Mendobrak Sistem Pendidikan yang Melelahkan

Pelajar kita setiap hari kelelahan dalam belajar. Mereka sekolah dengan bertumpuk-tumpuk pelajaran berbeda-beda mulai dari pagi sampai siang. Umumnya, orang tua yang sadar pada agama dan pendidikan, melanjutkan anak-anaknya pada les mengaji atau kegiatan yang mirip lainnya hingga sore. Anak-anak hampir tidak ada waktu istirahat hingga jelang Maghrib, matahari tenggelam.

Jangan takut menjadi diri sendiri.

Persoalan ini tidak berhenti sampai di situ. Di malam hari, sebagian dari mereka biasanya diikutkan les matematika dan/atau bahasa Inggris. Pikiran dan fisik mereka sangat terkuras. Melelahkan.

Mari membuat sesuatu yang lebih baik untuk generasi penerus kita.

Kita melakukan ini dengan dalih pendidikan. Kita lupa bahwa kita sedang merampas kebahagiaan anak-anak kita untuk bermain. Ada yang membela dengan memberikan Android pada anaknya. Itu bukan solusi melainkan menambah masalah karena Android itu hanya berfungsi sebagai games, membuang banyak waktu. Radiasi Android merusak otak, mata, dan lainnya serta sosialisasi langsung kepada sesama anak sangat terbatas. Kita mengira ini solusi, tetapi kenyataannya ini ilusi—malahan menciptakan masalah yang jauh lebih besar.

Anak-anak dilatih untuk mengandalkan pikirannya sendiri.

Lalu, apakah pilihan kita? Apakah kita memberhentikan anak-anak di sekolah atau les? Tentu tidak. Ajaran agama yang mulia menganjurkan bahwa belajar itu sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat. Apakah Android itu dibuang ke tempat sampah? Tidak juga. Generasi kids zaman now tidak bisa menghindari kemajuan teknologi. Kita sekarang hidup di zaman teknologi serba modern di mana android dan teknologi semacamnya tidak bisa ditolak keberadaannya; lifestyle (bagian dari kehidupan sehari-hari).

Permainan asah otak.

Tetapi, apakah kita akan membiarkan kondisi anak-anak kita terus seperti ini? Segala model pendidikan yang melelahkan, meresahkan, dan membosankan itu sudah saatnya kita tinggalkan. Kita kubur semua kepalsuan yang mengatasnamakan solusi. Kita masuk ke sebuah era yang baru. Sebuah metode pembelajaran yang menggabungkan kelemahan menjadi kekuatan harus hadir.

Membangun minat belajar dan mengolah kecerdasan anak-anak.

Pertama, kita memangkas semua sub-sub pelajaran yang tidak penting. Kita mengajarkan hal-hal yang terpenting saja. Setelah itu, sub-sub bagian lainnya dengan sendirinya mengikuti.

Jangan lupa membaca.

Kedua, setiap anak belajar dengan cara bermain. Guru yang kreatif pasti mempunyai segudang ide untuk membuat suasana belajar yang mengaktifkan keceriaan dan kecerdasan anak didiknya. Mereka dilatih dan diberikan kebebasan untuk saling berbagi ilmu dengan cara yang mereka sukai.

We are the future of the world.

Ketiga, kita memanfaatkan teknologi Android. Dunia maya banyak model pembelajaran yang dalam bentuk games. Otak mereka dilatih untuk berpikir bahwa pendidikan itu bisa dalam bentuk permainan games yang menyenangkan. Waktunya dibatasi agar mereka tidak terlalu tergantung pada android. Setelah itu, mereka berlatih untuk berpikir lebih mandiri, bergantung pada otak mereka sendiri.

Be happy!

Kita membuat solusi tanpa harus merampas kebahagiaan anak-anak kita. Semua ini Anda dapatkan dalam satu tempat yaitu di Rumah Belajar Bersama, ‘Rumah’ yang terus memenuhi segala kebutuhan dan mendobrak kebuntuan ‘Belajar’ untuk kepentingan ‘Bersama’ dalam mencerdaskan lingkungan terdekatnya.

Zulkarnain Patwa
Bulukumba, Senin, 24 Juli 2026

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *