Belajar sejak buaian ibu hingga ke liang lahat. Pengingat yang disampaikan Nabi Muhammad SAW ini mengajak manusia untuk tidak berhenti belajar. Ada kalanya orang dewasa mengatakan bahwa dirinya sudah tua, tidak sanggup lagi menerima pelajaran atau alasan kesibukan dan yang paling berat adalah malas. Pada hal ia tahu bahwa untuk mewujudkan hal yang ingin diraihnya, ia harus menuntut suatu bidang ilmu tertentu.
Khadijah, berkacamata, mahasiswa yang hampir tamat S 2 (strata dua) sedangkan Nilam telah tamat S 1 (strata satu). Mereka belajar Bahasa Inggris untuk mengejar beasiswa karena berencana untuk kuliah lagi. Target yang ingin dicapai adalah lulus TOEFL (Test of English as a Foreign Language), sebuah standar akademik yang telah lama diterapkan di universitas ternama di Indonesia. Sebelum mereka sepakat belajar, kami terlebih dahulu memberikan gambaran bahwa untuk sampai pada pembelajaran TOEFL itu butuh proses yang panjang. Soal-soalnya mencakup grammar, reading dan listening (tata bahasa, bacaan dan mendengarkan percakapan). Namanya juga tes standar internasional, kosa-kata yang dipakai adalah yang tidak lazim digunakan.
Rekan-rekan di RBB (Rumah Belajar Bersama) sekarang diisi oleh guru-guru Bahasa Inggris yang bertahun-tahun fokus belajar di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur. Mereka meyakinkan Khadijah dan Nilam bahwa TOEFL itu bukanlah pelajaran yang sulit asalkan para pelajar mau peduli pada akar-akar pengetahuan alias basic. Kebanyakan orang gagal karena mereka langsung ikut pelatihan TOEFL tanpa punya pondasi dasar. Hasilnya pastilah berantakan.
Kita ingin para pelajar kita tidak hanya mampu menggunakan Bahasa Inggris tersebut untuk kepentingan pragmatis semisal lulus TOEFL untuk memperoleh beasiswa tetapi juga mampu menjadikan bahasa sebagai alat memperoleh pengetahuan dengan kemampuan membaca jurnal-jurnal dan buku-buku berbahasa Inggris. Bela perlu, mereka bisa menulis dalam Bahasa Inggris.
Untuk itu, para pelajar tidak perlu terburu-buru. Ya, itu memang membutuhkan waktu lebih banyak tapi hasilnya tentu berbeda. Kami pun sedikit berbagi pengalaman. Mr. Ancha, Mr. Agung dan penulis yang telah menghabiskan waktu bertahun-tahun di Kampung Inggris belajar membangun basis pengetahuan dari dasar meliputi reading, speaking, grammar dan listening di berbagai macam tempat sebelum sampai pada TOEFL. Pengalaman ini tidak mesti sama ke Khadijah dan Nilam dan pelajar lainnya tapi pada intinya, proses belajar secara terstuktur itu sangat penting untuk mencapai hasil yang maksimal.
Khadijah dan Nilam yang terdidik itu tentu sepakat dengan tawaran kami. Mereka pun menjalani proses belajar pada Reading, grammar dan pronunciation (pengucapan). Mereka pun tidak canggung bergaul dengan para pelajar sekolah yang lebih muda darinya. Para pelajar SD (Sekolah Dasar) malahan selalu mencari Miss Nilam, panggilan akrab anak-anak, saat tidak melihat Nilam berada di kelas. Ya, layaknya kampung Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur, tidak ada sekat antara para pelajar anak-anak dan orang dewasa. Semua kalangan menikmati dunia belajar dengan riang gembira.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Rabu, 1 April 2026









