Jiwa Bhs. Inggris Alika dan Faika di RBB

Sebuah percakapan berbahasa Inggris secara terstruktur telah dikerjakan oleh Alika dan Faika. Waktunya lumayan panjang: hampir empat puluh menit. Mereka bersepakat berdialog pada buku Basic Grammar yang berisi percakapan yang latihannya telah mereka selesaikan.

Keduanya diberikan kebebasan memilih bahan yang disukai. Mereka senang dan sesekali saling berdebat untuk mendahului pilihan percakapannya. Guru kelasnya tidak menyela karena berpikir bahwa ini bagian dari cara melatih membangun kesepakatan ketika terjadi perbedaan pendapat tanpa harus mengandalkan orang yang mempunyai otoritas yang lebih tinggi. Pada akhirnya, mereka saling berkompromi.

Karena tidak ada paksaan, obrolan mereka mengalir apa adanya sehingga mereka menyatakan berhenti ketika mencapai tahapan capek. “Percakapannya seru, cuma saja saya sudah mengantuk,” kata Faika. Alika menyambung, “Saya mengerti isi percakapan itu karena saya sudah sering latihan membaca. Banyak kosakata yang telah saya ketahui.” Guru menambahkan, “Apakah kalian sepakat bahwa kalian mengerti karena telah mengerjakan latihan?” Dengan jeda waktu yang sedikit saja, mereka menjawab, “Sepakat.”

Pembicaraan pun berlanjut. Alika memandang bahwa berbicara sesuai standar tata bahasa memudahkannya mengerti soal tulisan. “Tetapi belajar tata bahasa tanpa percakapan juga tidak akan tahu apa gunanya,” terang Faika. “Mengapa?” tanya guru. Keduanya terdiam. “Karena tujuan bahasa adalah komunikasi,” ungkap guru untuk mewakilkan pikiran mereka yang terlambat dirangkai. “Iya. Maksud saya begitu,” balas Faika.

Sehubungan dengan kebiasaan membaca buku dalam bahasa Inggris telah terbangun, anak-anak ini telah sampai pada pemahaman bahwa percakapan, tata bahasa, dan membaca adalah bagian yang saling terkait. Tidak bisa disalahkan satu sama lainnya, melainkan harus saling mendukung. Dua hal yang penting tersisa belum mereka terapkan: mengarang dan pengucapan yang mengikuti aksen Amerika atau Inggris. Memperhatikan bakat mereka, kemampuan mengarang memang membutuhkan energi lebih dibandingkan pengucapan, sehingga satu hal yang paling cepat untuk dicapai adalah pengucapan yang erat kaitannya dengan percakapan. Itu bisa dibiasakan dan diajarkan langsung melalui cara penyambungan atau pemotongan kata atau frasa setiap kali mereka bercakap-cakap.

Dasar-dasar tersebut adalah bagian terpenting dari bahasa Inggris yang diajarkan di universitas atau lembaga pendidikan nonformal yang mempunyai kurikulum komprehensif. Alika dan Faika tidak perlu menunggu hingga kuliah karena sebagian materi itu bisa mereka dapatkan di Rumah Belajar Bersama (RBB).

Zulkarnain Patwa
Kamis, 10 September 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *