Sebelum jam belajar mulai, satu per satu anak-anak sudah datang dan langsung bertanya, “Dimana kertasku?” Kertas yang mereka maksudkan adalah soal-soal ala Metode 40 yang ia titip dan belum selesai ataupun soal-soal terbaru. Mereka sudah duduk, berpikir, dan menjawab meskipun jam belajar belum tiba.
Sikap mereka ini cukup mengagetkan. Betapa tidak, anak-anak kami yang suka bermain itu saja berubah setelah terbiasa dengan pembelajaran Metode 40. Sesekali mereka memang masih teriak bila ada yang rumit diselesaikan. Ketika satu orang teriak, anak-anak yang lainnya ikut-ikutan. Ternyata, persoalan klasik semacam sebuah buku atau buku-buku dihitung tunggal atau jamak. Mereka sebenarnya sudah tahu, namun kadang-kadang masih bingung karena kemungkinan beragam kosakata Inggris yang berbeda masuk dalam pikirannya. Hal yang tersulit yang mereka pikirkan bila ada kata the pen (pulpen itu) atau the pens (pulpen-pulpen itu). Dengan tidak adanya kata ‘a or an’ (sebuah), itulah yang bikin ramai.
Hal yang lain yang cukup menggemaskan adalah mereka sudah tahu jawaban yang ditulis sudah benar, tetapi tetap saja datang berkonsultasi ke gurunya. ‘A police man, itu tunggal dan sama dengan he. Blacksmiths itu jamak karena ada ‘s’ dan sama dengan ‘they’. Jadi yang ini pakai ‘is’ dan yang ini pakai ‘were’. Lalu tambah Verb-ing. Begitu toh, Mister?” Ini dilakukan secara bergantian dengan contoh yang berbeda-beda. ‘Ya. Kamu sudah tambah pintar. Kalau selesaikan 40 soal itu, soal baru pasti diberikan lagi,” balas guru.
Anak-anak bertambah semangat belajar. Tidak terasa 90 menit telah terlewatkan, jam belajar telah selesai tanpa pernah ada yang meminta keluar main. Perubahan baru muncul: sebagian anak-anak meminta membawa lembaran kertasnya pulang. “Boleh saya bawa pulang. Saya mau kerja di rumah?” tanya mereka. “Ya. Tentu boleh asalkan jangan dihilangkan.” Mereka berjanji untuk menjaganya dengan baik. Sementara anak-anak lainnya membiarkan orang tuanya yang datang menjemput menanti. “Saya selesaikan satu bagian soal ini sebelum pulang,” kata anak-anak yang ingin menyimpan kertasnya di Rumah Belajar Bersama (RBB). “Ya. Silahkan saja.” Anak bernama Nabila yang paling terakhir pulang dengan menambah 15 menit.
Proses peralihan dari pengelolaan kelas bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain kini telah berubah ke arah belajar tanpa hari ada embel-embel kata ‘bermain’ tanpa harus banyak menanti instruksi guru. Mereka telah belajar menikmati otak atik persoalan tunggal dan jamak dengan jalan bertanya ke guru atau berdiskusi kepada sesama rekan. Lingkungan belajar ini jauh lebih sehat karena waktu belajar jauh lebih maksimal.
Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 19 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan