Penulis: Zulkarnain Patwa

  • Hari Ibu

    Hari Ibu

    Kebersamaan dengan ibuku sangat singkat, hanya sampai kelas 3 (tiga) SD (Sekolah Dasar). Waktu itu, Tettaku–Panggilan untuk ayahku–yang bertugas sebagai Penilik Agama, setara dengan Kepala KUA (Kepala Urusan Agama,
    di Kec. Bontotiro, Kab. Bulukumba Sulawesi Selatan, dimutasi ke Kantor Departemen Agama sebagai Kepala Seksi. Ini satu tingkat di atas Penilik. Yah, itulah nomenklatur lembaga di bawah naungan Menteri Agama yang saat ini berubah jadi Kemenag (Kementrian Agama).

    Setelah Tettaku dimutasi ke kota Bulukumba, Ummi’ku (Baca: Ibuku) beserta saudara yang lain ikut berpindah. Lain dengan diriku yang memilih tetap tinggal di kampung. Dengan pertimbangan belum lancar Bahasa Indonesia, susah beradaptasi dengan anak-anak kota yang kala itu informasinya nakal-nakal, suka naborongi (keroyok) orang kalau berkelahi dengan orang berasal dari kampung, susah pelajaran sekolahnya dan berbagai alasan lainnya membuatku menghindar bertemu orang kota. Aku lebih suka jadi orang kampung, kampungan pula.

    Setelah tamat SD, aku memilih merantau menuntut ilmu di Pesantren Modern Putri IMMIM di Pangkep, Sul Sel. Dan kembali ke Bulukumba setelah menyelesaikan kuliah di Universitas Hasanuddin.

    Kebersamaan yang singkat dengan ummi’ku tak menjadikanku jauh darinya. Waktu yang singkat namun cukup banyak mengukir kenangan indah dalam memori. Setiap malam sebelum tidur, dia selalu bercerita. Cerita fabel tentang pesan moral alias pelajaran hidup yang menarik imajinasi. Tak lupa, cerita tentang kisah-kisah heroik tokoh-tokoh lokal yang sangat menginspirasi. Ia pun mengajarkanku membaca dan menulis dengan bantuan cahaya pelita. Kalau sudah pagi, barulah nampak pada muka dan bulu hidung yang semuanya menghitam.

    Ah, terlalu banyak kenangan dengan ummi’ku hingga saat dia berpulang ke Rahmatullah, 2 tahun setelah diriku kembali ke rumah dari perantauan, itu tentu sangat menyakitkan. Sejak saat itu ada ruang kosong yang tercipta dalam hati sanubari.

    Saat ini, aku juga telah menjadi seorang Ibu dari empat orang putri. Namun yang dilakukan ibuku dulu tidak dapat kuteruskan kepada anak-anakku. Kebersamaanku dengan anak-anak cukup singkat karena setelah tamat SD, mereka merantau, merantaunya pun lebih jauh dariku dulu semasa sekolah. Tiga orang, Asse Nur Izza Maharani, Fitriah Ramdhanah Azzahra dan Silvia Salsabila bersekolah di Pesantren Gontor di Jawa Timur. Hanya satu orang yang bersekolah di Sul Sel yaitu Nabila Alamanda tepatnya Pesantren DDI Bantaeng karena pada masa itu, pandemi Covid 19 tidak memberikan ruang bagi anakku yang baru saja lulus SD untuk mendaftar di Gontor. Kusadari, tak banyak kenangan yang bisa kuukir indah dalam memorinya.

    Hanya satu yang selalu kuusahakan buat anak anakkku tercinta. Saya selalu hadir di momen-momen pentingnya. Momen dimana orang tua sangat diharapkan kehadirannya dan tentu semua itu tak pernah kulewatkan; Mengambil raport semasa SD, menjadi saksi alias menonton saat mereka berlomba dimanapun dan Kejuaraan apapun mereka ikuti. Menjadi saksi mereka yang menjadi santri Gontor pada pagelaran akbar seperti Panggung Gembira, Drama Arena, Laksana Gembira, Gebyar Seni Darussalam, Mengantar Fitriah Ramdanah Azzahra menuju Mesir, mengikuti Jambore Muslim Pramuka s e Dunia (World Muslim Scout Jambore) di Bogor, Jawa Barat.

    Dan yang paling membahagiakan saat aku menghadiri acara wisuda Azze Nur Izza Maharani, anak pertama setelah menyelesaikan kuliahnya di Jurusan Studi Agama di Universitas Darussalam Gontor. Momen dimana keberhasilannya dipersembahkan untuk kedua orangtuanya. Jiwaku terpanggil untuk tidak melewatkan peristiwa capaian pertama anakku dalam meraih sarjana. Sedikitnya, aku bisa menapaki jejak orang tuaku yang berhasil mensarjanakan semua anaknya yang berjumlah tujuh orang. Ya! Pendidikan telah menjadi prioritas utama dalam keluarga.

    Hanya itu yang bisa kulakukan untuk anak-anakku. Apakah itu menjadi kenangan yang akan mereka ingat suatu saat nanti? Entahlah! Yang jelas, keinginanku sebagai ibu ialah ingin selalu hadir bersamanya di momen-momen penting dalam kehidupannya. Itu memang singkat tapi aku bahagia bersama anak anakku. Dalam bayanganku, seperti itulah kebahagiaan ummi’ku saat aku bersamanya. Singkat!

    Selamat Hari Ibu.

    Fatmawati Patwa 

  • Persiapan Atlet Dunia

    Persiapan Atlet Dunia

    Selamat buat Nur Azizah Patwa dan team yang meraih Perak pada Kejuaraan Dayung SEA GAMES di Thailand, 2025. Azizah adalah atlet keturunan Bulukumba yang pernah mewakili Kab. Banteng dan Sulawesi Selatan pada olahraga yang ditekuninya.

    Nur Azizah Patwa bersama sepupunya Dewi Fortuna Patwa di Rumah Belajar Bersama

    Azizah Sebelumnya meraih dua emas pada kejuaraan Provinsi Sulawesi Selatan yang kemudian mengantarkannya tergabung dalam Pelatnas (Pelatihan Nasional), atlet Indonesia.

    Keluarga terdekatnya Andi Adi Syam Palaguna berharap agar prestasi yang lebih tinggi dengan memberikan motivasi kesiapan menghadapi tantangan baru. ‘Semoga dapat menembus Olimpiade Dunia dan meraih juara’, ungkapnya. Ketekunan berlatih sudah bagus dan jadikan juara dua ini sebagai cambuk untuk lebih meningkatkan prestasi dengan berlatih lebih giat. Dan keinginan dan tekad harus lebih kuat lagi dari segala latihan yang serba keras tersebut. Begitulah cara berpikir Muhammad Ali, sang legenda tinju dunia, yang dapat kamu ikuti untuk membuat dirimu jauh lebih baik dari prestasi yang baik sebelumnya yang telah kamu raih.

    Zulkarnain Patwa

  • Merancang Perubahan Dunia

    Merancang Perubahan Dunia

    Dengan mengedepankan ilmu pengetahuan, anda punya daya saing untuk turut terlibat aktif merancang dan menghadapi perubahan dunia.

    Foto: Kampung Belajar, 2025.

  • Literasi

    Literasi

    Bicara literasi itu harus selalu diikuti dengan tindakan dengan mengajak para generasi penerus kita terbiasa dengan bacaan buku atau bacaan apapun juga yang bermanfaat.

  • Kemimpinan Juara Umum Karate 

    Kemimpinan Juara Umum Karate 

    Ini penghormatan atlet INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) Sulawesi Selatan (Sul Sel) saat meraih Juara Umum 1 Kemenpora (Kejuaraan Kementerian Pemuda dan Olahraga) Republik Indonesia, 16 Nopember 2025 kepada Ketua INKAI Sul Sel, Ir. Abdul Djalil Razak yang selama dalam kepemimpinannya INKAI menjadi perguruan terbaik dalam berbagai kejuaraan besar dengan capaian sebagai perguruan paling sering Juara Umum–Kejuaraan terhitung sejak serangan pandemi covid 19.

    Bagaimana INKAI Sul Sel bisa sehebat itu? Singkatnya, pada masa covid, para atlet INKAI Sul Sel yang menyebar di seluruh daerah tetap aktif melaksanakan latihan–Termasuk Dojo INKAI Kodim Bulukumba–tentunya sesuai standar protokol kesehatan. Ditambah lagi dengan adanya inisiatif beragam kejuaraan internal INKAI seperti INKAI Kostrad Kariango dan Julu Siri di Maros, INKAI Gowa dan seleksi atlet terbaik di Lifiyura, markas utama INKAI Sul Sel. Dan ketika teror covid mereda, berbagai kejuaraan antar perguruan pun mulai dibuka, para atlet INKAI Sul Sel telah punya pengalaman yang matang dan mental kesiapan tanding lebih matang.

    Kita tahu, dalam kejuaraan itu seringkali terdapat masalah yang pelik untuk diselesaikan semisal atlet merasa dirugikan. Untuk itu, Ir. Djalil mempercayakan posisi Manager INKAI Sul Sel kepada Saiful Patwa yang mempunyai rekam jejak sebagai mantan Ketua Himpunan Teknik Perkapalan UNHAS (Universitas Hasanuddin) yang terbiasa mengolah kecerdasannya berargumentasi. Argumentasinya itulah yang sangat dibutuhkan dalam memperjuangkan hak hak atlet INKAI. Selain itu, ia pun dapat bernegosiasi untuk mencari jalan tengah sehingga semua pihak merasa tidak saling dirugikan.

    Dalam urusan coach (pendampingan atlet yang sedang berlaga), semua pelatih yang ditunjuk benar benar melaksanakan tugasnya dengan baik. Mereka bekerja seolah tanpa lelah mendampingi seluruh atlet mulai awal pertandingan hingga akhir, biasanya pagi hingga sore atau malam. Mereka memberikan arahan agar atletnya mampu meraih kemenangan. Dan yang tidak kalah menariknya adalah orang tua atlet, keluarga dari selalu turun langsung hadir menonton pertandingan untuk memberikan segala dukungan agar anak anaknya mampu meraih juara membuat para atlet benar benar berupaya secara maksimal.

    Kemimpinan Ir. Abdul Djalil Razak yang berhasil menggerakkan keaktifan para atlet dan menempatkan INKAI Sul Sel di posisi yang paling terhormat di tatami (baca: matras tanding karate) sangat layak dicontoh. Ini adalah jalan untuk mampu mencetak atlet nasional yang dapat bertarung di tatami internasional.

    Foto mengangkat Ketua INKAI Sul Sel berkeliling mengitari tatami saat menjuarai Kemenpora RI adalah cermin rasa cinta anak anaknya kepada sang Ketuanya. Ini bukan pertama kali dilakukan tapi telah menjadi kebiasaan yang sering dilakukan ketika INKAI meraih Juara Umum 1.

    Zulkarnain Patwa 
    * Humas INKAI Sul Sel
    * Pelatih INKAI Bulukumba

  • Speaking dan Reading

    Speaking dan Reading

    Banyak orang berpikir bahwa belajar bahasa asing itu urusan komunikasi. Itu benar karena kita akan menggunakannya berbicara dengan orang asing yang tidak menggunakan bahasa kita. Wajar bila kelas speaking (bicara) ramai peminatnya.

    Bagaimana bila pelajar membutuhkan hal lebih selain kemampuan berbicara? Tawaran yang menarik adalah kelas reading (membaca). Reading bagian dari cara pembaca mampu mengenali pemikiran orang lain lewat buku yang ditulisnya tanpa sang penulis perlu hadir di hadapannya. Kisah kisah tempo doeloe terjelaskan yang dapat dijadikan pelajaran untuk membaca dan mewujudkan cita-cita penulis di masa akan datang.

    Kelas Bahasa Inggris di Kampung Belajar mencoba untuk saling menghubungkan antara speaking dan reading. Untuk itu kelas binaan Mr. Ancha alias Pocha Pocha bertujuan untuk:

    1. Mendidik para pelajar memahami pembicaraan Bahasa Inggris lisan.
    2. Mendidik para pelajar membaca dengan suara nyaring dengan penekanan dan intonasi yang benar.
    3. Melatih para pelajar menjawab dan menggunakan segala model pertanyaan dan membangun fondasi kebiasaan berbicara Inggris.
    4. Melatih berekspresi secara lisan dengan bebas dengan berdiskusi mengenai tema tema yang dibahas pada buku bacaan.
    5. Mempersiapkan para pelajar untuk ujian standar internasional.

    Secara sederhana untuk mewujudkan target di atas, semua bagian bagian pada buku dibaca dan latihannya dikerjakan secara menyeluruh. Dengan demikian speaking dan reading menjadi alat pembelajaran yang sangat efektif membangun komunikasi berbahasa asing.

    Zulkarnain Patwa

  • Membangun Kepercayaan Diri Berbicara 

    Membangun Kepercayaan Diri Berbicara 

    Kelemahan itu dapat dijadikan kekuatan dengan cara membenahi kelemahan. Para pelajar sekolah yang kami temui kebanyakan masih sangat malu untuk mengekspresikan pendapatnya secara resmi di depan kelas Takkala diminta untuk berpendapat, mereka biasanya salin menunjuk orang lain untuk berbicara atau hanya terdiam hingga pertanyaan itu berlalu. Masalah klasik ini sering kita temui dari pelajar SD, SMP dan SMA.

    Di Kampung Belajar, Mr. Ancha (Pocha Pocha) pengajar kelas Reading (Membaca) kewalahan mengajak para pelajarnya untuk berkomunikasi langsung dalam Bahasa Inggris meskipun pelajar tersebut telah membaca buku lumayan banyak. Ia pun mengambil inisiatif dengan meminta agar tiap pelajar mengekspresikan gagasannya dalam bentuk tulisan didahului dengan pengajaran cara cara membuat tulisan sederhana dan berkesan. Suasana pun mejadi semarak. Mereka ternyata masing-masing punya pengalaman berharga yang dituangkan dalam tulisan. Mr. Ancha membantu menerjemahkan ke dalam Bahasa Inggris yang kemudian dibuat dalam bentuk interaksi d dimana dua orang berpasangan saling bercerita. Pada tahap ini, teks tidak dipakai lagi. Tidaklah sulit untuk menghapal teks karena semuanya berdasar.pada pengalamannya.

    Strategi ini cukup sukses. Pada akhir Minggu pertama, empat orang pelajar telah berhasil membuat rekaman obrolan dalam Bahasa Inggris. Dan memasuki minggu kedua ini, tiga orang pun mampu melakukan hal yang sama Setiap pelajar tidak ingin tertinggal. Mereka telah menemukan cara untuk mengekspresikan gagasan dan sekaligus berbahasa Inggris. Suatu tanda bahwa bahasa Inggris itu pelajaran yang dapat dinikmati dan membangun kepercayaan diri dalam berkomunikasi.

    Capaian ini tentu tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Kita pun telah mendeteksi kelemahan yang paling mendasar yaitu grammar (tata bahasa). Kemampuan membaca teks dan pola komunikasi yang berkelas hingga sesuai standar akademik sangat besar dipengaruhi oleh grammar. Mr. Agung Pratama Salassa masih sedang berjuang membuat para pelajar tersebut mampu menganalisa soal soal latihan. Dari kesanggupan menjawab latihan tersebut, perlahan tapi pasti, kita telah menanamkan kepercayaan bahwa grammar itu tidak sulit.

    Kelemahan pada Basic Grammar tersebut dapat dituntaskan dengan pemahaman tenses luar kepala. 180 jam belajar dengan 120 pertemuan adalah waktu yang cukup luang untuk menuntaskan tenses. Untuk mencapai target tersebut, semua guru di Rumah Belajar Bersama saling bahu membahu melakukan riview materi agar tenses tuntas maksimal tepat program Kampung Belajar ini selesai pada 9 Januari 2025.

    Sebenarnya ada beberapa target lagi yang ingin dijelaskan cuma karena penulis sudah agak mengantuk, lain kali dilanjutkan lagi. Menulis saat mengantuk itu juga tanda kelemahan. Jadi perlu istirahat untuk menghimpun tenaga agar pikiran dan fisik kembali kuat. Semoga nanti berlanjut

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    Foto pada Senin, 22 Desember 2025.

  • Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Penguatan Basic Grammar di Kampung Belajar

    Grammar (tata bahasa) adalah pembelajaran yang tersistematis dan menguras banyak energi berpikir untuk dapat memahaminya. Grammar bukan hanya ukuran fundamental bagi dunia pendidikan akademik tetapi juga tulisan resmi dan kemampuan berbicara yang tergolong ‘intelek’ itu pastilah punya standar tata bahasa.

    Karena begitu rumitnya memahamkan Basic Grammar, para guru pun bekerja ekstra. Kelas utama grammar ini dipercayakan kepada Mr. Agung Pratama Salassa, seorang pemuda berbakat yang sekitar tujuh tahun tinggal di Kampung Inggris, Jawa Timur, selalu berusaha maksimal membuat seluruh para peserta pemula di Kampung Belajar mengerti materi basic ini. Loncatan berarti terlihat karena dalam seminggu, peserta didik ini telah menyelesaikan latihan soal-soal dalam dua bab dan kini masuk bab ketiga. Isinya mencakup struktur simple present baik nominal.maupun verbal tenses disertai beberapa pola penggunaannya.

    Tapi ini bukan berarti bahwa pelajar telah paham total. Karena itu, kelas lain yang dihandle oleh Mr. Ancha memberikan dukungan pemahaman dengan melatih pelajar menulis dimana terjemahannya dibuat sedemikian rupa berhubungan dengan materi grammar yang sedang dipelajari. Penulis yang juga bertugas mengajar pronunciation (pengucapan) turut me-review materi grammar dengan menghubungkan dengan pronounciation. Para pelajar diajak membaca ulang dengan suara nyaring pada latihan grammar-nya yang berguna untuk mengetahui tingkat kesalahan dan sekaligus pendalaman tata bahasa serta memperbaiki cara pelafalan yang benar dalan tiap kata hingga kalimat.

    Memasuki minggu kedua, materi simple present pada grammar telah lebih utuh dimengerti. Dasar penguatannya terlebih dahulu diletakkan pada teks yang kemudian teks dilepas. Semua materi harus mampu diucapkan secara lisan tanpa melihat lagi buku catatan lagi. Dan karena disiarkan secara live (siaran langsung), semua pelajar berusaha secara maksimal dan yang hadir pagi tadi mampu melakukannya dengan baik, hampir sempurna.

    Pancaran kebahagiaan pun tersebar di dalam kelas. Jelang kelas pagi selesai, tiap orang masing mengeluarkan alasan mengapa Tenses paling dasar seperti simple present itu telat mereka pahami. Inti yang dapat kita sampaikan di sini adalah terdapat sebuah metode yang efektif, jam belajar yang padat dan semua yang terlibat melakukan yang terbaik. Cara pandang para pelajar pun tentang kerumitan pada grammar itu perlahan berubah menjadi lebih sederhana. Ini menjadi motivasi yang kuat untuk berani menghadapi bab bab selanjutnya pada grammar.

    Betapapun Kampung Belajar hanya sekedar pengisi waktu luang bagi orang yang tidak punya kegiatan liburan ke luar kota selama liburan sekolah, kami percaya ini adalah waktu yang terbaik untuk memasukkan materi terpenting dalam bahasa Inggris: Speaking (bicara), Reading (Membaca), Grammar (tata bahasa) dan Pronounciation (pengucapan) dapat dibedah secara mendalam. Itu sangat memungkinkan karena pelajar tidak disibukkan dengan urusan pelajaran sekolah sehingga mereka dapat fokus pada semua materi yang disediakan di Kampung Belajar. Paling sedikit, materi gambaran garis besar basic dapat dimengerti.

    Modal awal tersebut menjadi pembuka jalan lebar untuk menapaki sistematika grammar tingkat menengah dan lanjutan. Para pelajar yang berbicara dengan tata bahasa yang baik pastilah mampu tercipta lagi.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

    Selasa, 23 Desember 2025

  • Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekilas tentang Kampung Belajar

    Sekelompok kecil para pelajar SD, SMP dan SMA yang bergabung di Kampung Belajar selama liburan sekolah ini percaya bahwa Bahasa Inggris dapat membangun cita citanya tinggi. Ada yang mau jadi guru, dokter dan bahkan mau kuliah ke keluar negeri. Mereka datang dengan penuh semangat untuk belajar memahami setiap materi yang penting dan mereka yakini sangat berguna untuk masa depannya.

    Perbedaan umur atau jenjang sekolah bukanlah kendala untuk membuatnya bersatu dalam satu ruangan. Maklum, semuanya masih tergolong pemula dari segala tingkatan. Itu bagus karena tidak ada yang paling menonjol sehingga para pelajar ini saling berlomba untuk paling cepat memahami pelajaran di luar kepala. Yang lebih dahulu mengerti dan punya keberanian angkat tangan, dialah yang mendapatkan rekaman biasa ataupun siaran langsung, sebuah strategi agar mereka mau belajar serius dimana tiap pelajar tidak ingin tampil buruk di depan kamera. Lagi pula, tidak ada proses editing. Dalam dua hari, tidak ada satupun yang gagal membuat conversation (percakapan) tanpa teks. Itu berarti mereka mampu mengingat bahan pembicaraannya.

    Pada kelas Reading (Bacaan), mereka diminta membaca buku cerita dengan suara nyaring, memahami isinya dan menjawab soal-soalnya. Ini berguna untuk kebutuhan akademik dan penguatan budaya literasi. Kita ingin kemampuan berbicara Inggris dan membaca buku buku inggris dijadikan alat untuk mendapatkan pengetahuan dan mengakses informasi tertulis.

    Kelas grammar (tata bahasa) yang merupakan momok bagi para pelajar Indonesia sudah dapat ditebak. Mereka benar-benar pemula juga dan masih belajar menentukan kata benda (noun) yang tunggal dan jamak, adjective (kata sifat) dan adverb (kata keterangan) serta bagaimana kata kerja berlaku pada sebuah subjek. Dan setelah mereka mengerjakan latihan, Basic Grammar tersebut dibaca kembali disertai rekaman video dan dibuat contoh percakapan agar apa yang telah diikat dengan tulisan lebih mahir diucapkan.

    Kelas pronunciation (pengucapan) pun punya daya kesan tersendiri. Mereka disadarkan bahwa salah ucap mengakibatkan salah makna. Bagaimana mengucapkan kosa kata yang mirip dengan benar? Misal set vs sat, feel vs fill dan green vs grin dan masih banyak lagi. Mereka diberitahu arti pada perbedaan kata tersebut yang membuatnya jadi lebih peduli untuk fasih dalam berbicara.

    Conversation, Reading, Grammar dan Pronunciation pada Kampung Belajar ini dibuat saling terhubung erat. Semua kelas jadi penting. Enam kali pertemuan belajar dengan sedikitnya menghabiskan waktu sembilan jam dalam sehari itu benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Terdapat waktu yang cukup bila ada pelajar untuk review bagi yang mengalami kesulitan ataupun ingin pendalaman materi lebih lanjut.

    oppo_2

    Liburan sekolah memang tidak membawa mereka pergi jalan-jalan sebagaimana orang lain yang punya kesempatan. Mereka berlibur di kampung halamannya dengan menikmati dunia belajar yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Kesenangan tentu mengiringi karena materi hanya dapat dilanjutkan bila dimengerti. Di Kampung Belajar ini, selama mereka tekun dan berjuang dengan sungguh-sungguh, tidak ada alasan yang cukup untuk untuk tidak mengerti. Guru-guru kelasnya pun tergolong berpengetahuan luas dan berpengalaman belajar dan mengajar di Kampung Inggris Pare Kediri Jawa Timur dan sarjana di universitas.

    Sebuah kombinasi yang apik untuk mewujudkan cita-cita pada pelajar dan target Rumah Belajar Bersama (RBB) yang memilih mengedepankan kwalitas sumber daya manusia dalam mendidik para pelajar. Di sinilah, kita meramu pelajar SD, SMP dan SMA saling mendukung untuk mewujudkan cita-cita yang tinggi tersebut. Demikian sekilas tentang Kampung Belajar, 2025 di Bulukumba, Sulawesi Selatan, Indonesia.

    Zulkarnain Patwa
    * Pemerhati Pendidikan

  • Sang Peraih Medali Perak SEA GAMES Thailand

    Sang Peraih Medali Perak SEA GAMES Thailand

    Nur Azizah Patwa, sekali lagi menorehkan prestasi yang luar biasa. Waktu kecil, dia tidak pernah memimpikan ini. Menjadi atlit berprestasi dan mempersembahkan medali pada event terbesar Asia Tenggara buat Indonesia. SEA GAMES.

    Perjuangannya untuk menjadi atlit sampai ke titik ini sangatlah besar. Harus rela mengorbankan bobot tubuhnya yang berlebih agar bisa mencapai berat ideal seorang atlit.

    Pelatihnya dulu katanya, sempat menawarkan kepada Pengurus olahraga Makassar untuk memperkuat tim dayungnya saat PORPROV lalu yang berlangsung di Bulukumba Sinjai. Namun ditolak. Dan saat itu yang berminat memanfaatkan tenaganya memperkuat skuad dayungnya hanya Kab. Bantaeng.

    Penolakan itu memicu dan memacu semangatnya semakin berkobar untuk berlatih. Berkobar bagi api yang menyala dan siap membakar lawannya. Hingga pada PORPROV saat itu, dia mampu mengibarkan bendera Kab. Bantaeng di podium juara 1 (satu) sebanyak 2 kali. Ya, dia meraih 2 (dua) medali emas.

    Berlanjut berlomba di tingkat nasional mewakili Sulawesi Selatan, pun berhasil mengangkat nama Sul Sel di podium juara. Dan oleh pelatih nasional melihat potensinya sehingga dipanggil pemusatan latihan di Bandung persiapan menghadapi SEA GAMES.

    Pengorbanan terberat baginya adalah saat menerima panggilan ke tingkat nasional, dia ditinggal mamanya untuk selamanya menghadap panggilan Ilahi, Sang motivator dan inspirator terbaiknya. Almh. Nur Wahidah Bakkas Tumengkol. Padahal dia sudah berjanji ke mamanya untuk mempersembahkan prestasi dan bonus yang didapat untuk mamanya saat menjuarai tingkat nasional. Namun saat penyerahan bonus oleh Pemerintah Provinsi, mamanya sudah tidak bisa menyaksikannya. Oleh Azizah bonus yang didapatnya sebagian disedekahkan dan pahalanya diniatkan untuk mamanya. Semua sepupunya waktu itu dapat bonus juga baik yang masih sekolah maupun yg sudah bekerja. Bukan hanya sepupunya bahkan saudara kedua orangtuanya juga mendapatkan traktiran.

     

    Kehilangan ibu tentu sangat menyakitkan. Apalagi di saat saat kehadirannya sangat diharapkan. Namun begitulah jalan hidupnya. Hidup ini harus terus berjalan. Dia tidak patah semangat bahkan menjadikannya bahan bakar untuk semakin ingin mempersembahkan prestasi terbaik buat ibunya sekalipun telah tiada karena dia yakin bahwa ibunya tetap menyaksikannya walaupun di alam yng berbeda.

    Dibawahan pengasuhan ayahnya, Sulthan Rasyid Patwa, semangatnya kembali berkobar sehingga bertekad membuat bendera Indonesia bisa berkibar di Thailand.

    Kini, dia telah meraih prestasi terbaik di level Asia Tenggara. Medali perak dipastikan menjadi miliknya. Naik podium di Thailand merupakan impian semua atlit yang bertanding di SEA GAMES. Namun tidak semua memiliki kesempatan untuk merasakannya. Hanya yang berhasil merebut posisi terbaik yang diberi apresiasi untuk menginjakkan kaki di atas podium. Dan dia sudah membuktikannya.

    Selamat Nak, Nur Azizah Patwa atas torehan prestasinya. Tingkatkan lagi dan prepare untuk Asian Games yah. Insya Allah. Proses takkan pernah mengkhianati hasil.

    Fatmawati Patwa