indonesia, parents are responsible for supporting their children until they get married. However, this creative idea of ​​earning money by working part-time is also widely done by Indonesian students in Yogyakarta—the heart of the city of students and tourism—by opening book stalls or selling drink and food from a cart in the busy afternoons. Some students also choose to work for others, as Verena ever did. The amount of money earned is certainly not much, but at least it can overcome the financial constraints commonly faced by students. Similar activities certainly occur in other cities in Indonesia, but not as widely as in Yogyakarta.

    Verena Schubert made a visit to informal education at the Rumah Belajar Bersama, Bulukumba, South Sulawesi. Photo Source: Aris Irfan, 2026.

    Nature and Hospitality in Indonesia

    A beautiful and healthy body is a logical consequence of consistent exercise. Verena traveled the world and spent five months in Indonesia, pursuing her passion for sports in places she found interesting. She seemed agile in her movements. She chose two weeks to snorkel, dive, and sun bathe in Bira. People who stay in a place have their own reasons. According to Verena, the beauty of white sand beach, clear sea water, well-maintained coral reefs, and the uncrowded and friendly people complement her desire for a quiet and peaceful life.

    Love and peace greetings from Bira sea. Photo source: Verena Schubert, 2026

    Another story Verena really likes is religious differences. In her view, people use religions for the wrong purposes. There are wars, and they fight based on religious beliefs. Here (meaning Bulukumba) and in East Nusa Tenggara, where she has visited, Muslims and Christians live side by side. We can see mosques and churches everywhere. There is no conflict. They believe in a good faith and respect each other. Meanwhile, in Germany, there are issues that people are afraid. There are wars going on right now, and a lot of bad things are happening. And people are at odds with each other. No matter which culture we belong to, it doesn’t matter.. At the end, we’re all human who need peaceful lives.

    Dolphins greet and complete Verena’s happiness by swimming right behind her while diving in the Bira sea. Photo Source: Verena Schubert, 2026.

    The writer was impressed by Verena’s explanation and gave sweet praise for her intelligence in simplifying her extensive experience into sentences that were not wordy and easy to understand. She replied, ‘Thank you. I am a manager.’ We laughed freely. The term ‘manager’ refers to her ability to lead, explain, and direct accurately for a large group of people she manages at a company whose name is deliberately not mentioned here. Later, the writer learned that she graduated with a master’s degree in International Innovation Strategy from Católica University in Lisbon, one of the best educational institutions in Portugal.

    What makes a university student happy is a graduation. photo of Verena Schubert after completing her Master Degree in International Innovation Strategy at Universidade Católica in Lisbon, Portugal. Photo source: Verena Schubert on Instagram.

    Verena’s choice to travel for a considerable period with only two very small bags has made her aware of her belongings. At home in Germany, she has a lot of stuff. With her traveling experience, she now believes she doesn’t actually need much. She can easily move wherever she likes without burden and happily.

    A Visit to Rumah Belajar Bersama

    It was a special pleasure for the writer when Verena stopped by to speak English with our informal students at RBB (Rumah Belajar Bersama). “Yes. That’s not a problem at all, if time permits,” Verena said as we traveled by private car from Bira to Bulukumba. Aris Irfan, manager of Cahaya Bone of Kalla Travel, said, “There’s still a little time before the travel car in Bulukumba takes Verena to Makassar.”

    Agung Pratama Salassa, a smart gammar teacher at RBB, welcome Verena at his class. Photo Source: Rumah Belajar Bersama, 2026.

    It was almost 5 p.m. Many of the RBB students had gone home, but fortunately, there were still a handful of students at the intensive class still busy working on Grammar and Reading. Verana greeted them warmly and joked with them, like a familiar teacher with her students. Suddenly, she became the center of attention. Several questions and answers were held, fostering ongoing communication, but unfortunately, the nice meeting  was too short.

    A really nice and friendly discussion with Verana and the student learning English. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.

    Verena’s visit was brief, but it left a lasting impression on the students. They have become more aware and motivated to learn. They realized that there was no opportunity to speak Indonesian with a foreigner to confirm things they wanted to know. They also need to have the insight or knowledge to ask questions in order to make the conversation more interesting. And because meeting strangers is something unfamiliar, it was a valuable experience that built confidence in meeting new people.

    A very tall young lady tried to be as tall as a child that makes Zhah look shy but happy. Photo Source: Zulkarnain Patwa, 2026.

    Zulkarnain Patwa
    Independent Writer

    Bulukumba, April 27, 2027

  • Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Pendidikan di Jerman dan Alam Indonesia

    Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie, Presiden Indonesia ketiga, memperkenalkan kepada kita bahwa pendidikan di Jerman itu sangat rasional, disiplin dan melatih kemandirian pelajar. Otak Habibie yang super cerdas itu juga dikenal dengan slogan German’s Mind, Medina Heart. “German’s mind” merujuk pada pengetahuan yang sangat rasional dari orang Jerman dan “Medina Heart” merujuk pada kota Madinah (peradaban) di Arab Saudi, sebuah kota yang aman di mana Nabi Muhammad SAW mendapat perlindungan dari serangan orang-orang Mekah pada masanya. Pemahaman ini pertama kali penulis dapatkan dari Cak Maksun dan kemudian jadi judul buku oleh Kristian Morville. Dalam usaha mengikuti perkembangan teknologi, Habibie dikenang banyak mengirim pelajar untuk kuliah ke Jerman. Bahkan, beberapa sekolah unggulan di Indonesia termasuk di Makassar memasukkan pelajaran Bahasa Jerman di kelas 2 SMA.

    Penulis pernah sekali bertemu dengan Habibie dan merasa beruntung juga berkenalan dengan orang Jerman terdidik yang berkunjung ke Bulukumba, Verena Schubert. “Jika anda tidak belajar, anda sebaiknya tidak usah jadi pelajar”. Sebuah kalimat sederhana yang mempunyai makna yang padat dari Verena ketika menggambarkan pendidikan di Jerman. Siapapun juga tekun, dan punya motivasi yang tinggi berhak mendapatkan pendidikan layak di universitas dibiayai penuh oleh pemerintah. Untuk beberapa jurusan seperti kesehatan dan teknik, para calon pelajar akan mendapatkan beberapa ujian tambahan untuk membuktikan bahwa mereka layak di jurusan tersebut. Dan bila sudah kuliah, ada kesempatan beberapa kali untuk mengulangi ujian namun bila tetap gagal, mereka pasti DO (Drop Out). Jadi, menjadi mahasiswa di Jerman harus mempersiapkan otak bekerja maksimal dan bermental baja. Begitulah penjelasan Verena sewaktu penulis bertanya padanya. Dalam pikiran orang Indonesia, ” Wajar ya, peralatan dan mesin buatan Jerman yang ada di Indonesia terkenal bagus kwalitasnya”, pikir penulis.

    Asse Nur Izza Maharani, pelajar RBB (Rumah Belajar Bersama) yang pernah bertemu Bapak B. J. Habibie di Yogyakarta, 2013. Sumber Foto: Zulkarnain Patwa

    Tapi, kuliah tidak sebatas itu saja, Fergusso! Seorang rekan semasa di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Indonesia bernama Cita Deny melanjutkan kuliahnya Universität Viadrina Frankfurt di Jerman pernah mengeluhkan biaya hidup yang sangat tinggi di Jerman. Itu sudah pasti karena nilai mata uang Rupiah masih sulit bersaing dengan mata uang Euro. Dia beruntung, terlahir dari keluarga yang cukup mapan dan punya semangat belajar yang tinggi hingga mampu menyelesaikan S 2 master-nya di sana. Setelah kembali ke Indonesia, ia malah turut mempromosikan kuliah ke Jerman dengan aktif bekerja ke salah satu pusat pengembangan bahasa Jerman di Jakarta.

    Cita Deny mengisi penjelasan tentang kuliah di Jerman via zoom kepada para pelajar di Bulukumba; Sumber Foto: Rumah Belajar Bersama.

    Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang mempunyai keterbatasan ekonomi? Verena menjelaskan bahwa biaya tempat tinggal, makanan dan kebutuhan hidup lainnya yang mahal tersebut menjadi pertimbangan pemerintah untuk meminjam sejumlah uang yang tidak terlalu besar di mana para mahasiswa dapat membayarnya kembali secara mencicil setelah bekerja.

    Dan bila ingin mendapatkan uang tambahan, Verena yang kini seorang manager di sebuah perusahaan besar tidak merasa sungkan menceriterakan masa lalunya. “I works a waitress at the restaurant” (saya bekerja sebagai pelayan di restoran), ungkapnya sembari tersenyum manis. Kuliah S 1 di kampus bergengsi jurusan BWL Bachelor (Business) at The Johann Goethe University in Frankfurt Am Main di Jerman sama sekali tidaklah membuatnya malu atau gengsi untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan dianggap rendahan. Sebenarnya, tidak ada pekerjaan rendahan. Setiap pekerjaan itu mulia, asalkan halal.

    Kemandirian hidup di Jerman telah dilatih sejak masa muda di mana orang tua tidak lagi membiayai kehidupan anak-anaknya ketika beranjak dewasa. Di Indonesia, orang tua bertanggungjawab membiayai anak-anaknya hingga menikah. Namun, ide kreatifitas cari duit dengan bekerja di paruh waktu ini juga banyak dilakukan oleh pelajar Indonesia di Yogyakarta—jantung kota pelajar dan wisata—dengan membuka lapak buku atau jual minuman dan makanan bermodalkan gerobak pusat keramaian di sore hari. Sebagian mahasiswa juga memilih masuk bekerja pada orang lain seperti yang dilakukan Verena. Jumlah uang tentu yang dihasilkan tidak banyak tapi sedikitnya mampu mengakali keterbatasan uang yang lazim ditemui oleh para mahasiswa. Kegiatan yang sama juga tentu terjadi di kota-kota lain di Indonesia tapi tidak sebanyak di Yogyakarta.

    Alam dan Keramahtamahan di Indonesia

    Tubuh yang menawan dan sehat adalah konsekuensi logis yang diperoleh bagi olahragawan yang konsisten. Verena berkeliling dunia dan berada di Indonesia selama lima bulan menyalurkan hobinya dengan olahraga pada tempat-tempat yang menurutnya menarik. Ia terlihat lincah dalam bergerak. Ia memilih dua minggu untuk snorkeling, diving dan bermandikan matahari di Bira. Orang yang betah di suatu tempat pastilah punya alasan. Menurutnya, pantai pasir putih menawan, air laut jernih, perawatan terumbu karang dan manusia yang tidak ramai dan ramah melengkapi kehidupannya yang ingin hidup tenang dan damai.

    Lumba-lumba menyambut dan melengkapi kebahagiaan Verena dengan berenang tepat di belakang saat diving di laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026.

    Kisah yang lain yang sangat Verena suka adalah pebedaan agama.  Dalam pandangannya, orang-orang menggunakan agama untuk tujuan yang salah. Ada peperangan dan mereka berperang atas dasar keyakinan agama. Di sini (maksudnya di Bulukumba) dan Nusa Tenggara Timur tempat yang ia pernah kunjungi orang-orang Islam dan Kristen hidup berdampingan. Kita bisa melihat masjid dan gereja dimana-mana. Tidak ada konfik. Mereka percaya pada suatu keyakinan yang baik, saling menghargai. Sedangkan di Jerman, ada masalah di mana orang-orang khawatir. Ada perang yang terjadi sekarang ini dan banyak hal buruk terjadi. Dan orang berlawanan satu sama lain. Tidak peduli budaya mana yang Anda miliki, itu tidak masalah. Pada akhirnya, kita semua adalah manusia.

    Salam cinta damai dari laut Bira. Sumber Foto: Verena Schubert, 2026

    Penulis tergugah dengan penjelasan Verena dan memberikan pujian manis terhadap kecerdasannya menyederhanakan pengalamannya yang luas dalam kalimat tidak boros kata, mudah dipahami. Ia menjawab, “Thank you. I am a manager”. Kami tertawa lepas. Istilah “manager” mangacu pada kemampuannya yang memimpin, memahamkan dan mengarahkan secara tepat pada sekumpulan banyak orang yang ia pimpin pada perusahaan yang sengaja tidak disebut namanya di sini.  Belakangan penulis tahu ia lulusan S 2 (master) di International Innovation Strategy, Católica University in Lisbon, salah satu institusi pendidikan terbaik di Portugal.

    Pilihan Verena traveling dalam waktu yang cukup lama dengan sekedar membawa dua tas yang sangat kecil menyadarkannya pada barang. Di rumahnya di Jerman, dia punya banyak barang. Dengan pengalaman berkeliling,  kini ia percaya bahwa sebenarnya ia tidak butuh banyak barang. Ia mudah bergerak kemanapun dia suka tanpa beban dan bahagia.

    Kunjungan ke Rumah Belajar Bersama

    Merupakan kebahagiaan tersendiri bagi penulis ketika Verena berkenan mampir sejenak untuk berbicara dalam bahasa Inggris depan pelajar nonformal kami di RBB (Rumah Belajar Bersama). “Ya. Itu sama sekali bukan masalah bila waktu memungkinkan”, kata Verena ketika kami dalam perjalanan dengan mobil pribadi dari Bira menuju kota Bulukumba.  Aris Irfan, manager Cahaya Bone of Kalla Travel berkata, “Masih ada sedikit waktu sebelum mobil travel di Bulukumba mengantar Verena ke Makassar”.

    Waktu telah menunjukkan hampir jam 5 sore. Para pelajar RBB telah banyak pulang namun beruntung masih ada segelintir pelajar di kelas intensif masih sibuk otak atik pelajaran grammar (tata bahasa) dan reading (bacaan). Dengan ramah Verana menyapa dan bersenda gurau layaknya seorang guru yang akrab dengan muridnya. Ia pun jadi pusat perhatian. Beberapa tanya jawab yang membangun komunikasi berkelanjutan terlaksana namun sayangnya, waktu sangat terbatas.

    Kunjungan Verena memang sangat singkat tapi ini memberikan kesan mendalam bagi para pelajar. Mereka jadi lebih termotivasi untuk belajar. Mereka jadi lebih tahu tidak ada kesempatan untuk berbahasa Indonesia dengan orang asing untuk mengkonfirmasi hal-hal yang ingin diketahui. Mereka juga harus punya wawasan untuk menanyakan sesuatu untuk membuat pembicaraan jadi lebih menarik. Dan karena bertemu dengan orang asing adalah hal yang belum lazim mereka dapatkan, itu adalah pengalaman berharga yang membangun kepercayaan diri bertemu dengan orang-orang baru.

    Sekilas tentang Perspektif Penulis

    Apa yang penulis gambarkan tidaklah mengambarkan secara utuh apa itu German’s Mind, terlebih lagi “Medina Heart” karena itu memang tidak disinggung mendalam di sini. Kalau pun ada gambaran, hanya secuil saja. Itupun berkat kesediaan Verena yang berkenan hati untuk wawancara dalam bentuk percakapan tidak resmi tentang pendidikan di Jerman. Hanya saja, patut disayangkan bila ada cerita atau pemikiran yang mungkin yang bisa saja berguna bagi orang lain. Karena itu penting bagi penulis untuk merangkai ulang dalam bentuk tulisan. Oh, iya. Dalam dua jam dua puluh menit bersama Verana, ia bertemu berbagai macam orang, ia selalu disambut hangat. Ia merasa sangat dihargai layaknya seorang supertar. That’s all.

    Zulkarnain Patwa
    Independent Writer

    Bulukumba, Minggu, 26 April 2026

  • Pembicaraan yang Penting

    Pembicaraan yang Penting

    Anak anak akan sangat senang bila mereka belajar sesama rekan akrabnya. Komunikasi dalam bentuk percakapan yang sesuai standar tata bahasa dipraktekkan dengan model tanya jawab berbahasa Inggris dunia menjadikan dunia belajarnya lebih hidup. Itu adalah tindak lanjut dari hasil jawab soal soal percakapan yang telah mereka selesai kerjakan.

    Setiap anak akan saling bertanya dan saling menjawab. Pembiasaan ini tidaklah mesti harus dilakukan dengan menghapal. Membaca saja itu sudah cukup asalkan itu sering diulang-ulang. Pada akhirnya, anak anak paham dan dengan sendirinya menghapal pelajarannya tanpa harus menghapal.

    Menggunakan kosa-kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari itu mudah. Untuk mendapatkan standar yang lebih tinggi tanpa menghilangkan kosa kata percakapan sehari-hari tersebut dapat dibentuk dengan memberikan pola-pola kalimat yang sesuai standar akademik sehingga pengetahuan tersebut akan sangat berguna di sekolah atau universitas nantinya. Lebih lanjut, pelajar kita otomatis punya bekal dalam menulis dalam Bahasa Inggris.

    Tantangan kita selanjutnya adalah bagaimana para pelajar kita terbiasa dengan buku bacaan berbahasa Inggris. Kita memerlukan bahasa asing itu sebagai alat pengetahuan di mana para pelajar mudah mengakses pemikiran orang luar yang kemudian dapat kembangkan sesuai lingkungan dan kebutuhannya. Sebagai alat komunikasi, itu baik saja tapi bukankah kita dapat melakukan yang lebih baik? Untuk itulah kami menempuh gerakan membumikan literasi.

    Anak anak yang bahagia belajar sesama rekannya yang akrab akan lebih mudah untuk saling berbagi gagasan dari hasil pembelajaranya. Karena mereka belajar dengan cara yang benar, bukan hal mustahil mereka bisa memperbincangkan pengetahuan hal hal yang baru di luar dari prediksi kita. Karena itu, pembiasaan percakapan yang berisi tanya jawab yang mengembangkan wawasan berpikir sangat penting untuk selalu dimasukkan dalam pembicaraannya.

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, 23 April 2026

  • Jembatan Kehidupan

    Jembatan Kehidupan

    ‘Guten tag’ (Selamat siang). Oh! Itu salah. Guten abend’, (Selamat malam) itu lebih salah lagi. Kalimat yang pertama penulis ucapkan lewat telepon saat Mr. Irfan, manager Cahaya Bone Travel of Kalla Group di Bulukumba, memberikan telponnya kepada untuk berbicara kepada seorang tamu dari Jerman yang hendak ke Makassar. Kontan saja, ucapan disambut tawa oleh gadis muda itu di telepon karena penulis seharusnya mengucapkan, ‘Guten morgen’. Hari memang menjelang siang tapi matahari belum tergelincir, penanda pagi belum berlalu.

    Setelah berbicara dalam beberapa kalimat dalam Bahasa Jerman, penulis tidak tahu mau bilang apa lagi. Akhirnya, dengan baik hati, ia menjelaskan dalam Bahasa Inggris. Yang kami tahu kami akan menjemputnya pada 3.45 sore karena ia terlebih dahulu akan pergi diving (menyelam) di hari terakhir di laut Bira, Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Saat bertemu, faktor ‘Wow!’ pun hadir. Seorang gadis bule dengan tinggi 185 cm–sebuah ukuran yang menakjubkan bagi orang Indonesia–punya keramah-tamahan dalam berbicara dilengkapi dengan kecerdasan komunikasi yang memukau dalam mengungkapkan pendapat. Hal ini mengingatkan penulis pada Johann Wolfgang von Goethe, sastrawan kesohor Jerman era Neoklasisme dan Romantisisme Eropa di akhir abad 18 dan awal abad 19.

    Namun, kita hidup di abad 21. Orang Jerman yang dalam dunia nyata kami temui adalah Verena Schubert, perwujudan kecerdasan manusia abad modern, berpendidikan dan pandai bergaul. Ia mengungkapkan bahwa keindahan dan kekayaan alam Indonesia layaknya surga yang harus dijaga. Apa bedanya dengan Soerkarno, sang proklamator kita? Soekarno juga pernah bilang, “Indonesia adalah sepotong surga”. Statement mereka sama saja.

    A glace for Verena with Indonesian local students practicing English at Rumah Belajar Bersama in Bulukumba District. Picture taken on April 22, 2026.

    Selama minggu berada di Bira, selain setiap hari Verena menyalurkan hobby diving-nya menikmati keindahan terumbu karang bawah laut, ia pun turut aktif kegiatan Dego Dego Na Bira dan Tevana yang berkonsentrasi menanam dan merawat terumbu karang. Pada saat yang sama, ia mengkampanyekan stop buang sampah plastik ke laut dan pembakaran sampah plastik sembarangan di biasa ia temui dalam perjalanannya berkeliling dunia. Tak lupa, Verena pun tidak tutup mata bahwa pencemaran akibat industrialisasi di barat juga terjadi.

    Ajakan kesadaran bersama ini kemudian ditindaklanjuti dengan mengungkapkan, “Kita akan menghancurkan rumah kita sendiri. Kita akan membuat rumah kita sendiri terbakar api. Pilihan kata yang halus tanpa harus menyalahkan orang lain. Kalau bukan diri kita sendiri yang memulai, siapa lagi?

    Ajakan Verana tidak dibatasi oleh timur saja tapi juga barat juga, seluruh ummat manusia. Kepedulian manusia yang tidak dibatasi oleh kutub ini pernah juga disampaikan dalam West-Ostlicher Diwan (Diwan Barat-Timur) oleh Goethe:

    Wer sich selbst und andre kennt,
    Wird auch hier erkennen:
    Orient und Okzident
    Sind nicht mehr zu trennen.

    Sinnig zwischen beiden Welten
    Sich zu wiegen lass’ ich gelten;
    Also Zwischen Ost und Westen
    Sich bewegen, sei’s zum Besten!
    (Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)

    Yang kenal diri juga sang lain
    Di sini pun kan menyadari:
    Timur dan Barat berpilin
    Tak terceraikan lagi.

    Arif berayun penuh manfaat
    Di antara dua dunia;
    Melanglang timur dan barat
    Mencapai hikmah mulia!
    (Mukadimah Diwan Barat-Barat)

    Guten morgen, Guten tag dan Guten abend adalah harapan keselamatan sesama manusia dalam menjalani perputaran kehidupan. Kegagalan memaknai “Gooten” dapat diselamatkan dengan menerjemahkan ke bahasa yang kita pahami. Bumi yang luas ini kita tapaki untuk melihat dan membaca prilaku manusia. Tidakkah kita mau merenungkannya dan menyampaikan kepada sesama hal hal yang baik dari negeri yang pernah kita kunjungi?

    Pertemuan dengan Horst Liebner
    Orang Sulawesi Selatan terkenal sebagai pelaut ulung dan pembuatan perahu kayu yang paling populer di Indonesia. Mayoritas perahu dipesan dari Kecamatan Bonto Bahari, Bulukumba yang tersebar di berbagai desa. Dan saat itu, kami berada di pusat galangan perahu, Tanah Beru.

    Merupakan suatu keberuntungan di mana kami dapat bertemu Dr. Horst Liebner, seorang pakar perahu tradisional Indonesia khususnya Sulawesi Selatan, Verena dan kami dapat bertemu dengan Pak Horst yang sedang duduk bersantai di salah satu galangan kapal miliknya Pak Najib, teman akrab Pak Horst.

    Karena sesama berkebangsaan Jerman, Verena tidak merasa asing dengan Pak Horst. Sebelum berakrab ria, “Tunggu dulu”, sambil berdiri di dekat Verena. “Tinggi kan. Ah! Tingginya orang Jerman seperti ini”, sembari Pak Horst menatap Verena. Pak Horst yang sudah hampir menetap selama 40 tahun di Indonesia sengaja bercanda karena mengerti bahwa tinggi badan hal yang selalu jadi perhatian di Indonesia.

    Selebihnya Horst berbicara dalam Bahasa Jerman dengan Verena sembari memperlihatkan beragam foto perahu tradisional Indonesia dari generasi ke generasi. Penulis hanya menikmati betapa asyiknya mereka berbicara. Paling sedikit, Verana tahu ada orang Jerman yang punya dedikasi dan berpengetahuan luas di negeri yang ia kunjungi. Indonesia memang bukan kampung halamannya namun dengan adanya Pak Horst, ia tidak merasa sendiri.

    Doctor Horst Liebner showing some boat pictures to Verena.in Tana Beru Sub-District.

    Sejurus kemudian, Pak Horst mengalihkan pandangan, “Sudah kamu perlihatkan Perla Anugerah Ilahi?” Itu mengacu perahu tradisional tanpa mesin yang ia buat. “Saya kira perahu itu sedang berlabuh di sini”, jawab penulis. “Tidak. Perahu itu berada di pelabuhan Bira”. Tempat itu telah kami lewati, tidak mungkin untuk kembali. “Di kesempatan lain, perahu itu akan kami tunjukkan ke Verena”, kata penulis. Pak Horst mengerti. Kami kemudian pamit karena Verena mobil yang akan membawanya ke Makassar telah menunggu di Bulukumba.

    Kesan yang muncul adalah Verena disambut baik oleh Pak Horst. Jika dia mau dan ada kesempatan, ia tentu bisa ikut berlayar di Pinisi Perla Anugerah Ilahi, satu-satunya perahu layar Indonesia yang hanya mengandalkan angin. Tanpa deru mesin yang ribut dan asap menghitam, Perla menyatu dengan alam. Yang kita dengarkan adalah suara angin berhembus, desiran ombak dan keheningan di malam hari menatap bulan dan bintang penuh kedamaian. Ya, itu sedikit pengalaman yang penulis temukan saat ikut berlayar bersama Pak Horst dari Bulukumba ke Makasar.

    Dalam bayangan Verena, itu seperti Yoga. Iya, bila dengan Yogya orang menemukan kedamaian. Verena mengerti Yoga sedangkan penulis adalah pelatih karate, tentu berbeda. Pengalaman itu adalah pengetahuan partikulat di mana ukurannya sangat subjektif, kembali kepada orang yang mengalaminya.

    It was the time when we said goodbye to Verena at Cahaya Bone Travel of Kalla Group in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia. Picture taken on April 22, 2026.

    Perjalanan kehidupan adalah langkah langkah. Ada pertemuan, ada perpisahan. Aris Irfan, sang manager Cahaya Bone Travel dan Villa Malomo Bira telah menjamu tamunya, Verena Schubert, dengan sangat baik. Orang orang akan terus berjalan di muka bumi. Kita berharap suatu saat kita semua dapat bertemu kembali dalam keadaan lebih baik. Jembatan kehidupan. Guten! 😀

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, 23 April, 2026
     

  • The Bridge of Life

    The Bridge of Life

    “Guten tag” (Good afternoon). Oh! It’s wrong. “Guten abend” (Good evening) it was even worse. Those are the simple phrases the writer said over the phone when Mr. Irfan, manager of Cahaya Bone Travel of the Kalla Group in Bulukumba, handed his phone to me to speak to a guest from Germany who wanted to Makassar. Naturally, the young girl on her handphone line laughed, as the writer should have said, ‘“Guten morgen” (Good morning). It was almost mid-may, but the sun hadn’t moved to the top of our head yet, marking the end of morning.

    After speaking a few sentences in German, The writer didn’t know any German at all. Finally, she kindly explained in English. All we knew was that we would pick her up at 3:45 p.m. She was planning to dive on her last day in the sea of Bira, Bulukumba Regency, South Sulawesi, Indonesia.

    The moment we met, the ‘wow!’ factor was immediately apparent. A foreigner woman standing with 185 cm tall—an astonishing height for Indonesians—has a friendly demeanor, complemented by a stunning communicative intelligence in expressing her opinions. This reminds me of Johann Wolfgang von Goethe, the famous German writer of the Neoclassicist and Romantic era in Europe in the late 18th and early 19th centuries.

    However, we live in the 21st century. The German we met in real life is Verena Schubert, the embodiment of modern intelligence, educated, and sociable. She explained that Indonesia’s beauty and natural wealth are like a paradise that must be preserved. What is the different from Sukarno, our Indonesian founding father? Sukarno also once said, “Indonesia is a piece of heaven.” Their statements were similar.

    A glace for Verena with Indonesian local students practicing English at Rumah Belajar Bersama in Bulukumba District. Picture taken on April 22, 2026.

    During her week in Bira, in addition to daily diving, Verena enjoyed the beauty of the underwater coral reefs, and also actively participated in the Dego Dego Na Bira and Tevana activities, which focus on planting and maintaining coral reefs. At the same time, she campaigned to stop throwing plastic waste into the ocean and the indiscriminate burning of plastic waste she frequently encountered during her travels around the world. Verena also acknowledged the pollution caused by industrialization in the West.

    This call for collective awareness was then followed up by stating, “We will destroy our own home. We will set our own home on fire”, said Verena. A subtle choice of words, without blaming others. If we don’t start it by ourselves, who will?

    Verena’s call was not limited to the East, but also to the West, to all of human race. This pole-free human concern was also expressed in Goethe’s West-Ostlicher Diwan (West-East Diwan):

    Wer sich selbst und andre kennt,
    Wird auch hier erkennen:
    Orient und Okzident
    Sind nicht mehr zu trennen.

    Sinnig zwischen beiden Welten
    Sich zu wiegen lass’ ich gelten;
    Also Zwischen Ost und Westen
    Sich bewegen, sei’s zum Besten!
    (Zum Diwan, West-Ostlicher Diwan)

    The one knowing self is also the other
    Here will realise:
    East and West are twisted
    Inseparable.

    Wisely swinging full of merits
    Between two worlds;
    Wandering East and West
    Attaining noble wisdom!
    (Preamble to the West-East Diwan)

    Guten morgen, guten tag, and guten abend are the hopes for the safety of fellow human beings as they navigate the cycle of lives. The failure to understand the meaning of “Guten” can be mitigated by translating it into the language we understand. We walk on this vast earth to observe and interpret human behavior. Shouldn’t we want to reflect on it and share with others for the good things we’ve seen in the lands we’ve visited?

    Meeting with Dr. Horst Liebner
    For centuries, South Sulawesi people, Makassarese and Buginese, have been renowned as skilled sailors and the most popular wooden boat builders in Indonesia. The majority of boats are ordered from Bonto Bahari Sub-District, Bulukumba. On our way from Bira to Bulukumba, we stopped for a while at the boatyard center of the boatbuilding industry in Tanah Beru in Bonto Bahari.

    It was fortunate to meet Dr. Horst Liebner, an expert on traditional Indonesian boats, particularly those from South Sulawesi. Verena and we were able to talk to Mr. Horst, who was relaxing in one of the shipyards owned by Mr. Najib, a close friend of Mr. Horst.

    Being German, Verena felt familiar with Mr. Horst. Before having conversation, Mr. Horst said, “Wait a minute,” as he stood near Verena. “She is tall, isn’t she? Ah! Germans are like this,” as Mr. Horst looked at Verena. We were all laughted. Mr. Horst, who has lived in Indonesia for almost 40 years, made a point of joking, understanding that height is always a special concern in Indonesia.

    For the rest, Horst spoke German with Verena, showing her various photos of traditional Indonesian boats from across the generations. The author simply enjoyed their lively conversation. At least, Verena knew there is a dedicated and knowledgeable German in the country she was visiting. Indonesia may not be her homeland, but with Mr. Horst around, she could see German’s mind in Indonesia.

    Doctor Horst Liebner showing some interesting boat pictures to Verena in Tanah Beru Sub-District.

    A moment later, Mr. Horst looked away, “Have you shown her Perla Anugerah Ilahi?” He was referring to the traditional, engineless boat he had built. “I thought it was anchored here,” the writer replied. “No. It’s at Bira harbor.” We had passed that area; there was no way we could return. “We’ll show Verena the boat another time,” the writer said. Mr. Horst understood. We then excused ourselves to Mr. Horst and Mr. Najib because Verena’s car, which would take her to Makassar, was waiting in Bulukumba.

    The impression we got was that Verena was warmly welcomed by Mr. Horst. If she wanted to and had the opportunity, she could certainly sail on the Pinisi Perla Anugerah Ilahi, Indonesia’s only wind-powered sailing boat, without the roar of noisy engines and black smoke, Perla blends with nature. All we heard was the sound of the wind, the lapping of the waves, and the silence of the night, gazing at the peaceful moon and stars. Yes, that’s a bit of the experience the writer discovered while sailing with Mr. Horst from Bulukumba to Makassar in 2024.

    In Verena’s mind, it’s like Yoga. Yes, if one finds peace through Yoga. Verena understands Yoga, while I am a karate instructor, it’s certainly different. Experience is a particular kind of knowledge, the measurement of which is highly subjective, and depends on the individual experiencing it.

    It was the time when we said goodbye to Verena at Cahaya Bone Travel of Kalla Group in Bulukumba District, South Sulawesi Province, Indonesia. Picture taken on April 22, 2026.

    Life’s journey is a series of steps. There are meetings, there are farewells. Aris Irfan, the manager of Cahaya Bone Travel and Villa Malomo Bira, has hosted his guest, Verena Schubert, very well. People will continue to walk on this earth. We hope that one day we will all meet again under better circumstances. The bridge of life. Guten! 😀

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, April 23, 2026

  • Peduli

    Peduli

    Tanya jawab online untuk kedua kalinya dengan Salma Minasaroh, penggagas lembaga pendidikan GAIA di Pati, Jawa Tengah, dipadati oleh anak-anak SD dan segelintir anak SMP berjumlah 16 peserta dari RBB (Rumah Belajar Bersama) di Kab. Bulukumba, Sulawesi Selatan. Anak-anak semangat dan antri mendapatkan pertanyaan yang jawabannya telah mereka siapkan. Rasa penasaran ini muncul karena pada pertemuan pertama, hanya dua orang pelajar saja, yaitu Adeeva dan Faika, yang mendapatkan kesempatan untuk ngobrol online.

    Dalam hal menjawab, anak-anak telah mempersiapkan dengan baik. Hal yang menjadi kendala adalah mereka ingin cepat mendapatkan pertanyaan dan ingin akting bicara. Tanda acungan tangan ✋ banyak muncul di kamera dan teriakan “me” (saya) menandakan mereka ingin segera tampil juga.

    Miss Salma berusaha semaksimal mungkin agar semua anak mendapatkan kesempatan untuk bicara. Setelah anak-anak menjawab pertanyaan, ungkapan “Okay” sering muncul dari Miss Salma, pertanda anak-anak sudah menjawab dengan tuntas.

    Patut diakui, beberapa orang yang masih kesulitan memahami pertanyaan berusaha mendatangi guru kelasnya di RBB (Rumah Belajar Bersama) agar terlihat mampu berbicara dengan baik seperti teman-temannya yang lain. Sebagian berbisik-bisik kepada teman-temannya tentang kosa kata yang mereka lupakan. Beragam emoji yang lucu sering mereka hadirkan di depan kamera. No one can stop children’s expression (Tidak ada yang dapat menghentikan ekspresi anak-anak).

    Keputusan pada kepedulian obrolan online bahasa Inggris ini terjadi karena Miss Salma merasa berkepentingan untuk berbagi ilmu dengan anak-anak Indonesia yang tersebar di berbagai daerah. Pelajar RBB mendapatkan kesempatan bertemu karena selain ada hubungan perkawanan yang baik sewaktu kuliah dengan pengajar RBB, Miss Salma juga melihat ada perkembangan berarti dari para pelajar yang ia amati melalui media sosial.

    Berdasarkan pertimbangan di atas, pendidikan akademik Miss Salma di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) dan UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta serta non akademik di Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur sama sekali tidak membatasi dirinya untuk berakrab ria kepada para pelajar pemula tapi malahan jadi strategi untuk lebih membumi dalam turut mendukung kemajuan pendidikan anak anak Indonesia. Bahasa Inggris semestinya bukan lagi ‘hantu’ bagi para pelajar sekolah kita.

    Hal positif lainnya yang dapat dipetik di sini adalah terdapat kesabaran yang tingkat tinggi dalam menghadapi anak anak yang suka bikin suara ramai meskipun belum ditanya. Jam terbang mengajar memang sangat mempengaruhi. Terbukti, dari semua peserta yang bertahan hingga akhir pembelajaran sekitar dua jam, 20 pertanyaan kepada para peserta dapat diselesaikan.

    Tentunya, terdapat juga kelemahan dari tanya jawab online tersebut. Dari pengalaman dua pertemuan ini, kami akan mendesain program yang lebih baik lagi sehingga rasa penasaran pelajar yang ingin praktek Inggris lebih banyak dapat terpenuhi.

    As a closing statement, “You have to study more and more. Don’t be lazy!” said Salma. That’s right. And you have just given great motivation to our students here, in South Sulawesi. Thank you very much.

    Zulkarnain Patwa
    Bulukumba, Rabu, 22 April 2026

  • Kolaborasi

    Kolaborasi

    Negara Finlandia menggemparkan dan menjadi rujukan dunia pendidikan karena berhasil menjadi top one melampaui Amerika. Orang Scandinavian itu tidak menerapkan sistem kompetisi melainkan kolaborasi. Kompetisi memang mencetak seseorang menjadi terbaik sedangkan kolaborasi mengajak kerjasama, saling mengisi kelebihan dan kekurangan, pintar bersama.

    Azdra (jilbab abu-abu) dan Ifa (jilbab merah ) pelajar kelas 1 SMPN 1 Bulukumba, tidak bisa dipisahkan meskipun mereka suka saling menyalahkan. Azdra anak yang tidak pusing dengan urusan pelajaran. Ia hanya tidak ingin ditafsirkan oleh ibunya tidak belajar. Sedangkan Ifa, ia punya target, kerja tugas dan rajin membaca. Azdra akan rajin bila tahu bahwa pelajarannya tertinggal dari Ifa. Ifa yang meskipun sering marah ke Azdra terlihat senang hati bila Azdra butuh bantuan. Mereka ingin sukses bersama.

    Apa yang perlu kita tindak lanjutkan adalah para pelajar yang sudah terbiasa saling membantu tidak diarahkan pada menyontek, kecerdasannya semu. Anak anak yang biasa menyontek akan merasa aman karena mendapatkan nilai rapor yang bagus. Orang tua murid yang sekedar melihat nilai rapor anak-anaknya pasti akan terkecoh. Pada akhirnya, generasi yang tercipta tidak ada bedanya dengan mesin foto copy.

    Dari cerita di atas, Ifa berlatih menjelaskan agar Azdra memperoleh proses belajar hingga tahap tahu. Dengan demikian, derajatnya sama sama terangkat. Di kemudian hari, Azdra bisa menolong pelajar lainnya yang pernah senasib dengan dirinya. Dan bagi orang seperti Ifa, ia tidak akan kekurangan ilmu sedikit pun, malahan ilmunya makin bertambah.

    Dalam beberapa hal, Azdra sesekali membantu rekan kelasnya untuk membaca dengan atau menjawab soal-soal latihan dengan benar. Di sini, Azdra tanpa ia sadari dirinya telah menerapkan sistem kolaborasi, bukan kompetisi. Ia menjadi bagian orang yang penting di kelas, dibutuhkan oleh rekan-rekannya

    Long life education. Pendidikan itu memang investasi jangka panjang. Perubahan dan pengembangan cara pandang itu butuh proses belajar yang berkelanjutan. Kesuksesan sistem kolaborasi belajar yang dibangun oleh Finlandia terjadi karena mereka terus berbenah diri dimana para pelajar, lingkungan, orang tua dan sistem pemerintahan saling mendukung satu sama lain. Terdengar sederhana tapi itulah kenyataan yang mengagetkan dunia pendidikan.

    Sebenarnya sih, Indonesia itu juga punya Tut Wuri Handayani (dari belakang memberikan dorongan), saling mendukung. Kalau tidak dibilang sama dengan Finlandia, paling sedikit, ada kemiripan. Tapi kenapa hasil penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) literasi membaca, matematika dan sains pada 2022 dari pelajar Indonesia itu masih di bawah standar? Akankah PISA pada 2025 yang rilis terbaru diumumkan 2026 ini mengalami perubahan?

    Zulkarnain Patwa

    Bulukumba, Senin, 21 April 2026